Cinta Terlarang Di Malam Purnama

Cinta Terlarang Di Malam Purnama
Seperti ABG


__ADS_3

Ram sedang menyanyi. Aku berkata pada diriku sendiri itu bukan alasan aku berhenti di penginapan untuk membaca papan pengumuman, meskipun itulah alasanku. Aku telah memikirkan pria itu sepanjang malam, mengingat waktu yang kami lewatkan bersama di pondok berburu itu, memikirkan kemungkinan yang akan terjadi di antara kami seandainya Emil tidak menghambur masuk ke dalam pondok seperti yang terjadi.


Aku belum bertemu Ram sejak tadi pagi, ketika pria itu singgah sebentar di pondokku untuk memastikan bahwa aku dalam keadaan baik-baik saja. Sekarang aku harus memutuskan apakah mengikuti kata hatiku dan menonton pria itu menyanyi di panggung terbuka itu, atau bersembunyi di pondok dan melihat apakah pria itu akan datang mencariku?


Sedikit getaran rasa senang menjalar di sekujur tubuhku setiap kali aku mengingat apa yang telah Ram ucapkan tempo hari. Pria itu pernah meneleponku. Pernah mengirimkan surat untukku. Dan pernah bertanya kepada Khinan mengenai diriku. Tetapi semua itu terjadi di masa lalu. Bagaimana perasaan pria itu sekarang yang sebenar-benarnya? Apakah dia masih benar-benar peduli, atau apakah aku telah berlebihan mengartikan ucapan dan ciuman itu? Mungkin itu hanya sekadar nafsu birahi? Mungkin itulah yang terjadi kemarin, dan yang selama ini...?


Aku berdandan dengan cermat malam itu, mengenakan celana jins hitam dan sweter hitam-putih berlengan pendek yang kubeli dari toko cinderamata. Aku memakai rias wajah dengan hati-hati, mengoleskan parfum di belakang telinga, pergelangan tangan, dan belahan dadaku. Aku menyisir rambutku yang mengilat bak kayu hitam yang dipoles, lalu membiarkannya tergerai hingga punggung, karena Ram menyukainya seperti itu.


Aku gelisah sepanjang waktu makan malam, terlalu bersemangat untuk makan banyak, terlalu gugup untuk diam.


Nyonya Laura tentu saja menyadari hal itu. "Kamu baik-baik saja, Sayang?" tanya wanita itu, dengan nada bicara yang sarat kepedulian seorang ibu.


"Ya," sahutku.


"Kami mendengar tentang insidenmu kemarin. Kamu beruntung tidak terluka parah."


"Ya, sangat beruntung, aku sangat bersyukur." Aku tersenyum, mengenang waktu yang kulewatkan di pondok berburu bersama Ram.


"Apa kamu akan menonton pertunjukan seni malam ini?" tanya si sulung Nina dengan suara menerawang. "Ram akan tampil lgi malam ini. Kamu pasti mau menontonya."


Aku mengangguk. "Ya, kurasa begitu."


"Bukankah dia luar biasa?" tanya gadis kecil itu. "Maksudku, dia begitu seksi."


Uuuh... aku nyaris terkikik geli. Gadis itu mengingatkanku pada Cahaya Purnama berusia enam belas tahun yang begitu mengagumi Ram tanpa rasa malu.


"Nina!" seru Nyonya Laura.


"Oh, Mom, sudahlah. Mom tahu itu benar."


"O-ow...," seruku.

__ADS_1


Nyonya Laura menatapku, dan kami berdua tertawa.


Selesai makan malam, Tuan Heru Wijaya mengajak Lina dan Dina ke penginapan untuk menonton film. Sementara aku, Nyonya Laura, dan Nina bergegas menuju amphitheater.


Kami datang awal dan mendapat tempat duduk di deret terdepan. Aku tidak yakin apakah itu gagasan yang bagus. Aku bahkan tidak yakin apakah aku ingin diriku berada di sini. Bagaimana jika aku ternyata kembali membiarkan diriku berharap hanya untuk dikecewakan lagi? Delapan tahun adalah waktu yang cukup lama untuk berpisah. Hanya karena kami berbagi beberapa ciuman bukan berarti Ram ingin menghabiskan sisa hidupnya itu bersamaku, kan?


Sekujur tubuhku bersenandung penuh antisipasi saat Ram mulai memetik gitarnya. "Lagu pertama saya malam ini adalah lagu tentang cinta dan kerinduan," papar Ram. Pria itu berbicara kepada para penonton, meski tatapannya hanya tertuju kepadaku. Dan dia mulai melantunkan lagu persembahannya.....


Berulang kali... berulang kali tatapan Ram tertuju kepadaku dan aku tahu pria itu menyanyi hanya untukku.


Tubuhku menghangat di bawah tatapan Ram. Aku bisa merasakan panas menjalar ke pipiku saat aku memandang pria itu, membayangkan diriku hanya berduaan dengan pria itu, seperti kemarin....


Tepat sebelum lagunya berakhir, Nyonya Laura mencondongkan tubuhnya mendekat dan berbisik, "Apakah dirimu baik-baik saja? Wajahmu tampak sedikit memerah."


"Aku baik-baik saja," sahutku parau.


Aku merasakan kakiku agak goyah saat Ram meninggalkan panggung. Tabuhan genderang untuk acara tarian tradisional mengikuti langkahku menuju pondok. Dan seiring berlalunya waktu, aku penasaran apakah Ram akan mengikutiku. Dan betapa hal itu berarti bila Ram melakukan itu. Aku merasa seperti seorang bocah remaja ingusan yang gugup saat kencan pertama, menunggu cinta pertamaku datang menemuiku....


Aku nyaris terlonjak dari dudukku begitu mendengar ketukan di pintu. Itu Ram, batinku. Itu pasti Ram.


Seraya mengambil napas dalam-dalam, aku menyingkirkan bukuku dan menyisirkan tangan ke rambut, berdiri, dan berjalan ke pintu.


Memang benar itu Ram, yang tampak lebih tampan daripada sebelumnya. Jantungku seolah jungkir-balik di dalam dada saat aku mempersilakan pria itu untuk masuk. Dan kami berdua jadi kikuk.


"Malam ini indah," ujar Ram. "Apakah... kamu mau... berjalan-jalan?"


Seketika aku setuju, entah mengapa aku merasa mungkin tidak bijaksana jika berduaan saja dengan pria itu di dalam pondok. Meski itu sebenarnya yang aku inginkan.


"Apa tidak apa-apa dengan kakiku jika...?"


"Apa masih sakit?"

__ADS_1


"Tidak juga. Bisa kugunakan untuk berjalan."


Ram tersenyum, dan aku merasa konyol atas pertanyaanku. Apakah sekarang ia merasa bahwa aku begitu genit hingga sengaja bertanya demikian untuk tetap berduaan dengannya di dalam pondok?


Cepat-cepat kutepis pikiran itu. Masa bodoh, Purna....


Kami menyusuri tepian sungai, ketegangan sangat terasa di antara kami. Aku sangat menyadari kedekatan Ram. Pria itu begitu jangkung dan begitu makulin, dan seperti biasanya, berada bersama pria itu membuatku merasa nyaman layaknya yang dirasakan seorang wanita. Kegembiraan berdesir di dalam diriku saat tangan pria itu menyentuh tanganku. Menggandengku.


Oh... Tuhan....


Aku tersipu-sipu seperti Purna enam belas tahun yang dulu. Bahagianya luar biasa.


"Kamu tadi datang menontonku," ujar Ram setelah beberapa saat.


Aku mengangguk. "Aku selalu sangat suka menontonmu menyanyi. Kamu tahu itu." Aku menengadah menatap pria itu. "Tapi malam ini entah bagaimana terasa berbeda."


"Apa maksudmu?"


Aku mengedikkan bahu. "Aku tidak yakin. Pokoknya ada yang terasa berbeda. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Rasanya lebih kuat, nyaris seolah...."


Ram menatapku lekat-lekat. "Lanjutkan."


"Seolah aku tidak sendirian di sana."


Ram mendadak menghentikan langkahnya.


"Kurasa itu terdengar konyol." Aku berhenti di sebelahnya, tersenyum, tersipu.


"Tidak." Ram menarik napas dalam-dalam, pasti menyadari bahwa lidahnya akan kelu jika ia tidak memberitahuku apa yang tadi ia rasakan.


"Ram...." Aku mengulurkan tangan yang terlihat gemetar saat aku menumpangkan tanganku di lengannya. "Apakah ada kesempatan untuk kita berdua?"

__ADS_1


Tanpa sadar aku bertanya demikian....


__ADS_2