Cinta Terlarang Di Malam Purnama

Cinta Terlarang Di Malam Purnama
Serba Salah


__ADS_3

Ram hanya bercanda. Dia bilang dia akan berusaha menahan dirinya dan tak akan memanfaatkan situasi di antara kami yang dilingkupi gairah dan kerinduan setelah lama berpisah.


"Kita jalani saja dulu saja keadaan yang sekarang. Kamu dan aku bersama, itu yang terpenting."


Dia benar, walaupun entah kenapa di hatiku tetap saja terselip sedikit rasa kecewa.


Beberapa saat kemudian malam itu, sembari berbaring nyalang di tempat tidur, aku memikirkan hidupku. Rasanya menyenangkan memiliki orang tua yang kaya, tidak pernah kekurangan, tidak pernah mencemaskan soal tempat untuk berteduh atau soal makanan untuk disantap. Meski begitu, uang, mobil, pendidikan di universitas, perjalanan ke Eropa, dan semua hal yang bisa dibeli dengan uang ayahku tidak pernah membuatku benar-benar merasa bahagia seutuhnya. Kenyataan itu benar-benar terlihat dengan gamblang saat aku berpisah dengan Ram. Aku memandang ke sekeliling kamarku, ke semua benda mewah yang berada di dalamnya, dan menyadari betapa tidak berartinya semua itu jika aku tidak bisa berbagi dengan Ram.


Ketika kami berkencan sebelumnya, aku menyadari bahwa Ram merasa diriku jauh di luar jangkauan pria itu. Pada lebih dari satu kesempatan Ram menyuarakan dengan lantang kekhawatirannya bahwa dia tidak akan bisa menghidupiku seperti yang ayahku lakukan. Pria itu telah menanyakan berulang kali mengenai perasaanku seandainya kami menikah dan hanya mampu membeli sesuatu yang wanita butuhkan, bukannya segala sesuatu yang aku inginkan. Aku telah memberitahu Ram bahwa itu sama sekali bukan masalah, tapi ia tidak pernah benar-benar percaya, dan saat itu, aku sendiri juga tidak yakin apakah aku percaya.


Yeah, memang, Ram berbeda dengan para pria lainnya. Kebanyakan di luar sana, para pria sengaja mengejar para gadis kaya untuk ikut kecipratan dan menikmati kekayaan keluarganya, ikut bekerja di perusahaan mertuanya, dan berubah pola hidup dengan suka berfoya-foya, tetapi tidak dengan Ram. Ram hanya menginginkan diriku sendiri, sama sekali tidak peduli pada kekayaan ayahku.


Sama seperti ayahku, Tuan Hartawan telah memberiku berbagai barang, tetapi semua itu tidak membuatku bahagia, dan tiba-tiba aku menyadari mungkin itulah yang dimaksud oleh ibuku ketika ia memperingatkan bahwa Tuan Hartawan tidak akan pernah bisa membuatku bahagia. Tidak lama setelah pikiran itu terlintas, aku jadi penasaran apakah ibuku sungguh-sungguh bahagia bersama ayahku?


Menengok kembali ke belakang, aku ingat beberapa komentar singkat ibuku saat ia meminta ayahku pulang lebih awal agar bisa melewatkan waktu bersama kami. Waktu, batinku. Itulah anugerah terbaik, satu hal yang tidak bisa dibeli dengan uang.


Sembari mendesa*, aku berbaring menyamping, aku berada di sini dan begitu pula Ram, dan kami memiliki semua waktu di dunia ini untuk menyelesaikan masalah kami.


Tetapi aku salah. Waktu masih belum berpihak kepadaku.


Setelah tidur lelap malam itu, aku menarik selimut hingga menutupi kepala, tetapi ketukan di pintu terus berlanjut. Seraya mengeran* pelan, aku turun dari tempat tidur, mengenakan jubah kamar, dan melangkah dengan bertelanjang kaki.


Siapa, sih, yang membangunkan aku jam segini? batinku. Pasti Ram. Hanya memikirkan pria itu membuatku tersenyum saat membuka pintu.

__ADS_1


"Selamat pagi, Purna."


Aku menatap pria yang berdiri di serambi depan. Pria itu mengenakan kemeja ala koboi berlengan panjang, jins dengan garis lipatan yang cukup tajam sehingga bisa membelah kayu, dan sepasang sepatu bot super mengilat. Aku memejamkan mata sejenak, yakin diriku sedang bermimpi. Tetapi begitu aku membuka mataku lagi, pria itu masih berada di situ.


"Apa yang Anda lakukan di sini, dari sekian banyak tempat?"


"Apa kamu tidak ingin mengundangku masuk, Purna? Tolong?"


"Apa? Oh, tentu." Aku mundur selangkah. "Silakan masuk."


Seraya menutup pintu, aku menghela napas dalam-dalam, lalu duduk di sofa, memberi isyarat kepada Tuan Hartawan untuk duduk. "Apa yang Anda lakukan di sini?"


"Menurutmu?"


Aku menggeleng. "Tidak tahu."


Huh! Menyebalkan!


"Maaf, aku belum siap untuk pulang."


Tuan Hartawan tersenyum sabar. "Aku sudah mengira kamu akan berkata seperti itu, jadi aku menyewa kamar penginapan."


Apa? Mataku membelalak. "Anda menginap di sini?" Aku mengerutkan dahi ke arah Tuan Hartawan. "Bagaimana Anda bisa menemukan aku?"

__ADS_1


"Aku menelepon ayahmu. Lagipula cukup mudah untuk melacakmu." Pria itu tersenyum, tampak puas pada dirinya sendiri. "Kartu kreditmu menunjukkan keberadaanmu. Jadi." Pria itu menampar lututnya. Itu adalah gerak-gerik yang selalu kubenci. "Bagaimana kalau kamu berganti pakaian dan aku akan mengajakmu sarapan. Kita perlu bicara." Pria itu melirik tanganku. "Di mana cincinmu?"


"Aku melepasnya. Aku baru akan mengirimnya kembali kepada Anda."


"Oh, begitu." Tidak salah lagi, tersirat rasa tersinggung di sorot mata pria itu, atau di dalam nada bicaranya.


"Maafkan aku, Tuan. Seharusnya aku tidak membiarkan semuanya terjadi sampai sejauh itu. Maafkan aku."


"Tidak ada gunanya mengungkit yang sudah berlalu. Kamu telah melakukan kesalahan. Aku memaafkanmu. Ayo, sekarang kita mencari makan."


Dia tidak mendengarkan, renungku. Tapi kenyataannya pria itu memang tidak pernah mendengarkan. Memutuskan bahwa cara tercepat untuk menyingkirkannya adalah dengan melakukan apa yang pria itu inginkan, aku pergi ke kamar tidur untuk berganti pakaian. Tetapi merasakan hal yang sebaliknya, aku malah memutuskan untuk mandi berlama-lama dulu, meski pada akhirnya aku harus keluar dan menghadapi pria itu.


Tuan Hartawan berdiri saat aku memasuki ruangan. "Siap?"


Aku mengangguk dan Tuan Hartawan mengikutiku ke luar. Saat kami mulai berjalan, Tuan Hartawan menggandengku, seperti yang biasa pria itu lakukan.


"Maaf...." Kutarik tanganku darinya tetapi tidak bisa. Dia mencengkeram pergelangan tanganku erat-erat.


Aku menyerah. Tidak ingin memicu keributan di tempat ini.


Dengan awas, mataku melirik kanan-kiri saat kami menyusuri jalan setapak menuju ruang makan, berharap tidak berpapasan dengan Ram. Aku sedang tidak berminat untuk menjelaskan kehadiran Tuan Hartawan, dan aku tidak yakin saat ini Ram akan percaya kepadaku. Aku telah memberitahu pria itu bahwa hubunganku dengan tunanganku sudah berakhir, namun Tuan Hartawan sekarang malah berada di sini, bersikap seolah pria itu memang berhak.


Aku baru saja menghela napas lega, tahu-tahu aku melihat Ram keluar dari ruang makan. Seraya memasang topi di kepala, ia menuruni undakan, lalu menghentikan langkah dengan tiba-tiba begitu melihatku. Tatapannya beralih dari wajahku ke genggaman Tuan Hartawan yang posesif, lalu kembali ke wajahku. Kemudian dengan sengaja dia memunggungiku dan berjalan menjauh.

__ADS_1


Aku menatap punggung Ram, berdoa semoga pria itu akan memberiku kesempatan untukku menjelaskan.


Tolong jangan marah....


__ADS_2