Cinta Untuk Perawat Cantik

Cinta Untuk Perawat Cantik
Kasihan Rayhan


__ADS_3

assalamu'alaikum


selamat membaca 📖📚


🍁🍁🍁🍁🍁


Mobil memasuki halaman rumah orang tua Rayhan. Di sana sudah berdiri papah Husni dan mamah Mia. Menyambut menantu pertama keluarga Husni.


Rayhan lebih dulu keluar dari mobil. Ia membantu istrinya. Kemudian melipat sandaran jok mobil, agar Ayu dan ibu bisa keluar.


"Assalamu'alaikum ", ucap semua yang datang.


"Wa'alaikumussalam warohmatulloh ", jawab kedua orang tua Rayhan.


"Mantu mamah dah dateng ", mamah Mia mengusap kepala Raya, saat menantunya itu mencium tangannya.


Para wanita bersalaman dan saling cipika cipiki.


"Mari masuk. Langsung istirahat dulu saja, pasti lelah kan ?!"


Papah mempersilahkan besannya masuk ke dalam rumah.


Rumah yang luas, yang sebagian besar sudah ditata rapi. Tinggal sebagian kecil yang masih perlu di percantik lagi.


Orang tua besarta adik Raya istirahat di kamar tamu yang sudah dipersiapkan.


Raya dan Rayhan masuk ke dalam kamar mereka. Kamar Rayhan yang sudah menjadi milik berdua.


Selesai membereskan barang-barang yang di bawa dari Jogja.


"Dek, sini !", panggil Rayhan yang sedang duduk di sofa kecil di kamar mereka.


Raya menurut, dan duduk di sebelah Rayhan. Tidak berdekatan, masih ada jarak beberapa jengkal. Entah karena malu atau nemang Raya memberi jarak dengan sengaja.


Rayhan menggenggam tahan istrinya. Menarik perlahan. Raya yang mengerti kemudian mendekati suaminya.


"Kamu kenapa, dari tadi diam aja ?",


Tanya Rayhan. Ia menarik tubuh Raya untuk bisa ia peluk.


"Nggak pa-pa mas. Cuma capek ". Jawab Raya yang masih berada dalam pelukan Rayhan.


"Dek.. ". Panggil Rayhan dengan pelan, tapi ada penekanan di sana.


Raya tidak menanggapi. Ia tenggelamkan wajahnya dalam dekapan sang suami.


Ia pun mengeratkan pelukannya.


Rayhan membelai lembut kepala Raya. Mengusap punggung Raya. Memberikan ketenangan pada istrinya. Ia mengurai pelukannya.


"Dilepas ya ?!",


Rayhan membantu melepas jilbab yang masih dipake Raya.


"Maaf mas ", ucap Raya pelan.


"Hmm.. kenapa minta maaf ". Tanya Rayhan, heran.


"Maaf karna sudah mendiamkan mas "


"Mau cerita sama mas ?", Rayhan membelai pipi Raya.


Raya menunduk. Hening sesaat.


"Aku udah berfikir macam-macam sama mas ", Raya mulai mengungkapkan unek-uneknya.


"Nggak enak juga sama mas Raka tadi ".

__ADS_1


"Aku kesel sama mas ". Akhirnya keluar juga itu kata-kata yang ia simpan.


Diam sejenak.


Rayhan yang ikut diam, menyimak. Mengira masih ada yang ingin Raya katakan, akhirnya bersuara.


"Kenapa berfikir macem-macem. Dan kenapa kesel sama mas ??",


"Karna pesan chat itu ??".


Lanjut Ray.


Dijawab dengan anggukan kepala oleh Raya.


Rayhan berdiri. Berjalan menuju meja kecil di samping tempat tidur. Ia ambil benda pipih canggih itu.


"Ini, buka aja. Kuncinya bentuk love ".


Rayhan duduk lalu menyerahkan ponselnya.


Lama tangan yang memegang ponsel itu menggantung di depan Raya.


Akhirnya Rayhan meletakkan nya di tangan Raya, yang berada di atas pangkuannya.


"Buka !. mas sudah ijinkan ".


Yang awalnya ragu, kini ponsel itu berada di genggaman Raya. Ia membukanya. Menggeser titik-titik hingga membentuk pola 'love'.


Ting..


Pas,sekali. Kunci ponsel terbuka. Notif pesan pun juga masuk. Lagi-lagi dari pengirim yang sama dengan sewaktu di kereta.


Wajah Raya semakin masam saja.


Rayhan yang tadinya biasa-biasa saja, kini jadi deg-degan.


Ia juga nggak nyangka bakal mendapat chat dari 'dia' lagi. Padahal tadi ia sudah meminta Raka untuk mengurusnya.


Rayhan menggeser tubuh Raya hingga posisi membelakanginya. Ia peluk istrinya dari belakang. Dibukanya benda pintar itu di depan Raya.


"Kita baca bareng ya ?!".


Selesai acara membaca dan membalas chat bersama.


Rayhan bersih-bersih diri. Badannya terasa lengket sejak tadi. Tapi ia tidak mau lebih lama melihat Raya diam seperti itu. Maka ia tahan demi melegakan hati sang istri.


Sebenarnya Rayhan ingin membicarakan hal itu nanti. Di waktu santai, rebahan bareng, jadi tidak terbawa emosi. Tapi ternyata aura istrinya sudah berubah sedikit berkabut. Dari pada nanti mendung semakin gelap, dan dihiasi petir. Apalagi ada hal lain yang membuat sensitifitas nya meningkat lebih cepat.


Raya sudah berada di ruang keluarga. Ngobrol asyik bersama kedua adik perempuannya.


Ibu dan mamah nya menata dan meracik makanan untuk mereka semua. Di sana juga ada Raka. Duduk diam tanpa suara. Hanya tangannya yang gesit membantu pekerjaan ibu-ibu.


"Wuiihhh, seger banget nii ".


Celoteh Raka saat melihat Ray datang.


Yang lain pun menoleh ke arah Ray. Begitu juga Bima yang baru terlihat di sana.


"Iya dong ", Rayhan menanggapi seadanya.


"Ray, kamu apain itu mantu mamah ?", tanya mamah menyelidiki.


"Diapa-apain dong.. ", kata-kata nya belum selesai, sudah dihadiahi pukulan menggunakan centong nasi.


"Ya masak didiemin aja sih mah ", ucapnya sambil mengelak ayunan centong yang kedua dari mamah.


"Mamah kan udah pesen. Jangan diapa-apain dulu. Kasian kalo nanti sampai kecapekan. Ini malah dah dibikin pucet gtu".

__ADS_1


Marah nya mamah Mia kepada Rayhan. Yang dianggap nggak nurut.


"Apaan sih mah ??".


Rayhan benar-benar tidak tau apa maksud sang mamah.


"Itu buktinya ", mamah menunjuk kepala Rayhan. Diangguki oleh Raka.Yang lain jadi ikut melihat ke arah tangan mamah yang sedang menunjuk.


Rayhan memegang kepalanya.


"Kenapa dengan kepala Rayhan ?", polos nya si pengantin baru.


"Abang habis mandi kan ?", tanya Raka.


"Udah. Trus kenapa ?", bingung Rayhan mengerutkan dahinya. Mengusap-usap rambutnya.


"Rambut abang sudah basah, brati habis kramas kan ?".


Sebelum menjawab, terlebih dulu mendapat cubitan dari Raya di pinggang Rayhan.


"Mas ish.. nggak paham pertanyaan Raka ", bisik si istri di telinga Rayhan.


Setelah ngeh, baru deh kain lap di atas meja melayang satu, tepat mendarat di wajah Raka.


Raka tidak marah. Ia dan yang lain malah tertawa bersama.


"Raya itu lagi datang bulan buw, pas juga kecapekan perjalanan jauh ", penjelasan ibu Raya. Tapi juga sambil senyum-senyum melihat kejadian itu.


"Oalah, mamah kira kalian udah 'itu-itu'. Di tahan dulu, kan kasian Raya ".


Ucap mamah.


"Kalo begini yang kasian bukan Raya mah, tapi Ray ", setelah berkata demikian, Bima bertos ria dengan Raka. Mereka terkekeh.


"Puasa.. ", celetuk Raka.


Raya mukanya berubah merah. Malu.


Sedangkan Rayhan, menghela nafas setelah mengumpat untuk abang dan adeknya.


Bima kemudian pergi sambil membawa gelas yang belum habis isinya.


Raka pun melipir seraya memasukkan kue ke dalam mulutnya.


Mereka berdua meninggalkan tempat itu dengan tawa yang semakin keras.


*Yah, kasian banget aku.. *


Batin Rayhan.


Ia melirik ke arah Raya. Raya yang dilirik malah mengulum bibir menahan senyum.


"Dek.. ", panggil Ray dengan lembut.


"Maaf mas ", ucap Raya dengan senyum manis nya.


🍁🍁🍁🍁🍁


sedikit dulu yaa


maaf kalo banyak typo


maaf juga ceritanya datar-datar aja


tetep semangatin aku ya, beri vote gift like dan koment juga saran dan kritik nya


makasih buat smuanya, dah mau mampir

__ADS_1


makasih juga buat dukungannya


salam hangat Qidi 😍


__ADS_2