Cinta Untuk Perawat Cantik

Cinta Untuk Perawat Cantik
Laki-laki Sok Akrab


__ADS_3

Assalamu'alaikum..


Hai hai readers ku semua, sebelumnya uthor minta maaf karna lama belum bisa up.


Novel ini tidak berhenti kok, insyaAllah masih lanjut. Tapi, karna author masih ada kesibukan yang harus diselesaikan terlebih dahulu, jadi up nya tertunda, mohon maaf yaa.


Terimakasih untuk readers smua yang masih setia nunggu kelanjutan Cinta Untuk Perawat Cantik. Terimakasih juga yang udah dukung author 🙏🙏.


Tetap jaga kesehatan.


Jangan lupa dukung author terus ya, kasih semangat dengan like koment dan vote nya yang banyak.


Makasih.


Wassalamu'alaikum..


●●●●●


Selamat membaca 😍


Sebulan telah berlalu.


Setelah pertemuan tak terduga di gerbong kereta, Raya dan Rayhan tudak lagi bertemu.


Mereka juga tidak berkomunikasi, ataupun sekedar bertukar kabar.


Mereka tidak saling bertukar nomer telpun.


Entah karena keasikkan ngobrol atau memang tak terpikir untuk menanyakan nomer telpun masing-masing.


*Author juga gak kepikiran untuk itu.*


°°°


Hari-hari berjalan seperti biasanya.


Hari ini Raya jadwal shift sore, yaitu dari jam 14.00 hingga jam 21.00 wib.


Raya berjalan seorang diri, dari asrama ke Rumah sakit.


Saat hendak memasuki gerbang rumah sakit, ia melihat seorang laki-laki setengah berlari ke arahnya, dengan anak kecil dalam gedongannya. Anak kecil itu mengaduh sambil terus menangis. Di belakangnya ada wanita muda yang mengikuti dengan wajah panik.


"Suster, cepat tolong anak ini !!", laki-laki itu meminta tolong, tp dengan nada memerintah.


Raya yang terkejut hanya mengangguk dan ikut berlari menuju instalasi Gawat Darurat. Setelah berada di dalam ruang periksa, Raya dibantu seorang perawat laen segera mengobati anak kecil itu.


Setelah selesai, Raya pamit kepada wanita muda yang dari tadi mendampingi anak kecil itu. Ia mengira kalau laki-laki dan wanita muda itu adalah orang tua si anak. Ternyata bukan, lalu siapa mereka ? trus kemana laki-laki tadi. Ah sudah lah.


Setelah keluar ruang periksa, Raya buru-buru menuju ruang absensi. Untung saja belum terlambat, karena ia selalu datang lebih awal dari jam tugasnya.


°°°


Hari berlalu dengan cepat. Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 20.55 wib. 5 menit lagi jam tugas Raya hari ini selesai.


Tiba di asrama.


Ritual wajib bagi Raya setelah pulang dari rumah sakit. Bersih-bersih diri.


Walau sudah malam, tapi tetap ia harus mandi. Karena di rumah sakit ada berbagai macam penyakit.

__ADS_1


Selesai menyegarkan diri. Rasa lapar pun menghampiri. Karena tidak ada stok makanan maupun camilan apapun, Raya pun terpaksa keluar untuk mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk mengobati lapar di perutnya.


Raya menghampiri sebuah gerobak yang dikelilingi banyak orang. Gerobak yang menjadi sumber dari aroma wangi masakan kesukaannya. Nasi goreng.


"Pak, 1 porsi ya. Pedesnya sedengan !"


"Siip mb. Silahkan duduk dulu, monggo !".


Jawab bapak penjual nasgor, sambil menyilahkan Raya duduk dengan ibu jarinya menunjuk ke sebuah kursi plastik.


"Saya juga 1 pak. Sama kayak mbak nya tadi !".


"Ok, siap mas. Monggo, silahkan !".


Seorang laki-laki menggeser kursi dan duduk di sebelah Raya.


"Ehemm ".


Deheman itu membuat Raya melihat sekilas ke arah sumber suara. Hanya sebentar.


"Lapar ya, habis kerja ?", tanya laki-laki itu dengan akrab. Sok akrab, menurut Raya.


Ia hanya mengangguk dan tersenyum untuk menjawab seseorang yang tidak begitu ia kenal.


Yaa, tidak begitu kenal. Ia hanya tau kalau ternyata laki-laki itu adalah orang yang membawa anak kecil yang terluka, siang tadi.


"Bima ", kata laki-laki yang berada di samping Raya, mengulurkan tangannya.


"Raya ", menyambut uluran tangan dengan ragu-ragu.


"Aku tau. Suster Raya kan ?". Bima.


"Iya ".


"Gak usah takut. Aku gak jahat kok...cuma pengen lebih kenal sama suster ",


"Boleh kan ??"


"Iya ".


"Kamu bukan asli sini ?".


"Iya ".


"Tinggal di deket sini ?".


"Iya ".


"Jadi pacarku, mau ?".


"Iy.....ehh !!".


"Ha ha ha ha...kirain dijawab 'iya' juga. Habis dari tadi jawabnya iya-iya terus ".


Bima tertawa lepas, merasa dapat hiburan, mungkin.


Raya hanya menghela nafasnya dengan pelan, menahan emosinya.


'Sak karepmulah mas ', batin Raya.

__ADS_1


Raya pov


Masuk shift sore, ada enak dan gak enak.


Enaknya, gak harus sibuk pagi-pagi buat bersiap kerja.


Gak enaknya, pulang malam. Harus mandi di jam dingin-dinginnya. Walopun pake air anget sih. Belum lagi rasa lapar yang menyerang. Bersyukur kalo ada persediaan makanan, tapi kalo habis smua yaa apa boleh buat.


Seperti saat ini. Setelah selse mandi, giliran perutku minta diperhatiin.


Sebenernya bisa sih kalo diabaikan. Sapa tau cacing diperutku jadi lupa. Tapi sapa tau juga kalo makin malam malah tambah melilit dan gak bisa tidur...gimana ?. Dan lagi, pagi hari pasti jadi perih ni perut.


Aku memang gak punya riwayat magh. Tapi tetep kan, namanya lapar kalo gak diisi-isi ya jadi repot nantinya.


Dan di sini lah aku sekarang. Duduk untuk menunggu sesuatu yang gak pasti. Gak pasti..karna gak tau cepat ato kah lama pesanan ku akan siap.


Belum lama aku duduk. Ada seseorang yang menggeser kursi plastik untuk dia duduk. Tepat di sebelahku.


Dia berdehem. Membuat ku melihat ke arahnya. Sekedar menengok saja. Mungkin kenal.


Kemudian dia mengajak ku ngobrol. Aku hanya tersenyum dan mengangguk.


Mungkin dia hanya seseorang yang mencoba menyapa biasa, karna sama-sama menunggu pesanan nasgor.


Tapi dia jadi sok akrab gitu.


Aku baru ingat kalo dia adalah laki-laki yang membawa anak kecil yang terluka siang tadi.


"Bima ". Dia memperkenalkan diri, sambil mengulurkan tangannya. Aku ragu sih. Tapi karna gak enak, aku jabat juga tangannya, singkat, dan menyebut namaku.


Eee.......benerkan,, tambah sok akrabbb.


Dia bilang sudah tau namaku. Tau dari mana coba...mungkin sempat baca nama di seragamku tadi.


Dia tanya lagi, aku jawab 'iya'. Dan tanya lagi, aku pun jawab 'iya' lagi. Pokoknya iya- iyain aja lah. Sampai pada pertanyaan yang membuat aku hampir terjungkal dari kursi yang aku duduki.


Aku pun hanya diam. Tidak menanggapi lagi apapun.


Dia berdiri dan mendekati penjual nasgor. Entah apa yang dibicarakannya. Gak peduli, karna gak denger juga.


"Aku duluan ya sus ".


Dia melambaikan tangannya, pamit. Dia menenteng 1 kantong plastik yang isinya 1 bungkus nasgor dan krupuk. Yaa, aku tau karna kantongnya transparan.


Aku tersenyum dan menganggukkan kepala. Sepertinya itu akan jadi jawaban andalan ku mulai sekarang. Cukup simpel.


Akhirnya pesanan ku pun siap. Tapi saat aku akan bayar, eee..udah ada yang bayarin....


"Siapa yang bayar, pak ?".


°°°


Siapa hayoo yang bayar,, pasti udah pada tau...udah ketebak yaaa...


ya ga papa klo dah tau, tapi tetep ikuti terus ya cerita author, semoga suka..


dukung author ya, dengan like koment dan votenya...


makasih

__ADS_1


salam hangat Qidi 😍


__ADS_2