Cinta Terlarang Di Malam Purnama

Cinta Terlarang Di Malam Purnama
Sikap Bijaksana


__ADS_3

Aku bukannya menyerah untuk menjadi seorang pecundang, bukan menyerah pada Ram, ataupun menyerah mengejar cintanya. Tetapi aku menyerah karena aku seorang wanita, aku tahu kapan aku harus berhenti: aku tidak boleh mengemis cinta pada seorang pria. Boleh berusaha, boleh meminta, tetapi tidak boleh mengemis, apalagi sampai menyembah di kakinya hanya untuk mendapatkan cintanya. Dia sudah menolakku dan memintaku pergi. Jadi semuanya sudah berakhir. Cintaku tak tergapai.


Aku bersyukur, saat ini aku bisa menumpang di pondok Bibi El. Karena tidak ingin membuatnya ikut sedih karena mengkhawatirkan keadaanku, aku berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Aku bergegas mandi, berganti pakaian, dan makan, plus menenggak vitamin dan obat tidur yang diberikan Bibi El. Dia memaksaku istirahat saja di tempat tidur supaya tubuhku tetap fit, emosiku kembali stabil, dan pikiranku kembali damai setelah bangun dari tidur.


"Malam ini akan ada pesta dansa, dan Bibi tidak mau kamu melewatkannya. Nikmatilah harimu di sini sebelum memutuskan untuk pergi, oke?"


Tidak ada gunanya menolak, aku tidak ingin membuat Bibi El kecewa dan meninggalkan kesan buruk diriku di matanya. Jadi aku menurut. Bahkan ketika ia duduk bersandar di kepala ranjang dan menyuruhku untuk merebahkan kepala di pangkuannya, aku menurut.

__ADS_1


"Boleh?" tanyaku.


Dia mengangguk seraya tersenyum, mengingatkan aku pada ibuku. Dengan perasaan haru aku pun merebahkan kepalaku di pangkuannya. Bibi El mengusap-usap kepalaku dengan sayang.


"Boleh Bibi bicara sambil menunggumu tertidur?"


"Kamu bersemangat sekali," katanya, balas menggoda. "Bibi bukannya mau membahas tentang hubunganmu dengan Ram, tahu!"

__ADS_1


Ah, dia membuat pipiku merona merah. "Jangan menggodaku, Bibi. Bibi mau membahas tentang apa memangnya? Katakan saja. Aku akan mendengarkanmu."


"Bukan apa-apa, Nak. Bibi hanya ingin mengatakan bahwa Bibi senang bisa mengenalmu. Seperti mengusir kesepian. Bibi tidak punya seorang putri, bahkan tidak punya anak kandung. Bibi hanya memiliki Ram. Ibunya Ram adalah adik dari almarhum suami Bibi. Sejak Ramana Lingga lahir, Bibi yang merawatnya, karena ibunya... ibunya masih terlalu muda saat itu. Baru lima belas tahun, bahkan dia belum bisa mengurusi dirinya sendiri. Karena itu, Ram-ku tumbuh tanpa cinta dari kedua orang tuanya. Ibu dan ayahnya tidak menikah. Pria itu meninggalkan gadis lima belas tahun itu sendirian di saat dia hamil. Dan tidak ada yang tahu siapa pria itu selain ibunya Ram yang hanya bungkam. Dan karena itu juga-lah, Ram-ku tidak mempercayai cinta dalam hidupnya selain cintaku dan cinta pamannya. Tapi, ya, dia pernah jatuh cinta sekali, hanya satu kali. Delapan tahun yang lalu. Tapi cinta itu juga direnggut darinya. Sebab itulah dia... maksudku, mungkin sebab itulah dia takut mengakui cintanya kepadamu. Dia takut mengakui bahwa dia juga sangat mencintaimu. Dia tidak ingin patah hati lagi seperti di masa lalu. Jadi... Bibi harap kamu bisa mengerti. Tolong maklumi sikapnya, ya? Dia tidak bermaksud menyakiti hatimu. Bibi minta maaf atas sikapnya. Hmm? Kamu bisa memaafkannya, kan? Jangan meninggalkan tempat ini dengan membawa kebencian terhadap pemuda itu. Pergilah dengan perasaan damai. Hingga suatu hari kamu bisa kembali ke sini, kapan pun yang kamu mau. Bisa? Kamu mau memaafkannya untuk bibimu ini? Tolong?"


Aku hanya mengangguk. Aku tidak berani mengakui kepada Bibi El bahwa akulah gadis itu. Aku terlalu pengecut, takut jika Bibi El malah akan... tidak lagi menyukaiku. Setidaknya tidak malam ini. Kupikir mungkin aku akan memberitahu Bibi El tentang siapa aku sebenarnya, nanti, sebelum aku meninggalkan tempat ini.


"Jangan menangis." Dia mengusap air mataku. "Pejamkan matamu dan tidurlah." Dia kembali mengusap kepalaku dengan sayang.

__ADS_1


Dan aku akan memenuhi permintaannya. Aku akan pergi dari tempat ini dengan damai. Mungkin tidak sepenuhnya benar, tapi aku tidak akan membawa kebencianku lagi seperti dulu. Aku tidak akan membenci Ram untuk alasan apa pun. Aku hanya akan mencintainya meski tidak untuk memiliki.


__ADS_2