Cinta Untuk Perawat Cantik

Cinta Untuk Perawat Cantik
Sah


__ADS_3

Pagi hari di rumah Melisa..


Semua sedang bersiap-siap.


Papa, mama dan orang-orang yang membantu di sana memastikan semua aman, tidak ada yang kurang.


Sedangkan Melisa, kini tengah dirias oleh jasa make up yang disewa Rayhan.


Ia nampak sangat bahagia.


Gugup, sudah pasti. Meskipun begitu, senyum tak pernah hilang dari wajahnya.


"Wah cantik banget pengantinnya ". Seseorang muncul dari balik pintu kamar dan masuk mendekati Melisa.


"Mamah.. makasih ".


Mata Melisa berkaca-kaca melihat mamahnya. Bahagia. Begitu pula dengan sang mamah.


"Ini sudah slese mbak ?". Tanya ibu Reni, mamah Melisa, kepada orang yang merias putrinya.


"Sudah tante. Sudah beres semua ". Orang tersebut mengangkat sebelah tangannya, dengan ibu jari dan jari telunjuk menyatu membentuk hutuf O.


Mereka membereskan peralatan make up nya dan pamit undur diri. Tugas mereka sudah selesai.


Setelah berterimakasih, ibu dan anak itu saling berpelukan. Air mata bahagia keluar dari keduanya. Tak dapat dicegah. Mengalir, membasahi pipi yang telah tertutup make up.


"Sudah.. sudah.. jangan nangis lagi. Luntur kan make up nya. Wajahnya jadi berantakan ".


Mamah Melisa tersenyum seraya mengusap pelan, menghapus air mata putrinya dengan selembar tisu.


Melisa hanya diam dengan isakan yang masih kadang tetdengar.


"Kamu tunggu di sini dulu ya, mamah mo liat ke bawah. Siapa tau rombongan Rayhan udah datang ".


Ibu Reni mengalihkan perhatian Melisa agar tidak sedih lagi. Beliau mengusap lengan Melisa. Memberi ketenangan pada anaknya.


"Iya mah ".


Melisa melepas genggaman tangan mamahnya.


Di lantai bawah, tepatnya di ruang tamu yang dirubah menjadi tempat untuk akad. Sudah datang beberapa orang, termasuk saksi yang disiapkan pak Leo, papah Melisa. Di sana juga sudah terlihat penghulu, yang sedang mempersiapkan berkas-berkas yang akan diperlukan saat ijab qobul nanti.


...


Di kediaman Rayhan


Keluarga Rayhan sudah bersiap untuk berangkat menuju rumah Melisa.


Hanya keluarga inti saja.


Kedua orang tua Rayhan satu mobil dengan anak bungsu mereka, Caca. Beserta seserahan yang sudah ditata di dalam bagasi mobil.


Sedangkan Rayhan, ia semobil dengan Bima.


"Sudah siap, adekku ?".


Bima yang memegang kendali mobil tersebut. Mencoba mencairkan suasana yang terasa dingin.


Rayhan yang awalnya akan duduk di jok belakang, kini sudah siap di sebelah Bima. Itu pun karena Bima ngomel-ngomel sebelumnya.


"Hmmm ".

__ADS_1


Dengan degupan jantung yang cepat, Rayhan menjawab Bima dengan deheman dan anggukan kepala.


"Ok.. Bismillah ".


"Kita berangkat ya ?!". Ajak Bima.


Bima melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Menyusul mobil yang sudah terlebih dulu berangkat beberapa menit yang lalu.


Sekali lagi Rayhan hanya mengangguk pelan.


Ia mengambil HP yang ada di saku celananya. Mengetik beberapa pesan dan menyimpan kembali.


Sedangkan Raka, ia sudah terlebih dulu berangkat. Ia pergi menjemput Raya sebelum ke rumah Melisa. Sepanjang perjalanan ia terus berdoa agar Raya mau pergi dengan nya.


Raka tidak jadi mengajak Caca untuk menemaninya. Alasan nya karna buru-buru. Sebenarnya sih karena Raka lupa memberi tau Caca.


°°°°


Raya sedang mematut di depan cermin. Memutar ke kanan dan ke kiri, melihat pantulan dirinya. Beberapa kali membetulkan jilbabnya.


Dita yang melihat tingkah teman satu kamar nya itu, tidak mau mengganggu. Membiarkan saja Raya dengan polah tingkahnya. Untuk sekedar menghilangkan kegugupannya.


Dita sudah tau semua cerita dari Raya.


Ia juga mendengarnya dari Raka. Raka meminta tolong Dita untuk membujuk dan memastikan agar Raya mau datang ke pernikahan Melisa.


Raya menghela nafas panjang. Menenangkan hati dan pikirannya.


"Dit, gimana menurutmu. Berlebihan gak ?".


Raya berasa tidak percaya diri dengan penampilannya. Ia meminta pendapat sahabat yang sedari tadi diam dan memperhatikan gerak-geriknya.


Sebenarnya Raya mengajak Dita. Dengan berbagai cara, bujuk rayu sudah dicoba. Tapi entah kenapa Dita tidak tergoda. Padahal sudah pasti di sana banyak hidangan yang bikin kenyang.


Tapi dengan mantap Dita menolak. Yaaa tentunya dengan berbagai alasan juga.


"Udah cantik, dan gak ada yang berlebihan ".


"Udah sana, nanti yang jemput kelamaan nunggu di depan !".


Dita memutar dan mendorong pelan tubuh Raya, supaya Raya segera keluar dari kamar tersebut.


Dan bersamaan dengan itu HP Raya berbunyi, tanda pesan masuk.


✉️Raka : "Aku sudah di depan ".


Tanpa membalas, Raya bergegas mengambil tas kecil yang ada di atas meja. Ia pamit pada Dita dan berlalu, menghilang di balik pintu kamar.


Raya duduk di sebelah Raka, yang sedang membawa mobil dengan tenang dan perlahan. Selama dalam perjalan mereka hanya terdiam.


Ting..


Tiba-tiba ponsel Raya berbunyi di tengah heningnya suasana di dalam mobil.


Ada pesan masuk..


✉️Rayhan : "Datang ya dek. Doakan mas ".


✉️Rayhan : "Doa yang terbaik untuk kita sayang ".


Raya hanya membaca pesan itu dan menyimpan kembali benda pipih nya ke dalam tas.

__ADS_1


Membuang pandangan ke luar jendela.


Raya meraih tisu yang disodorkan Raka. Mengusap air mata yang telah mengalir di kedua pipinya. Dan meremas kuat tisu itu dalam genggamannya.


Rupanya hal itu tak luput dari perhatian Raka. Ia juga melihat air bening itu kembali keluar dari mata indah Raya.


Mata Raya terpejam sesaat. Dengan helaan nafas berat, ia menggumamkan istighfar beberapa kali.


Begitu berat beban yang ia rasa kini, sehingga tak mampu lagi untuk sekedar ber-istighfar dalam hati.


°°°°°


Tiba di rumah Melisa


Kedatangan Raya hampir bersamaan dengan rombongan Rayhan.


Sesaat keduanya saling pandang. Diam. Seakan waktu berhenti.


Hingga suara mamah Mia menyadarkan kedua insan yang sedang diserang kegundahan rasa.


Mata Raya sudah berkaca-kaca saat mamah Mia mendekat dan memeluk tubuhnya. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak menangis.


Setidaknya saat ini, di sini, air mata nya dilarang keras untuk keluar.


Mamah Mia menguatkan hati Raya. Beliau membisikkan sesuatu yang membuat Raya bisa menahan tangis.


Raya mencium tangan kedua orang tua Rayhan, bergantian.


Papah Husni mengusap kepala Raya yang tertutup jilbab itu dengan lembut.


"Sabar ya nak ".


Mulut tak mampu menjawab dengan kata-kata. Karena itu akan membuat air mata yang sudah ia tahan, akan mendesak keluar dan mengalir deras.


Mereka kemudian berjalan beriringan masuk ke rumah Melisa.


Sejenak ia terkejut dengan keberadaan Bima. Tapi tidak ia hiraukan, karena ia sedang tidak mau menambah beban pikirannya.


Rayhan dan dua orang lainnya duduk di depan meja akad. Di hadapan mereka sudah siap pak penghulu dan papah Melisa. Juga ada saksi dari pihak mempelai perempuan.


Acara pun dimulai. Dengan menjabat tangan pak Leo, dengan mantap terucaplah ijab qobul dalam satu tarikan nafas.


"Bagaimana para saksi ?",


"SAH !! "


udah sah ya ini..


udah halal.. 😉


🍁🍁🍁🍁🍁


makasih smua vote like koment ato apapun itu,


maaf klo banyak typo,


ceritanya datar-datar aja..


tetep semangatin aku ya 😘


salam hangat Qidi 😍

__ADS_1


__ADS_2