
Assalamu'alaikum
selamat membaca 📖📚
🍁🍁🍁🍁🍁
Pagi hari di kediaman kelurga Husni.
"Mas.. ", kata pertama yang diucapkan Raya saat bangun tidur.
Begitu membuka mata, yang terlihat adalah seorang laki-laki tampan di sampingnya, yang dengan serius tapi santai memperhatikannya.
Posisi rebahan, menopang kepala dengan sebelah tangan. Dan tangan satunya masih setia memeluk pinggang Raya.
Nampaknya sudah lama ia diposisi seperti itu.
Rayhan mencium kening istrinya.
" Trimakasih sayang "
" Makasih mas "
Ucapan yang hampir bersamaan dari kedua nya. Itu membuat keduanya tertawa bersama. Dan saling berpelukan kembali. Menyalurkan rasa yang ada di dalam dada.
Syukur yang mereka rasakan.
Semoga tetap bersama.
Dalam suka maupun duka.
Cukup yaa, nggak berlanjut kok adegan semalam.
Selesai dengan rutinitas pagi. Rayhan dan Raya pergi ke rumah sakit. Mereka ingin tahu keadaan Bagas, Andi dan juga Adinda.
"Bang, jadi ke rumah sakit ? ",
Tanya Raka di sela-sela sarapan mereka.
" Iya, sama Raya juga ",
Jawab Rayhan, yang sudah lebih dulu selesai dengan sarapannya. Begitu juga dengan Raya.
" Yuk ",
Ajak Rayhan pada keduanya.
Ia mengusap punggung Raya, dan melihat ke arah Raka, memberi kode untuk segera berangkat.
" Kita pergi dulu mah, pah ",
Pamit ketiganya. Tak lupa mencium tangan kedua orang tua mereka.
" Loh, kamu nggak ikut mobil sekalian ? ", tanya Rayhan yang melihat Raka menuju ke arah motornya.
" Nggak bang, ada perlu bentar ", jawab Raka sambil mengenakan helmnya.
" Aku jamin bisa sampai rumah sakit bareng kalian. Ok ".
Ucap Raka lagi, sebelum abangnya mulai protes dan banyak tanya.
Rayhan hanya mengangguk dan masuk ke dalam mobil, disusul oleh Raya.
Di dalam mobil, saat perjalanan menuju rumah sakit.
" Mas, ada hubungan apa mereka berdua ? ".
Tanya Raya membuka obrolan.
" Siapa ? ". Rayhan tidak paham dengan pertanyaan istri nya.
" Itu, Raka sama..? ",
__ADS_1
" Oh.. aku juga belum tau pasti. Belum sempat tanya-tanya sama dia ",
" Kenapa ? ", lanjut Rayhan.
" Nggak pa pa, cuma nanya aja ", jawab Raya. Terdengar suara nya tenang dan santai. Tapi Rayhan tahu, ada yang tersembunyi dalam benak sang istri.
" Ada apa ? ",
Rayhan mengusap kepala Raya dengan lembut.
" Menurut kamu gimana kalo mereka ada hubungan serius. Kamu setuju nggak ? ".
Tanya Rayhan lagi.
Awalnya Raya hanya diam saja. Ia menoleh ke arah Rayhan sebentar sambil tersenyum.
" Mas, aku setuju dan mendukung selama itu hal yang baik. Selebihnya itu urusan pribadi mereka. Nggak bisa terlalu ikut campur juga kan. Apalagi masalah hati ".
Jawab Raya menjelaskan apa yang ia pikirkan.
" Makasih ya "
"Untuk apa mas ?" Tanya Raya heran.
" Gimanapun dia itu adikku dan sekarang adikmu juga. Aku nggak akan biarin dia main-main kalo urusan hati dan perempuan. Apalagi ini juga berkaitan dengan orang terdekat mu ".
" Iya mas ".
" Tapi, kok bisa ya mereka berdua... ".
" Bisa apa ?, ya bisa lah. Kamu nggak liat kita gimana, hemm ? ",
Kalimat Rayhan mengingatkan tentang kisah cinta mereka.
Raya merah lah mukanya. Malu. Kalau dipikir lagi, awal pertemuan mereka hingga akhirnya menikah sekarang juga bukan hal yang sederhana.
" Duh.. Yang merah pipinya ".
Rayhan mencubit gemas pipi Raya.
Membalas dong, dicubit pipi Rayhan juga. Yach.. Malah main cubit-cubitan.
Sesampainya di rumah sakit.
" Kemana aja bang. Aku kira udah sampai dari tadi.. ", Raka setengah menyindir abangnya.
Dalam hati Raka sangat bersyukur tidak semobil dengan abangnya. Bisa-bisa besuk langsung dia nikahin pacarnya. Karena melihat tingkah sepasang pengantin baru itu. Jadi pengen dong..
" Sst.... Diam ! ".
Perintah Rayhan. Ia meletakkan jari telunjuk di bibirnya.
" Diihhh.. Aku jg nggak kepo ",
" Lha itu tadi, nanya kan ? ",
" Nggak ",
" Iya ",
" Enggak ",
" Ehm.. Aku duluan ya ", ucap Raya sambil berlalu meninggalkan kakak beradik yang sedang beradu kata.
" Iya ", Raka.
" Iya ", Rayhan.
Kakak beradik menjawab dengan kompak. Tapi..
" Eh 'yang, tunggu.. ",
__ADS_1
Kaget sendiri dengan ucapannya. Rayhan segera menyusul istrinya dengan sedikit berlari. Ternyata Raya sudah lumayan jauh. Ia pun berteriak agar sang istri menunggunya. Alhasil karena suaranya, banyak yang melihat ke arah Rayhan.
Raka yang melihat abangnya hanya geleng-geleng kepala. Bukan seperti Rayhan yang ia kenal. Abangnya itu sangat menjaga sikap bila sedang berada di luar.
Bukan jaim, hanya saja tidak mau menjadi perhatian banyak orang. Nah ini, justru kebalikannya. Ia tidak peduli dengan pandangan orang sekitarnya.
Mungkin karena sudah laku kali yaa..
Tok.. Tok.. Tok..
Pintu pun dibuka dari dalam.
" Assalamu'alaikum ",
Ucap Raya, setelah pintu terbuka.
Di sana muncul Andi dengan wajah yang tidak segar. Kantong mata terbentuk akibat dari kurang istirahat.
" Wa'alaikumussalam warohmatulloh. Sendirian aja ? ",
Andi kaget melihat Raya yang datang seorang diri.
Raya tersenyum, menjawab pertanyaan Andi dengan jari telunjuknya. Menunjuk ke arah Rayhan yang sedang berjalan dengan langkah lebarnya.
" Hmm, kenapa kalian.. ",
Andi paham dengan situasi tersebut.
Pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban.
" Ayo masuk ! ", Andi mempersilahkan keduanya masuk.
" Mana Raka ?, katanya mo ke sini juga ",
" Ada tuh di belakang ", jawab Rayhan yang menunjuk dengan dagunya.
Ketiganya pun masuk. Tak lama kemudian Raka pun tiba.
Di dalam terlihat seseorang tertidur di atas bed rumah sakit. Tidur yang sangat pulas, seakan tidak terganggu dengan suara-suara di sekitarnya.
Di samping nya nampak Bagas sedang menjalankan ibadah sholat dhuha.
Pemandangan yang jarang dilihat.
Selesai berdoa, Bagas menyalami Raka dan Rayhan. Tanpa diduga, saat menyalami Rayhan, Bagas menarik tangan sahabatnya itu dan memeluknya beberapa saat.
Rayhan mengerti bagaimana perasaan Bagas. Ia menepuk-nepuk punggung Bagas. Memberinya semangat.
Kemarin, sehari setelah kembali dari Jogja, Bagas bercerita banyak tentang Adinda. Rayhan saat itu belum tahu kalau Andi dan adiknya sudah berada di Surabaya.
Kini yang bisa dilakukan hanya berdoa, berharap Adinda segera sadar.
" Ray maaf, tolong temani Adinda dulu ya. Ada yang ingin kita obrolin. Nggak pa pa kan ?", pinta Andi kepada Raya.
Raya mengangguk dan tersenyum.
"Nggak pa pa bang ".
Mereka meninggalkan Raya berdua dengan Adinda yang masih betah dengan mimpinya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Sedikit dulu yaa
maaf kalo banyak typo
maaf juga ceritanya datar-datar aja
tetep semangatin aku ya, beri vote gift like dan koment juga saran dan kritik nya
makasih buat smuanya, dah mau mampir
__ADS_1
makasih juga buat dukungannya
salam hangat Qidi 😍