
Selamat membaca...😍
Malam ini Raya kembali berada di gerbong kereta. Bedanya sekarang kereta ini akan membawanya ke Surabaya.
Rencana awal yang akan bermalam di rumah terurungkan, karena sesuatu hal yang terjadi di luar rencana.
Jam di dinding menunjuk ke angka 11.30 WIB. Raya siap merajut mimpi. Tapi....
Drrtt....drrtt....
Mata pun tak jadi terpejam....
"Assalamu'alaikum Mel, ada apa malam-malam nelpun ?"
"Wa'alaikumussalam. Ray...maaf yaa, aku gak jadi ambil shift kamu. Aku harus ke Malang. Bapakku kritis, habis jatuh. Aku tadi udah ijin. maaf yaa ?!".
"Ya Allah, sabar ya Mel. Aku gak pa pa. Kamu hati-hati ya !".
"Iya Ray, makasih. Maaf ya. Kamu juga hati-hati. Assalamu'alaikum ".
"Wa'alaikumussalam ".
Tuutt.
Panggilan pun terputus.
"Ayaahh... ".
Tok tok tok...
"Ada apa nduk ?", tanya ayah, setelah pintu kamarnya terbuka.
"Maaf yah, boleh Aya minta tolong ??".
"Gak !".
Ceklek.
Jawab ayah, membalikan badan dan menutup pintu.
Raya masih berdiri, menatap pintu kamar orang tuanya yang kembali tertutup.
Kemudian....terdengar lg suara pintu terbuka.
"Tinggal ngomong aja lho, kok ndadak tekok disik to nduk (kok pake nanya dulu to nduk ) ".
Ucap ayah yang heran melihat sikap anaknya yang tak biasa-biasanya.
"Tolong antar ke stasiun, yah !". Pinta si anak dengan cengirannya.
"Ada apa, kok mendadak balek ??". Kali ini bukan ayah yang bertanya, melainkan ibu, yang bingung melihat tingkah sang suami.
"Tadi Melani nelpun. Dia tidak bisa tukar shift, karna harus ke Malang. Bapaknya kritis habis jatuh. Dia dah ijin ke Rumah sakit ".
Jelas Raya panjang, agar orang tuanya tidak bertanya-tanya lagi.
"Ya udah, sebentar !", ayah kembali masuk ke kamar untuk mengambil jaketnya.
"Kamu dah siap-siap ?".
"Udah buk ", jawab Raya singkat.
"Ayook ", ajak ayah, berjalan menuju garasi.
Saat ayah hendak membuka pintu mobil...
"Kok gak naek motor, yah ??".
__ADS_1
"Ini dah malam, anginnya lebih dingin. InsyaAllah gak akan macet. Jam segini juga ".
Raya pun masuk mobil dengan wajah kecewanya.
Ya...ia berharap naek motor aja, biar cepat. Raya sebenarnya tidak begitu suka perjalanan dengan menggunakan mobil. Kenapa...? entah...
°°°
Saat kereta mulai bergerak, ada seseorang yang duduk di sebelah Raya. Belum sempat ia melihat wajah orang itu, orangnya sudah pindah ke bangku depan. Dan digantikan dengan orang lain. Ternyata mereka saling kenal.
Bertepatan dengan orang itu duduk...
"Assalamu'alaikum... ", ucap Raya dengan suara sedikit pelan.
Rayhan seketika menengok ke samping kiri.
Ia bergumam menjawab salam.
Dilihatnya Raya diam, dengan tangan yang berada di dekat pipi sebelah kanan. Nampak tangannya memegang benda kecil.
"Iya, ini dah di kereta. Baru aja berangkat ".
"...... ".
"Nanti kalo dah sampai aku kabari. Udah kamu tidur aja !".
"...... ".
"Wa'alaikumussalam ".
Setelah tau kalau gadis di sebelahnya sedang menerima telpun, Rayhan mengalihkan pandangannya kembali.
Raya membuka penutup wajahnya, saat ingin meneguk minuman dalam botol yang ia bawa dari rumah.
°°
Pernah ada cerita, seseorang tidak dikenal menawarkan minuman, yang ternyata sudah dicampur obat tidur / obat bius. Dan berakhir barang berharga orang tersebut hilang.
Dan ada cerita-cerita laen yang semacam itu.
makanya harus waspada yaa.
°°
Kembali ke cerita.
Raya masih meneguk minumannya.
Bersamaan HP Rayhan yang berada di saku celana sebelah kiri berbunyi, triing triing, tanda ada notif pesan.
Entah kenapa suara nyaring itu menarik perhatian Raya. Dengan sengaja ia menengok ke sebelah tempat duduk nya.
Pipi Raya masih menggembung menyimpan minum yang belum ia telan. Membuat wajahnya terlihat bulat lucu.
Rayhan yang akan mengambil HP tak sengaja melihat gadis di sebelahnya. Dan...pandangan mereka bertemu
1....
2....
3....
"Uhuk...uhuk.... ". Sekilas Raya melihat mata yang meneduhkan. Ia pun tersedak air yang tadi masih ada dalam mulutnya. Hal itu memutus pandangan keduanya.
Dengan cepat Rayhan mengambil sapu tangan di saku jaketnya, dan mengulurkan pada Raya.
Dengan masih terbatuk-batuk diterimanya sapu tangan itu. Namun sejenak ia terdiam, nampak ragu dan hanya memandang sapu tangan tersebut. Hingga lamunanya buyar.
__ADS_1
"Pakailah !".
"Trimakasih, uhuk...uhuk... ". Jawab Raya.
Setelah mengusap mulutnya, ia masih menggenggam sapu tangan itu.
"Simpan saja, gak pa pa ".
Sepertinya Rayhan paham ekspresi wajah Raya saat ini. Dan hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Raya.
Rupanya penghuni bangku depan mendengarkan percakapan orang di belakangnya. Karna terdengar akrab. Mereka penasaran, apakah yang duduk dibelakangnya masih orang yang sama. Karena menurut mereka, tidak mungkin Rayhan akan bercakap-cakap dengan orang yang baru ia temui.
"Suster Raya !!".
Reflek raya mendongak. Melihat siapa yang memanggilnya. Pasalnya, saat ini ia masih berada jauh dari tempat kerjanya. Dan ada orang yang memanggil dengan menyebut profesinya.
Rayhan pun ikut mengangkat wajahnya. Terkejut mendengar sahabatnya memanggil gadis di sampingnya.
Dilihatnya ke depan dan ke samping bergantian. Dan ia baru sadar kalau gadis yang duduk di sebelahnya adalah perawat cantik yang beberapa kali pernah merawatnya.
Penghuni bangku depan ternyata Bagas, sahabat Rayhan, yang pernah mengantar dan
menemani saat dirawat di rumah sakit tempat Raya bekerja. Pantas kalau bagas hafal wajah Raya. Satunya lagi bernama Raka.
Siapa Raka ?, jawabnya : nanti aja yaaa 😉
Beberapa menit selanjutnya hening...
Canggung...
Keduanya berada dalam fikiran masing-masing.
"Suster...dari mana...perjalanan malam ?".
Tanya Rayhan sedikit ragu. Entah kenapa ia ingin ada obrolan saat ini. Menghilangkan kecanggungan yang ada.
"Maaf, kalo di luar rumah sakit panggil nama aja, pak ".
"Kalo begitu, jangan panggil saya 'pak' !".
"Trus panggil apa ?" gumam Raya sangat pelan, hampir tak terdengar.
"Apa aja, pokoknya jangan 'pak' !".
Ternyata Rayhan mendengar gumaman Raya.
Telinganya memang sangat-sangat peka.
"Emm..pak Ray mendengarnya ?", tanya Raya memastikan.
"Ehhemm ". Deheman disertai lirikan laki-laki itu membuat Raya tersadar akan sesuatu.
"Maaf.....mas...". Raya paham maksud lirikan itu.
Wah dah saling paham memahami yaa 😍😍.
Obrolan pun berlanjut. Tak terasa 2 jam sudah berlalu. Akhirnya Rayhan menyarankan Raya untuk tidur. Mengingat tiba di Surabaya nanti, Raya kerja shift pagi. Dan juga perawat cantiknya sudah menguap sejak tadi.
Setelah Raya terpejam. Tanpa sadar sudut-sudut bibir Rayhan tertarik ke atas, membuat lengkungan sempurna membentuk senyuman.
Ia merasa perjalanan kali ini berbeda, sebabnya perjalanannya kali ini ada teman ngobrol istimewa.
Jangan lupa dengan 2 orang warga bangku depan. Mereka mendengar dan menyimak setiap kalimat dari penumpang di belakangnya. Mereka berdua sama-sama tersenyum, namun dengan maksud dan arti yang berbeda.
Hai readers smua...kali ini bisa panjang yaa, author ngetiknya lewat HP, jadi boleh dibayangkan jempolnya gimana... tapi demi untuk bisa up lagi dan lagi...
author usahakan up nya gak lama,, makanya beri semangat untuk author ya dengan like koment dan vote nya yang banyak yaaa...
__ADS_1
makasih,, salam hangat Qidi 😉