Cinta Terlarang Di Malam Purnama

Cinta Terlarang Di Malam Purnama
Gangguan


__ADS_3

Aku bahagia meski Ram menunjukkan sikap jengkel, atau hanya berpura-pura jengkel saat menggendongku dan membawaku kembali ke pondok. Tapi aku sangat menikmatinya. Dan aku merasa, benar, dia hanya berpura-pura jengkel. Kalau tidak, tentu saja dia sudah menurunkan aku dari gendongannya di suatu tempat yang aman dari hujan, entah di mana, dan bukannya tetap menggendongku sampai ke depan pintu pondok. Seolah-olah dia pun menikmati kedekatan kami meski ia mesti berjalan sejauh itu dengan aku berada dalam gendongannya. Menjadi beban bagi kekuatan lengannya. Dan seolah ia sengaja ingin orang lain melihat betapa mesranya kami berdua. Kalau aku tidak keliru, itulah pendapatku dan itulah yang aku rasakan.


"Well, sudah sampai. Kamu bisa masuk sendiri atau mesti kubaringkan di tempat tidur?" Dia menyeringai lalu menurunkan aku.


Aku hanya tersenyum. Aku tidak tersinggung atas ucapannya karena ia tidak bermaksud melecehkan aku dengan kata-kata itu. Ia begitu karena kurasa ia tahu kalau aku hanya berpura-pura mengalami kram kaki. Meski ia tidak mengatakan kalau ia tahu.


"Terima kasih," ucapku.


"Sama-sama."


"Aku akan membalas kebaikanmu."


"Maaf. Tapi aku tidak mengharapkan apa pun."


Terserah! Bersandiwaralah sesukamu, Sayang.


Aku tetap tersenyum meski Ram hanya menyeringai dan pergi begitu saja. Well, terserah, yang penting aku bahagia.

__ADS_1


Sayangnya Tuan Hartawan mengganggu kebahagiaan itu. Dia sedang menungguku ketika aku masuk ke dalam pondok.


Aku mengambil napas dalam-dalam, siap untuk berdebat. "Apa yang Anda inginkan?"


Pria itu berdiri dengan sebelah tangan di balik punggungnya. Sekarang pria itu memperlihatkan tangannya dan menyodorkan buket bunga daisy kepadaku. "Aku menawarkan perdamaian."


Aku ragu-ragu sejenak sebelum menerima buket bunga itu. "Terima kasih, tapi ini tidak akan mengubah apa pun. Hubungan kita sudah berakhir, Tuan."


Pria itu mengangguk. "Aku mengerti, tapi tidak ada alasan kita tidak bisa berteman, ya kan?" Dia tersenyum seolah tak berdaya. "Tidak ada alasan kenapa kita tidak bisa menghabiskan beberapa hari bersama selama aku berada di sini."


"Maaf...."


"Aku--"


"Satu hari dan satu malam," katanya, seolah merasakan bahwa aku akan membantah, dia buru-buru berkata, "Hanya itu yang kuminta. Mulai besok."


Aku menyeringai. "Lalu setelah itu?"

__ADS_1


"Lalu aku akan pergi."


Aku menatap bunga di tanganku. Aku tidak merasa berutang apa pun kepada Tuan Hartawan, tetapi pria itu tidak meminta banyak, hanya satu hari. Dan mungkin aku memang berutang sesuatu kepada pria itu karena caraku memperlakukannya, terlebih mengingat saat aku melarikan diri dan meninggalkannya begitu saja di altar. Dan apa, sih, ruginya satu hari, selama pria itu menyadari bahwa hubungan kami sudah berakhir? Jadi, ya sudah. "Baiklah."


"Bagus. Oh, ada acara dansa besok malam. Aku ingin kamu bersamaku di sana."


Aku mengedikkan bahu. "Baiklah. Tapi hanya dalam pertemanan."


Dia hendak mengatakan sesuatu tapi mengurungkan niatnya.


"Terima kasih bunganya. Bunga ini indah."


"Mereka tidak berarti apa-apa dibanding--"


"Tolong?"


"Dibanding dirimu. Dan itu benar." Seraya mencondongkan tubuh ke depan, ia mencium pipiku. "Satu hari dan satu malam," ujarnya mengingatkan. "Aku akan mampir ke sini besok pagi."

__ADS_1


Terserahlah, pikirku. Aku ingin membuang jauh-jauh rasa suntukku. Jadi aku memilih untuk mandi, makan siang, lalu istirahat.


__ADS_2