
Assalamu'alaikum
selamat membaca 📖📚
🍁🍁🍁🍁🍁
Mereka meninggalkan Raya berdua dengan Adinda yang masih betah dengan mimpinya.
Masih dalam satu ruangan, hanya dibatasi tirai. Mereka berempat duduk di sofa.
" Ray, Bagas ada niatan yang baik berhubungan dengan Adinda. Kamu sudah tau kan ? ",
Andi memulai percakapan. Dia langsung pada intinya, tanpa basi-basi.
" Iya, dia pernah bilang beberapa hari yang lalu ", jawab Rayhan sambil melihat ke arah Bagas.
" Bagaimana menurutmu, sedangkan kondisi Adinda masih seperti ini ",
" Semua keputusan saat ini ada di tanganmu. Aku setuju dan mendukung kalian ",
" Sudah kamu tanyakan sama keluarga ? ", lanjut Rayhan.
" Sudah ", jawab Andi singkat.
Bagas dan Raka hanya diam menyimak.
" Jujur saja, katakan yang menjadi ganjalan hati kamu ! ", Rayhan melihat ada keresahan pada sahabatnya itu.
" Nggak ada yang mengganjal. Aku pun setuju. Hanya saja aku khawatir kalo Adinda tidak menerimanya ", ucap Andi.
" Kenapa tidak menerima ? ", tanya Rayhan.
" Kalian sudah tau perasaan adik ku. Tapi kalian juga paham kan, bagaimana dia. Dia akan menganggap dikasihani. Dan dia nggak suka itu ",
Andi mengungkapkan isi hatinya.
" Kalo masalah itu, aku yakin Bagas bisa menanganinya. Ya kan Gas ? ".
Rayhan menatap Bagas. Meminta kepastian dari nya untuk masalah yang dikhawatirkan Andi.
" Aku sudah memikirkan itu smua. InsyaAllah aku bisa. Aku minta doa dan dukungan kalian smua. Terutama kamu ".
Ucap Bagas meyakinkan Andi dan yang lainnya. Ia menepuk pelan bahu Andi.
" Ya sudah kalo begitu. Bismillah, nanti sore kamu siapkan smua ! ".
Perintah Andi pada Bagas. Dan dijawab dengan anggukan kepala, tanda Bagas mengiyakan.
Andi berharap keputusannya tidak salah. Dan dapat membuat adiknya bahagia.
Mereka pun kembali melihat Adinda. Masih sama. Belum ada tanda-tanda akan sadar.
Hening.. Tak ada yang membuka kata.
Bagas menengadah seraya mengerjapkan matanya. Berusaha menghilangkan air yang menggenang di sana. Ia tidak mau ada yang melihat, kalau ia menangis.
Andi tak kalah sedihnya. Tanpa sadar, ia menitikkan air mata.
" Sabar ", ucap Rayhan memberi kekuatan pada kedua sahabatnya.
Akhirnya Rayhan dan Raya pamit. Nanti sore mereka akan datang lagi.
Keduanya mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan Bagas.
Walaupun Bagas menolak, tapi Rayhan tetap memaksa untuk melakukannya.
__ADS_1
Karena tidak mungkin Bagas sendirian yang menyiapkannya. Pikirannya saja sedang tidak menyatu dengan raganya. Bisa-bisa malah batal rencananya.
Raka kembali mengendarai motornya. Ia menuju tempat Dony.
Ia mengabarkan tentang acara nanti sore, di rumah sakit.
Sore pun tiba.
Rayhan dan istrinya kembali lagi ke rumah sakit. Mereka juga mengajak mamah Mia dan papah Husni. Tak lupa penghulu turut serta menuju ruang rawat Adinda.
Semua sudah siap di posisinya masing-masing.
Kini Bagas menjabat tangan Andi, selaku wali yang akan menikahkan nya dengan Adinda.
" SAH "
Walau hanya disaksikan beberapa sahabat, seorang dokter dan juga perawat. Pernikahan yang sangat sederhana itu akhirnya terlaksana. Bukan saja sederhana, tapi juga dadakan. Yang penting sekarang Bagas dan Adinda telah sah sebagai suami istri.
Para hadirin yang menyaksikan pernikahan tersebut kini sudah meninggalkan ruang rawat Adinda.
Orang tua Rayhan pamit karena ada keperluan lain.
Raka pamit mengantar bidadarinya pulang.
Rayhan dan Raya pun pamit. Rayhan berencana bertemu dengan Bima. Mereka akan mengurus sesuatu. Tapi sebelumnya Raya diantar pulang terlebih dahulu.
Sedangkan Dony dan Andi keluar bersama.
Tinggallah Bagas seorang, menemani Adinda.
Sebelumnya, Andi tidak mengijinkan Bagas menemani adiknya seorang diri. Bukan muhrim, katanya. Namun kini ia bisa tenang meninggalkan Adinda hanya bersama dengan Bagas.
Untuk pertama kali Bagas mencium kening wanita, dan itu adalah wanita yang sudah sah menjadi istrinya.
Tidak menunggu waktu lama, dokter dan beberapa perawat kembali mendatangi ruangan Adinda.
"Alhamdulillah. Semoga tidak lama lagi pasien akan sadar. Tetap bersabar ya ".
Ucap dokter yang memeriksa Adinda.
Harapan semakin besar. Doa tak henti-hentinya dipanjatkan. Semoga tidak lama lagi Adinda benar-benar sadar.
Tapi itu juga memberi tanggung jawab baru bagi Bagas. Bukan hanya tanggung jawab sebagai seorang suami. Tapi juga tanggung jawab memberi penjelasan atas niat baik nya.
" Assalamu'alaikum ", pintu terbuka.
Muncullah Andi dan Dony.
" Nih, makan dulu ! ".
Ternyata mereka pergi membeli makan.
Dony sengaja membeli makanan kesukaan Bagas, nasi goreng kambing.
Siapa tahu kali ini Bagas lebih berselera untuk makan. Karena sejak kejadian itu, Bagas tidak makan dengan layak.
" Wa'alaikumussalam warohmatulloh ",
Jawab Bagas dengan suara sedikit serak. Ia beranjak dari duduknya.
" Tadi tangan Dinda bergerak. Kata dokter, tidak lama lagi ia akan sadar ",
Ucap Bagas dengan mata berkaca-kaca.
" Alhamdulillah ",
__ADS_1
" Alhamdulillah ",
Ucapan syukur dari Dony dan Andi.
Andi berjalan mendekati Bagas dan memeluknya.
" Sekarang kamu makan dulu. Jangan sampai terlihat kurus saat adikku bangun nanti ",
Perintah Andi dengan candaannya.
Awal nya Andi mengambil wudhu dan ingin mengaji di dekat adiknya. Tapi tiba-tiba ia pamit keluar untuk menerima telpun. Sedangkan Bagas dan Dony duduk di sofa, di sudut ruang.
Tirai pun dibuka, karena tidak ada yang mendampingi Adinda.
Saat sedang makan, Dony mengajukan pertanyaan yang mengganjal pikirannya.
" Boleh mengganggu makan mu ? ",
Tanya Dony pada Bagas.
" Serius banget Don. Ada apa ? ",
" Maaf, boleh tau alasan kamu mengambil keputusan ini ",
" Pertanyaan kamu to the point banget ",
Bagas bertanya balik.
" Jujur aku penasaran ", sahut Dony.
" Aku tau, ada yang kamu pikirkan. Tapi oke lah. Akan aku jelaskan, agar kamu tenang ",
Bagas menengguk minumannya. Menghentikan Sejenak makannya.
" Ini semua bukan sebatas masalah tanggung jawab karna kecelakaan itu. Tapi juga bukti perasaanku padanya. Mungkin terkesan mendadak. Tapi aku sudah mempunyai niatan ini sebelum kecelakaan terjadi, dan menjadi seperti ini ",
Bagas kembali menghentikan kalimatnya. Menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Menahan agar air mata tak jatuh dari matanya.
"Aku mencintai nya Don, dan aku ingin membahagiakannya. Jujur ada rasa takut kalo dia tidak mau menerima penjelasanku ".
Bagas menundukkan kepalanya, dengan bahu yang sedikit bergetar. Ia melanjutkan ucapannya.
" Aku salut dan bangga sama kamu Gas ",
" Kamu laki-laki yang bertanggung jawab. Aku yakin kamu bisa. Lanjutkan apa yang sudah kamu mulai ",
Kata-kata semangat dari sahabatnya, merupakan moodbooster yang Bagas butuhkan.
Tanpa disadari, ada seseorang yang tanpa sengaja mendengar percakapan mereka berdua. Ia menyimak dan berpikir yang berbeda.
🍁🍁🍁🍁🍁
Sedikit dulu yaa
maaf kalo banyak typo
maaf juga ceritanya datar-datar aja
tetep semangatin aku ya, beri vote gift like dan koment juga saran dan kritik nya
makasih buat smuanya, dah mau mampir
makasih juga buat dukungannya
salam hangat Qidi 😍
__ADS_1