
Sementara hujan turun dengan lebat di luar sana, aku menghabiskan waktu luangku di tempat tidur dengan memikirkan Ram -- seperti halnya di masa lalu, pada saat kuliah, aku menghabiskan begitu banyak waktu dengan memikirkan Ram, terutama di malam hari: ingin mengetahui siapa yang pria itu kencani, apakah dia sudah menikah, apakah dia sudah hidup bahagia, bahkan aku membiarkan diriku cemburu pada sosok wanita yang tidak kukenal bahkan tak pernah kulihat, sosok wanita yang mungkin tidak pernah ada, tapi di mata pikiranku, aku seringkali terbayang ada wanita yang melihat Ram menyanyi, pergi ke bioskop bersamanya, berjalan-jalan, atau naik mobil ke desa. Dan selalu, di dalam benakku, aku tahu sosok wanita itu bisa jadi adalah diriku sendiri seandainya aku tidak begitu bodoh, dan begitu kekanakan. Sekarang aku kembali memikirkan itu semua. Tantang kebodohanku di masa lalu.
Setelah siang berlalu begitu saja dan rasa bosan merambatiku, aku berdiri di luar pondok, menatap bintang-bintang, aku mendengar suara musik mulai dimainkan. Dengan mata terpejam, aku membayangkan diriku bisa merasakan irama musik yang dilantunkan Ram merambat naik dari tanah, mengelilingiku, menyelubungiku. Ram pernah berkata kepadaku bahwa sebuah lagu adalah bagian dari jiwanya, seperti aku: bagian dari jiwanya.
Seraya mendesa*, aku menatap kembali bintang-bintang. Star light, star bright, first star I see tonight, I wish I may, I wish I might, have the wish, I wish to. Pikiranku melayang ke kesalahanku yang belum kuperbaiki: cepat atau lambat aku harus pulang dan menghadapi orang tuaku. Pulang ke rumah dan mencoba menjelaskan mengapa aku meninggalkan Tuan Hartawan di altar.
Suara tepuk tangan merambat di udara, dan tiba-tiba aku berlari menyeberangi halaman menuju panggung. Dengan terengah, aku berhenti di pintu masuk dan menemukan tempat duduk di bagian belakang, tempat Ram tidak bisa melihatku.
Saat menonton pria itu, pengunjung lain seolah menghilang di kejauahan, dan aku hanya menyadari keberadaan Ram. Aku merasakan sensasi kegembiraan.
Jantungku seakan berdetak seirama dengan alunan merdu lagu yang pria itu lantunkan. Berikutnya, pria itu sedang setengah jalan melantunkan lagu berikutnya saat ia berhenti, tatapannya mencari-cari di antara penonton. Aku tahu saat ia berhasil melihatku berada di antara barisan penonton, aku merasakan aliran listrik mengalir di antara kami, vital dan hidup. Dan begitu ia mulai menyanyi lagi, aku menyadari: ia menyanyi hanya untukku, seperti yang biasa pria itu lakukan di masa lalu.
Lama setelah itu, begitu ia selesai menyanyikan lagu terakhir, aku bergegas keluar dari area panggung dan kembali ke pondok. Begitu berada di dalam, aku mondar-mandir dari satu ruangan ke ruangan lain, lalu karena terlalu gelisah untuk tidur, aku pergi ke luar. Sejenak aku cuma berdiri di sana, ragu-ragu, lalu berbalik dan menyusuri jalur sepanjang sungai, menuju ke arah berlawanan dari pondok Ram.
Malam itu begitu indah dan cerah. Angin sepoi-sepoi berembus di antara pepohonan. Jangkrik berderik. Aku mendengar kuda meringkik di kejauhan, suara samar lagu country dari salah satu pondok. Sembari melewati tempat itu, aku menengok dari jendela. Beberapa pasangan sedang berbaris dan menari. Seraya mendesa*, aku berjalan lagi. Aku benar-benar tidak pantas berada di sini, batinku. Semua orang mengajak keluarga atau pasangan, kecuali diriku. Dan aku merasa nelangsa.
Aku berjalan sampai lampu penginapan berada jauh di belakangku, lalu berjalan menyusuri pinggir sungai dan duduk di sebuah batu. Cahaya bulan berkelip dan berkilauan di permukaan air. Seekor ikan meloncat. Aku menatap aliran sungai yang pelan, berharap seandainya aku bisa memutar balik waktu, berharap seandainya aku bisa mengikat kata-kata kasar yang pernah kuucapkan. Tetapi semuanya sudah pernah terjadi, dan kekacauan itu masih menyiksaku hingga detik ini.
Menyadari diriku tak akan bisa tidur sebelum melihat Ram -- tepatnya menguntit Ram sekali lagi malam ini, aku menuju ke arah pondok Ram. Tapi pria itu pun tengah-hendak meninggalkan pondoknya. Toshu merangkak keluar dari bawah beranda dan mengikuti Ram berjalan menuju kandang. Kuda jantan itu mendengus pelan saat mereka mendekat.
"Toshu, diam," ujar Ram pelan.
Seraya mendengking pelan, anjin* itu menjatuhkan diri di perutnya, sementara kepalanya ia tumpangkan di atas cakarnya.
Ram menumpangkan satu lengannya di susuran teratas pagar. Mengeluarkan ponsel dan menatap layar dengan rasa putus asa. Dia menggeleng-gelengkan kepala seraya bergumam, "Kalau sedang seperti ini, aku berpikir ingin menyerah dan pulang saja ke kampungku."
Toshu menggonggong kecil mendengarnya, kemudian bangun dan menyuruk ke kakinya, seolah tidak mengizinkan Tuannya pergi.
Melihat reaksi Toshu, Ram tersenyum kosong. "Setidaknya aku punya banyak teman lama di sana, Boy. Kami bisa pergi berburu atau memancing, menghabiskan malam dengan duduk-duduk di alam terbuka sembari mengobrol. Aku bisa tinggal bersama para sepupuku. Mereka akan senang bertemu denganku, tentu mereka tidak keberatan untuk menampungku selama yang aku inginkan. Tapi... ya, aku tahu aku tidak akan pergi. Bibi El membutuhkan bantuanku di sini, dan aku suka bekerja di peternakan. Aku menjadi bos untuk diriku sendiri, punya tempat tinggal sendiri, waktu yang banyak, dan punya kesempatan untuk menyanyi di atas panggung sesering yang aku mau, atau sejarang apa pun, sesukaku saja. Tapi di sini...."
__ADS_1
Ada aku, itu alasanmu ingin pergi. Hatiku sakit, Ram. Sakit kalau kamu bersikap seperti ini padaku.
Keputusasaan pria itu nyaris membuatku ingin menyerah....
Apa sebaiknya aku pergi saja demi kebaikan Ram? Tapi aku tidak sanggup, itu pasti sangat menyakitkan bagiku. Itu berat. Aku tidak akan sanggup. Andai kamu mau mengerti itu, Ram.
Seraya mendesa* gusar, Ram menyambar hackamore dari tiang tempat ia meninggalkannya kemarin.
"Tidak ada gunanya menyesali masa lalu atau memikirkan wanita itu dan apa pun yang mungkin terjadi. Terserah. Aku tidak mau peduli."
Ram merunduk memasuki kandang, lalu memasang hackamore di kepala kuda jantan itu dan melompat ke punggung telanjangnya. Ia menghabiskan satu jam mengajari kuda itu berbelok ke kiri dan ke kanan, mengubah arah dengan cepat, dan berjalan mundur. Ram merasa sangat senang karena hewan itu cerdas dan lincah.
Akhirnya ia menghentikan kudanya dan mencondongkan tubuhku ke depan untuk mengusap-usap tengkuk hewan itu. "Kita berdua telah berlatih dengan baik. Mungkin sekarang kita bisa tidur. Oke, Jagoan?"
Setelah turun dari kuda, Ram melepas kembali hackamore dari kepala kuda. Seraya mendengus pelan, kuda itu berderap ke sisi kandang yang terjauh. Ram menggantung kembali hackamore itu ke tiang, lalu merunduk melewati susuran pagar.
Toshu berdiri, suara geraman pelan terdengar dari tenggorokannya saat hewan itu menatap ke arah kegelapan. Ke arahku.
Aku ketahuan oleh anjin* itu. Dia akan terus menggeram dan bisa-bisa menggonggong kepadaku seandainya aku tidak keluar. Jadi, ya sudahlah.
"Kamu masih belum tidur?" tanyaku basa-basi.
Suaraku bagaikan menohoknya dengan gairah yang panas dan manis. Sembari mendesa*, Ram berbalik perlahan menghadapku. "Kau juga," sahutnya dingin.
"Aku tidak bisa tidur."
"Cobalah segelas susu hangat."
"Sepertinya itu tidak berhasil untukmu."
__ADS_1
"Aku tidak suka susu. Kamu mau apa, Purna?"
"Hal yang sama yang selalu kuinginkan. Kamu."
"Hubungan ini tidak akan berhasil. Kenapa kamu tidak bisa menerima itu?"
"Karena aku tidak lebih dari sekadar gadis kaya yang manja, yang terbiasa mendapatkan apa pun yang aku inginkan. Kamu dengar itu? Aku menginginkanmu. Hanya kamu."
Ram tersentak mendengar aku melempar kembali kata-kata itu ke wajahnya. "Bahkan gadis kaya yang manja harus belajar menerima kekalahan."
"Aku belum kalah."
"Well, aku sudah."
"Berengsek kamu, Ram! Aku tahu kamu masih peduli padaku. Kenapa kamu tidak mau berjuang untukku?"
"Karena aku tidak punya amunisi. Kamu dengar itu? Aku tidak punya amunisi dan kamu tahu benar tentang itu."
Aku maju selangkah mendekati Ram. "Katakan kalau kamu tidak peduli. Katakan kalau aku tidak berarti apa-apa bagimu, kalau kamu tidak merindukan aku sebesar aku merindukanmu. Katakan aku bukan alasan kamu berada di sini." Aku maju selangkah lagi dan lebih dekat. "Kamu tidak bisa tidur karena aku."
"Berengsek! Diamlah, Purna!"
Sembari memperkecil jarak di antara dia dan aku, kuletakkan tanganku di dada Ram. Pria itu bertelanjang dada dan kulit tubuhnya terasa hangat di bawah telapak tanganku. Dia berada di dekatku. Terlalu dekat. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat, merasakan napas pria itu di wajahku. Dan aku menginginkan Ram lebih daripada aku menginginkan terbitnya matahari. "Katakan, Ram. Maka aku akan menjauh dan kamu tidak akan pernah melihatku lagi."
"Ini tidak berarti apa-apa," ujarnya dengan nada bicara sangat parau, lalu menarik tubuhku ke tubuhnya, terhenyak ke dalam dekapannya, lalu menciumku dengan kasar. Tidak ada kelembutan dalam ciumannya, tidak ada kehalusan dalam belaiannya. Bibirnya menciumku dengan keras, memaksa lidahku untuk saling beradu, begitu lama hingga aku kesulitan bernapas, membuatku tidak mampu berpikir, sampai tubuhku seakan terbakar dan tidak ada hal lain di dunia selain dirinya. Kusadari tubuhku terkunci dalam kekuatan lengannya, sementara ia... kusadari tubuhnya menegang dan berdenyut penuh gairah.
Tiba-tiba ia melepaskan aku dan mundur selangkah. "Pulanglah, Purna. Kamu tidak cocok berada di sini. Tidak akan pernah cocok."
"Kamu memintaku pergi?"
__ADS_1
Dia berpaling. "Lebih dari itu. Aku ingin kamu pergi. Dan tolong jangan pernah kembali."
Aku menatap Ram dengan sorot mata menggelap bagaikan memar di wajahku, lalu aku berbalik dan berjalan menjauh. Lari....