
Selamat membaca πππ
Di rumah sakit tempat Raya bekerja, ada acara penyambutan dokter baru. Dokter Sinta beserta suaminya.
Sinta adalah sahabatku, sama seperti Bagas dan yang lainnya.
Sebenarnya aku juga diundang dalam acara tersebut. Tapi karna kakakku sudah datang untuk mewakili keluarga, jadi kuputuskan untuk tidak usah datang. Aku memang tidak suka dengan acara-acara formal seperti itu.
Mungkin kalo aku datang, aku bisa bertemu dengan perawat cantik itu. Tapi sudahlah, acara seperti itu pasti sangat membosankan.
Hari berlalu.
Saat aku ke rumah sakit, ku lihat Sinta dan Raya sedang menikmati makan siangnya di kafe rumah sakit.
Aku senang melihat keakraban mereka berdua. Karena Sinta bukanlah orang yang mudah dekat dengan orang baru. Apalagi di lingkungan kerja, dimana orang-orang tau bahwa dia adalah anak dari salah satu pemilik rumah sakit.
Sinta termasuk orang yang bisa menilai orang lain dalam sekali pertemuan saja.
°°°°
Hari itu sakit perutku kambuh lagi. Sangat sakit, hingga aku tak sanggup untuk menegakkan badanku, bahkan bergerak pun terbatas. Aku yang tadinya bersandar pada dinding, perlahan ku paksa diriku untuk bisa berbaring di sofa. Saat ini aku berada di ruang kerja ku di kafe.
Bagas keluar untuk mencarikan aku obat ato apalah yang bisa untuk meredakan sakitku.
Entah kebetulan ato apa, Bagas bertemu Raya di dekat kafe dan membawanya ke ruangan ku.
Dia merawatku. Tapi aku heran, dia tidak berhenti mengomeliku. Tidak seperti biasa. Nampak sekali kekhawatiran di wajahnya. Tapi... aku suka.
Oia.. kata Raya tadi, Bagas memaksa dengan menarik tangan nya untuk membawa nya ke ruangan ku. Mendengar itu entah kenapa aku gak suka, gak suka kalo ada yang menyentuhnya.
°°°°
Beberapa kali aku melihat Raya dekat dengan seorang laki-laki, disaat istirahat kerjanya. Memang tidak hanya berdua. Mereka selalu berempat, ada satu perawat lain dan juga Sinta. Tapi aku tidak pernah tau wajah laki-laki itu. Namun dari ciri-ciri fisiknya seperti seseorang yang aku kenal.
Raya memang bukan siapa-siapa ku saat ini, tapi aku tidak suka ada laki-laki yang begitu dekat dengannya.
Apa aku cemburu....
Menurut Raka, iya. Aku memang selalu cerita semuanya pada Raka, apa yang aku fikirkan dan aku rasakan, apapun.
Dan menurut Raka, aku harus segera mengungkapkan perasaanku pada Raya.
Sebenarnya aku masih ragu, belum yakin dengan perasaan ku. Tapi.....
°°°°
Suatu hari aku ada urusan di rumah sakit. Saat akan pulang, hujan turun dengan deras. Aku tak sengaja melihat Raya keluar dari mini market rumah sakit. Sepertinya dia habis selesai kerja. Dia nekat menerobos hujan tanpa payung tanpa mantel ato apalah yang melindunginya dari hujan.
Aku diam-diam mengikuti dan mendekatinya. Memayunginya, dengan maksud mengantarnya pulang agar tidak kehujanan. Lumayan kan bisa berdua dengannya. Astaghfirulloh....pikiran ku...
Awalnya dia menolak. Tapi dengan sedikit paksaan, akhirnya ia nurut saja.
Aku mengantarnya hingga depan asrama. Tak ada obrolan apapun sepanjang perjalanan. Hening.. tapi taukah readers, dalam hatiku riuh rame. Jantungku tak bisa berdetak normal, seakan ingin keluar dan memecah keheningan saat itu. Lebay memang authornya π
Sejak saat itu aku mulai perhatian padanya. Dari mulai menitipkan payung ke satpam rumah sakit, hingga saat ia kurang enak badan. Mungkin karna sering kena hujan dan pulang malam. Terkadang aku mengirim makanan, minuman hangat di malam hari sampai makanan untuk ia sarapan.
Kenapa aku melakukan itu smua,, entah.. aku pun tak tau alasannya.
πππππ
Author POV
__ADS_1
"Bang.. gimana? ", tanya Raka.
" Apanya? ", bukannya menjawab, Rayhan malah balik nanya.
" Itu... ", Raka senyum-senyum sambil menaik turunkan alisnya.
Saat ini kakak beradik itu sedang berada di kamar Rayhan. Beberapa saat yang lalu keduanya telah selesai membahas perkembangan usaha yang tengah mereka geluti saat ini.
" Gak tau 'ka, apa aku bisa dapatin dia ".
" Ck.. pesimis banget sih bang. Sejak kapan gak pede gitu ".
Rayhan mengangkat kedua bahunya.
" Laki-laki itu sepertinya sangat dekat dengannya ".
Raka menghela nafasnya dengan kasar.
" Coba aja dulu bang! ". Bujuk Raka.
" Udahlah 'ka, kalo emang jodo_ ".
" Kalo gak diusahain ya mana tau hasilnya ", Raka sengaja memotong ucapan kakanya.
" Jodoh emang sudah diatur, tapi juga harus ada usahanya gak cuma diem dan pasrah. Kalo cuma doa gak diusahain juga bohong namanya bang ".
Raka mulai gemas dengan kakaknya yang seakan pasrah dengan keadaan. Padahal yang ia kenal, Rayhan adalah orang yang berani dan tegas dalam setiap mengambil keputusan. Tentunya juga memikirkan baik buruknya.
" Trus, perhatian slama ini... PHP dong ", sambung Raka.
" Aku akan segera menemuinya dan menjelaskan semuanya ", ucap Rayhan seraya beranjak dari duduknya. Ia keluar dari kamarnya. Raka sejenak diam, hanya memperhatikan kepergian kakaknya itu.
*Kapan sih dia berani menyatakan cintanya, mengungkapkan perasaannya. Bang.. bang.. *, gerutu Raka dalam hati.
°°°°
Di rumah sakit.
Hari ini Raya masuk pagi. Saat istirahat siang ia mendapat sebuah pesan di HP nya.
π©Mas Ray :
*Boleh aku bertemu denganmu? , ada yang ingin aku bicarakan.
π©*Raya :
Ada apa?.
π©Mas Ray :
Datanglah ke kafe waktu itu. Saat kau merawatku.
π©Raya :
*Kapan? .
π©*Mas Ray :
*Kapan kau ada waktu? .
π©*Raya :
__ADS_1
*Hari ini bisa, InsyaAllah aku selesai sore ini.
π©*Mas Ray :
Aku tunggu sore ini. Trimakasih.
Raya hanya membaca dan tak membalasnya, karena ia harus segera kembali bekerja.
Lain halnya dengan Rayhan. Saat ini Rayhan masih menggenggam HP nya, ia menanti balasan dengan terus memandangi ponsel pintarnya itu.
*hiissshhhh,, kok gak dibales sih *, kesal Rayhan dalam hati.
°°°°
Sore pun tiba.
"Pulang Ray? ". Tanya dr Sinta, melihat Raya yang buru-buru membereskan barang-barangnya.
" Iya dok, duluan ya ".Raya melambaikan tanganya dengan senyum menghias si bibirnya.
" Seneng banget kayaknya ", gumam dr. Sinta. Nampaknya senyum Raya menular ke dr. Sinta.
Raya sudah tiba di kafe, tempat ia akan bertemu dengan Rayhan.
Kafe yang dulu saat perut Rayhan kambuh dan Raya yang ditarik paksa oleh Bagas untuk membantu mengobati Rayhan.
Ia memilih duduk di sudut ruangan. Di sana tidak banyak orang yang akan memperhatikan keberadaannya, tapi ia bisa memperhatikan ke banyak arah.
Sebenarnya Rayhan sudah sejak siang tadi berada di kafe itu. Tepatnya di dalam ruang kerjanya. Saat ini ia sedang memperhatikan gerak-gerik Raya melalui pantauan CCTV dari laptopnya. Ada senyum tipis menghiasi bibirnya, namun tidak lama senyum itu hilang. Ia harus segera mengatakan maksud dan tujuan pertemuan ini.
" Ehemm.. ".
Suara itu mengejutkan Raya yang sedang melihat ke arah jendela kaca.
" Maaf kalo menunggu lama ". Rayhan duduk di hadapan Raya, berbatas meja kecil di antara keduanya.
" Gak pa pa ", canggung nya Raya saat ini.
Tidak berapa lama pelayan datang membawa pesanan Rayhan. Dia telah memesan 2 jus dan 1 porsi kentang goreng. Padahal di depan Raya sudah segelas jus alpukat yang sudah berkurang isinya.
" Maaf, tapi aku sudah ada minuman ", tolak Raya.
" Tak apa, sapa tau nanti haus lagi ".Raya hanya menganggukan kepalanya.
Hening untuk beberapa saat. Rasa canggung pun dirasakan oleh keduanya. Hingga Raya mencoba membuka pembicaraan.
" Maaf, katanya ada yang ingin dibicarakan ".
" Ehemm.. begini ", Rayhan menjeda kalimatnya. Ia berusaha menetralkan irama jantungnya yang berdetak tak karuan.
" Maaf sebelumnya. Aku ingin menjelaskan sesuatu, agar kamu tidak salah sangka. Dengarkan dan jangan dipotong ".
" Ini tentang perhatian ku selama ini. Jangan dulu berfikir yang tidak-tidak tentang itu smua. Aku akan menjelaskannya "
"Sebenarnya...... apa hayooooo....
ditunggu up selanjutnya
maaf kalo masih banyak typo
makasih smua
__ADS_1
salam hangat selalu Q**idi π**
πππππππππ