
Selamat membaca 📚😍
Raya menarik lembut tangan Dita. Mengajak untuk duduk di sebelahnya.
"Dit, ada yang ingin aku ceritakan ke kamu. Tapi kamu jangan marah ya? ".
" Ada apa sih, kok bikin deg-deg'an ya.. ".Dita yang penasaran, siap mendengarkan dengan perasaan yang sedikit was-was.
" Kalo aku pindah dari sini, kamu gak pa-pa kn ? ". Bertanya dengan hati-hati, agar Dita tidak kaget dengan ceritanya nanti.
" Kenapa harus pindah, Ray? kamu dah gak betah di sini? ".
" Bukan gitu, Dit.. aku ada alasan yang mengharuskan untuk pindah. Aku _.. ".
" Alasan apa coba.. kamu gak mo kluar dari rumah sakit kan? ".
Dita memotong ucapan Raya. Bertanya dengan penuh kekhawatiran.
"Ssttt... dengerin dulu aku ngomong, sampai selesai. Baru kamu boleh bertanya apapun. Ok!! ".
Raya menutup wajah Dita dengan telapak tangannya.
Dita hanya mengangguk, seperti anak kecil. Menurut saja.
" Dit, insyaAllah aku mo nikah. Jadi.. ", Raya menjeda kalimatnya. Ia malah menahan tawa karna melihat ekspresi wajah Dita.
Mata Dita membulat. Ia menutup mulutnya yang sempat menganga, dengan telapak tangannya. Ia benar-benar menuruti ucapan Raya untuk tidak memotong cerita sahabat satu kamarnya itu.
" Aku mo nikah. Jadi setelah menikah nanti, aku akan pindah ke rumah suamiku".
Raya melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan dari awal hingga akhirnya rencana pernikahannya yang sudah didepan mata. Namun kepada Dita, Raya menyebutkan nama calon suaminya. Berbeda saat betcerita pada dr. Sinta.
Dita dengan mata berkaca-kaca, langsung memeluk tubuh Raya. Ia bahagia, karena pada akhirnya sahabatnya itu akan melepas status single nya.
Raya memang tidak pernah menceritakan masa lalunya kepada Dita. Namun begitu Dita tau kalau Raya menyimpan cerita yang membuat nya bersikap tertutup kepada laki-laki.
°°°°
__ADS_1
Keesokan harinya..di rumah sakit tempat Raya bekerja.
Saat Raya keluar dari ruang operasi bersama dengan rekan-rekannya yang lain, ia dihampiri oleh seseorang. Seseorang yang beberapa hari yang lalu mengungkapkan perasaannya kepada Raya.
"Maaf suster, bisa minta waktunya sebentar". Ucap Bima. Ya, orang itu adalah Bima.
Raya yang tidak mau ada fikiran yang aneh-aneh dari rekan kerjanya memilih mengiyakan permintaan Bima.
" Ada apa mas ?".
"Maaf klo mengganggu waktu mu. Aku nanti akan berangkat kembali ke Singapura, mungkin tidak bisa hadir di acara pernikahan mu. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu ".
Meskipun berat tapi Bima harus bisa melepas dan merelakan apa yang tidak bisa ia dapatkan.
Ia percaya jodoh. Meskipun sudah di depan mata, jika bukan jodoh, maka tidak akan bisa ia miliki. Dan..jika sudah jodoh, sebesar apapun penghalangnya, ia akan dengan mudah untuk menjangkaunya.
"ini...", Bima menyerahkan bingkisan kecil berbentuk kotak, tidak tebal dan tidak juga tipis.
"Terimalah, ini hadiah dari ku. Tujuannya sih sebagai kado pernikahan mu, tapi kalo mo dibuka sebelum harinya juga gak pa pa. Sudah menjadi hak kamu ".
"Kapan kamu menikah ?".
"InsyaAllah akhir bulan ini ".
"Bener??".
Tanya Bima dengan ekpresi terkejutnya. Terkejut karena ada hal yang membuat ia semakin bertanya-tanya dengan pernikahan Raya. Tepatnya calon suami Raya.
"Iya ".Raya hanya mengangguk.
*Kenapa harus akhir bulan ini sih...itu berarti aku pas ada di sini..padahal aku ingin menjauh saat ia bersanding dengan orang lain. Kenapa harus sama waktunya, ato jangan-jangan...
Bima memijit pelipisnya. Ia tengah dikacaukan dengan pikirannya.
"Mas..mas Bima kenapa ??". Raya mengibaskan tangannya di depan wajah Bima.
Setelah beberapa saat baru Bima tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Eh..maaf. Oia kalo boleh tau siapa nama calon suamimu ?".
Bima berusaha menetralkan pikirannya. Berusaha menguasai diri agar tidak terlihat oleh Raya kalau dirinya tengah risau.
"Benar mas Bima mau tau ? kan waktu itu katanya gak usah, nanti juga bakal tau, gtu ".
"Ya..sekarang penasaran aja, pengen tau siapa ". Ucap Bima sambil mengusap tengkuk lehernya.
Raya terdiam, ia tidak langsung menjawab. Hingga akhirnya...
"Namanya Ray.._".
"Raya..kamu dipanggil dokter Adam, diminta segera ke ruangannya ".
Ucapan Raya terpotong oleh panggilan seorang perawat.
Saat Raya melihat ke arah Bima, karna ingin melanjutkan kata-katanya td..Bima malah memberi isyarat bahwa Raya untuk segera pergi. Mempersilahkan nya segera menuju ruangan dokter yang dimaksud tadi.
Lagi-lagi Bima tidak mendapat jawaban dari pertanyaannya. Dan itu justru membuat ia semakin penasaran.
*Huffttt...kenapa slalu saja g jadi..siapa sih laki-laki itu..
Bima pun berlalu. Ia menuju ruang kerja sahabatnya, dr.Sinta. Sepanjang jalan di lorong rumah sakit kepalanya tak henti-henti memikirkan siapa sebenarnya laki-laki yang bakal jadi suami Raya.
Bima pun merujuk pada satu nama, nama baru. Bukan dr.Jo, seperti yang ia duga selama ini.
**Apa munkin dia...
🍁🍁🍁*
Dia siapa ya....tunggu ya...
sekian dulu yaa, sedikit dulu..
makasih semua yang masih menunggu kelanjutan cerita ku..maaf karena ada beberapa alasan jadi up nya terhambat lama..
salam hangat Qidi 😍
__ADS_1