
Selamat membaca 📖😍
"Trus apa kabar dengan dosen kamu itu ?",
"Sapa namanya ? dia dokter kah ? kan banyak juga dokter yang ngajar di keperawatan gitu, sekarang dah nikah ?".
Berondongan pertanyaan dr. Sinta membuat Raya diam mematung. Dia bingung, apa harus menyebut nama dr. Jo...
"Hei, Ray !!". Raya mengangkat bahunya.
Dan dr. Sinta pun hanya mengerucutkan bibirnya, karena tidak mendapat jawaban yang memuaskan dari Raya.
Hening... mereka larut dalam pikiran masing-masing, untuk beberapa saat. Mikirin apa sih 🤔
"Ray, mau aku kenalin dengan sahabatku gak ?" goda dr. Sinta dengan menaik-turunkan alisnya.
"Mas Bima ?", tanya Raya. Ia kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda tidak mau. Sebenernya bukan tidak mau, tapi entah kenapa ia merasa gak sreg aja di hati. Tapi kalo memang jodohnya yaaa udah.
"Bukan. Sahabatku kan ada lagi, bukan cuma Bima".
"He he he, gak usah dok. Kan aku g cari pacar, gak mau pacaran juga ".
"Ya gak pacaran Ray, tapi nikah. Lagian kan kamu gak mau sama Bima ".
"Bukan gak mau dok ka_..", ucapan Raya terpotong.
"Berarti sebenernya kamu mau sama Bima ??".
"Isshh dokter... kalo dia serius, temui orang tuaku dulu dok ". Ia pura-pura kesal karena kalimatnya dipotong.
"Eh tunggu, jadi kalo Bima datang ke orang tuamu, kamu akan menerimanya ?". Tanya sang dokter yang makin penasaran.
Sejenak Raya diam....
"InsyaAllah, asal orang tuaku merestui ", jawab Raya yakin.
"Udah lah dok. Bismillah kalo jodoh pasti bersatu ", lanjutnya pasrah, bermaksud menghentikan pembicaraan itu.
Raya beranjak dari duduknya dan mengenakan kardigannya. Ia mengenakannya untuk menutup seragam kerjanya.
"Iiiiihhhh... manis banget dech kata-katanya ".
Dr. Sinta mencubit kedua pipi Raya dengan gemasnya.
Raya cemberut sambil mengusap pipinya, korban kegemasan dokter sekaligus kakak perempuannya itu.
Allahuakbar.. Allaahuakbaar...
"Yach sudah asar, yok balek !, kalo ngobrol emang gak krasa ya...". Ajak dr. Sinta, setelah mendengar adzan. Raya mengambil tasnya di atas meja, dan melangkah keluar ruangan mengikuti kakak dokternya.
°°°°
Kini Bima sudah tidak sesering dulu dalam mengganggu Raya. Masih, tapi sudah jarang. Karena kesibukannya sebagai pengusaha muda. Mungkin hanya sekali dalam seminggu, biasanya di akhir pekan. Raya pun tidak mempermasalahkan hal itu. Karena saat mereka bertemu tidak cuma berdua.
Kebersamaan mereka selalu mendapatkan perhatian banyak pasang mata. bagaimana tidak, 2 orang di antara mereka adalah orang-orang penting.
Untuk status dr. Sinta, Raya dan Dita jelas sudah tau. Dia adalah anak dari petinggi yang juga salah satu pemilik rumah sakit tempat mereka bekerja.
Tapi untuk seorang bima, mereka hanya tau kalau ia adalah pengusaha muda dan sahabat dari dr. Sinta. Memangnya selain pengusaha, siapa sebenarnya Bima ??... nanti yaaa sabar..
°°°°
__ADS_1
Hari ini Raya jadwal sore. Sendiri, tidak bersama Dita dan tentu tidak bersama kakak dokternya. Waktu istirahat pun juga ia nikmati sendiri.
Saat ini jam di dinding menunjukkan angka 9. Di luar sudah gelap. Ini waktunya Raya untuk pulang. Entah kenapa, saat ini perut Raya rasanya sangat-sangat lapar. Ia sempatkan membeli makanan instan di mini market rumah sakit.
Saat keluar dari minimarket, tiba-tiba... brreeeeesssss.... hujan dengan derasnya mengguyur tanpa aba-aba.
Raya yang sempat berteduh memutuskan untuk nekat pulang. Menerobos hujan tanpa pelindung apapun.
*Gak pa-pa kali ya nekat, tinggal pulang aja. Basah kan tinggal ganti baju di asrama. Lagian semakin malam juga *, begitu pikiran Raya.
Akhirnya Raya pun beranjak dari tempatnya berteduh. Baru beberapa meter ia melangkah, ia merasa air hujan tidak lagi menimpanya. Ia pun menghentikan langkahnya.
"Udah berhenti yaa... ", gumamnya, seraya menggantungkan salah satu tangannya, dengan telapak menghadap ke atas.
Sekejap kemudian ia menengadahkan kepalanya ke atas...
"Payung... ", Raya bingung...
"Ehemm ", suara itu membuat raya menengok ke sumber suara. Dengan wajah yang masih bingung.
"Jangan hujan-hujan, nanti kalo sakit gak ada yang cerewetin aku ". Ucap laki-laki yang membawa payung itu dengan cueknya.
"mas Ray... ", lirihnya.
"Aku antar pulang ! dah malem ".
Rayhan menarik tas Raya.
"Eh, gak usah mas nan_.."
"Trus, mo hujan-hujanan ? kayak kuat kena hujan aja ", Rayhan menghentikan langkahnya, memotong ucapan Raya.
Raya terbengong... *kok tau...*, batin Raya.
Rayhan kembali menarik tas Raya tanpa berkata apapun. Ia melanjutkan langkahnya. Raya pun mengikuti, dengan langkah yang cepat agar bisa mensejajarkan dengan Rayhan. keduanya diam selama perjalanan ke asrama.
Tiba di asrama...
" Assalamu'alaikum ", ucap Raya setelah membuka pintu kamar dengan kunci yang ia bawa.
Raya dan Dita sekamar, mereka masing-masing membawa kunci sendiri-srndiri.
" Pergi kemana anak itu, jam segini kok gak ada di kamar ", gumam Raya.
Belum sampai pintu itu tertutup...
" Hallo Raya ", sapa Dita yang baru datang dengan senyum pepsoden nya.
" Heh! dari mana kamu malam-malam gini ".
Nada bicaranya seperti emak-emak lagi nunggu anaknya yang terlambat pulang.
" Ck, dah kayak ibuku di rumah aja kamu ".
" Bawa apa itu? ". Raya melihat kantong plastik yang dibawa Dita. Tercium aroma khas yang menarik perhatian penghuni perutnya.
Belum sempat Dita menjawab, Tiba-tiba terdengar suara yang bagi sebagian orang memalukan.
Kruyuukk..kruyuukk..
Keduanya pun terkekeh bersamaan.
__ADS_1
" Udah sana, ganti baju dulu. Aku siapin makananya ". Dita mendorong Raya agar segera bersih-bersih diri.
Saat makan.
" Raya kamu tadi sama siapa? ", tanya Dita di sela-sela suaranya.
" Sama siapa? "
"Ishh, malah balek nanya. Yang tadi nganter kamu pulang ". Raya mengerutkan keningnya, ia menggantung suapan di depan mulutnya..
" Oo.. bukan siapa-siapa ", kemudian memasukkan makanan dan melanjutkan makannya.
" Ojek payung? ", Dita masih penasaran.
" Bukan. Emang si sini ada ojek payung ".
Dita mengangkat kedua bahunya.
" Mmm.. brati pahlawan berpayung dong. Datang saat ada yang membutuhkan ". Ucap Dita diikuti dengan tawa lebarnya.
" Uhuk.. uhuk.. ".
" Makanya.. makan jangan sambil ketawa, mana keras lagi tawanya ". Raya mengulurkan gelas berisi air putih kepada Dita.
Keesokan harinya...
Pagi yang cerah. Hari ini Dita masih jadwal pagi, dan Raya masuk sore. Mereka sarapan sama-sama.
" Udah Dit, biar nanti aku yang bersihin. Ntar kamu telat ". Menghentikan langkah Dita yang akan membersihkan bekas makannya.
" Ya dah kalo gitu. Aku duluan Ray. Makasih yaa ". Dita berlalu setelah mengucapkan salam.
Tiing... notif pesan di HP Raya.
📩 Dita : Jangan lupa nanti bawa payung sendiri, pahlawan berpayung kayaknya lagi sibuk 😋.
Raya memajukan bibir bawahnya.
" Apa itu, mana ada pahlawan berpayung. Dasar.. kebanyakan nonton kartun ", ngomong sendiri, kesal dengan pesan dari Dita.
Siangnya Raya berangkat ke rumah sakit. Tak lupa ia membawa payung lipatnya. Meski kesal tapi tetap menjalankan pesan dari sahabatnya itu.
Cuaca siang ini masih cerah, bahkan terasa terik. Tapi seperti peribahasa.. Sedia payung sebelum.. kita ngrepotin orang. Ee.. maaf, yang bener " Sedia Payung Sebelum Hujan ". Ingat!.
Yaa Raya kan gak mau berhutang pada orang lain, apalagi hutang budi. Gak mau merepotkan orang lain. Selama masih bisa, ya dilakukan sendiri. Seperti kemaren. Ia sampai nekat menerobos hujan.
Sampailah Raya di rumah sakit.
Cuaca yang tadinya cerah ceria berubah menjadi mendung kelabu, bahkan titik-titik hujan sudah mulai membasahi bumi.
Gerimis mulai turun, semakin deras.. deras dan deras. Dan...
Dan apa yaa...
Simak terus yaa..
makasih buat yg udah setia nunggu up padahal lama banget..
trimakasih juga yang dah like koment dan lain sebagainya..
tetap jaga kesehatan..
__ADS_1
selamat puasa bagi yang menjalankan, sebentar lagi lebaran, insyaAllah..
salam hangat Widi 😍