
assalamu'alaikum
selamat membaca 📖📚
🍁🍁🍁🍁🍁
Kita tinggalkan dulu urusan hati Bima dan juga dokter Johan.
Kembali pada Raya dan Rayhan..
Seluruh rangkaian acara telah selesai.
Keluarga Rayhan pamit meninggalkan tempat pesta lebih dulu.
Bima dan dokter Johan langsung bertolak ke Surabaya, malam itu juga.
Sementara itu, orang tua Rayhan beserta rombongan memilih kembali keesokan harinya. Mereka menginap di hotel yang dekat dengan gedung tempat pesta pernikahan berlangsung.
Selesai acara, kedua pengantin baru pun pulang ke rumah orang tua Raya.
Sebenarnya mereka mendapat jatah kamar hotel dari keluarga Rayhan. Tapi mereka memilih untuk kembali ke rumah saja.
°°°°°
Apa kabar Bagas..
Bagas, salah satu sahabat Rayhan itu turut serta ke Jogja.
Ia membawa mobil sendiri. Perjalanan dari surabaya ke Jogja ia lalui hanya bertemankan musik yang keluar dari tape mobil.
Entah musik apa dan lagu apa yang ia dengar, asal itu bisa membuatnya tetap fokus mengendara.
Awalnya ada seseorang yang akan menemani. Tapi karena beberapa hal, membuat ia harus melewati perjalanan itu seorang diri.
Benar-benar sendiri, pulang pergi tanpa ada yang menemani.
Sedangkan Dita, sahabat Raya satu-satunya, tidak bisa ikut mendampingi Raya diacara istimewanya. Ia akan datang di acara pesta di surabaya nanti.
Begitu pula dokter Sinta, dan rekan-rekan kerja Raya. Mereka akan hadir di acara yang digelar oleh keluarga Rayhan.
°°°°°
Di rumah Raya..
Di kamar pengantin.
Setelah Rayhan selesai dengan acara bersih-bersih diri, ganti baju dan lain sebagainya. Raya masuk ke kamar membawa segelas teh hangat dan sepiring kue sisa acara tadi.
Rayhan membantu, menerima dan meletakkannya di atas meja dekat tempat tidur.
Raya masih berdiri di belakang suaminya. Bingung mau berbuat apa. Canggung karena kini ada seorang laki-laki bersama nya di dalam kamar.
Rayhan berbalik, mereka saling pandang dan diam. Tanpa hitungan menit, kedua nya kini berpelukan.
Rayhan membawa istrinya ke dalam pelukannya. Raya pun membalas pelukan itu tak kalah erat.
__ADS_1
Tidak seperti teletabies yang berpelukan sambil berlompatan. Mereka berpelukan dengan deraian air mata membasahi pipi keduanya.
Seperti dua insan yang sudah terpisah oleh jarak dan waktu yang lama.
Keduanya menangis, mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
Kejadian yang hampir membuat rencana mereka bubar, ambyar.
Kejadian yang membuat hati keduanya dilanda gelisah.
Kejadian yang mengingatkan mereka dengan rasa dimasa lalu, kecewa.
Kejadian yang hampir memisahkan mereka.
Malam pertama yang berbeda dari malam pertama pasangan pengantin pada umumnya.
Tidak ada ******* atau apapun yang menandakan aktifitas sepasang pengantin baru.
Mereka berdua bercengkrama. Saling bertukar cerita. Menceritakan tentang perasaan mereka saat harus menghadapi masalah Melisa.
Banyak hal yang menjadi bahan obrolan malam itu. Hingga rasa kantuk menyerang keduanya. Dan...
"Ray.. ", panggilan pertama yang tidak ada tanggapan.
"Dek.. ", ditengoknya wajah wanita yang ada dalam pelukannya.
"Ealaahh.. ternyata aku ngomong sendiri".
Ucap Rayhan seorang diri. Menyadari bahwa dirinya bicara, tanpa ada yang mendengarkan.
Entah sejak kapan ia jatuh hati pada perawat cantiknya itu.
Yang pasti kini ia akan memberikan cintanya hanya untuk wanita yang kini sudah resmi menjadi istri nya.
Ia menggeser tubuhnya, menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka sebatas perut.
Ia pun ikut tidur dan kembali melingkarkan tangannya di atas perut wanita halalnya.
Ingat yaa.. berselimut bersama dengan masih berpakaian lengkap 😊
Keesokan paginya..
Sepasang pengantin baru itu, baru saja menunaikan kewajiban seorang hamba kepada Sang Pencipta.
Raya mencium tangan imam sekaligus suaminya. Setelahnya Rayhan merentangkan tangan. Kode agar Raya mendekat dan masuk dalam pelukannya.
Kode pun diterima dengan baik.
Raya bangkit dan mendekati suaminya. Pelukan di pagi hari. Rayhan mencium kedua pipi dan kening Raya.
"Trimakasih ya dek. Trimakasih sudah mau menerima mas menjadi suami mu ".
"Trimakasih dulu sama ayah dan ibu mas ". Raya mengingatkan.
"Kalo itu sudah dong ". Rayhan mencubit ujung hidung Raya.
__ADS_1
"Mas.. ". Raya memegang hidungnya.
Sebenarnya sih untuk menutupi rasa malunya. Malu karena diperlakukan seperti itu.
Rayhan mengambil tangan istrinya yang digunakan untuk memegang hidung, sekaligus menutupi wajahnya. Mengecup dan menempelkannya di pipi Rayhan.
"Trimakasih, sayang ".
Wuuu.... ucapan Rayhan mampu membuat pipi aku bersemu merah menahan malu..
Wkwkwkkk.. akunya yang halu akut.
Tapi tersenyum kecut, ternyata hanya imajinasi yang hanyut 😆.
Raya menunduk. Menyandarkan keningnya di dada Rayhan.
Pipi merah, wajah yang terasa menghangat, tubuh sedikit bergetar, dan jantung berpacu cepat.
Ditariknya tangan yang tadi dipegang Rayhan. Lalu ia peluk erat suaminya.
Raya merasa menemukan sosok yang slama ini ia cari. Seseorang yang slama ini ia butuhkan. Bukan yang hanya mengucapkan kata cinta, namun tak ada tindakan nyata.
Terdengar isakan kecil dari wanita yang ada dalam pelukannya. Ia usap punggung istrinya, dan mengecup ubun-ubunnya. Menyalurkan rasa nyaman dan ketenangan.
Setelah cukup tenang, dan tak terdengar suara tangis. Rayhan melepas pelukannya.
Ia tangkup kedua pipi istrinya, dan ia angkat wajah yang masih menunduk itu.
"Jangan menangis lagi ya ?!". Pinta Rayhan dengan lembut.
"Jangan hari ini.. ",
"Kalo besuk boleh.. ". Lanjut Raya.
Ia mengulang kalimat yang sama tempo hari, saat di rumah Rayhan, sebelum menikah.
Mengingat hal itu membuat keduanya tertawa bersamaan.
Namun tawa itu tiba-tiba hilang dari Bibir Raya.
🍁🍁🍁🍁🍁
sedikit dulu yaa
maaf kalo banyak typo
maaf juga ceritanya datar-datar aja
tetep semangatin aku ya, beri vote gift like dan koment nya
makasih buat smuanya, dah mau mampir
makasih juga buat dukungannya
salam hangat Qidi 😍
__ADS_1