
Selamat membaca 📖👍
"Siapa yang bayar, pak ?", tanya ku.
"Itu, mas yang barusan pergi ".
Jawab bapak penjual nasigoreng, sambil menunjuk laki-laki yang baru saja pergi. Bima.
Author Pov
Beberapa saat Raya terdiam. Seperti orang yang terkena hipnotis. Hanya mematung dan membisu. Untung HPnya berbunyi, sehingga ia langsung tersadar.
"Makasih ya pak "
Dijawab dengan anggukan dan jempol tangan kanan oleh bapak penjual nasgor.
Di sepanhang jalan kembali ke asrama, Raya memikirkan kaki-laki tadi.
*Sebenarnya siapa sih dia, kok sok akrab gitu yaa, kayak udah kenal lama. Apa aku pernah kenal dia sebelumnya, apa jangan-jangan aku pernah hilang ingatan...*.
Begitulah isi lamunan Raya, kemana-mana. Hingga suara teriakan membangunkannya dari lamunan yang gak jelas dan unfaedah itu. Sekaligus menyelamatkannya dari malu, karena hampir nabrak tiang.
"Woi !!", itu suara teriakan Dita.
"Nglamun aja, gerbangnya disini.. klewat itu ". Sambung Dita.
Yang ditegur hanya mengusap-usap kening dengan menundukkan kepalanya. Malu.
°°°
Beberapa hari, rumah sakit sedang disibukkan dengan persiapan penyambutan dokter baru. Bukan sekedar dokter baru, tapi juga anak dan menantu dari salah satu pemilik rumah sakit, tempat Raya bekerja saat ini.
Perlu diketahui, pemilik rumah sakit ini ada 3. Salah satunya menjabat sebagai Direktur Utama rumah sakit. Dan 2 lainnya hanya ikut mengawasi, tanpa menjabat apapun. Karena keduanya sudah disibukkan dengan menjadi pengusaha yang bisa dibilang sukses di dalam maupun luar negeri. Tetapi 1 diantaranya sudah meninggal kurang lebih 8 tahun yang lalu.
Hari ini giliran Raya shift pagi.
Malam tadi telah terjadi kecelakaan, dengan korban yang tidak sedikit. Baik korban luka ringan maupun luka parah. Ada juva yang membutuhkan penanganan serius.
Seperti pagi ini, Raya harus datang lebih pagi dari jam yang seharusnya, karena harus membantu dokter untuk melakukan operasi. Begitu juga dengan Dita, yang seharusnya shift sore.
"Kalian semua istirahat, 2 jam lagi ada operasi !".
Kata seorang dokter bedah menginstruksikan kepada timnya. Termasuk di dalamnya, Raya.
Dengan cepat Raya makan, kemudian sholat Dhuhur. Lalu ia sempatkan untuk tidur sebentar. Karena walaupun cuma membantu dalam operasi, ia juga membutuhkan tenaga yang lebih, agar bisa fokus.
°°°
Hari penyambutan pun tiba.
Dari pagi aula rumah sakit sudah didatangi banyak tamu. Kebanyakan yang datang adalah tenaga medis. Ada juga dari kalangan pengusaha. Mungkin itu perwakilan dari perusahaan yang bekerjasama dengan rumah sakit ini.
Tidak semua tenaga medis di rumah sakit ini ikut dalam acara penyambutan tersebut. Hanya mereka yang memang tidak ada jadwal saat itu, atau sudah selesai dengan aktifitas pemeriksaan pasien. Yaa, karena tidak mungkin kita meninggalkan kewajiban profesi.
Tapi, semua pegawai rumah sakit tetap merasakan hidangan yang ada dalam pesta kok, tanpa terkecuali.
__ADS_1
Tiba pada acara inti..
"Perkenalkan, anak dan menantu saya... dr. Sinta dan suaminya dr. Stevan ".
Suara Prof. Omar, ayah dr. Sinta, memperkenalkan kedua dokter tersebut, dan disambut tepuk tangan dari para tamu.
Sepasang dokter dokter muda, yang sebelumnya sama-sama tugas di jakarta. Mereka dr. Sinta seorang dokter kandungan beserta suaminya dr. Stevan seorang ahli jantung.
Acara selesai, setelah sebelumnya diadakan jamuan makan siang.
Memang dibuat singkat, mengingat sebagian besar profesi para tamu adalah mereka yang tidak mempunyai waktu luang yang lama.
Raya sendiri juga tidak bisa ikut dalam acara tersebut. Karena dia ada jadwal ikut operasi sampai sore.
Operasi kedua yang diikuti Raya berlangsung cukup lama, hampir 5 jam. Setelah selesai, masih harus menunggu reaksi pasien pasca operasi. (maaf, author gak tau istilahnya, tapi ya seperti itu maksudnya 😉).
Karena Asar sebentar lagi habis, jadi yang menunggu pasien bergantian.
Raya baru bisa pulang setelah jam menunjukkan angka 8.45 malam.
°°°
1 minggu berlalu...
Raya yang baru tiba di rumah sakit dikejutkan oleh teriakan seorang wanita. Terikan minta tolong.
"Tolong suster !! kakak saya mungkin mo melahirkan ". Teriakan wanita muda, eh bukan muda tapi masih remaja gitu.
Raya Pov
Baru kaki ku melangkah melewati gerbang rumah sakit, aku dengar triakan seorang wanita.
*Kok dari kemaren ditriaki minta tolong yaa, hmm..sabar..sabar Ray, kan memang udah jadi kewajiban kamu*, aku ngeluh, tapi dalam hati lho.
Maaf yaa, terkadang mengeluh juga.. walau itu sudah menjadi kewajiban dan resiko yang sudah aku ketahui sebelum memilih profesi ini. Maklumlah, aku manusia yang kadang merasa lelah dan penat ✌.
Ku lihat dua orang wanita keluar dari sebuah mobil, dan mobil itu langsung berlalu.
*Kok gak dianter sampai dalem... kok langsung pergi gitu... mungkin itu taksi onlen kali yaa.. *.
Banyak pertanyaan yang bersliweran di pikiranku.
Entah kenapa, pikiranku dari tadi tidak sesantai biasanya.
Tapi bagaimanapun keadaan pikiranku saat ini, aku tetap membantu wanita itu. Harus.
Ku dorong ibu hamil, yang sudah duduk di atas kursi roda. Bertepatan dengan itu, seorang dokter wanita masuk. Sepertinya ia juga baru datang. Ku lihat dari tas jinjing kecil yang ia bawa.
"Ada apa sus ?".
"Ibu ini mengeluhkan sakit perut yang datang dan hilang, saat ini katanya sakit sekali ".
Aku menjelaskan sambil menuju ruang yang ditunjuk dokter itu dengan isyarat tangannya.
Aku tidak tau siapa dokter itu, karena aku tidak sempat datang pada acara kemaren. Yang aku tau, dia pasti dokter baru itu.
__ADS_1
Dan kenapa aku tidak bilang saja kalo ibu itu akan melahirkan... karna yang aku tau, keluhan seperti itu, kadang sakit kadang hilang, belum tentu akan melahirkan.
Ibu itu sempat bercerita klo dia mungkin kelelahan, karena di rumahnya habis ada acara besar. Dan hari ini hanya akan periksa rutin saja.
Dan benar saja, ibu itu hanya mengalami yang biasa disebut dengan kontraksi palsu. Usia kandungannya juga baru memasuki 34 minggu.
Author Pov
Saat istirahat siang.
Di kantin rumah sakit, Raya bertemu dengan dokter wanita yang tadi pagi.
"Hallo sus, boleh saya ikut duduk di sini ?".
Tanya dokter sambil menunjuk kursi di depan Raya.
"Eh dokter, boleh.. silahkan dok ".
"Sendiri aja sus ?".
"Eh iya, kita belum kenalan yaa ? saya Sinta ", tanya si dokter lagi dan mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri.
"Iya dok, sendiri. Saya Raya ". Raya membalas uluran tangan dr. sinta.
"Sudah lama di rumah sakit ini ?".
"Cukup lama dok ", jawab Raya.
"Maaf, saya tadi tidak mengenali dokter. Maaf juga karna kemaren tidak ikut menyambut kedatangan dokter ".
Raya mengatakan dengan menundukkan pandangan, karena tak enak hati.
"Eh, tidak apa-apa. Jangan seperti itu sus. Saya sebenarnya tidak suka yang terlalu formal begitu, tapi ya.. mungkin itu termasuk prosedur penyambutan ". Ucap dr. Sinta dengan sedikit kekehan. Berusaha menghilangkan kecanggungan.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Raya dan dr Sinta semakin akrab. Panggilannya pun sudah tidak seformal dulu. Saya-kamu.
Pembawaan dr. Sinta yang ramah dan supel, bisa membuat Raya nyaman ngobrol dengannya.
Kini Raya menjadi asisten dr. Sinta.
Jika di luar rumah sakit, Raya memanggil dr. Sinta dengan sebutan 'mbak '.
Bukan bermaksud melupakan Dita. Tapi entah kenapa Raya lebih bisa terbuka bercerita dengan dr. Sinta dibanding dengan sahabatnya itu. Mungkin karena lebih dewasa jadi lebih nyaman curhatnya.
Raya hanya selisih 4 tahun dengan dr. Sinta.
Tidak jauh berbeda dengan dr. Sinta, ia berasa mempunyai saudara perempuan. Maklum, dia adalah bungsu dari 4 bersaudara. Kakak-kakaknya laki-laki semua. Akhirnya Raya pun menjadi adik perempuan bagi dr. Sinta.
Kedekatan mereka berdua ternyata tak lepas dari perhatian seorang laki-laki. Laki-laki muda yang berusia tak jauh beda dengan dr. Sinta.
Siapa laki-laki itu.....
yang penasaran terus ikuti cerita 'Cinta Untuk Perawat Cantik ' yaaa 💞
jangan lupa vote like dan koment nya 👍
__ADS_1
makasih untuk smua 🙏🙏
salam hangat Qidi 😍