Cinta Terlarang Di Malam Purnama

Cinta Terlarang Di Malam Purnama
Hamparan Luka


__ADS_3

Siang itu berlalu dengan cepat. Aku dan Ram hanya menghabiskan waktu dengan bermain seperti anak kecil, berlari, bermain pasir, dan menikmati ombak, lalu kami makan siang, bersantai, dan menjelang sore harinya kami bergegas mandi. Kemudian kami tidur dan bangun sebelum magrib untuk menikmati senja dan menyaksikan matahari terbenam. Sedangkan malam harinya, kami menikmati acara berkemah sebagaimana yang kami rencanakan. Ram sudah terbiasa dengan semua ini, jadi tidak ada yang sulit untuk ia lakukan. Kubiarkan ia menyalakan api unggun dan memasak aneka seafood untuk makan malam kami berdua.


"Bagaimana, Nona?" tanyanya.


Aku melingkarkan ibu jari dan telunjuk kepadanya. "Oke. Semuanya oke. Suasananya oke, rasa makanannya juga oke. Pokoknya you are the best. Mas-ku yang terbaik."


"Kalau begitu makanlah sampai puas dan makanlah sampai perutmu kenyang. Supaya nanti kamu bisa tidur dengan nyenyak."


Ah, dia tidak akan mengerti. Aku tidak akan bisa tidur nyenyak kalau....


Aku menggelengkan kepala. Kutekankan pada diriku sendiri bahwa aku tidak boleh lagi bicara sembarangan seperti tadi siang.


"Malam ini indah, ya. Bulan purnama bersinar terang. Dan seperti yang kukatakan padamu, kamu sama indahnya dengan purnama di atas sana. Bahkan kamu lebih indah."


Garing, pikirku. Aku sedang tidak kepingin digombali. Aku ingin dicumbu. Tapi semakin aku menahan diri dan semakin aku mengontrol pikiranku, hasratku malah semakin menggebu. Sialan!


"Aku senang melihatmu bahagia."


Aku mengangguk. Tapi dalam hati bertanya-tanya: kenapa aku sulit sekali menyembunyikan kerisauan hatiku dan ketidakpuasanku terhadap apa yang terjadi malam ini?


"Kita akan berdansa malam ini, kan? Di pinggir pantai, bertelanjang kaki, di bawah cahaya bulan purnama. Dan... sempurnakan malamku, Mas...?"


Ram hanya menganguk-angguk, tersenyum getir tanpa menyahut. Membuat dadaku terasa sesak. Untungnya malam itu Ram mampu mengalihkan perhatianku sejenak dengan mengajakku berbaur dengan teman-temannya. Dia meminjam gitar dan menyanyikan beberapa lagu untukku, dan untuk semua orang. Sampai akhirnya aku mengantuk dan tak henti-hentinya menguap.


"Tidur dulu, gih. Kalau kamu terbangun nanti baru kita berdansa," ujarnya.


Kupikir aku memang tidak punya pilihan lain. Mataku sudah berat dan aku sudah tidak sanggup untuk memperdebatkan apa pun.


"Baiklah," kataku, aku mengangguk lalu masuk ke tenda. Jatuh tertidur hingga kehilangan beberapa jam di malam purnama.


Hari sudah berganti ketika aku terbangun, sekitar jam satu dini hari dan menyadari hari ini kami mesti kembali ke peternakan. Dan aku tidak senang menyadari hal ini. Karena terlalu tidak nyaman dengan perasaanku, aku hanya berbaring gusar, ditambah lagi Ram tidak ada di sampingku. Saat aku memutuskan untuk melihat ke luar tenda, aku melihat Ram berdiri termenung menatap hamparan laut lepas di hadapannya.


Apa yang dia pikirkan?


Tidak tahan melihat kebisuan pria itu, aku tidak mampu menahan diri hingga memutuskan keluar dari tenda. Ram menoleh menyadari keberadaanku di dekatnya. "Kamu terbangun?" tanyanya.


Aku mengangguk. "Kamu belum tidur?"


"Tidak bisa tidur," ujarnya.


"Apa yang kamu pikirkan?"


"Entahlah. Tidak bisa kujelaskan."


"Hei, ada bintang jatuh!"


Ram menyeringai samar saat melihat bintang itu melintas di langit. Aku seperti biasa, langsung memejamkan mata dan memanjatkan permohonan. Tetapi aneh, Ram yang biasanya meledekku soal itu, malam ini dia tidak melontarkan ledekan apa pun padaku. Dan saat aku membuka mataku, ternyata Ram sedang memejamkan matanya dan memanjatkan permohonannya sendiri.


Aku tersenyum. Semringah!


Apa yang dia pinta?

__ADS_1


Dia melangkah ke hadapanku, meraih tanganku, dan menggandengku. Kuikuti langkah kakinya tanpa bertanya apa pun. Dalam menit berikutnya, kami tiba di pinggir laut, beberapa meter dari batas ombak menyapu butiran pasir yang tak akan pernah mengering.


Ram menjatuhkan diri, ia berbaring lalu melipat tangannya di belakang kepala dan menatap bintang-bintang yang berkelip di langit. Malam ini indah, dan cerah. Bulan purnama masih bersinar terang di atas sana, menyinari Purnama miliknya yang duduk di sebelahnya. Yang resah dalam penantian....


"Apa yang kamu pikirkan?" tanyaku. "Mau berbagi denganku? Aku bisa menjadi pendengar yang baik. Serius."


Ram melirikku sekilas, lalu memejamkan matanya sejenak. "Aku hanya memikirkan bagaimana caranya agar bisa segera menikahimu dengan restu kedua orang tuamu. Tapi aku tidak mendapatkan jawabannya. Jangankan mendapatkan jawaban itu, aku bahkan nyaris tidak percaya bahwa sekarang kamu kembali ke dalam hidupku. Kadang aku masih berpikir kalau aku salah karena mengira kita akan menemukan kembali apa yang sudah kita tinggalkan di masa lalu, persetujuan orang tuamu walau dalam keadaan terpaksa. Apalagi kenyataannya... tidak ada yang berubah. Kamu masih seorang gadis kaya yang manja, sementara aku tetap seorang pria miskin yang memiliki catatan kriminal. Alasan tepat bagi ayahmu untuk menolakku. Bagaimana mungkin dia sudi memiliki menantu mantan nara pidana seperti aku?" Ram menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Bisa kamu ceritakan padaku, kenapa kamu dipenjara? Maksudku... untuk sebuah pertimbangan bagi Mama dan Papa. Emm... supaya aku bisa menjelaskan ke Papa. Tolong?"


Dan aku berharap dia bersedia menceritakannya. Dan itulah yang terjadi. Malam itu akhirnya Ram menceritakan kisah kelam itu kepadaku.


"Itu terjadi tidak lama setelah kita berpisah. Aku sedang berada di bar, minum-minum bersama dua temanku dan pacar mereka masing-masing. Dan...."


Aku menyeringai. "Dengan pacar barumu juga?"


"Bukan. Kami baru kenal."


"Lalu?"


"Teman-temanku jadi makcomblang dadakan."


"Lalu?"


"Dia hanya sekadar seorang teman kencan."


"Apa dia cantik?"


"Tidak secantik dirimu."


"Tapi dia gadis berambut pirang. Aku lebih suka gadis berambut hitam."


Aku menjulurkan lidah. "Tidak suka? Tapi kamu membiarkan gadis pirang bernama Welly itu menempel padamu. Bahkan kalian gelap-gelapan di dalam pondoknya. Menyebalkan!"


"Kamu sangat menggemaskan kalau sedang cemburu begitu."


Ah, aku termakan lagi oleh kegombalannya. "Sudahlah, lanjutkan saja ceritamu. Jangan merayuku begitu."


"Malam itu aku mabuk."


"Kenapa? Kok bisa? Biasanya kamu hanya menghabiskan satu atau dua gelas bir?"


"Dalam usaha melupakan gadis berambut hitam dari hatiku, malam itu aku minum banyak."


Dan itu menyakitkan bagiku saat mendengarnya. Jadi gara-gara aku...?


"Aku benar-benar sedang mabuk berat ketika dua orang cowok mulai melontarkan olok-olok mengenai cowok miskin yang berkencan dengan gadis cantik dari keluarga kaya. Aku berusaha menahan diri semampuku, tapi mereka malah menggoda pasangan kencanku. Aku sudah menyuruh mereka untuk berhenti, tetapi salah seorang dari mereka malah melontarkan saran yang kasar, dan sangat menghina. Aku tersinggung, karena itu, secara tidak sadar, aku menghajar mereka. Karena itu aku dipenjara. Mabuk, berkelahi, dan melanggar peraturan. Aku tidak akan pernah bisa melupakan perasaan terhina saat aku menyadari diriku berada di dalam penjara. Bahkan sekarang pun, ingatan itu membuatku merasa tidak pantas untukmu. Untung saja akhirnya Bibi datang menolongku. Dia mengumpulkan banyak uang demi bisa menjamin kebebasanku. Setelah uangnya cukup, dengan tulus dia menyerahkan uang hasil keringatnya itu demi aku. Aku merasa sangat bersalah. Sedari kecil dia mengurusiku, ketika sudah besar aku malah menyusahkannya."


Oh... menyakitkan. "Ya, apalagi kamu berkelahi hanya demi seorang gadis...."


"Aku sedang mabuk, Sayang." Ram duduk tegak, lalu menggenggam tanganku. "Dalam keadaan mabuk. Bukan karena perasaan, oke? Meskipun aku sedang tidak mabuk, aku akan menolongnya, siapa pun. Tapi bukan karena perasaan. Bisa dimengerti?"

__ADS_1


Aku memberengut.


Tetapi dia malah menjawil hidungku. "Ingin berdansa di tepi pantai?"


Eh?


Tidak mungkin bisa kutolak. Aku tersenyum semringah dan mengangguk. "Itu impianku. Ayo!"


Segera saja kami berdua melangkahkan kaki ke tepi pantai, melepaskan alas kaki dan melepaskan mantel. Kurogoh ponselku di saku mantel sebelum melemparnya ke dekat sandal kami, kemudian memutar lagu: Right Here Waiting, Richard Marx. Lagu kesukaan kami saat pacaran dulu.


"Masih ingat lagu ini, kan?" tanyaku begitu dentingan nada pertamanya menemani deburan ombak di tepi pantai. Dulu kami berencana untuk liburan dan berdansa di tepi pantai dengan lagu ini, tetapi hal itu tidak sempat terealisasi.


Ram menghela napas dengan kasar. "Tidak mungkin bisa kulupakan," ujarnya. Dia merangkulkan lengannya di lekuk pinggangku dan kami berpelukan, mulai bergerak sesuai irama lagu. "Tapi aku membenci lagu ini setelah berpisah denganmu. Aku tidak mau mendengarnya lagi kecuali dalam keadaan terpaksa. Aku tidak mungkin keluar dari bus hanya karena lagu ini diputar saat busnya melaju. Dan itu menyiksa."


"Sama," kataku. "Setiap kali mendengar dentingan nada pertamanya, aku langsung teringat padamu. Selalu. Aku menyukai lagu ini karenamu, dan tidak mau mendengarnya lagi, juga karenamu."


Ram mengangguk-angguk, nampak sedih. "Aku tidak tahu benar atau tidak, tetapi menurutku, saat itu kamu hanya menyukai lagu ini karena aku menyukai lagu ini. Tapi kamu tidak memahami maksudku, juga tidak memahami betapa penting lirik lagu ini untuk hubungan kita. Wherever you go, Whatever you do, I will be right here waiting for you. Whatever it takes, Or how my heart breaks, I will be right here waiting for you. Tapi jangankan menunggu, kamu bahkan tidak membiarkan aku pergi."


"Tapi kamu tetap pergi."


"Dan kamu tidak menunggu."


"Aku kembali untuk mencarimu!" suaraku naik satu oktaf. "Bukankah kesalahpahaman ini sudah selesai, ya kan? Jangan dimulai lagi, tolong?"


Ram mengangguk lagi.


"Aku memang bersalah, Mas. Aku tidak pengertian, aku tidak mengizinkanmu pergi, aku marah dan bilang putus. Itu semua salahku. Aku menyesal."


Kembali Ram mengangguk. "Tidak usah dibahas lagi. Dan aku tidak akan membenci lagu ini lagi sepanjang kamu memahami arti menunggu, dan memberikan pengertianmu. Kita tidak akan berpisah lagi."


"Ya, akan seperti yang kamu inginkan." Kueratkan lingkar lenganku di tubuhnya, lalu menengadah, menatap wajahnya. "Momen ini tidak sempurna tanpa ciumanmu."


Ram mengangkat sebelah alisnya. "Benarkah?"


"Jelas. Kurasa aku bisa mati saat ini juga kalau kamu tidak menciumku. Kamu tidak ingin hal itu mengusik nuranimu, ya kan?"


"Tentu saja tidak," gumamnya, seraya mempererat lingkar lengannya di pinggangku, lalu menciumku sampai aku tersengal.


"Aku mungkin akan tetap mati," kataku, "tapi oh, sungguh ini cara mati yang menyenangkan. Dalam pelukanmu, setelah dicium olehmu."


Ram menarikku semakin dekat, semakin menempel padanya. Tubuhnya bereaksi seperti yang selalu ia rasakan setiap kali ia memelukku seerat ini. "Lihat apa yang telah kamu lakukan terhadapku?" tanyanya dengan nada parau. "Akulah yang sekarat sekarang."


"Apa kamu mengeluh?"


"Kesakitan," sahutnya. "Kesakitan karena sangat mendambakanmu."


"Mas...." Aku mendongak menatapnya, dengan mata sarat dengan cinta berlimpah. "Aku bisa menghentikan rasa sakit itu. Please...?"


Tapi dia malah membenamkan wajahnya di rambutku. "Aku terlalu takut untuk melakukan itu. Aku akan membenci diriku sendiri seandainya...."


Memalukan!

__ADS_1


Aku membenci diriku sendiri atas penolakan ini.


Sialan! Kau tidak punya harga diri, Purna....


__ADS_2