
Maaf sebelumnya ππ sebenarnya bab ini dah siap tinggal up, tapi karna sesuatu hal draft nya hilang jadi harus ketik ulang ππ .. jadi mood melayang.. maka dari itu up nya tertunda lagi.. sekali lagi maaf ya readers dah bikin kalian nunggu..
sekarang dilanjut lagi ya baca nya ππ
πππππππ
Selamat membaca πππ
"Sebenarnya aku melakukan itu smua, karna aku tidak mau kamu sakit dan mengganggu aktifitas kerja kamu. Apalagi kamu di sini ga ada keluarga ".
*Dia khawatirin aku...
Raya hanya bisa berkata dalam hati.
Dan seperti apa yang diperintahkan Rayhan tadi, Raya sama sekali tidak menyela apapun yang keluar dari mulut Rayhan.
Ia diam, mendengarkan tanpa berani memandang orang yang ada di hadapannya.
Hanya sesekali meminum jus yang ada di genggamannya. Yaa.. kedua tangan Raya kini berada di atas meja. Menggenggam gelas minumannya, seakan menjaga agar tidak diambil orang.
*Jadi... selama ini....
Batin Raya.
" Maaf ". Lirih Rayhan seraya menundukkan kepalanya.
" Iya ". Jawab Raya tak kalah lirihnya.
Hening kembali, hingga akhirnya...
Pertemuan singkat itupun berakhir.
Raya tiba di asrama bertepatan dengan adzan maghrib berkumandang.
Lelah,, itu yang kini Raya rasakan. Dari pagi ia berada di luar hingga langit berwarna kemerahan.
Saat ini fikirannya entah dimana.
Untung saja Dita sedang tugas sore, sehingga tidak ada yang mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin keluar dari mulut kepo Dita. Apalagi jika melihat raut wajah Raya yang entah menunjukkan ekspresi apa itu. Author juga gak tau,gak kliatan.
Setelah istirahat sejenak. Raya mengambil HP nya, hendak menghubungi sang ibu. Ia ingin menceritakan apa yang telah ia rasakan.
Selalu...saat ia merasa suka senang gembira atau sedang resah gelisah sedih galau terluka bahkan kecewa, Raya selalu mencurahkan isi hatinya pada ibu tercinta. Entah ada solusi atau tidak, yang pasti setelah itu ia akan merasa lega. Hanya dengan mendengar suara ibu, itu akan membuat suasana hatinya berubah lebih baik.
Kini Raya lebih mantap menatap masa depan. Semoga keputusan yang ia ambil tidak salah. Itu kiranya yang kini menjadi salah satu doanya.
°°°°
Beberapa hari telah berlalu.
Hari ini Raya bertemu dengan Bima. Eh.. ralat, Bima lah yang mengajak Raya. Sedikit memaksa sih.
Hampir 3 bulan Bima disibukkan dengan pekerjaannya. Selama itu pula ia tidak bertemu dengan Raya. Ia kembali karna keluarganya akan melamar seorang gadis. Selain itu juga ia ingin melanjutkan tujuannya yang sempat tertunda dulu.
Sebenarnya Bima sudah balik 2 hari yang lalu. Tapi hari itu Raya tengah sibuk-sibuknya, jadi keinginan untuk bertemu dengan Raya ia urungkan. Dan hari ini, ia tak ingin gagal lagi. Bima sengaja mengajak bertemu di rooftop rumah sakit, agar Raya tidak beralasan karena sibuk. Kan dekat
__ADS_1
Di saat jam istirahat...
"Ada apa mas Bima ngajak kesini? ". Raya heran Bima ngajak ke rooftop. Ada sedikit rasa takut.
" Ada yang ingin aku katakan ",
" Sebentar kok ". Sambung Bima. Ia takut Raya menolak ajakannya lagi.
Setelah keduanya diam sesaat...
" Ray, aku suka sama kamu ". Jujur Bima. Tanpa basa-basi dan tanpa kalimat pendahuluan apapun. Langsung pada intinya.
Raya hanya diam mematung. Sebenarnya dia sudah tau dari gerak-gerik tingkah laku dan perhatian yang Bima berikan untuknya. Tapi tetap saja pernyataan Bima membuat Raya terkejut.
" Sejak pertama lihat kamu, dan semakin suka dan cinta setelah semakin dekat denganmu ".
" Apa kamu mau membalas perasaan ku? dan maukah kamu menjadi pendamping hidupku? ".
Bima menatap Raya dengan penuh harap. menunggu kalimat yang akan keluar dari mulut Raya.
Mendengar pertanyaan-pertanyaan itu. Raya semakin terkejut. Sejenak Raya terdiam, mencerna apakah ia salah dengar atau tidak. Namun setelah itu dia tersenyum...
" Maaf mas, kalo selama ini sikap saya salah ke mas Bima ".
Raya mencoba menjawab pertanyaan Bima. Ia menjeda kalimatnya, sejenak berfikir untuk merangkai kata agar pas untuk diucapkan.
" Trimakasih atas smua yang sudah mas Bima berikan pada saya, apapun itu. Tapi maaf saya tidak bisa membalas ato menerima dengan perasaan yang sama ".
" Kenapa? ", tanya Bima mulai tidak sabar, padahal Raya belum selesai dengan jawabannya.
" Maksudmu ? kapan ?? ".
Bima sudah tau perihal Raya yang akan menerima siapa pun yang datang melamar ke orangtuanya. Tapi tidak menyangka kalau dia ternyata terlambat.
" Ada seseorang yang datang pada orangtua saya untuk melamar saya. Dan_.. ",
" Dan kamu menerimanya. Kapan itu? siapa dia? orang mana ? ".
Emosi karna kecewa, bercampur dengan rasa penasaran membuat Bima lagi-lagi memotong kalimat Raya.
Raya diam, dia sedikit kesal karena selalu saja orang yang ada di hadapannya itu memotong ucapannya. Bima sadar dengan keterdiaman Raya.
" Maaf, maaf karna terlalu terbawa suasana hati ".
Bima pun mempersilahkan Raya untuk melanjutkan kata-kata yang sempat terpotong tadi.
" Iya, saya menerima lamaran itu 3 hari yang lalu. Dia orang sini ".
Bima mengangkat alisnya, seakan bertanya memperjelas kata-kata Raya.
Raya paham dengan ekspresi Bima, ia pun mengangguk , " Iya, orang Surabaya ".
" Namanya _.. ". Lagi dan lagi dipotong ucapan Raya. Kali ini Bima mengangkat tangannya, kode agar Raya menghentikan kalimatnya.
" Sudahlah Raya.. nanti juga aku tau siapa orang itu. Maaf ya sudah mengganggu waktu istirahat mu. Trimakasih ".
__ADS_1
Bima memutuskan untuk tidak meneruskan pembicaraan ini. Toh tujuan Bima sudah tersampaikan dan hasil pembicaraan juga sudah jelas. Intinya Bima ditolak. Saat ini ia merasa sangat kecewa.
Flashback on
*Jadi... selama ini...
Batin Raya. Ia telah salah duga, ia mengira Rayhan mengkhawatirkannya karna ada rasa dengannya.
" Maaf ".
Lirih Rayhan seraya menundukkan kepalanya.
" Iya ".
Jawab Raya tak kalah lirihnya.
Mendengar jawaban Raya, Rayhan menengadahkan kepalanya... Hening lagi... Dan...
" Ray... maukah kamu menikah dengan ku? ".
" Hah... ".
Ucapan Rayhan yang cepat dan tiba-tiba itu telah berhasil membuat Raya mengangkat kepalanya, dan tanpa sengaja pandangan mereka pun bertemu...
1 detik... 2 detik... 3 detik...
Raya pun tersadar dan menundukkan kembali kepalanya. Begitu pula Rayhan, ia mengalihkan pandangannya.
Tidak lama... Raya pun kembali melihat ke arah orang yang ada dihadapannya. Memberanikan diri menatap Rayhan..
" Menikah? apa maksud mas Ray ? ". Mencoba melihat keseriusan di wajah Rayhan. Memasang dengan baik telinganya, takut jika nanti salah dengar.
" Maukah kamu menikah denganku? ".
Seperti paham dengan keterkejutan Raya. Rayhan kembali mengucapkan pertanyaannya dengan pelan. Juga untuk menyakinkan gadis yang ada didepannya, yang sedang ia lamar saat ini. Yaa, Rayhan melamar Raya.
" Kalo mas Ray serius, datanglah ke orang tuaku. Jika mereka merestui dan menerima lamaran mas Ray, InsyaAllah aku juga menerimanya ".
Setelah lamaran secara pribadi itu, esoknya Rayhan benar-benar pergi ke Jogja ditemani Raka. Ia datang menemui orangtua Raya.
Raya sebelumnya sudah menceritakan smua pada ibunya. Sehingga orangtuanya tidak kaget-kaget amat melihat kedatangan dua pria tampan itu.
*Waaahhh.. gantengnya calon mantuku ". Batin ibu Rayaπ.
**Flashback end
ππππππππππππππ**
Sekian dulu yaaa..
maaf kalo banyak banget typo
makasih smua dukungannya..
semoga tetep suka ceritanya
__ADS_1
salam hangat Qidi ππ