
Selamat membaca...
"Apa maksud kamu, kamu ingin segera dilamar? apa kamu sudah mempunyai perasaan yang sama dengan saya ?", tanya dokter Jo dengan senyum di bibirnya. Ia menjeda ucapannya...
"Tolong tunggulah sebentar, saya akan menyelesaikan S2 saya terlebih dahulu. Baru setelah itu saya akan bertemu dengan orang tua kamu dan melamar kamu".
Senyumnya masih terlihat jelas menghiasi wajah dokter.
Namun sedikit demi sedikit meredup seiring dengan kalimat yang ia dengar dari mulut Raya.
"Maaf dokter, saya tidak bisa menjanjikan untuk itu. Saya ha_ "
"Apa kamu sedang mempermainkan saya !?".
Ucapan Raya terpotong, kala dokter sedikit terpancing emosinya dengan kata-kata Raya.
"Saya tidak pernah ada maksud mempermainkan siapapun, termasuk juga dokter. Dari dulu sampai sekarang masih sama. Saya tidak mau terikat dengan status pacaran ato tunangan ato apapun itu yang belum halal. Maaf .
Jika dulu saya tidak bisa menerima, itu karna saya ingin menyelesaikan pendidikan terlebih dahulu. Dan sekarang, saya akan menerima siapapun yang datang kepada orang tua saya untuk melamar saya, dan direstui oleh mereka.
Dan apabila orang tersebut adalah dokter, maka saya pun akan menerima dokter, jika orang tua saya merestuinya ".
"Maaf..saya tadi sedikit emosi "
"Tapi apa kamu bisa, mencintai siapa saja yang nanti menikahi kamu ??". Tanya dokter dengan rasa penasarannya.
"InsyaAllah. Karna saya akan memberikan cinta saya hanya kepada suami saya ".
°°°
Dokter Johan dulu menggunakan bahasa formal, dan sekarang menggunakan bahasa yang lebih santai, aku kamu.
°°°
Sejak saat itu, mereka tidak pernah bertemu.
Karena Raya yang sudah lulus dan dokter Jo fokus menyelesaikan study nya di luar negri.
__ADS_1
Hingga akhirnya mereka dipertemukan kembali di tempat kerja yang sama.
Saat bertemu untuk pertama kali, setelah sekian lama. Mereka saling pandang, dan menampilkan senyum dibibir masing-masing.
Namun, seminggu setelah itu. Saat Raya berjalan seorang diri di lorong rumah sakit, ada seorang dokter muda, cantik dengan penampilan yang seksi datang menghampirinya...
"Kamu jangan pernah berharap lebih dari dokter Jo. Karena kamu sudah menolaknya, maka sekarang aku yang akan mengisi hatinya. Jangan coba-coba mendekati ataupun menarik perhatiannya lagi. INGAT...menjauhlah darinya !!". Setelah mengatakan itu semua, dokter itu pun berlalu tanpa mempedulikan orang yang dari tadi diajak bicara.
Itulah sebabnya, mengapa Raya selalu menghindar dari dokter Johan.
Bukan karena takut, ia hanya tidak mau mempunyai masalah di tempatnya bekerja. Jika jodoh, sejauh apapun terpisah pasti akan bersatu juga. Begitulah yang ada dalam fikiran Raya.
Kembali waktu sekarang
Di asrama...
Setelah obrolan di ruang kerja dokter Jo tadi, kini Raya tiba di asrama. Setelah selesai bersih-bersih diri, ia merebahkan tubuhnya di kasur minimalisnya.
Kata-kata dokter Johan beberapa tahun yang lalu kembali datang dalam ingatannya.
Walaupun tidak berjanji dengan permintaan dokter, tapi sampai saat ini pun ia masih sendiri.
"Apa yang harus aku tunggu dari nya. Kalo emang serius ya buruan dilamar, kan tau aku belum menikah. Hiisshh...katanya suka...kok masih disuruh nunggu lagi. Sampai kapan.
Aaahhhh, apa sih yang aku harapkan dari dia. Dasar PHP !!". Raya bermonolog sambil menatap langit-langit kamar.
Merasa kesal dengan dirinya sendiri. Ia menghentak-hentakkan kakinya di atas kasur, juga meremas kuat guling yang dari tadi berada di dekapannya.
Sebenarnya Raya sempat memiliki harapan dengan kembalinya dokter Johan dari study S2 nya.
Walaupun harapannya tidak besar, namun ia sudah siap menerima apabila sang dokter benar-benar datang untuk melamarnya.
Tapi sepertinya harapan itu tinggal harapan. Jangankan datang ke rumah. Bahkan dokter itu tidak pernah membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan ia dan Raya.
Seperti orang yang amnesia. Saat mereka bertemu, seakan- akan tidak pernah ada pembicaraan serius diantaranya. Ia hanya tersenyum atau menyapa seperti halnya dokter kepada perawat-perawat yang lain. Hingga saat ini kata-kata yang sudah dilupakan Raya, kembali ia dengar dari mulut orang yang sama. Melamar.
Tok tok tok...
__ADS_1
Suara ketukan pintu menyadarkan Raya dari lamunan emosi batinnya.
"Ray..."
"Ya..masuk Dit !"
Ceklek..
"Dah makan Ray ? temenin cari makan yuuk !", pinta Dita, setelah berada di dalam kamar Raya.
"Yuukk ". Raya langsung mengiyakan ajakan Dita. Ia tidak mau sahabatnya itu tau kalau dirinya sedang dilanda galau, pikiran kacau. Karena memang selama ini Dita tidak tau cerita tentang ia dan dokter Jo.
°°°
Dita bersahabat dengan Raya sejak ia bekerja di rumah sakit di surabaya. Sedangkan cerita tentang Raya dan dokter Jo, saat Raya masih bersekolah keperawatan di Jogja.
°°°
Malam harinya...
Pikiran yang tadi masih menghiasi isi kepala Raya. Eh ralat...tepatnya mengganggu isi kepala Raya.
Ia memutuskan untuk sholat istikhoroh. Meminta petunjuk kepada Sang pemilik hati. Ia pun juga berdoa, semoga dipertemukan dengan jodohnya yang langsung melamarnya. Siapapun yang datang kepada orang tuanya dan meminangnya, asal orang tuanya merestui, maka ia akan menerimanya.
Raya bukan ngebet pengen menikah. Dia hanya tidak mau mempunyai status yang tidak pasti. Bersama dengan seseorang yang belum tentu jodohnya. Mencurahkan cinta, perhatian dan kasih sayang, yang pada akhirnya tidak akan bersama.
Memang benar cinta tak harus memiliki. Tapi tak salah juga jika kita hanya akan memberikan cinta kita pada seseorang yang memang sudah sah bersama dengan kita.
Pendapat orang berbeda-beda, tapi itulah yang menjadu alasan Raya berbuat demikian.
Hai para pembaca...
trimakasih masih setia mengikuti cerita ini..
maaf kalo critanya datar-datar aja...
maaf juga kalo up nya lama...
__ADS_1
tetap dukung author yaa, dengan like koment dan vote nya yang banyak...
makasih 😍...salam hangat Qidi.