Cinta Untuk Perawat Cantik

Cinta Untuk Perawat Cantik
Banyak Tanda Tanya


__ADS_3

Assalamu'alaikum


selamat membaca 📖📚


🍁🍁🍁🍁🍁


Tidak disadari, ada seseorang yang tanpa sengaja mendengar percakapan Bagas dan Dony.


Ia menyimak. Dan karena topik pembicaraan yang tidak ia pahami, membuatnya berpikir jauh berbeda dari maksud yang sebenarnya.


Mungkin juga karena keadaan yang baru saja sadar, sehingga membuatnya berpikir semampunya.


Orang itu adalah Adinda.


Ia sudah sadar beberapa menit setelah Andi keluar. Obrolan yang ia dengar pun terlewat beberapa cerita.


Dony yang posisi duduknya berhadapan dengan Adinda, melihat Adinda sedikit bergerak.


"Gas, itu.. ", Dony menunjuk ke arah Adinda.


Spontan Bagas menoleh cepat. Ia pun segera berdiri dengan terburu-buru, dan hampir saja terjatuh.


" Dinda.. ",


Bagas menghampiri Adinda.


Dony keluar mencari keberadaan Andi. Sebelumnya ia memencet tombol darurat terlebih dahulu.


Dony menemukan Andi. Mereka masuk bersamaan dengan dokter dan beberapa perawat.


Puji syukur tak henti-henti mereka ucapkan.


Rasa terima kasih karena doa-doa mereka terkabulkan.


Adinda kini sudah sadar.


Dokter melakukan chek dibantu perawat di sampingnya.


" Alhamdulillah semua nya baik. Berkat doa banyak orang. Sekarang pasien hanya butuh waktu untuk memulihkan kondisi tubuhnya saja ",


Penjelasan dokter kepada mereka yang ada di sana.


" Trimakasih dokter ", ucap Bagas dan Andi bersamaan.


" Sama-sama. Baiklah, kami permisi dulu ", sahut dokter.


" Istirahat ya. Banyak makan dan minum. Semoga segera pulih ",


Lanjut dokter tersebut


Ia berpesan kepada Adinda. Dan dijawab dengan anggukan kepala pelan.


Bahu Bagas ditepuk pelan oleh dokter.


" Jaga istrimu baik-baik. Pelan-pelan saja memberi pengertian padanya.Bagas


Dony keluar ruangan. Ia menghubungi Rayhan dan Raka. Mengabarkan keadaan terkini Adinda.


" Syukur dek, alhamdulillah kamu sudah sadar. Abang takut ",


Andi menggenggam tangan adiknya . Ia tak kuasa menahan air matanya.


Masa bodoh, kalau mau dibilang laki-laki cengeng. Ia tidak perduli. Adinda adalah saudara kandung satu-satunya yang ia miliki.


Sejak remaja ia sudah harus memikul tanggung jawab menghidupi adik nya. Karena orang tuanya telah meninggal dunia, dan mereka berdua hidup jauh dari sanak sodara.


Andi memberi kode pada Bagas untuk meninggalkan ruang rawat tersebut. Memberi waktu untuknya bicara dengan sang adik.


Setelah Bagas keluar.


Kalah cepat, belum sempat berkata-kata. Andi malah sudah mendapat pertanyaan beruntun dari adiknya.


" Berapa lama adek pingsan bang ? ",


" Kenapa bang Bagas dan mas Dony juga di sini ",

__ADS_1


" Adek baik-baik aja kan ? ",


"Abang cerita semua. Jangan ada yang ditutupi. Dan jangan pake bercanda bang ! ".


Semua pertanyaan dan kata-kata itu Adinda tujukan pada abangnya. Ia tidak melihat sekeliling. Ia hanya tertuju pada Andi. Nampaknya ia sudah paham, sekarang berada dimana.


" Dek, nanya nya satu-satu. Akan abang ceritakan semua, tapi pelan-pelan ya ".


Jawab Andi sedikit ragu.


" Maksudnya 'bang ? ".


Adinda tahu, ada sesuatu yang tidak sederhana yang bakal diceritakan abangnya.


" Kamu ingat kan, kita habis kecelakaan ? ",


" Ingat ", sahut Adinda dengan cepat.


" Siapa aja yang coba ? "


Andi meyakinkan kalau Adinda tidak terganggu ingatannya.


" Iya, aku abang dan bang Bagas kan ? ",


Jawab Adinda sedikit kesal, karena tidak sabar dengan cerita abangnya.


" Setelah kecelakaan itu, kamu baru sadar sekarang ",


Andi menjeda kalimatnya. Ia menghela nafas.


" Dan saat kamu tidak sadar, abang harus buat keputusan besar untuk kamu",


Lagi-lagi ucapan Andi terhenti.


"Keputusan apa ?? ",


" Abang jangan berbelit-belit deh. Buruan ada apa 'bang ?? ".


" Kamu dan _ ",


Tok tok tok..


Pintu terbuka. Seseorang masuk membawa nampan berisi makanan dan minuman untuk pasien. Disusul oleh dokter dan seorang perawat yang mendampinginya.


Ternyata itu dokter Sinta. Ia baru bisa menengok pasien karena kesibukan beberapa hari ini.


" Assalamu'alaikum, maaf menggangu ",


Ucap dokter Sinta dengan senyum ramahnya.


Andi dan Adinda pun menjawab salam bersamaan.


" Maaf baru bisa menjenguk kemari. Saya Sinta. Teman Rayhan, Raka, Bima juga Doni ",


Sinta mengulurkan tangan seraya memperkenalkan diri. Ia juga sengaja menyebut satu persatu nama sahabat-sahabatnya.


Adinda yang masih lemah, menyambut uluran tangan dokter Sinta. Sebenarnya ia sedikit kecewa karena rasa penasarannya yang harus bertambah lama.


Saat itu Bagas masuk bersama Raka dan Bima.


" Maaf saya juga teman Bagas.. ",


Dokter Sinta menepuk pelan punggung tangan Adina yang masih ia genggam. Ucapannya menggantung. Sengaja tidak diselesaikan. Ia melirik Andi sebentar.


Adinda mengerutkan dahinya. Seperti ada yang aneh dengan ucapan dokter itu. Kenapa meminta maaf saat menyebut kalau ia teman Bagas.


" Nama saya kenapa nggak disebut ya dok, sudah tidak dianggap teman kah ? ",


Sindir Andi tanpa melihat ke arah dokter Sinta.


" Situ nganggep saya teman nggak ??",


Balas sang dokter.


"Kenapa nggak kasih tau, padahal saya tugas nya di sini, hmm ?? ",

__ADS_1


Sambil bersedekap, dan mulai sedikit naik volume suara nya.


" Situasinya beda Sin. Gue panik dan nggak bisa mikir jernih ", Andi beralasan.


" Hellehh.. Kapan lo bisa berpikir jernih. Kebiasaan yang nggak bisa ilang, emang".


Sergah Sinta, masih dengan emosinya.


"Maaf ",


Andi hanya bisa minta maaf. Ia tidak mau berdebat lagi. Bagaimana pun juga ia salah.


" Hmm ",


Dokter Sinta mengabaikannya.


Ia mengenakan stetoskop nya, dan mulai memeriksa Adinda.


" Maaf ya ",


Dokter mulai menempelkan stetoskop ke dada Adinda. Dan memeriksa denyut nadinya.


"Apa yang dirasakan sekarang ? ",


Tanya dokter Sinta pada Adinda.


Yang diperiksa hanya diam saja. Masih bingung dengan apa yang dilihatnya.


Tepatnya syok. Sejak kapan abangnya bisa kalah saat berdebat dengan perempuan. Bahkan mengalah dan minta maaf.


" Bingung ", jawab Adinda spontan.


Bertanya-tanya, dan semakin banyak tanda tanya yang ada dalam benak Adinda.


Berbeda dengan Adinda. Mereka yang ada di sana malah menganggap itu hal yang biasa. Karena memang seperti itulah Sinta.


Ia satu-satunya sahabat perempuan yang mereka miliki. Sangat Care, apalagi kepada Rayhan, Bima dan Andi.


Tiga laki-laki itu lebih dekat dengan Sinta. Mungkin karena mereka lebih bisa terbuka cerita tentang masalah pribadinya pada Sinta.


Setelah selesai memeriksa, dokter Sinta pamit. Ia berpesan pada Bagas dan Andi.


" Ingat, kamu sekarang sudah punya istri. Harus lebih peka ",


Ucap dokter Sinta pada Bagas.


" Iya Sin ", jawab Bagas meyakinkan Sinta.


" Kalo ada apa-apa hubungi gue ",


Pesan dokter pada Andi.


" Iya. Semoga tidak ada apa-apa ",


" Maksud nya.. lo nggak mau hubungi gue, gitu?? ",


" Astaga Sin, bukan gtu. Gue _".


"Udah.. Udah, gue paham ", Ucapan Andi dipotong dokter Sinta.


Ia menempelkan jari telunjuk dibibirnya sendiri, saat Andi akan berbicara. Kode agar Andi diam.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sedikit dulu yaa


maaf kalo banyak typo


maaf juga ceritanya datar-datar aja


tetep semangatin aku dengan beri vote gift like dan koment juga saran dan kritik nya


makasih buat smuanya, dah mau mampir


makasih juga buat dukungannya

__ADS_1


salam hangat Qidi 😍


__ADS_2