Cinta Untuk Perawat Cantik

Cinta Untuk Perawat Cantik
Kembali Menangis


__ADS_3

Assalamu'alaikum


selamat membaca 📖📚


🍁🍁🍁🍁🍁


Dony dan Raka berjalan ke arah Rayhan dan Raya.


" Bang, liat bang Bagas nggak? ", tanya Raka yang berada di belakang Dony.


" Aku juga nyari-nyari. Andi sama adiknya juga nggak kliatan ", ucap Rayhan.


" Tadi bukannya rombongan bareng sama kamu? ", kini giliran Raya yang bersuara.


" Iya, tadi mereka semua juga udah masuk mobil. Aku langsung berangkat, soalnya buru-buru mo jemput Di... ", eh, belum selesai bicara dah dipotong sama Bima.


" Semua dari tadi nyariin tapi belum ketemu juga. Masak sih dia nggak gabung sama kita-kita ", timpal Bima yang tiba-tiba muncul dan ikut nimbrung dengan mereka.


" Udah coba dihubungi?? ",


" Udah ditelpon?? ",


Pertanyaan yang hampir bersamaan, dari Rayhan dan Raya.


" Udah ",


" Dah ",


Jawab Dony dan Raka kompak.


Alis Rayhan terangkat. Melihat itu Raka pun melanjutkan ucapannya. Paham, seolah ada tanda tanya di wajah abang nya.


" Tadi sempat dering tapi trus mati. Dicoba lagi dah nggak nyambung. Kalo Andi nggak diangkat ",


penjelasan Dony didukung dengan anggukan kepala Raka.


" Siapa yang bawa HP Rayhan? ", tanya Bima tiba-tiba.


" Ada bang ",


Jawab Raka yang kemudian mengambil ponsel dari saku celananya, lalu mengulurkan pada Bima.


" Bentar Ray "


Paham dengan maksud dan tujuan Bima. Rayhan segera mengambil ponselnya, membuka kunci dan mengembalikan lagi kepada Bima.


Bima segera mencari kontak atas nama Adinda. Dan langsung ketemu.


Bima tidak mengutarakan maksudnya secara lisan. Karena dia tahu, ada Raya yang bakalan ngambek kalau diantara mereka di sana hanya Rayhan yang menyimpan nomer Adinda.


Bima mencoba menghubungi nomer Adinda. Sekali tidak diangkat. Dicoba nya yang kedua, dan berdering..


📲 Bima : "Halo.. ",


ucap Bima setelah nomer yang dituju tersambung.


📲 ... : " Ray.. ", terdengar suara yang parau.


📲 Bima : "Ini Bima, kamu dimana? "


Bima tau itu Bagas.

__ADS_1


📲 Bagas : "Jangan kasih tau Ray dulu. Kita bertiga ada di Rumah sakit .... ".


Bagas menceritakan sedikit keadaan mereka. Kemudian menutup sambungan telepun.


" Mereka nggak pa-pa. Ban nya kempes ",


Bima tidak bisa menceritakan yang sebenarnya. Tapi dari ekspresi Rayhan, Dony apalagi Raka, sepertinya mereka tau kalau keadaan yang sebenarnya tidak seperti itu.


" Mereka dimana bang, biar aku jemput? ".


Tanya Raka sambil berlalu. Memberi kode agar Bima mengikutinya.


" Syukur kalo begitu. Aku ke sana dulu ya, kalian nikmati acaranya. Anggap rumah sendiri ", Dony cengar-cengir. Sengaja mengatakan demikian untuk sekedar mengalihkan perhatian.


Sebelum pergi Dony sempat menepuk-nepuk bahu Rayhan dengan pelan. Mereka berdua juga saling padang. Berbicara lewat tatapan mata. Dan mengangguk samar.


Setelah kepergian mereka, Raya mengusap punggung tangan Rayhan.


" Doakan ya! ",


Raya memberi ketenangan pada suaminya. Meski tidak tahu apa yang dipikirkan Rayhan, namun Raya tahu kalau suaminya sedang gelisah.


Rayhan memaksakan senyumnya. Memandang ke arah Raya, kemudian mengecup kening istrinya beberapa saat.


°°°°°


Di rumah sakit.


Kondisi Bagas bisa dibilang lumayan parah. Lebam di kening, ada luka sobek di pelipis kanan dan di bagian kepala, akibat kaca mobil yang pecah. Alhamdulillah masih dalam kondisi sadar.


Andi, hanya sedikit lecet dan memar dibagian lengan.


Sedangkan Adinda, saat dievakuasi masih sempat membuka mata, namun mulai dari masuk ambulan sampai tiba di rumah sakit ia tidak sadarkan diri. Sekarang berada di Unit Gawat Darurat, sedang mendapatkan penanganan intensif.


Saat Bagas menjawab telepun, Andi meninggalkannya sendirian di ruang rawat.


Andi kini sedang mengurus semua administrasi untuk mereka bertiga.


Bagas mengakhiri panggilan dengan Bima. Tanpa ia sadari air mata mengalir di kedua pipinya.


°°°°°


"Bagas sekarang ada dimana bang? ", tanya Dony yang menyusul Bima dan Raka.


" Di rumah sakit papah ".


Jawab Bima singkat.


Tanpa banyak bicara lagi, Dony dan Raka langsung menuju ke rumah sakit keluarga mereka.


Dalam perjalanan..


" Apa yang terjadi 'Ka? ",


" Aku juga nggak tau bang ", jawab Raka sambil berfikir akan sesuatu.


" Ada apa? ", tanya Dony lagi.


" Nggak pa-pa. Perasaan ku kok nggak enak ya ". Ucap Raka kemudian.


" Udah, jangan mikir macem-macem lah. Doa in lah ? ",

__ADS_1


Raka hanya mengangguk, dan terus melajukan mobilnya.


Setibanya di rumah sakit, Raka dan Dony langsung menuju kamar rawat Bagas.


Tanpa mengetuk pintu ataupun memberi salam. Raka mendorong pintu hingga terbuka lebar. Memperlihatkan Bagas yang tengah mengusap wajahnya, membersihkan air mata yang telah membasahi kedua pipinya.


"Gas, apa yang terjadi?? ", begitu masuk Dony langsung saja melontarkan pertanyaan.


Bagas yang sempat melamun, terkejut dengan munculnya dua orang dengan tiba-tiba.


" Eh kalian ", dengan tangan yang masih mengusap wajah, menghilangkan bekas air mata.


" Kalo nangis nggak pa pa 'Gas ", seloroh Dony tanpa dosa.


Padahal Bagas dikenal sebagai laki-laki anti menangis. Tentu saja ketahuan menangis merupakan hal yang memalukan.


" Pa'an sih ", gerutu Bagas.


" Udah belum basa-basinya ? ", tanya Raka yang sedikit kesal.


Kedua orang tersebut malah senyam-senyum, seolah menertawakan Raka.


" Aku nggak tau kenapa dengan mobilnya. Dari awal jalan udah krasa nggak enak. Udah bilang ke Andi, katanya nggak pa pa ",


Bagas menjeda ceritanya, ia sedikit kesusahan membenarkan duduknya, karena kepalanya masih terasa pusing.


" Ya udah aku lanjut ke gedung. Tapi kok nggak bisa buat jalan kenceng. Kayak kesendat gitu gas nya. Andi juga nyadar itu. Trus ban nya pecah, dia panik karna Dinda teriak, mungkin karena kaget. Nah pas jalan turun nikung, mobil dah nggak bisa dikendalikan. Stir nya nggak tau kenapa, dan.. sampai kita disini ".


Mata Bagas kembali berkaca-kaca. Kali ini Raka menahan tangan Bagas yang hendak menyeka air mata.


" Kenapa abang bisa menangis? ",


pertanyaan Raka tanpa basa-basi lagi.


" Dinda belum sadar ", ucap Bagas sambil tertunduk.


Bersamaan dengan itu, Andi masuk ruangan.


Semua pandangan tertuju ke arah pintu. Andi sempat menghentikan langkahnya. Kemudian berjalan cepat dan disambut oleh Dony. Mereka berpelukan sesaat, berganti dengan Raka.


" Alhamdulillah kami masih selamat ", ucap Andi dengan suara serak menahan tangis.


" Tapi Adinda.... "


"Kita sudah tau ", kalimat Andi dipotong oleh kata-kata Dony.


Melihat Andi sesedih itu. Bagas semakin merasa bersalah. Walau semua sudah takdir dan kenyataannya bukan salah Bagas. Tapi ia merasa tidak bisa melindungi orang-orang yang ia sayangi.


Ini mengingatkannya pada suatu kejadian yang membuatnya 'berhenti menangis'. Dan dengan kejadian ini, ia mengeluarkan air matanya kembali.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sedikit dulu yaa


maaf kalo banyak typo


maaf juga ceritanya datar-datar aja


tetep semangatin aku ya, beri vote gift like dan koment juga saran dan kritik nya


makasih buat smuanya, dah mau mampir

__ADS_1


makasih juga buat dukungannya


salam hangat Qidi 😍


__ADS_2