
assalamu'alaikum
selamat membaca 📖📚
🍁🍁🍁🍁🍁
Aldo melanjutkan ceritanya.
"Entah apa ini memang sudah direncanakan dan dengan perhitungan yang matang. Seminggu setelah kejadian itu Mel datang dengan kabar kehamilannya ".
Menjeda ucapannya, Aldo mengambil dan menyesap minumannya.
"Tidak seperti gadis laen, yang akan menangis mengetahui dirinya hamil dalam keadaan belum menikah. Dia justru bahagia, malah sangat bahagia jika ku lihat ".
"Ia berterima kasih atas smua nya. Memelukku erat.
Kemudian pamit, tanpa memberiku kesempatan bicara ". Lanjut Aldo, menerawang mengingat kembali kejadian kala itu.
"Sebulan setelahnya ia menemui ku lagi, dan meminta putus. Setelah pertemuan yang terakhir waktu itu, aku tidak bisa lagi menghubunginya. Ia seperti hilang ".
Aldo menyalakan rokok lagi.
"Kamu tidak berfikir itu anak orang lain ?". Pertanyaan Rayhan kali ini, berhasil membuat dua orang yang berada di ruangan itu menoleh dan menatap sinis ke arah Rayhan.
Namun senyum tipis terbentuk di bibir Aldo.
"Sebenarnya kalian ini siapa ?". Bukan menjawab, tapi Aldo malah ganti bertanya.
"Jawab saja. Nanti kamu juga tau siapa kami ".
Rayhan mencoba mencari tau pribadi Aldo. Apakah dia lelaki yang baik, atau buaya yang banyak menebar jebakan untuk mendapatkan mangsanya.
"Ck.. kalian segitu pedulinya dengan Melisa. Pasti hubungan kalian sangat dekat ",
"Tapi.. aku harap salah satu dari kalian bukan orang yang ingin dinikahi Mel, guna menutupi kehamilannya ". Lanjut Aldo dengan menahan emosinya.
"Apa maksud kamu ??".
Kali ini emosi Rayhan terpancing setelah mendengar penuturan Aldo.
Apa sebenarnya yang direncanakan Melisa.
"Kamu jangan ngomong sembarangan ". Sergah Bagas.
"Hmm, ok aku jelaskan pada kalian ".
Aldo membenarkan duduknya. Mengepulkan asap rokok ke udara.
"Yang pertama, aku yakin itu anakku. Kenapa.. karna aku tau pasti bagaimana Mel bergaul ".
"Yang kedua.. setelah minta putus, dia bilang ingin menikah dengan laki-laki yang slama ini dia cintai ". Aldo sambil mengangkat kedua jari nya menunjukkan angka 2.
__ADS_1
"Mel juga minta maaf kalo sudah menjadikanku pelarian. Tempat coba-coba untuk bisa melupakan cintanya, tapi ternyata tidak bisa. Dan sepertinya dia terobsesi untuk memiliki laki-laki itu ". Lanjut penjelasan Aldo.
"Seandainya laki-laki itu tidak mau menikahi Melisa, apa kamu bersedia ?", tanya Rayhan, yang mendapat tatapan tak bersahabat dari Aldo.
"Aku bilang ke dia, tidak ada orang yang mau menikahi wanita hamil yang bukan anaknya. Dan aku yang akan menikahinya dan bertanggung jawab atas semuanya. Tapi dengan keras kepalanya dia menolakku ", Aldo menarik nafas panjang.
"Dia tidak menginginkanku dan akan menggunakan kehamilannya untuk meminta belas kasihan laki-laki yang ia banggakan itu. Dia manfaatkan anakku ".
Aldo terlihat kesal. Dia menaikkan nada suaranya, menahan amarahnya.
"Jika kamu mau, aku akan membantu ". Tawaran Rayhan hanya disambut dengan tawa kecil Aldo. Tawa yang seakan meremehkan.
"Sudahlah.. jangan sia-sia kan waktu dan tenaga kalian, untuk sesuatu yang bukan urusan kalian ".
"Kecuali, dugaan ku benar. Kalian salah satu yang aku maksud ".
Pandangan yang awalnya ke bawah, menunduk, kemudian terangkat dan memandang bergantian ke arah dua orang di depan nya. Aldo memandang dengan amarah yang sudah diubun-ubun, namun harus ia tahan.
Aldo bangkit dari duduknya.
Ia berjalan ke arah pintu,,
"Maaf, saya rasa sudah jelas smua. Saya tidak mau banyak bercerita lagi ". Aldo kembali menggunakan bahasa formalnya 'saya'.
Setelah pintu dibuka, Aldo memberi isyarat dengan tangannya, agar tamunya meninggalkan ruangan tersebut. Bukan mengusir kasar, hanya meminta untuk keluar dari sana.
Paham dengan suasana hati tuan rumah. Rayhan dan Bagas pun pamit dan segera meninggalkan bengkel Aldo.
Di dalam mobil..
"Gas, stir mobilku bisa patah itu ". Sindir Rayhan sambil melempar permen ke arah pipi Bagas. Saking seriusnya atau karena setengah melamun. Bagas terkejut hingga kemudinya sedikit oleng.
"Gas, minggir. Cepat !!".
Bagas tau nada perintah itu tidak terbantahkan.
Setelah menepi dan mobil benar-benar berhenti. Bagas mengacak-acak rambutnya. Mengusap wajahnya dengan kasar, sambil beristighfar.
"Gue tau lo suka sama Mel. Tapi dengan emosi seperti itu, lo gak akan menemukan jalan keluar. Yang ada gue ikut jadi korban ".
Walaupun kaget, karena Rayhan mengetahui rahasia hatinya. Bagas berusaha tenang menanggapinya.
Ini ia jadikan kesempatan untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan selama ini.
"Entah sejak kapan lo tau itu semua, tapi jujur gue udah berusaha menahannya ".
"Kenapa harus lo tahan. Dan kenapa gak cerita sama gue ato Raka ?", tanya Rayhan menyelidik.
"Gue mencintai Mel, tapi gue tau siapa yang ada dalam hatinya. Gue gak mau merusak hubungan kita hanya karna wanita ",
"Waktu itu lo belum bersama Raya, gue sempet berfikir kalo lo mkin ada rasa juga sama Mel, makanya lo belum nikah-nikah. Secara lo kan dekat dan sayang sama dia. Itu alasan gue menahan dan menutupi perasaan ini ".
__ADS_1
Penjelasan Bagas masuk akal, dan bisa dimengerti oleh Rayhan.
Memang Rayhan lebih dekat dengan Melisa saat dia berstatus adik angkat. Dibandingkan dengan Raka dan Bima. Tapi benar-benar hanya perasaan sayang kepada sodara. Tidak lebih .
"Sekarang abaikan dulu perasaanku. Rencana kamu selanjutnya gimana ?".
Kembali mereka ber'aku-kamu.
"Entah Gas. Aku masih belum bisa mikir. Jujur rencana ku baru satu, yaitu menemui ayah biologis bayi itu. Untuk selanjutnya aku masih ragu ".
Rayhan lesu, memikirkan masalah Melisa dan pernikahannya dengan Raya.
*yaAllah, bantu aku menyelesaikan ini smua dengan baik, tanpa melukai hati siapapun. Aamiin *
Batin Rayhan. Dan kata amin bersamaan dengan ia mengusap wajahnya, dan menghela nafas.
Melihat itu, Bagas mencoba mengutarakan pikirannya.
"Gimana kalo aku yang menggantikan kamu ?".
Karna masih mikirin Raya, Rayhan gagal cerdas kali ini.
"Gila lo ya, jangan harap lo bisa deketin Raya ".
Tangan kanan Rayhan mencengkeram kuat kerah jaket yang dikenakan Bagas.
"Woi !!". Bagas menjentikkan jari di jidat Rayhan.
"Ternyata Rayhan gak sekeren penampilannya. Kecerdasan lo auto mlorot saat bucin melanda ".
Hardik Bagas. Kaget lah, tiba-tiba Rayhan berbuat seperti itu.
Rayhan pun melepas cengkraman tangannya dan berganti mengusap kening mulusnya.
"Lo mikir dong pake otak lo yang dah kayak CPU itu. Gue gantiin posisi lo dimana ?, sebagai apa ??".
Kini Bagas yang gantian emosi.
"Sorry, maaf.. gue bener-bener blank ". Jawab Rayhan yang tampak kacau.
Hening sesaat. Bagas pun mulai melajukan kembali mobilnya, tanpa berkata apa pun.
udah dulu yaa..
🍁🍁🍁🍁🍁
maaf segini dulu..
maaf kalo banyak typo
tetep dukung karya ku ya, beri vote gift like dan koment nya
__ADS_1
makasih buat smuanya
salam hangat Qidi 😍