
assalamu'alaikum
selamat membaca ππ
πππππ
"Abang dah mandi ?".
Tanya Raka lagi.
Makin nggak paham dengan Raka. Rayhan juga merasa ada unsur nggak beres dengan pertanyaan-pertanyaan adik nya.
Rayhan meletakkan piring yang sudah habis isinya.
"Udah. Kenapa ??".
Penasaran si Rayhan.
"Kok rambutnya nggak basah, apa nggak keramas ?".
Rayhan yang baru saja menyelesaikan minumnya. Tersedak liur sendiri, setelah mendengar kata-kata Raka.
Bagas duduk diantara Rayhan dan Raka. Ia yang dari tadi hanya menyimak obrolan kakak beradik itu pun tak kuasa menahan tawa.
"Pfftt, buaha ha ha ha.. ",
Tawa Bagas pecah seketika. Ia tertawa sambil menepuk-nepuk paha Raka.
Rayhan diam-diam, dari belakang tubuh Bagas, menarik rambut adiknya yang memang sedikit panjang dan dikuncir itu.
Meski kaget, Raka hanya nyengir mendapat perlakuan dari abangnya.
Seketika ketiganya menjadi pusat perhatian, karena suara tawa Bagas.
Bagas yang menyadarinya lebih dulu, mengecilkan volume tawanya.
Obrolan tiga laki-laki tampan itu tidak berlanjut.
Mereka semua terdiam.
Rayhan yang sedang kesal, mendapat ketenangan setelah istrinya mendekat.
Raya melihat kalau Rayhan masih sedikit terbatuk, sisa tersedak tadi, memberi minuman dingin dan mengusap punggung suaminya.
Bagas yang sudah bisa menguasai diri, terlihat tenang. Padahal sebenarnya, ia masih ingin meluapkan tawanya.
Raka yang mendapat tatapan dari ibu negara, tetap bisa melanjutkan makannya dengan wajah tanpa dosa.
Hmm, biang kerok memang merasa tak bersalah.
Selesai acara makan, dan bincang-bincang sebentar, mereka berpamitan.
Mereka saling berjabat tangan.
"Ray, kalo mau berangkat kasih kabar ", ucap papah Husni mengingatkan anaknya. Si anak hanya mengangguk tanda mengiyakan, setelah mencium tangan papah nya.
"Raya jangan diapa-apain dulu, biar nggak capek ", pesan mamah Mia, sambil mengusap bahu Rayhan.
"Maahh.. ", rengekan Rayhan terdengar manja. Meski pelan, namun masih terdengar oleh orang-orang disekitarnya.
"Ishh, manja banget ", cibir Caca, bungsu keluarga Husni.
__ADS_1
"Hooh ", ee Ayu, adek Raya, ikut mendukung sodara barunya itu sambil ngangguk-angguk.
"Nggak usah ngerayu !", peringatan papah Husni, yang kemudian merangkul bahu istrinya, mamah Mia.
"Manja tuh sama Raya, udah sah ",
Bagas ikut menimpali, dengan gaya seolah berbisik. Padahal jarak kedua nya lebih dari 2 meter. Dan suaranya nggak ada pelan-pelannya. Ya.. kan yang laen jadi bisa denger.
"Jangan lupa keramas ", pesan Raka.
"Lepek tuh rambut ", ledek Raka lagi sambil melipir mendekat sang mamah, saat mendapat tatapan tak bersahabat dari abang tercinta.
"Baek-baek ya, jangan nyusahin Raya dan keluarganya ",
"He em, jangan makan banyak-banyak, malu-maluin ",
Wah wah wah.. perkataan yang halus dari papah dan mamah, pelan tapi bermakna dalam.
Itu pun mendapat dukungan dari keluarga yang lain.
"Ya Allah, segitu banget pesennya. Seperti anak dibuang ini ", gerutu Rayhan.
"Hushh, mas apaan sih. Kalo dibuang ya nggak pake pesan-pesan panjang dong",
"Dek.. ", ee si istri kirain bela, ternyata bersekutu dengan yang lain.
"Tenang nak Rayhan, ayah dan keluarga disini siap menampung kok ",
Canda ayah Raya seraya menepuk pundak mantunya yang lagi jadi sasaran buly itu.
Aduuhh, si ayah ikut-ikutan juga. Tambah berasa diasingkan kan.
"Eh ayah.. ", Rayhan hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Tiga hari pun berlalu.
Kini saat nya Raya-Rayhan beserta rombongan dari Jogja berangkat ke Surabaya.
Mereka sekali lagi memilih naik kereta.
Hanya ada sepasang pengantin, kedua orang tua, adik Raya, dan beberapa orang keluarga Raya.
Kerabat yang lainnya, akan menyusul sehari sebelum acara resepsi diadakan.
Mereka memilih jam pagi, agar sampai Surabaya sebelum gelap, dan bisa langsung istirahat.
Di Surabaya,
Di rumah Rayhan sudah terlihat sibuk sejak orang tuanya kembali dari Jogja.
Dari bersih-bersih rumah, mempercantik ruangan-ruangan, sampai mengganti tanaman kecil untuk memperindah halaman.
Yang pastinya, kamar pengantin yang disulap menjadi istimewa, simple tapi tetap terlihat mewah.
Di dalam kereta.
ting..
π©Dita : "Ray, kapan balek sini ? aku kangen nii "
Raya : "Ini dah di kereta, otewe "
__ADS_1
π©Dita : "asyiiikkk, oleh-oleh ku ya cantik "
Raya : "Kangen aku apa ngarep oleh-oleh. Kalo cantik, emang dari dulu "
π©Dita : "Ish ish ish.. percaya diri banget ibu Rayhan "
π©Dita : "Kangen kamu yang bawa oleh-oleh π€£π€£".
Raya tidak membalas lagi chat dari Dita.
ting.. kini gantian suara dari ponsel Rayhan.
π©.. : "Ray, bisa ketemu nggak. Ada yang ingin aku bicarakan ".
Satu pesan masuk.
Rayhan hanya melihat dan membacanya dari beranda. Tidak berniat membuka apalagi membalasnya.
Sebenarnya Rayhan akan menyimpan HP nya kembali ke dalam saku jaket yang ia kenakan, tapi tidak jadi.
Ia tunjukkan pesan chat itu pada istrinya, yang sedang melihat ke arahnya.
"Kok nggak dibalas ?", tanya Raya dengan tenang, karena melihat nama pengirim pesan itu adalah perempuan.
Ia penasaran kenapa suaminya tidak membalas, bahkan membukanya pun tidak.
Apa karena ada dia di dekatnya.
"Nggak ",
"Dia temen SMU ku dan Bagas, dulu. Nanti kalo sudah di rumah aku ceritakan semuanya, yaa ", lanjut Rayhan.
"Apa nggak dibalas dulu, nanti kalo chat lagi lho.. ".
Ucap Raya dengan hati-hati. Takut bikin Rayhan marah.
"Nggak pa-pa. Dia tau, kalo aku nggak balas berarti aku sibuk ",
Jawab Rayhan enteng, seraya menggenggam tangan wanita di sebelahnya. Ia genggam lembut dan membawa ke atas pangkuannya.
"Udah.. jangan mikir macem-macem yaa",
bisik-bisik di telinga Raya.
*Siapa dia ?, sedekat apa ?, sampai tau kebiasaan Rayhan kalo tidak membalas pesannya *..
Pikiran Raya terhenti. Ia merasa geli, saat suara dan hembusan nafas Rayhan mengena di daun telinganya.
siapa dia..
πππππ
sedikit dulu yaa
maaf kalo banyak typo
maaf juga ceritanya datar-datar aja
tetep semangatin aku ya, beri vote gift like dan koment nya
makasih buat smuanya, dah mau mampir
__ADS_1
makasih juga buat dukungannya
salam hangat Qidi π