
Aku keluar dari toilet dengan perasaan malu. Kuteguk ludah dengan susah payah sebelum akhirnya berkata, "Bibi sudah tahu siapa aku sebenarnya? Maafkan aku, aku...."
"Ram sudah menceritakan semuanya kemarin." Bibi El berdiri menghampiriku. "Jadi, kamu masih tetap ingin meninggalkan tempat ini?"
Tidak jika Ram bersedia menahanku, dan memperjuangkan aku. Tapi nyatanya sampai detik ini dia sama sekali tidak berubah pikiran. "Aku akan pergi. Tidak ada yang akan berubah. Tidak juga dengan sikap Ram. Dia tidak akan berjuang untuk hubungan kami. Jadi... tidak ada yang bisa kulakukan lagi."
Bibi El mengangguk sedih.
"Emm... Bi, aku... aku minta maaf atas semua yang terjadi di masa lalu, juga untuk yang sekarang. Kuharap Bibi tidak akan membenciku setelah tahu siapa aku yang sebenarnya."
Sekarang ia menggelengkan kepalanya. "Tidak akan," katanya, ia menggenggam kedua tanganku. "Kamu tidak bersalah. Tapi... ya, seperti yang Bibi minta padamu, jangan pergi membawa kebencian, ya? Temuilah dulu Ram dan kalian bicara baik-baik. Setelah itu, keputusan ada di tanganmu. Hmm? Bicara baik-baik sebagai teman yang ingin berpamitan, dan jangan mengedepankan ego, kalian pasti bisa saling memaafkan. Kalau tetap tidak bisa bersama, setidaknya berpisahlah dengan cara yang baik. Kamu bisa melakukan itu untuk Bibi? Tolong?"
Bibi El benar, pikirku. Dan lagipula aku memang berniat begitu. Jadi aku mengangguk cepat dengan senyuman. "Akan aku lakukan," ujarku. "Terima kasih karena Bibi sudah begitu baik padaku. Nanti aku akan kembali untuk berpamitan. Aku permisi dulu. Dah, Bi...."
Kulayangkan senyum pada wanita baik hati itu sebelum meninggalkan kantor dan menuju ruang bersantai. Aku ingin menikmati tempat ini sebentar sebelum bertemu dengan Ram. Tetapi sayangnya tidak satu pun hal yang menarik minatku untuk dilakukan. Aku sedang tidak ingin membaca. Aku tidak ingin bermain video game. Aku sudah pernah melihat film yang diputar di ruang belakang. Aku mengangguk dan tersenyum ke arah beberapa pengunjung lain lalu meninggalkan bangunan itu.
Berenang sebentar sepertinya menyenangkan, pikirku. Tetapi aku tidak punya baju renang. Jadi, aku berjalan menuju toko cinderamata untuk melihat apakah mereka menjual baju renang, tetapi langkahku terhenti sebelum tiba di tempat tujuan karena mendengar suara Ram.
Langkah kakiku malah berjalan mengikuti suara itu ke kandang kecil di belakang gudang. Lina dan Dina Wijaya sedang duduk di susuran pagar kandang paling atas. Di bagian dalam, Ram sedang memberikan pelajaran berkuda kepada Nina, yang lebih memusatkan perhatiannya kepada Ram daripada kepada kuda.
Berdiri di luar garis pandang mereka, aku memperhatikan cara Ram bergaul dengan gadis-gadis remaja itu. Pria itu sabar menghadapi Nina, menghindari usaha gadis itu untuk bermain mata dengannya, dengan cara yang tidak akan menyinggung perasaan gadis remaja itu, sekaligus tetap berusaha mengajarkan gadis itu bagaimana cara mempertahankan posisi duduknya dan memegang tali kekang. Ram juga sama sabarnya menghadapi dua gadis lain yang lebih muda, membantu mereka menumbuhkan rasa percaya diri terhadap diri dan kemampuan mereka.
Aku tetap berada di sana sampai pelajaran berakhir, senang memandang pria itu, seraya membayangkan pria itu akan menjadi ayah yang sangat hebat di masa mendatang.
Aku bersembunyi kembali saat Ram membuka pintu kandang bagi para gadis itu, mengangguk dan tersenyum saat mereka mengucapkan terima kasih atas pelajaran hari itu.
Aku baru saja akan berbalik saat mendengar suara Ram. "Kamu boleh keluar sekarang."
Aku terdiam mematung, berpikir apakah sebaiknya aku kabur atau keluar dari tempat persembunyian dan mengakui bahwa aku telah lancang diam-diam memandanginya.
"Aku tahu kamu ada di situ," seru Ram.
Sembari menegapkan bahu, aku keluar dari balik gudang dan beranjak menghampiri kandang. "Bagaimana kamu tahu aku ada di situ?"
"Aku mencium aromamu."
"Yang benar saja."
__ADS_1
"Memang benar."
"Memangnya seperti apa aromaku?"
"Buah peach."
Kurasakan rona merah menjalar ke pipi. Aku telah mencuci rambutku dengan sampo beraroma peach tadi pagi.
Ram melepaskan pelana, melonggarkan dan melepaskan tali kekang. "Apa yang kamu lakukan di sini?" Sebelah alisnya mencuat. "Kamu tidak mendaftar untuk pelajaran berkuda, kan?"
"Tidak."
Seraya melepas topinya, pria itu merunduk dan menyelinap di antara susuran pagar dan berjalan ke arahku. "Well?"
Aku menengadah menatapnya, denyut jantungku meningkat merasakan kedekatan pria itu. "Apa kamu sedang sibuk sekarang? Emm... maksudku...."
Ram melirik arlojinya, lalu menyandarkan tangan kanannya di susuran teratas kandang. "Aku punya waktu lima belas menit," katanya. "Akan kuberikan lima belas menit-ku untukmu."
Ya Tuhan... aku senang mendengarnya. Meski hanya untuk lima belas menit saja, bukan seumur hidup yang ia berikan kepadaku. Tapi aku malah membisu, berat sekali rasanya mengatakan bahwa aku ingin berpamitan.
"Ada apa?"
"Ya kenapa? Pasti ada alasannya, bukan?"
Aku mengedikkan bahu. "Jelas ada. Tapi tidak bisa kujelaskan. Entahlah. Tapi aku ingin mengobrol denganmu."
"Well, kita sedang mengobrol."
"Em, aku tahu."
"Apa yang ingin kamu katakan?"
"Apa kamu membenciku?"
"Bagaimana bisa?"
"Jadi, tidak?"
__ADS_1
"Entah di masa lalu. Tapi sekarang tidak. Aku tidak membencimu."
Aku lega, tapi entah bagaimana rasa lega itu tetap seperti bongkahan yang mengganjal di tenggorokanku. Tak ingin keluar dari dalam diriku. "Terima kasih. Aku senang mendengarnya."
"Lalu?"
"Lalu...."
"Kamu ingin berpamitan?"
Aku mengangguk, berusaha untuk tidak menangis. "Benar. Aku ingin berpamitan padamu. Penerbanganku malam ini. Jadi...."
"Bisa batalkan penerbanganmu?"
Eh? Mataku nyaris terbelalak mendengar permintaannya. Tetapi....
Terlalu menakutkan untuk merasa senang. Aku takut ini akan membuatku kembali merasa seperti layangan yang ditarik ulur.
Untuk alasan apa? Aku ingin bertanya demikian. Ingin menanyakan itu. Tetapi tidak bisa. Kutekankan pada diriku sendiri: jangan biarkan dirimu kembali terperosok ke dalam kubangan kesakitan. Jangan, Purna....
Aku telah memutuskan untuk pergi. Maka aku harus pergi.
Aku menggeleng kepada Ram. "Maaf...."
"Setidaknya ditunda dulu. Apa bisa? Jangan malam ini. Ada sesuatu yang belum selesai. Setidaknya itu menurutku. Ada yang belum selesai di antara kita. Aku tidak ingin... aku tidak ingin menyesal, Purna. Tidak ingin ada penyesalan lagi. Tolong? Kamu boleh pergi setelah... setelah kita merasa... semuanya sudah selesai. Kita harus menghabiskan waktu bersama sebelum kamu pergi, please?"
Huuuuuh... seperti mimpi. Ram mengatakan hal ini kepadaku.
Ram menghela napas dalam-dalam. "Ada acara dansa di penginapan nanti malam sehabis jam makan malam."
"Ada lagi?"
Ram mengangguk. "Mereka menyelenggarakannya setiap jumat dan sabtu malam. Aku akan menjemputmu jam delapan, kalau kamu tidak keberatan. Tolong? Jangan pergi dulu?"
"Baiklah. Aku akan siap."
"Janji tidak akan pergi sebelum bertemu denganku?"
__ADS_1
"Janji."
Hidup sungguh tidak pasti, renungku seraya berjalan kembali ke pondokku. Minggu lalu pada waktu yang sama aku tengah berdiri di depan altar di samping Tuan Hartawan untuk mengikat janji pernikahan, dengan telapak tangan lembap dan perut mual, lalu kabur meninggalkannya. Tapi hari ini, aku berjanji pada kekasih lama-ku untuk tetap di sini dan membatalkan kepergianku.