Cinta Untuk Perawat Cantik

Cinta Untuk Perawat Cantik
Keadaan Hati Bima


__ADS_3

assalamu'alaikum


selamat membaca 📖📚


🍁🍁🍁🍁🍁


Malam hari, kediaman keluarga Husni.


"Dek, kamu nggak pa-pa kan dengan obrolan tadi di ruang makan ?",


tanya Rayhan pada istrinya, saat berdua di kamar.


"Nggak pa-pa mas. Memang kenapa ?", menjawab dan gantian bertanya.


"Mas khawatir kamu marah ",


"Di sini biasa becanda-becanda begitu. Ngledekin satu sama lain ". Lanjut Rayhan, mencoba menjelaskan kepada Raya perihal keseharian di keluarganya.


"Aku suka, walo belum biasa dengan semuanya. Tapi kalian sepertinya asik, nggak kaku. Nggak saling diam ". Raya menanggapi.


Mereka duduk santai di balkon. Menikmati semilir angin malam. Ditemani secangkir coklat hangat. Hanya satu cangkir saja, buat berdua. Biar romantis katanya.


Rayhan menggeser duduknya. Yang awalnya hanya berdekatan, kini ia menempel pada sang istri.


Menelusup dan melingkarkan tangannya di perut wanita halalnya.


"Dingin dek, hee hee ". Ucap Ray dengan menahan rasa malu.


Entah kenapa malam ini Rayhan merasa canggung dan malu, untuk sekedar memeluk istrinya.


Padahal saat di Jogja biasa-biasa saja. Malah sering ia menempel pada Raya, jika sedang berduaan.


"Kalo dingin, ke dalam aja mas ", ajak Raya, sambil beranjak dari duduknya.


Ia pun tak kalah gugupnya dengan Rayhan. Maksud hati mengajak suaminya masuk, untuk menghilangkan kegugupan dirinya.


Raya memegang tangan Rayhan untuk melepas pelukan di perutnya.


Tapi justru tangannya yang ditarik Rayhan, dan mempererat pelukannya.


"Sebentar lagi dek ".


Dengan memposisikan diri di belakang istrinya. Rayhan meletakkan dagunya di bahu Raya. Sesekali mengecup leher wanita yang ada dalam dekapannya. Menghirup aroma tubuh Raya, yang sudah menjadi candu baginya.


Raya pun hanya pasrah. Ikut menikmati setiap momen kebersamaan nya malam itu. Ia pejamkan mata. Merasakan kehangatan dan kenyamanan yang diberikan suaminya.


Saat sesuatu mulai bereaksi, Ray mencoba mengalihkan pikirannya. Ia mulai lagi mencium leher dan bahu Raya. Alih-alih mengalihkan pikiran, justru yang tersembunyi di sana bereaksi semakin cepat.


Buru-buru ia lepaskan pelukannya.


"Dek, masuk yuk. Kok rasanya makin dingin ".


Alasan Ray, agar Raya tidak berfikir macam-macam lagi.


Raya kaget, karena gerakan Rayhan yang tiba-tiba. Ia sempat terhanyut dalam buaian dekapan suami. Dan hampir terlelap.


Rayhan menutup pintu balkon. Membantu Raya mengenakan selimut. Ia kecup kening istrinya.


"Mas keluar dulu ya. Mo ngobrol bareng yang lain dulu ".


Pamit Rayhan.


Malam memang belum larut. Masih ada aktifitas di rumah itu.


"Mo kemana mah ?", tanya Ray saat berpapasan dengan mamahnya.


"Mo tidur dulu. Capek banget Ray ", jawab mamah.

__ADS_1


Mamah baru saja menonton televisi bersama papah.


"Raya sudah tidur ?", tanya mamah ganti.


"Udah ", jawab Ray singkat seraya menganggukkan kepala.


"Ya udah, mamah dulun ya ", ucap mamah sambil mengusap lengan putranya.


Rayhan pergi menemui papahnya, dan ikut melihat film yang tengah tayang saat itu.


Ternyata disana juga ada Raka.


Di sisi lain, di rumah itu.


Bima tengah duduk sendiri di halaman belakang. Tempat yang sedikit sepi dari orang-orang saat ini. Berdiam diri sambil sesekali menghisap rokoknya. Menghembuskan asapnya perlahan, seolah menikmati setiap hembusannya.


Pandangannya menerawang. Pikirannya berkelana entah kemana.


Hati yang mulai hidup, kini redup kembali.


Tapi ia bertekat tidak akan membiarkan hatinya layu lagi, bahkan mati.


*Cinta memang anugrah. Tapi kenapa ia tertambat pada orang yang salah.


Ataukah aku yang salah disini. Haruskah aku menderita karena cinta.


Sudah aku relakan dia, tapi kenapa masih terasa sakit di sini. Sakit *.


Batin Bima bergejolak. Ia sedikit menunduk. Memegang dada kirinya, yang tiba-tiba saja terasa nyeri.


"Cerita bang, jangan dipendam. Seburuk apapun itu akan lebih baik kalo dikeluarkan. Meskipun tidak bisa smua !".


Suara itu berhasil membangunkan Bima dari lamunannya.


"Apa yang ingin kamu dengar ?", tanya Bima kepada adiknya, yang tanpa sadar sudah ada di belakangnya.


"Duduk lah, kamu bukan pengawal tidak usah minta ijin ". Ucap Bima datar.


"Abang bisa cerita kepada siapapun yang abang mau. Tidak harus dengan ku ".


"Tanpa aku crita pun, kamu pasti sudah tau apa yang sedang aku pikirkan. Kepekaan mu itu terlalu tinggi ", senyum kecil menghiasi bibir Bima.


"Trimakasih ".


Bima menoleh ke arah samping. Tatapan nya tajam, tapi tak setajam silet.


Yang ditatap nyengir saja, sambil mengangkat kedua jarinya, menunjukkan angaka 2.


"Kamu nggak istirahat ?", tanya Bima.


"Abang sendiri ?",


*Eh ni anak, ampun deh.. abangnya lagi puyeng, malah ditambah-tambahin *.


Suara kekesalan hati Bima.


"Nyesel abang muji kepekaan kamu ", aku Bima. Menghisap sisa rokok, dan menekan putung rokok itu dengan kesalnya.


Raka hanya terkekeh pelan.


"Sensitif banget. Nyaingin kakak ipar", ucap Raka disela tawanya.


"Biasa aja ", sahut Bima dengan mulut yang mengeluarkan asap, sesekali ia hembuskan asap rokok yang masih tersisa.


"Biasa aja, tapi gas nya sedikit ditambah ",


"Kamu mo tidur secara alami, apa mo dibantu ?",

__ADS_1


Tanya Bima yang sedang menyingsingkan lengan kemejanya.


Raka kembali terkekeh. Ia mengangkat kedua tangannya, dan menunjukkan telapak tangannya di hadapan Bima.


"Ampun bang, santai yaa.. ",


Hening sejenak..


"Bang.. ", panggil Raka. Mulai serius.


"Hmm.. ", tapi Bima menjawab dengan malas-malasan.


"Gimana keadaan hati abang ?",


"Baik ".


Mendengar jawaban itu, Raka menoleh. Ia lihat raut wajah abangnya.


Bima melihat lurus ke depan. Ia menghela nafas panjang.


"Kenapa kamu tanya hal yang sudah kamu ketahui ?", Bima mulai menyalakan rokoknya kembali.


"Memastikan atau malah meragukan ? ",


Pertanyaan Bima tak kalah serius.


"Dua-duanya ", jawab Raka tegas.


"Tentang Raya ?", lanjut Raka.


"Keadaan hati orang tidak ada yang tau, bahkan aku sendiri nggak tau seperti apa. Mungkin kamu bisa bantu menjelaskannya ",


Menjeda ucapannya. Menghisap kembali rokok yang hampir mati itu.


"Sejak saat itu aku sudah merelakannya. Jangan kamu tanya bagaimana caranya ".


"Maaf, kamu pasti tau rasanya ", Bima menunduk.


"Aku tidak akan mengingatnya kembali bang, jangan khawatir ".


"Aku tau rasanya ", lanjut Raka.


"Raya.. ", ucapan Raka yang pelan dipotong Bima.


"Jangan libatkan dia dalam obrolan kali ini !".


Raka mengangguk. Ia paham, mungkin takut ada yang mendengar obrolan secara tak utuh dan salah paham karenanya.


Tapi sayang.. obrolan itu sudah terdengar oleh dua pasang telinga.


Mereka menyimak di dua tempat yang berbeda, tanpa masing tau keberadaannya.


🍁🍁🍁🍁🍁


sedikit dulu yaa


maaf kalo banyak typo


maaf juga ceritanya datar-datar aja


tetep semangatin aku ya, beri vote gift like dan koment juga saran dan kritik nya


makasih buat smuanya, dah mau mampir


makasih juga buat dukungannya


salam hangat Qidi 😍

__ADS_1


__ADS_2