Cinta Terlarang Di Malam Purnama

Cinta Terlarang Di Malam Purnama
Keajaiban Dalam Derita


__ADS_3

Kalau suatu hari aku meninggal, aku ingin organ tubuhku berguna bagi orang lain. Akan kudonorkan organ tubuhku kepada mereka yang membutuhkan. Kecuali mataku dan apa pun bagian di wajahku.


Itu yang dulu pernah kukatakan kepada ibuku. Aku tidak keberatan dimakamkan tanpa jantung, hati, ginjal, atau apa pun asalkan bagian wajahku tetap utuh. Aku tidak ingin orang-orang yang mencintaiku mengenangku dalam bayangan tanpa bola mata atau bagian wajah yang tak sempurna. Aku ingin orang-orang mengenangku seperti Purna -- diriku yang hidup, Cahaya Purnama yang cantik jelita. Meski hanya dalam kenangan mereka.


Yeah, aku tak sepenuhnya hilang kendali saat berniat bunuh diri. Aku hanya sekadar tidak ingin hidup hanya untuk membebani semua orang yang akan menerima dampak buruk dari perbuatanku: cemooh dari masyarakat yang akan ditujukan kepada semua anggota keluargaku dan kemungkinan akan membuat kemerosotan ekonomi bagi mereka semua, utamanya bagi ayahku dan kedua kakakku. Aku tidak ingin menjadi beban bagi mereka dan tidak ingin mereka menanggung beban moral dalam lingkungan masyarakat hanya karena aku. Dan lebih dari itu, aku merasa tidak sanggup lagi hidup saat mengetahui fakta bahwa: Tuan Hartawan adalah ayah biologis dari pria yang kucintai, ayah biologis Ram. Yang menghamili pacarnya, Nyonya Pradita saat ia berusia enam belas tahun dan mencampakkannya begitu saja. Bagaimana mungkin aku sanggup hidup dalam bayang-bayang kedua pria yang ternyata adalah ayah dan anak, yang sama-sama telah bersetubuh denganku? Aku tidak akan sanggup. Karena itu aku tidak punya pilihan lain selain bunuh diri. Jadi aku ingin mati tapi tidak dengan merusak organ tubuhku. Aku tidak ingin menusuk jantungku atau menusuk perutku yang berisiko akan melukai ginjalku, jadi kuputuskan untuk menjatuhkan tubuhku dari ketinggian. Aku naik ke besi tempah penyangga beranda seraya berpegangan pada tiangnya, lalu merebahkan tubuhku ke bekakang, dan melepaskan pegangan tanganku, kemudian aku terjatuh... dalam balutan gaun pengantin.


Tubuhku memang dipenuhi luka, memar dan lebam, tetapi aku memandang diriku tetap cantik dalam balutan gaun pengantin itu, begitu pula pada saat tubuhku jatuh dari ketinggian, terhempas dengan posisi punggung dan kepala menghantam kerasnya paving blok di halaman rumah besar itu. Memang, secara fisik rasanya sakit sekali, mustahil tidak. Tapi itu tidak menyakitkan bagi jiwaku. Sebab, setelah tubuhku terhempas dan merasakan rasa sakit yang amat sangat, yang kurasakan hanyalah kedamaian. Aku berharap meski tubuhku jatuh ke bumi -- jiwaku akan segera terangkat dan naik ke langit. Aku ingin mati dalam kedamaian dan dengan bagian raga yang akan terus hidup dan berguna bagi kehidupan orang lain: bagi orang itu sendiri, dan bagi semua orang yang ia cintai dan mencintainya.


Aku tidak takut mati, kalimat yang diucapkan Ram hari itu terngiang-ngiang dalam benakku. Dan itu yang kurasakan pada saat ini. Aku tidak takut mati. Hanya ada kedamaian. Dan aku ingin abadi dalam jiwa orang lain, terutama dengan jantung dan hatiku, yang akan terus berdetak dan berdebar di dalam raga yang lain. Di dalam jiwa yang lain. Harapan dan angan yang mulia, yang kusambut dengan senyuman.


Selamat datang dalam kehidupan barumu, Purna....


Mataku terpejam....


Segalanya gelap bagiku. Hening, tenang dan sunyi. Tapi aku sendirian. Tidak ada apa pun atau siapa pun. Tidak terjadi apa pun. Aku menunggu lama dalam diam. Lama sekali. Kebingungan. Berjalan ke sana kemari, meraba-raba, mencari sesuatu, apa saja, Tuhan, malaikat, atau siapa pun yang bisa kujumpai. Tapi tidak ada. Tidak ada siapa pun. Aku lelah dan nyaris menyerah. Hanya terduduk tak berdaya. Lama setelahnya aku merasa geram. Lalu aku bangkit dari duduk dan menatap langit yang kelam. Aku berteriak-teriak memanggil nama Tuhan. Menantangnya untuk menunjukkan diri. Tapi ia malah mencambukku dengan kilatan petir yang menyambar-nyambar bagai cemeti, dan suara petir yang membahana membelah langit yang ganjil itu. Lalu tiba-tiba dunia di sekitarku menjadi terang. Kilat dan petir sudah menghilang. Aku melihat hamparan padang rumput yang dipenuhi bunga dan berkabut. Lalu terdengar suara-suara tawa mungil di sekitarku. Tidak begitu jelas, tapi seolah aku merasakan ada dua tangan mungil yang menggenggam jemariku. Tangan bayi. Kecil sekali. Satu di sisi kanan, dan satunya di sisi kiriku. Mereka membawaku terbang. Kami menerabas langit kelabu. Menembus awan-awan tebal nan kelam, awan-awan tipis yang dingin. Melintas tebing-tebing terjal dan samudra luas membentang. Hingga akhirnya, aku tidak tahu apa-apa lagi. Tidak ingat apa-apa lagi, seperti tidak ingat bagaimana aku sebelum lahir dan proses kelahiranku di dunia.


Kupikir mereka akan membawaku ke surga. Aku bahagia karena kupikir aku benar-benar sudah mati dan akan berpindah ke tempat yang lain. Aku menyambutnya dengan sukacita. Tetapi...


Saat itu ternyata takdir berkata lain.


Aku tidak mati.


Tidak.


Aku masih hidup. Tuhan menghendaki aku masih hidup.


Kenapa? Apa kau bertanya?


Sama, aku juga bertanya. Aku ingin bertanya kepada Tuhan: apa Dia ingin mengujiku lagi? Membuatku tetap hidup lalu menyiksaku lagi, menyiksa hati dan perasaanku lagi, ingin mengirimku ke sel tahanan, begitu?


Aku mendapatkan jawaban "Ya" saat pertama kali aku terbangun pasca insiden itu, setelah terbaring di rumah sakit dan ternyata aku mengalami koma selama tiga hari. Kusadari aku masih hidup, ruang di sekelilingku yang memberitahuku, dan orang-orang yang berada di sekitarku: Ram, ibuku, ayahku, Kak Pram, dan dua orang polisi yang berjaga di luar ruangan -- pemandangan khas ruang ICU dan wajah-wajah sedih yang mencemaskan kondisiku dari balik kaca jendela -- semua itu menegaskan bahwa sekarang ini aku masih hidup dan jeruji besi tengah menantiku di sana.


Kau kejam sekali, Tuhan. Kau kejam sekali kepadaku. Terima kasih.


Aku menangis. Kupejamkan kembali mataku. Ingin terus kupejamkan. Biar saja aku terus dalam keadaan tidak sadar. Biar saja.


Tapi takdir lagi-lagi berkata lain.

__ADS_1


Ram melihat tetesan bening mengalir dari sudut mataku.


"Purna...?" Segera ia menerobos masuk ke ruang ICU, menghampiriku dalam seragam hijau rumah sakit, diikuti oleh ibuku dan yang lainnya. "Purna, Sayang, kamu sudah siuman, Sayang? Buka matamu. Ini aku, Ram."


Oh Tuhan... begitu syahdu suara itu berbisik di telinga.


"Buka matamu, kumohon... demi aku...."


Dan aku membuka mata, demi dia. Karena aku masih Purna yang sama. Purna yang mencintai Ramana Lingga dan tidak akan pernah bisa menolak apa pun yang ia pinta dariku. Aku membuka mataku....


"Hai...."


"...." Mulutku terbuka.


"Purna?"


Hai. Aku ingin mengatakan hai kepadanya. Tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutku.


Kenapa? Ada apa dengan suaraku? Kenapa aku tidak bisa mengeluarkan suaraku?


Mungkin karena aku baru saja siuman, pikirku. Tenang, Purna. Tenanglah.


Persis di saat itu dokter berdeham. "Permisi, mohon Bapak dan Ibu keluar dulu, biar kami periksa dulu keadaan pasien."


Mereka semua beranjak setelah memberiku banyak ciuman.


"Kami keluar dulu," bisik ibuku, dia tersenyum. "Mama senang akhirnya kamu siuman. Terima kasih, Sayang."


Aku hanya bisa mengerjap, tetes-tetes air mata kembali mengalir. Kemudian Ram melakukan hal yang sama. "Aku keluar dulu," bisiknya, dia mencium keningku. "Aku mencintaimu, dan aku masih menunggu. Akan terus menunggumu."


Lalu semuanya samar. Dokter melakukan pemeriksaan fisik kepadaku, lalu mengajukan pertanyaan.


Aku masih tidak bisa menjawabnya. Hingga dokter melakukan pemeriksaan saraf, memintaku untuk menggerakkan tangan dan kaki.


Nihil! Tidak bisa kugerakkan.


Aku mengalami kelumpuhan dan gangguan pada suaraku.

__ADS_1


Bagus sekali. Dia membuatku tetap hidup tapi menjadikanku seperti mayat. Dia tidak membawaku ke surga ataupun ke neraka, dan tidak mengirimku ke penjara, tapi membuatku tergeletak tak berdaya di atas ranjang.


Sempurna. Setelah dokter keluar dari ruangan dan memberikan penjelasan kepada semua orang, Ram dan anggota keluargaku kembali masuk. Menangis, sedih karena kondisiku. Miris sekali. Keadaan ini membuatku terus menangis dan tak mempedulikan apa pun lagi sampai akhirnya Ram meminta semua orang keluar dari ruangan, dan dia ingin bicara berdua saja denganku.


Hanya berdua.


Di saat itulah aku teringat saat aku menerima panggilan telepon dari ibunya Ram di ponsel Tuan Hartawan malam itu. Tanpa aku menyahut, ia langsung meneriakkan nama Tuan Hartawan dan menghardiknya. Mengancamnya agar jangan lagi mengganggu Ram atau ia akan membeberkan kebenaran kepada dunia bahwa Ram adalah anak biologis yang tidak pernah ia akui. Bahwa sosok terhormat itu hanyalah seorang bajingan yang tidak bertanggung jawab. Begitu mendengar kenyataan itu, ponsel Tuan Hartawan terjatuh dari genggamanku. Hatiku melesak, itu begitu menyakitkan. Semakin mendorongku untuk melenyapkan nyawaku sendiri. Aku mengetahui rahasia yang mencambukku dengan rasa malu.


Tapi kecacatan ini, kebisuan yang kualami ini, membuat rahasia itu hanya menjadi rahasia. Lalu aku teringat insiden sebelum Ram meninju Tuan Hartawan tempo hari, Ram mengatakan bahwa pria itu berutang maaf pada ibunya. Aku jadi berpikir, apa jangan-jangan Ram sebenarnya tahu bahwa pria itu adalah ayah biologisnya? Tapi dia menyimpan rahasia itu dariku?


Bagaimana aku bisa berhadapan denganmu sekarang? Aku telah menikah dengan pria yang berstatus sebagai ayah biologismu, aku takut kalau ada yang menyebutku sebagai ibu tirimu. Itu sangat... sangat memalukan untuk identitasku. Aku tidak ingin berstatus sebagai ibumu, meski hanya ibu tiri.


Untuk sesaat Ram hanya memandangiku dengan matanya yang basah. Dia sedih, namun ada senyuman bahagia juga di wajahnya, lalu dia mencium keningku. Di saat itulah aku menyadari ada luka lebam di sudut bibirnya. Ada apa dengannya? Siapa yang memukulinya? Ayahku atau kakakku? Atau dia berkelahi dengan orang lain? Apakah di dalam penjara dia sempat dipukuli oleh seseorang? Tapi aku bisu, pertanyaanku tak terutarakan, apalagi terjawab. Tidak.


"Tidak apa-apa," katanya, bicara sambil menatap mataku, dalam suara rendah dan nyaris seperti bisikan, begitu dekat dengan wajahku. "Dokter bilang kemungkinan ini tidak permanen. Kamu masih bisa disembuhkan. Jadi tidak apa-apa. Karena yang terpenting ada aku di sini, dan," -- dia menaruh tangannya di perutku -- "ada dua janin kembar di dalam sini. Jagoanku. Kamu hamil...."


Oh...? Mataku terbelalak nyaris tak percaya. Aku hamil...?


"Dokter melakukan pemeriksaan pada darahmu, dan dokter terkejut setelah pemeriksaan itu, selain menunjukkan kondisimu baik-baik saja, ternyata kamu juga hamil. Emm... maksudku... kemarin, tidak ada penyakit lain selain luka luar, dan... sekarang... kelumpuhan ini. Kamu tahu, aku sangat bangga, mereka luar biasa kuat. Mereka bisa bertahan di dalam rahimmu. Itu keajaiban besar, kan, Sayang? Mereka anak-anak yang kuat. Anak-anakku. Anak kita."


Ya Tuhan, andai aku bisa menjerit, aku ingin sekali meneriakkan kebahagiaanku.


"Kamu senang, kan? Kamu bahagia mendengar kabar ini?"


Aku tersenyum, mengerjapkan mata dua kali sebagai respons yang refleks, dan aku menangis bahagia.


Terima kasih, Tuhan. Kali ini aku benar-benar bersyukur. Dari semua hal buruk yang menimpaku, Dia memberiku berkat yang luar biasa. Terima kasih. Maaf aku sudah banyak mengeluh pada-Mu. Maafkan aku. Terima kasih banyak.


"Jadi tidak ada alasan lagi untuk bersedih saat ini. Kita lupakan semua yang buruk. Jangan dibahas lagi dan jangan menangis lagi. Ya? Jangan memikirkan apa yang terjadi kemarin, jangan khawatirkan soal itu karena ayahmu dan kakakmu akan berusaha melakukan yang terbaik untukmu. Kakakmu akan berusaha supaya kamu mendapatkan kebebasan, atau minimal penangguhan hukuman dengan alasan kondisimu. Tapi dia berjanji dia akan berusaha sekuat tenaga supaya kasus ini ditutup dengan alasan... ini kamu lakukan atas pembelaan diri... dan... kondisi kejiwaanmu. Psikiater yang merawatmu akan membantumu dalam persidangan. Jadi kamu jangan takut, jangan memikirkan apa pun. Oke? Dan soal kondisimu, aku akan selalu mendampingimu dalam proses terapi. Tidak peduli sebentar atau lama, aku akan selalu ada untukmu. Aku akan menikahimu. Sesegera mungkin. Demi kamu, demi anak-anak kita."


Tapi aku tidak layak menjadi istrimu. Aku lumpuh. Kamu bisa mencari wanita yang sempurna. Lagipula aku sudah menikah dengan ayahmu.


"Kenapa? Aku sudah bilang jangan menangis. Kenapa kamu masih menangis? Apa ini air mata bahagia? Hmm?"


Bagaimana aku bisa mengatakannya? Bagaimana kamu bisa tahu apa yang kupikirkan?


"Begini saja, intinya adalah jangan banyak pikiran. Dan yang penting, emm... jangan merasa kamu tidak cukup baik untukku karena kondisimu saat ini, ataupun karena apa yang terjadi kemarin, dengan segala sebab yang membuatmu merasa buruk dan tidak pantas. Tidak perlu memikirkan... sebab-sebab itu karena aku tidak akan pernah mau membahasnya. Aku tidak akan pernah mau membahas semua itu. Dan tentang pernikahan ini, aku tidak ingin ada penolakan. Aku akan memohon, jika perlu aku akan memaksamu. Lagipula aku tidak memerlukan tanda tanganmu untuk dokumen pernikahan kita, cukup cap jempolmu saja. Dan... aku akan melakukannya sendiri. Pokoknya aku akan memaksamu dan kamu tidak punya pilihan lain selain menerimaku sebagai suamimu. Kita akan melewati seribu purnama bersama. Seribu purnama terindah bersamamu, Cahaya Purnama-ku yang terindah. Aku mencintaimu, dan jangan membuatku menunggu lagi. Aku mencintaimu jadi menikahlah denganku. Kerjapkan matamu dua kali karena aku meminta, memerintah, dan memaksa, terima aku, please...?"

__ADS_1


__ADS_2