Cinta Terlarang Di Malam Purnama

Cinta Terlarang Di Malam Purnama
Menepis Perbedaan


__ADS_3

Saat tengah hari, Pramana membawa pulang keluarganya pulang ke rumah sehingga Niki bisa menidurkan anak-anak mereka. Oom Rudy dan Tante Linda memutuskan untuk berjalan-jalan dan melihat-lihat apakah mereka bisa menemukan sesuatu untuk dimakan yang tidak berasal dari mesin penjaja makanan otomatis. Sementara ibuku, ia tampak tertidur di kursi.


Seraya bangkit, aku menggeli* untuk melemaskan rasa kaku di punggung dan bahuku, lalu meraih mantel ibuku dan menyelimuti tubuhnya. Aku mendesa*, aku benci rumah sakit, benci menunggu, benci tidak mengetahui apakah ayahku akan keluar dari tempat ini dalam keadaan hidup. Dan aku benci ketika mengingat sifat cepat naik darah Ram dan mulut besarnya itu yang benar-benar menyebalkan. Aku membutuhkan penghiburan, bukannya kata-kata pedas. Tapi tetap saja aku berharap dia akan datang, ia akan berada di sini bersamaku, memelukku dan menawarkan sedikit penghiburan untukku.


Sembari berjalan menyusuri lorong, aku menatap ke luar jendela, menerawang ke kejauhan yang sepi, lalu menunduk dan mencoba berdoa.


Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berdiri di sana saat menyadari diriku tidak lagi sendirian. Seraya mengangkat kepalaku, aku melihat pantulan diriku dan seorang pria jangkung berbahu bidang yang berdiri di belakangku di kaca gelap itu. Jantungku berdebar semakin cepat saat aku berbalik dengan perlahan menghadap...


"Mas Ram?" nama pria itu terlontar dari bibirku. Dia mengenakan kaus putih, celana jeans, dan jaket biru senada dengan jeans-nya. Aku sangat bahagia dan tanpa ragu-ragu berjalan menghampiri Ram dan memejamkan mataku saat lengan yang kokoh itu memelukku. Akhirnya, satu doaku telah terkabul.


Ram memelukku erat-erat, seolah takut akan kehilangan diriku. Dan tentu saja, dia sangat takut. Pria tangguh seperti dirinya yang bahkan tidak takut pada kematian, yang bisa menghitung saat-saat ia merasa takut, sangat ketakutan -- dengan jemari sebelah tangan, bisa sangat ketakutan saat menghadapi situasi seperti sekarang ini, saat menunggu belahan jiwanya berbalik untuk menghadapnya. Dengan sikapnya tadi pagi yang sangat menyebalkan itu, ia memang semestinya menyiapkan diri seandainya aku tidak mempedulikannya, menamparnya, atau mengusirnya jauh-jauh, dia tidak bisa menyalahkanku. Dia memang layak mendapatkan perlakuan itu.


Yah, aku memang sebal dan amat sangat kesal kepadanya, tapi rasa cintaku jauh lebih besar dari itu. Aku lebih memilih melampiaskan perasaanku dengan membalas pelukannya erat-erat.


Ram mengusap-usap punggungku, membenamkan wajahnya ke kelebatan rambutku, memelukku dengan sekuat tenaga. Merasakan tubuhku gemetar, dan merasakan air mataku membasahi kausnya, dan memelukku lebih erat lagi.


"Jangan menangis, Sayang. Ssst... jangan menangis."


Seraya terisak, aku menengadah menatap Ram. "Aku tidak percaya kamu ada di sini."


Ram tiba-tiba mematung. "Kamu ingin aku pergi?"


"Tidak!" Aku mencengkeram kausnya. "Jangan pergi. Kamu tidak tahu bagaimana takutnya aku dalam situasi seperti sekarang. Aku takut ayahku...." Tangisku meledak dan membuat tubuhku terguncang. "Aku butuh kamu di sini. Aku butuh kamu menemani aku, please...?"


Ram mengangguk prihatin. "Untuk itulah aku datang," ujarnya. Ia menarikku kembali dan memelukku erat-erat saat aku mulai menangis lagi. "Aku di sini untukmu."


Tepat pada saat itulah ibuku terbangun. Tidak lama kemudian Pramana melangkah keluar dari lift, sementara Oom Rudy dan dan Tante Linda berjalan membelok di lorong membawa sebuah baki penuh dengan beberapa sandwich dan gelas berisi kopi.


Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana, bergayut erat pada tubuh kekar kekasihku, seandainya ia tidak berdeham dan mengendurkan pelukannya.


Ibuku menatap Ram seolah tengah melihat hantu.


Pramana, Oom Rudy, dan Tante Linda mendadak menghentikan langkah mereka saat melihatku terperangkap dalam pelukan seorang pria asing di mata mereka.


Andai saja aku tidak sedang mencemaskan keadaan ayahku, aku pasti sudah tertawa melihat ekspresi di wajah mereka semua. Ibuku tampak shock. Pramana terlihat seolah ingin meninju pria yang telah lancang memeluk adik perempuannya dengan sangat intim. Bagaimana kalau dia sampai tahu bahwa pria itu bahkan sudah bercinta denganku habis-habisan, tiga kali, dan, telah merenggut keperawanan adik kesayangannya ini? Dia bisa membunuh Ram jika ia mengetahui hal itu.


Lalu, ketika aku mengira suasana tidak mungkin lebih canggung lagi, pintu lift terbuka dan Tuan Hartawan melangkah keluar.


Ibuku yang pertama kali bicara. Seraya melepas mantel dari bahunya, ia berdiri. "Purna, bagaimana kalau kamu perkenalkan temanmu itu?"


"Ya, Purna. Kenapa tidak memperkenalkan dia?" ejek Tuan Hartawan. "Aku yakin mereka semua ingin mengenal pria yang telah membuatmu meninggalkanku."


Ram menyipitkan matanya dengan jengkel.


Aku merema* lengan Ram. "Ini Ramana Lingga Pradita. Mas Ram, kamu sudah mengenal ibuku, Nyonya Mahardika. Itu kakak sulungku, Pramana, serta paman dan bibiku, Oom Rudy dan Tante Linda."


Ram mengangguk.


"Apa yang dia lakukan di sini?"


"Aku bisa menanyakan hal yang sama padamu," sahut Ram pedas.


"Saudara-saudara, saya mohon." Ibuku beranjak ke antara kedua pria itu, yang sama jangkungnya. "Ini bukan waktu dan tempat yang tepat."


Tuan Hartawan melingkarkan lengannya di bahu ibuku. "Anda benar, tentu saja," katanya. "Maaf."

__ADS_1


Untuk meredakan suasana yang tegang, kami semua duduk. Tuan Hartawan duduk di sebelah ibuku, sementara Pramana duduk di sisi lain ibuku. Aku duduk di sebelah Ram, seraya menggenggam erat tangannya seolah tidak akan melepaskannya lagi. Oom Rudy dan Tante Linda membagi-bagikan sandwich dan kopi, lalu duduk juga.


Waktu hampir menjelang magrib saat sang dokter muncul. Tatapannya menyusuri semua orang, lalu berhenti pada ibuku. "Menurut saya masa kritisnya sudah lewat. Kami akan lebih yakin lagi akan kondisinya sebelum besok malam."


Ibuku terjatuh lemas ke tubuh putra sulungnya, matanya berlinang air mata kelegaan, sementara aku berpegang erat di lengan Ram.


Sang dokter tersenyum, jelas-jelas merasa senang bisa memberitahukan kabar baik. "Bagaimana kalau kalian semua pulang dan tidur? Kalau ada perubahan apa pun, kami akan segera mengabari kalian."


Ibuku menggeleng. "Saya rasa--"


Aku melangkah maju dan meraih tangan ibuku. "Ayolah, Ma. Dokter benar. Mama perlu tidur. Kita semua juga." Aku menepuk-nepuk lengan ibuku. "Mama tidak ingin Papa melihat Mama dengan kondisi seperti ini, kan? Dia akan bertanya-tanya kenapa istrinya tidak secantik biasanya."


Ibuku tertawa pelan. "Baiklah." Ia berdiri dan mengulurkan tangan ke arah sang dokter. "Terima kasih. Tapi Anda akan menelepon jika ada perubahan, bukan? Perubahan apa pun?"


"Pasti. Pulang dan cobalah untuk tidak khawatir lagi. Saya yakin yang terburuk sudah lewat."


Aku membantu ibuku mengumpulkan barang bawaan kami, sementara Pramana menekan tombol lift.


Ram beranjak menjauh, sangat menyadari bahwa dirinya berada di sana hanya karena aku, dan bukan bagian dari keluarga kami. Ia berdiri di sampingku di dalam lift yang bergerak turun, dan menyadari ekspresi muram mantan tunanganku.


Di luar, kami semua berhenti di bawah lampu jalan.


"Mobil kami berada di area parkir di blok sebelah," ujar pamanku. "Kami akan menemui kalian di rumah."


Ibuku mengangguk lalu berbalik menghadap Tuan Hartawan. "Terima kasih telah datang. Kami akan mengabarimu kalau ada perubahan."


Itu -- jelas-jelas pernyataan untuk mengusir secara halus.


Tuan Hartawan menggumamkan sesuatu dan memeluk ibuku. Pria itu menatap sekilas ke arahku yang berdiri di sebelah Ram, lalu memandang Ram cukup lama, dengan ekspresi mengancam yang terlihat jelas, sebelum melangkah pergi.


Dengan cepat aku setuju. "Itu ide bagus, Ma. Menurutku Mama bisa pulang bersama Kak Pram," kataku. "Aku juga akan meninggalkan mobilku di sini. Aku akan pulang bersama Mas Ram."


"Tunggu dulu, Purna. Menurutku--"


Aku menatap tajam kakak sulungku itu. "Tidak penting apa menurutmu, Kakak Sayang," potongku dengan nada bicara semanis madu. "Menurutku itu ide yang bagus." Aku meraih tangan Ram. "Ayo?"


Sembari mengangguk, Ram membimbingku ke tempat ia memarkir truknya. Ia membuka pintu untukku, membantuku naik, lalu memutari truk menuju sisi kemudi dan menyelinap masuk. Demi keselamatan dirinya, Ram tidak mengucapkan sepatah kata pun.


Well, kupecahkan masalah itu untuknya. "Terima kasih telah datang. Kamu tidak tahu betapa aku menginginkanmu berada di sini."


"Sayang, maafkan atas reaksiku saat kamu menelepon tadi. Aku tidak berhak berbicara seperti itu. Aku seharusnya tahu kalau kamu tidak akan pergi begitu saja tanpa alasan yang tepat. Sepanjang perjalanan ke sini...." Ia menyeringai dengan penuh penyesalan. "Aku tidak tahu apakah kamu masih mau berbicara denganku."


Aku tersenyum. "Tapi kamu tetap datang."


"Kamu sedang sedih. Aku tidak tahu apakah aku bisa membantu, tapi aku harus mencoba."


Ah, lega.


"Aku senang karena kamu menyesal. Tapi tolong, lain kali jangan berburuk sangka lagi padaku. Aku tidak akan sanggup pergi lagi darimu. Aku tidak sanggup berpisah, dan aku tidak sanggup hidup tanpamu. Janji?"


Ram mengangguk-angguk, masih dengan rasa bersalahnya. "Aku janji."


Seraya tersenyum bahagia, aku menjatuhkan diri ke pelukan Ram dan membenamkan kepala di dadanya. Dia memelukku dengan sangat erat, dan saat itulah aku yakin bahwa apa pun perbedaan yang ada di antara kami, kami pasti bisa mengatasinya. Kuharap dia pun memiliki keyakinan yang sama.


"Sebaiknya kita pergi dari sini," ujarnya. "Dokter tadi benar. Kamu perlu tidur."

__ADS_1


Aku meringkuk di sisi Ram sepanjang perjalanan pulang.


Begitu kami sampai, Ram menghentikan truknya di depan pintu gerbang rumahku, menunggu sementara aku menurunkan kaca jendela dan berbicara pada penjaga pintu. Tidak lama kemudian Ram mengemudikan truknya masuk melewati pintu gerbang itu. Lalu mematikan lampu dan mesin truknya di tempat parkir. "Kita akan bertemu lagi besok?"


"Tentu saja." Aku menguap dari balik tanganku. "Ayo masuk. Aku sangat lelah."


Ram menatapku, tampak bertanya-tanya apakah dia tidak salah dengar.


"Ayolah." Aku menarik tangannya.


"Menurutku ini bukan ide bagus."


"Menurutku ini ide bagus."


"Tapi--"


"Ayolah, kamu lebih baik menginap di sini."


"Menurutku ibumu tidak...."


"Mama tidak akan keberatan."


"Tapi kakakmu keberatan."


"Sayangnya akulah yang tinggal di sini. Bukan dia." Aku menarik tangan Ram lagi, kali ini lebih kuat. "Ayolah, aku terlalu capek berdebat tentang masalah ini. Kasihani aku, aku belum tidur sama sekali sejak kemarin malam. Ya? Kumohon?"


Dengan enggan, Ram meraih ranselnya dari dasar truk dan mengikutiku menaiki undakan yang lebar. Aku membuka pintu kaca buram yang elegan dan terbuat dari kayu ek berukir, dan Ram mengikutiku melewati foyer luas dan berubin motif kotak-kotak hitam-putih seperti papan catur, menuju ruangan luas berlangit-langit tinggi dengan perabotan yang begitu asli dan elegan sehingga membuatnya melirik kikuk.


"Kamar tidur tamu terletak di lantai atas," ujarku dengan suara pelan. "Ayo."


Ram mengikutiku menaiki tangga ulir. Karpet berwarna cokelat gelap yang tebal meredam suara langkah kaki kami.


Aku berhenti di depan pintu di ujung lorong. "Kuharap kamu merasa nyaman di sini. Angap saja di rumah sendiri. Ada seprai bersih di atas tempat tidur. Kalau kamu ingin mandi, ada handuk bersih di sana." Aku menunjuk pintu di seberang lorong. "Itu kamarku."


Ram berdiri terpaku, seperti bocah ingusan yang baru pertama kali berkencan, bertanya-tanya apakah ia berani memberi ciuman selamat malam di sini, di rumah ini.


Jelas dia tidak berani. Dia diam saja meski jelas aku menunggu. Jadi ya sudahlah. Aku yang mesti melakukannya. "Selamat malam, Mas," bisikku, dengan nada semesra dan semanis mungkin, dengan senyuman.


"Malam," sahutnya kikuk.


Masa bodoh! Aku berjinjit, menyelipkan kedua belah tangan ke belakang kepalanya dan ke pinggangnya, lalu menciumnya. Tepat di bibirnya. Kuberi ia tatapan sepenuh cinta, lalu mencium bibirnya sekali lagi. "Aku sangat mencintaimu. Sekali lagi terima kasih telah datang. Sampai besok, Mas."


Aku nyaris tertawa melihat Ram hanya mengangguk, gelisah.


Takut ada yang melihat? Eh?


Di belakangku, ia mengamati ayunan pinggulku seperti yang selalu ia nikmati sejak masih remaja dulu, yang menjadi kebiasaannya. Aku melintasi lorong dan membuka pintu kamarku. Aku melangkah masuk, tersenyum ke arahnya dari balik bahu, lalu menutup pintu, ingin menertawai pria itu yang nampak jelas berdiri mematung, menahan desakan untuk mengikutiku.


Beberapa menit berikutnya, aku telah mengenakan gaun tidur dan sedang melipat bedcover saat mendengar bunyi air mengalir. Aku melirik dari balik bahuku, imajinasiku terbangun memikirkan Ram yang sedang mandi tepat di seberang lorong. Aku membayangkan seandainya diriku bisa bergabung dengannya di bak mandi, untuk menyabuni punggungnya, berbagi tempat tidur dengannya, dan bercinta hingga lelah dan tak berdaya.


Ah, buru-buru kusingkirkan khayalan itu. Tidak aman mengembara melewati jalan itu, atau membawa harapanku melambung tinggi, tetapi aku tidak kuasa menahan diri. Ram telah meninggalkan peternakan untuk menyusulku. Aku masih tidak bisa mempercayai hal itu. Kupikir, sepertinya seperti itulah delapan tahun yang lalu, dia datang untuk mencariku demi mempertahankan hubungan kami, tapi aku malah pergi berlibur bersama keluargaku.


Aku menggeleng-geleng, tidak ingin memikirkan masa lalu.


Yang penting sekarang dia bersamaku, batinku seraya menyelinap ke balik selimut. Kupejamkan mataku dan membiarkan imajinasiku mengembara dengan liar saat membayangkan Ram berendam di dalam bathtub, tepat di seberang lorong....

__ADS_1


__ADS_2