
"Lihat!" seseorang berteriak kegirangan. "Seekor burung!"
Emil menarik tali kekang kudanya dan penunggang yang lain berhenti di belakangnya. Pria yang membawa kamera tadi langsung memotret. Sayap burung cantik itu mengepak, siap untuk terbang.
Pria berkamera itu sedang bersiap untuk memotret lagi ketika salah satu penunggang kuda itu bersin. Secepat kilat, burung itu menghilang.
Hmm... andai saja tadi aku membeli kamera di toko cinderamata. Pemandangan di tempat itu begitu mempesona -- bukit yang bergelombang tertutup pepohonan, aliran sungai yang berkelak-kelok, padang rumput yang menghijau, dan di atas semua itu langit biru begitu luas dan begitu biru nyaris menyilaukan saat memandangnya.
Dan Ram. Pernahkah ada pria yang terlihat setampan dirinya saat menunggang kuda? Pria itu duduk dengan tegak dan santai di atas pelana, topinya dipasang rendah, siaga sekaligus santai saat menunjuk unggas cantik di kejauhan.
Rasanya menyakitkan berada di dekat pria itu mengingat apa yang telah terjadi di antara kami. Bahkan saat ini, aku tidak yakin apa yang salah. Kami mengalami perselisihan konyol yang entah bagaimana malah berkembang menjadi pertengkaran besar. Aku telah mengatakan sesuatu yang tidak bermaksud kukatakan, sesuatu yang aku sesali, meskipun aku tidak ingat lagi sekarang apa yang kami pertengkarkan kecuali bahwa hal itu berkaitan dengan kepergian Ram ke luar kota untuk ambil bagian dalam sebuah pertemuan masyarakat. Aku sekarang menyadari betapa tolol diriku bertengkar mengenai sesuatu yang begitu sepele. Ikut serta dalam pameran seni budaya adalah mata pencaharian Ram. Tapi saat itu aku begitu muda dan jatuh cinta setengah mati, aku tidak suka berpisah dengan pria itu lebih dari setengah hari, sendirian selama beberapa minggu. Ram menuduhku manja dan egois, dan aku menuduhnya tidak peduli dan tidak perhatian.
Apa yang kuingat adalah keheningan yang sangat terasa di antara kami saat Ram mengantarku pulang malam itu. Pria itu menghentikan truknya di gerbang depan dan mematikan mesinnya. Aku hanya duduk di situ, nyaris menangis, berharap pria itu mau meminta maaf, mau memelukku dan menciumku.
Tetapi, pria itu hanya berkata, "Aku akan meneleponmu."
Dan aku menyahut, "Tidak perlu. Aku ingin kita putus."
__ADS_1
Aku langsung menyesal setelah mengucapkan kata-kata itu, tapi aku terlalu muda dan terlalu angkuh untuk menarik kembali kata-kata itu.
Sambil melompat dari truk, aku menekan dengan keras kode untuk membuka gerbang, dan berlari menyusuri jalan berliku menuju rumah tanpa menoleh ke belakang: kepadanya yang mengumpatku dengan sumpah serapah bahwa aku tidak akan menemukan lelaki lain selain dirinya sebagai belahan jiwa. Dan aku pasti akan kembali ke dalam pelukannya.
Tetapi aku tidak peduli. Aku tidak menggubrisnya.
Keesokan harinya, aku menangis seharian, lalu menyingkirkan keangkuhanku dan menelepon Ram. Ibunya yang mengangkat telepon. "Ram pergi ke luar kota pagi-pagi tadi," ibunya memberitahuku.
Aku pun menutup telepon, merasa hancur mengetahui Ram begitu ingin menjauh dariku sehingga meninggalkan kota satu hari lebih awal daripada yang direncanakan. Aku bergegas pulang dari sekolah setiap hari, berharap Ram telah menelepon dan meninggalkan pesan di ponselku, tapi pria itu tidak pernah melakukannya. Setelah seminggu bermuram durja di rumah, orang tuaku memutuskan bahwa aku butuh perubahan suasana. Setelah acara kelulusan, mereka membawaku ke Eropa selama musim panas. Melewati masa liburan yang cukup panjang dalam kesenangan, juga dalam kerinduan.
Bertekad untuk menyingkirkan pria itu dari pikiranku, aku pergi kuliah. Aku bertemu Christian pada awal masa kuliah. Christ adalah seniorku. Pria itu telah datang berkunjung ke rumah bersamaku saat liburan Natal untuk bertemu dengan orang tuaku. Christ dan kedua kakakku dengan cepat menjadi akrab. Mereka mengajak Christ bermain golf, dan memperkenalkannya dengan teman-teman mereka di klub. Tentu saja, kakak-kakakku, juga ayahku, mereka sangat senang ketika aku dan Christ mengumumkan bahwa kami sudah berpacaran. Seperti halnya Tuan Hartawan, Christ adalah segala sesuatu yang tidak dimiliki oleh Ram. Tetapi lambat laun aku menyadari kalau Christ lebih banyak menghabiskan waktunya dengan saudara-saudaraku daripada denganku. Dan sekarang aku merasa aneh, menengok kembali ke belakang, dulu hal itu sama sekali tidak menggangguku. Aku tidak protes sedikit pun, tidak seperti sikapku kepada Ram. Tidak masalah tidak bertemu dengan Christ walau berhari-hari, aku tidak pernah peduli. Tetapi dengan Ram, dulu aku tidak pernah tahan walau hanya berpisah setengah hari. Aku ingin selalu bersamanya.
Sambil menatap ke atas, aku melihat seekor elang melayang dengan anggun di arus udara. Elang adalah burung yang indah. Melihat burung-burung itu mengingatkanku pada bulu elang yang diberikan Ram padaku. Pria itu mengatakan kepadaku kalau orang dari suku pedalaman percaya bahwa elang adalah pembawa pesan ke Roh Agung. Bulu itu adalah satu-satunya benda yang diberikan pria itu yang tidak kubuang ataupun kubakar. Sebabnya aku takut jika melakukan itu akan berakibat buruk, karena aku tidak akan berani menganggap remeh pada kepercayaan yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat. Dan aku masih menyimpan bulu elang itu, yang mengingatkanku kepada...
"Ram...."
"Ya? Kamu menginginkan sesuatu?"
__ADS_1
"Oh!" jelas aku terkejut, aku mendongak, tidak menyadari kalau aku telah mengucapkan nama pria itu dengan keras. Untuk sesaat aku hanya menatap dengan kosong ke arahnya, lalu mengucapkan hal pertama yang muncul di pikiranku. "Kenapa kamu sampai dipenjara? Emm... maksudku... maksudku aku tahu kalau kamu berkelahi. Tapi... kenapa? Apa alasannya? Emm... maksudku kenapa kamu sampai berkelahi?"
Ya ampun, bodoh sekali aku hingga kehilangan kendali.
Tatapan Ram menjadi datar dan keras. "Apa pengaruhnya? Kenapa kamu harus menanyakan soal itu?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin tahu."
"Kamu selalu menjadi gadis yang mau tahu."
"Aku bukan seorang gadis."
"Mungkin bukan gadis, tapi tetap mau tahu," jawabnya, dan mendesak kudanya untuk berlari.
Persis di saat itu aku menyadari, aku menanyakan hal yang menyakitkan baginya pada situasi yang tidak tepat. Tentulah ketika ia mengingat hari-hari yang ia habiskan di balik jeruji besi, itu sangat melukai perasaannya. Bahkan, Khinan mengatakan kepadaku, Ram masih akan berada di sana seandainya Bibi El tidak datang untuk menolongnya. Bibi El telah mengeluarkan banyak uang untuk menebus Ram keluar dari penjara, memberi Ram pekerjaan dan meyakinkan hakim bahwa peristiwa perkelahian seperti itu tak akan pernah terulang lagi. Aku tahu, bagi Ram, hari-hari yang dihabiskannya di penjara adalah hari-hari terburuk dalam hidupnya.
Aku menatap pria itu, bersedih atas apa yang telah hilang di antara kami, berharap dapat mengerahkan keberanian untuk bertanya kepada pria itu: mengapa dia tidak pernah meneleponku? Apakah dulu ia benar-benar ingin melupakan aku?
__ADS_1