
Aku bangun saat fajar menyingsing. Seraya berbaring, aku menyadari hal pertama yang terlintas di benakku adalah Ram. Aku menghabiskan beberapa menit yang menyenangkan dengan membayangkan Ram sedang meringkuk di balik selimut dengan sebelah tangan memeluk tubuhku, dengan rambut berantakan dan kulit hangat beraroma alami. Aku membiarkan diriku membayangkan seperti apa rasanya menyelinap ke kamar tamu dan memeluk Ram dalam ketelanjangan. Untuk melampiaskan hasrat dan gairahku pada tubuh yang kekar itu seperti hari kemarin. Apakah dia akan menyambutku, atau malah berlari ke luar rumah karena ketakutan akan diketahui oleh orang-orang -- seisi rumah? Saat tubuhku yang mendamba nyaris tidak mampu menahan keinginan itu, aku menyingkirkan bayangan Ram dari benakku. Hanya terus bersyukur karena kekasihku tercinta itu sekarang berada di sini. Aku tidak bisa melupakan saat jantungku berdebar kencang hanya dengan memandang pantulan dirinya di kaca saat ia berdiri di belakangku kemarin. Tidak ada pria lain yang mampu menghiburku seperti yang Ram lakukan. Dan sekarang ia berada di sini, di rumah ini. Apakah dia ingat saat pertama kali dia datang ke rumah ini? Saat itu, ia merasa sangat tidak nyaman. Bagaimana perasaannya sekarang? Bisakan ia tidur dengan nyenyak semalam? Bisakah ia mengabaikan perbedaan di antara kami? Apakah dengan melihat di mana dan bagaimana aku tinggal malah membuatnya menjauh? Tiba-tiba saja terlintas di benakku gambaran gamblang kampung halamannya. Bagaimana kalau Ram berubah pikiran: bagaimana kalau dia memintaku untuk menikah dengannya dan tinggal bersamanya di sana? Bisakah aku melakukannya?
Aku memandang ke sekeliling kamar tidurku. Kamar ini didominasi warna hijau dan putih. Aku punya kasur yang lembut dan selimut yang hangat. Warna tirai dan bedcover serta selimutku senada dengan warna pelapis dinding, hijau daun yang menyejukkan. Di lantai terbentang karpet tebal berwarna hijau tua. Kamar tidurku dilengkapi alat penghangat ruangan, dan, juga AC untuk mendinginkan ruangan. Aku memiliki puluhan pasang sepatu bermerek dengan harga selangit, dua lemari besar yang penuh dengan pakaian, serta sebuah mobil baru setiap tahun. Aku dilayani seorang pelayan, seorang juru masak yang menyediakan hidangan sesuai dengan permintaanku, dan hidup bersama orang tua yang sangat menyayangiku dan selalu memanjakan diriku -- yang kusadari mesti kutinggalkan demi hidup bersama Ram.
Kalau saja ayahku dan kekasihku bisa saling menerima kelebihan dan kekurangan itu, alangkah sempurnanya hidupku, batinku seraya turun dari tempat tidur. Aku pun bergegas mandi, berdandan lalu pergi ke kamar tamu.
Di sana, Ram sedang bertengger di jendela, menatap hamparan pekarangan luas nan hijau di hadapannya, dan bergumam, "Ini semua di luar kemampuanmu, Ram. Bagaimana mungkin bisa."
"Kenapa kamu berkata seperti itu?"
Ram mengumpat lirih, merasa jengkel karena sudah kehilangan ketajamannya, kali ini ia tak menyadari ketika aku menyelinap mendekatinya seperti itu. Lalu ia terpaku begitu mengamatiku: dengan dress selutut berwarna pink, tampak anggun dan sesegar bunga padang rumput. Dengan rambut tergerai hingga ke punggung, yang selalu ia sukai saat aku menggerainya seperti itu.
Tapi, yah, aku tahu, Ram tetap tidak bisa menutupi perasaannya, ia merasa tidak nyaman dan merasa seperti seorang tawanan. Jika tidak, ia tak akan berjalan mondar-mandir di ruang kamar itu. Ia merasa tidak diterima, sebab itu, walaupun ia sudah mandi dan rapi, ia tidak turun ke lantai bawah dan membuat secangkir kopi. Memang bukan ide yang bagus untuk dilakukan mengingat ada kemungkinan ia akan dituduh melewati batas jika melakukan itu, dia juga pasti enggan menjelaskan keberadaan dirinya kepada kakak sulungku. Jadi ia hanya menatap ke luar jendela. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat sebuah lapangan tenis, sebuah kolam renang yang luas berikut jacuzzi dan air mancur, halaman yang terlihat laksana beledu berwarna hijau, kebun bunga yang terawat baik, beberapa pohon buah-buahan, dan sebuah pendopo.
Aku menelengkan kepala, menatap pria itu dengan sorot blakblakan. "Well?"
"Aku tidak pantas berada di sini."
Aku mendengus. "Itu lagi. Apa kamu tidak bosan membahas masalah itu terus?"
Aku merasa sedikit jengkel. Di masa lalu, hal ini menjadi perdebatan yang terjadi terus-menerus di antara kami, keyakinan Ram yang keras kepala bahwa perbedaan latar belakang dan keyakinan akan selalu memisahkan kami.
Ram menggeleng, senyum masam membuat salah satu sudut bibirnya terangkat. "Kamu benar-benar tidak mengerti, ya kan?"
Aku menghapus jarak di antara kami dan menyelipkan lenganku di lehernya. "Cinta menaklukkan segalanya. Kita pasti bisa."
Ram mengeran* tak percaya dengan nada rendah. "Kehidupan bukanlah kisah sebuah dongeng, Sayang." Ia menangkup tengkuk leherku, menyukai rasa helai-helai selembut sutra yang melilit jemarinya saat ia menyelipkan jemarinya ke rambutku.
"Aku percaya pada akhir yang bahagia," ujarku seraya tersenyum kepadanya. "Lagipula kamu sudah menyentuhku dan menggilaiku, kamu mesti bertanggung jawab, bukan?" Aku menyengir konyol. "Apalagi kalau nanti aku sampai hamil, kamu tidak bisa melarikan diri dariku. Kamu harus bertanggung jawab."
Ram nyaris terkekeh. "Siapa juga yang ingin melarikan diri? Hmm? Tidak akan pernah. Tapi, yeah, aku tidak mau mempertaruhkan kehormatan keluargamu. Tapi... kalau kamu sampai hamil, aku akan menganggapnya sebagai berkah. Anugerah terindah di malam purnama," bisiknya. "Tidak akan ada orang yang bisa menghentikanku menikahimu walau tanpa restu. Itu berarti aku akan punya alasan yang tidak akan bisa ditentang oleh siapa pun. Termasuk oleh ayahmu."
"Well, kalau begitu semoga aku langsung hamil. Semoga benih cintamu tumbuh di rahimku." Aku berjinjit, lenganku melingkar erat di lehernya. Dengan keindahan dada menempel padanya, lembut dan hangat, dan roma parfum yang kuyakini menggelitik hidungnya. Ia menarikku lebih dekat lagi, satu tangannya menangkup *okongku, menempelkan tubuh kami dari bahu hingga ke paha. Merasa tidak kuasa menahan godaan dari bibirku seperti halnya ia tidak mampu menolak helaan napas berikutnya, ia menciumku -- menciumku sampai aku menginginkan lebih dari sekadar ciuman. Aku meleleh, uuuuuh....
Tapi akhirnya ia malah menjauhkan diri. "Aku takut kamu merasa tidak bahagia karena menikah dengan pria miskin seperti aku."
Aku meninju lengannya. "Kamu bukan pria miskin, tahu!"
Ram membuat isyarat yang menunjuk rumah dan pekarangan di hadapannya. "Ya, aku miskin bila dibandingkan dengan semua ini."
"Terserahlah." Aku mengembuskan napas jengkel. "Kamu bisa menghidupiku dan mencintaiku, itu sudah cukup bagiku. Itu saja."
Ram mengeran* pelan. "Purna, Sayang...."
"Jangan mulai," aku memperingatkan. "Aku tidak mau mendengar tentang betapa tidak pantas dirimu bagiku, atau semua omong kosong apa pun yang terlontar dari mulutmu setiap kali segala sesuatu mulai terasa serius di antara kita. Aku tidak mau."
Ram menengadah sesaat kemudian menatap lekat-lekat kedua mataku. "Aku takut mengecewakanmu. Aku tidak ingin kamu meninggalkan semua yang kamu miliki di sini agar bisa bersamaku. Aku tidak ingin duduk di hadapanmu seratus tahun dari sekarang dan melihatmu membenciku karena tidak mampu memberikan kehidupan yang biasanya kamu nikmati."
"Mas--"
Dia menaruh jarinya di bibirku. "Dengarkan aku baik-baik. Peternakan itu akan menjadi milikku suatu hari nanti karena bibiku tidak memiliki orang lain untuk mewarisi peternakan itu, tetapi itu tidak akan membuatku menjadi kaya, tidak seperti ayahmu yang kaya raya. Aku tidak akan pernah mampu mengajakmu berlibur ke Eropa, atau membelikanmu mobil baru setiap tahun--"
"Itu tidak penting."
"Benarkah?"
"Sangat benar."
Ram melihat ke sekeliling ruangan dan pekarangan yang luas yang mengelilinginya, lapangan tenis, kolam renang, dan garasi yang memuat beberapa mobil mewah.
"Apa kamu yakin? Kamu sudah melihat tempat aku tinggal, sebuah pondok dengan empat kamar. Bisakah kamu mengatakan dengan sejujurnya bahwa kamu akan bahagia tinggal di sana? Bahkan tempatku tidak cukup besar untuk menampung setengah koleksi pakaianmu."
Aku tertawa pelan. "Oh, Mas... menurutku pertanyaannya sekarang adalah apakah kamu tahan hidup bersamaku? Itu, kan, pertanyaanmu?"
Itu pertanyaan bagus, tetapi Ram tidak memiliki jawabannya. Kami berdua mesti berhati-hati menghindari kata cinta, meskipun kami harus berputar-putar.
"Entah bagaimana kita akan mengatasinya," sahut Ram. Ia tersenyum ke arahku. "Kalau kamu bisa tahan menikah dengan pria yang tidak memiliki apa-apa, kurasa aku harus mencari cara untuk menyesuaikan diri dengan wanita yang memiliki segalanya."
Aku berharap ia bisa, karena aku tidak yakin mampu melepaskan dirinya sekarang setelah menemukannya kembali.
"Sekarang ayo, kita sarapan. Aku kelaparan."
"Katamu kamu tidak bisa masak." Ram menatapku dengan sorot aneh.
"Menyebalkan!" Aku memberengut. "Aku memang tidak bisa masak," sahutku seraya menggandeng tangannya. "Ayo."
Dia seperti pria tak berdaya saat aku menyeretnya dengan paksa ke ruang makan dan duduk di hadapan hampir semeja penuh aneka hidangan.
"Di mana anggota keluargamu yang lain?" tanya Ram.
"Mungkin masih tidur. Sekarang bahkan belum jam delapan."
"Yeah. Jadi, apa yang kamu lakukan pagi-pagi begini, Nona?"
"Aku mendengar kamu mondar-mandir dan kupikir mungkin kamu lapar, atau setidaknya membutuhkan kafein."
Sembari menatap dari atas bibir cangkir kopinya, Ram mengangguk. "Keputusan yang tepat. Aku membutuhkanmu."
"Aku ada di dalam cangkirmu, hiruplah."
"Well." Dia tersenyum lebar. "Manis dan menghangatkan."
"Dan itulah aku. Benar, kan?"
__ADS_1
"Yeah, sayangnya sekarang kita ada di sini."
"Kamu mengeluh?"
"Tidak juga. Tapi kalau kita berada di pondok, aku bisa merasakanmu seutuhnya."
Uuuh... tiba-tiba aku tersipu malu, jelas teringat momen kemarin pagi yang begitu hangat, dan ingatan itu akhirnya membuat kami berdua menikmati sarapan dalam kehangatan.
"Kira-kira... apa yang akan dikatakan ibumu kalau dia tahu aku menginap di sini?" tanya Ram setelah merasa cukup dengan menu sarapannya.
Dan aku tidak suka itu. Dia memulai lagi!
"Entahlah. Aku tahu Kak Pram tidak akan suka, tapi menurutku Mama tidak akan peduli. Dia selalu menyukaimu."
Ram menaikkan satu alis.
"Well, mungkin tidak pada awalnya," ujarku. "Emm... berapa lama kamu bisa tinggal?"
Ram mengangkat bahu. "Selama yang kamu butuhkan."
Aku tersenyum ke arahnya, dan senyuman itu langsung menyentuh hatinya, kurasa. "Kalau begitu kamu tidak akan pernah pulang. Aku selalu membutuhkanmu. Selalu."
Ram baru akan meraih tanganku, lalu menarik tangannya kembali saat Pramana memasuki ruangan. Kakak sulungku itu tiba-tiba menghentikan langkahnya, matanya menyipit begitu melihat Ram di meja makan. "Apa yang dia lakukan di sini?" Ia berbicara kepadaku meski tatapannya tetap tertuju ke arah kekasihku.
"Dia ada di sini atas undanganku."
"Apa Mama tahu?"
"Tentu saja Mama tahu," sahut ibuku.
Kami semua serentak menoleh saat ibuku melangkah memasuki ruangan bersama paman dan bibiku. Ram baru akan berdiri, tetapi ibuku mengibaskan tangan dan mengambil tempat duduk di sebelahku, disusul paman dan bibiku yang bergabung di meja makan.
"Duduklah, Pram, dan berhentilah bertingkah seperti orang tidak tahu adat."
Pramana menurut, ia melakukan apa yang disuruh ibuku, meski dengan ekspresi jengkel.
"Bagaimana perasaan Mama sekarang?" tanyaku.
"Lebih baik. Pihak rumah sakit baru saja menelepon. Mereka akan memindahkan Papa ke kamar rawat inap pagi ini."
"Syukurlah. Itu melegakan." Aku menggenggam tangan ibuku dan meremasnya. "Aku yakin Papa akan kembali sehat seperti sediakala."
Pada saat itu salah satu pelayan masuk, membawa sebuah baki penuh dengan piring-piring yang tertutup. Sesaat kemudian, kakak iparku dan anak-anaknya menghambur masuk.
Aku menangkap tatapan Ram. "Bagaimana kalau kita pergi duluan ke rumah sakit?"
Dia mengangguk.
"Baiklah, kami akan menyusul," sahut ibuku. "Hati-hati, Sayang." Lalu ia menatap Ram. "Jangan mengebut."
Di rumah sakit kami menunggu keluargaku di halaman rumah sakit, dan langsung menuju ke ruang rawat ayahku setelah semuanya tiba. Jam besuk baru saja dibuka beberapa menit yang lalu. Sementara Ram menunggu di ruang tunggu. Satu hal yang pasti -- ayahku tidak ingin bertemu dengannya. Hanya mengetahui bahwa Ram berada di gedung itu mungkin bisa membuat penyakitnya kambuh lagi. Aku tidak ingin mengambil risiko, setidaknya tidak untuk saat ini.
Saat memasuki ruangan, aku begitu kaget melihat Tuan Hartawan sudah berada di dalam sana. Dia menyapa ibuku dan menggandenganya duduk di sebelah ayahku, lalu menyapa anggota keluargaku yang lain. Seraya kembali melangkah mendekati tempat tidur, ia tersenyum kepada ayah dan ibuku, lalu semua orang mengobrol mengenai kesehatan ayahku -- dan aku merasa tidak berada di dalamnya.
Menyadari kondisiku, ayahku menatapku, lalu menatap Tuan Hartawan. "Apa kalian berdua sudah menyelesaikan masalah kalian?"
"Jangan sekarang, Pa," sela ibuku. Sembari membungkuk, ia menyingkirkan helai rambut dari dahi ayahku.
Aku menatap Tuan Hartawan yang berdiri di sisi tempat tidur ayahku seolah pria itu memang berhak berada di situ, berhak melebihi diriku. Untuk pertama kali sepanjang hidupku, aku merasa seolah aku sedang berdiri di luar mengamati keluarga orang lain. Ayahku membalas pelukanku saat pertama kali aku tiba, aku yakin itu, tetapi sikap ayahku terkesan dingin, suasana di antara kami menjadi tegang mengingat percakapan terakhir kami.
Aku mendadak bangkit, merasa perlu segera keluar dari tempat itu, menjauh dari mereka.
"Kamu mau ke mana, Sayang?" tanya ibuku seraya menengadah.
Aku tertunduk lesu. "Terlalu sesak di sini. Kurasa aku perlu keluar... untuk beberapa menit."
Ibuku mengangguk ke arahku dengan ekspresi maklum.
Aku mesti keluar. Segera. Aku mendekati tempat tidur dan merema* lengan ayahku. "Sampai nanti, Pa."
Ayahku mengangguk meski tidak berkata apa-apa padaku -- tetapi saat Tuan Hartawan juga akan meninggalkan ruangan, dia malah tersenyum tulus dan menggumamkan terima kasih dan hati-hati kepada pria itu. Merasa cemburu, aku meninggalkan ruangan. Sembari menutup pintu di belakangku, aku berdiri tertegun di sana selama beberapa saat, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkahkan kaki.
Aku terus berjalan dan mendapati kekasihku di ujung koridor, sedang menerawang ke luar jendela. Hanya memandang pria tampan itu membuat seluruh indraku terjaga. Jantungku berdetak lebih cepat, kulitku menghangat, dan perutku bergejolak.
Ram pasti melihat pantulanku di kaca karena dia berbalik perlahan begitu aku mendekat. Tatapannya menyusuriku, lalu mengerutkan dahi. "Ada apa? Apa terjadi sesuatu yang buruk...?"
"Tidak. Semuanya baik." Aku bergerak ke dalam pelukan Ram dan meletakkan pipiku di dadanya.
Tangan Ram secara spontan mengusap-usap rambutku. "Ada apa, Sayang? Ada yang tidak beres?"
"Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Aku sedang duduk di sana, memandang ke sekelilingku, lalu...." Aku mengangkat bahu. "Entahlah. Aku mengamati ayahku dan kakakku, dan tiba-tiba aku merasa seperti tidak pantas berada di sana. Aku mengamati mereka dan mereka semua terkesan asing, semuanya, kecuali ibuku, dan tiba-tiba aku merasa harus mencarimu." Aku melingkarkan jemariku di lengan Ram, merasa yakin dengan kekuatan akrab yang kurasakan di sana. "Kemarin aku mendengar Kak Pram membicarakan bisnisnya dan kemajuan yang dia capai, lalu aku melihat wajah Kak Niki, dan aku tahu, dia sedang berpikir dia lebih menginginkan uang yang lebih sedikit dan waktu yang lebih banyak dari suaminya. Dan aku tahu saat itu juga apa yang ibuku coba katakan padaku pada hari pernikahanku, saat dia mengatakan bahwa... Tuan Hartawan itu tidak akan pernah bisa membuatku bahagia, bahwa di dalam hidup ini ada banyak hal lain daripada sekadar benda yang bisa dibeli dengan uang, dan...." Aku menatap Ram. "Aku mencintaimu. Cintalah yang terpenting."
"Sayang." Ram memelukku semakin erat.
"Ayo, keluar dari sini," ajakku.
"Kamu yakin?"
"Ya. Aku perlu keluar dari sini sejenak."
"Baiklah," sahutnya.
Kami sedang menunggu lift saat Tuan Hartawan muncul di belakang kami. Dia menghentikan langkahnya begitu melihat Ram, dan kedua pria itu saling memandang dalam jarak kurang lebih dua meter di atas kerubin hitam abu-abu. Aku memandang Ram, lalu ke pria itu, dan berdoa agar lift segera datang.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan di sini?" pria itu bertanya seraya memandangi Ram dari atas ke bawah dengan ekspresi merendahkan, seakan ia baru saja menemukan ulat di dalam salad-nya.
Dan aku merasa ngeri.
"Menemani kekasihku," sahut Ram dengan memberi tekanan pada kata kekasihku. "Apa yang kamu lakukan di sini?"
Tuan Hartawan mendengus merendahkan. "Dia bukan kekasihmu, dan tidak akan pernah menjadi kekasihmu."
"Benarkah? Seingatku, tadi malam dia pulang bersamaku. Atau seharusnya kukatakan, aku pulang bersamanya. Dan sekarang," -- Ram mengangkat dan memperlihatkan tangannya yang menggandengku -- "bisa melihat ini dengan jelas, kan?"
Wajah pria itu memucat lalu berubah menjadi merah padam mendengar kata-kata itu dengan telak mengenai sasarannya, tajam dan jitu seperti anak panah.
Ram terkekeh pelan. "Benar-benar telak," gumamnya.
"Well, Purna, aku tidak percaya inilah alasanmu meninggalkan aku," ujar Tuan Hartawan dengan nada mengejek. "Marlboro Man yang sedang bergairah."
Ya Tuhan, aku benar-benar letih menghadapi situasi ini.
"Ayahmu mungkin tidak akan mengakuimu lagi sebagai anak kalau kamu menikah dengan bajingan ini. Lalu apa yang akan kamu lakukan? Tinggal di daerah miskin layaknya orang kampung yang terbelakang, dan melahirkan belasan anak-anak berdarah haram dan berwatak kriminal?"
Otot rahang Ram menegang.
"Mas! Ya Tuhan!" Aku memandang sekilas ke sekitar, menyadari bahwa ruang perawat hanya berada beberapa meter dari tempat itu.
"Biar aku yang menangani." Dengan perlahan dan sengaja, Ram mendorongku ke belakangnya. "Ibuku memang tinggal di kampung yang miskin. Dan Anda berutang maaf padanya."
"Berutang maaf? Heh! Dia wanita penggoda," ledeknya, lalu ia menarikku, ujung-ujung jarinya menekan lenganku. "Bilang padanya untuk enyah dari sini."
Astaga....
"Lepaskan! Kamu menyakitiku."
"Lepaskan dia," ujar Ram dengan nada pura-pura lembut."
"Urusi urusanmu sendiri, dasar anak haram tak tahu diuntung!"
"Dialah urusanku," sahut Ram, dan tanpa ba-bi-bu ia meninju wajah Tuan Hartawan.
Pria itu menjerit saar darah memuncrat dari hidungnya.
Lift tiba dan pintunya menggeser membuka. Seraya meraih tanganku, Ram melangkah masuk ke lift dan menarikku bersamanya.
Aku masih tegang. "Gila kamu," kataku begitu pintu lift menutup. "Sepertinya tadi kamu mematahkan hudungnya."
"Dia beruntung aku tidak mematahkan lehernya.
Aku menatap Ram sejenak, lalu, saat ketegangan dalam diriku mulai berkurang, aku mulai tertawa. "Well, kalau kita ingin punya belasan anak, sebaiknya kita benar-benar segera memulai."
Ram menyeringai menatapku. "Kamu melamarku?"
"Kurasa begitu. Apa aku harus berlutut?"
"Tidak. Apa aku harus berlutut?"
"Eh?"
Seketika Ram berlutut. Ekspresi di wajahnya langsung berubah serius saat ia memegang tanganku. "Maukah kamu menikah denganku, Purna?"
Bibirku membentuk huruf O yang bulat sempurna meski tidak ada suara yang keluar?
"Apakah itu berarti ya?"
"Ya. Oh ya! Ya, Mas. Ya! Kamu serius, kan?"
"Aku serius." Dengan cepat ia berdiri. "Aku mencintaimu. Demi Tuhan aku tidak pernah berhenti mencintaimu."
Aaaaah... saking senangnya aku melemparkan diriku ke pelukan Ram dan pria itu terhuyung ke belakang, lengannya melingkari pinggangku. "Aku juga sangat mencintaimu. Sangat!"
"Tenanglah, Girl," godanya pelan, tetapi aku tidak mendengarkan. Aku tengah sibuk menciumi wajah dan lehernya.
Kami sama-sama tidak menyadari bahwa lift sudah berhenti atau pintu lift sudah membuka sampai kami mendengar suara tepuk tangan dan siulan jail. Menoleh ke pintu, kami melihat beberapa orang berdiri di depan pintu lift.
Aku dan Ram tersenyum malu dan saling melepaskan diri dari pelukan satu sama lain. Kemudian, seraya menggandeng tanganku, ia membungkuk singkat lalu melangkah keluar dari lift dan bergegas menuju lobi.
Ram tertawa lantang begitu kami sampai di truknya. Sembari menarikku ke dalam pelukannya, ia menciumku. "Kamu tadi benar-benar menjawab ya, kan? Kamu menerima lamaranku?"
Aku menengadah, menatap kedua matanya. "Aku menunggu lama untuk momen ini. Sangat lama."
"Terima kasih. Aku sangat mencintaimu. Ayo, kita pergi mencari cincin."
Uuuuuh... akhirnya....
Aku begitu antusias menerima ajakan Ram. Rasanya seperti mimpi. Terlebih dia sendiri yang memilihkan cincin untukku. Dia tidak mengizinkan aku memilihnya sendiri karena dia tahu aku akan memilih cincin dengan harga yang murah.
"Aku akan memilihkan yang terbaik, yang pantas untukmu."
Sebuah cincin berhiaskan berlian yang cukup besar di tengah dan tiga berlian berukuran kecil pada masing-masing sisi -- melingkari jariku sebagai ikatan pertunangan kami. Begitu cantik, indah dan berkilau. Ram bersikeras menghabiskan lebih dari setengah uang tabungannya untuk membeli cincin itu. Meski aku menolaknya dan memilih cincin dengan harga yang jauh lebih murah, dan mengatakan kepadanya untuk tidak memaksakan diri, tapi ia tetap saja memaksa. Aku merasa tidak enak hati karena menurutnya cincin biasa tidak cukup bagus untuk gadis kaya sepertiku. Dan ketika ia menyadari kecemasanku saat ia hendak melakukan transaksi pembayaran, ia memintaku untuk tidak khawatir.
"Aku tidak mau mendengar apa pun lagi tentang hal itu. Aku tidak akan membelinya kalau aku tidak mampu membayarnya. Lagipula itu investasi yang bagus, kamu akan memakainya untuk seumur hidup. Dan kamu pantas mendapatkan yang sesuai untukmu. Aku tidak ingin menjadi pecundang untuk hal satu ini, oke?"
Hmm... dia sudah bertekad untuk membiasakan diri hidup bersamaku, seorang gadis dari keluarga kaya, dan ia sudah memulainya.
Ya Tuhan, aku berharap ia tak akan pernah menyerah dalam menjalani hidup bersamaku, dan tidak akan memaksakan diri untuk memenuhi kebutuhanku dengan standar orang tuaku. Aku yakin aku bisa hidup apa adanya asal selalu bersamanya. Aku yakin.
__ADS_1
Sungguh!