
Assalamu'alaikum
Selamat membaca ππ
πππππ
"Ray..dah lama ? ".
Sapa papah Husni saat sampai di ruang keluarga.
" Pah ". Rayhan menghampiri papah nya, menyalami dan mencium punggung tangan papah nya.
" Belum lama kok, Om ". Raya pun melakukan hal yang sama seperti yang Rayhan lakukan.
Sewaktu Raya ingin menarik tangannya. Tangan tersebut ditahan oleh papah Husni.
" Tunggu ! Mah.. Raya manggil apa ke mamah ?".Tanya Pak Husni dengan wajah datar dan suara beratnya.
"Manggil 'mamah', kenapa pah ? ". Dengan dahi berkerut tanda sedang dalam kebingungan.
Yang lain pun terdiam. Bertanya-tanya dengan sikap sang kepala keluarga
" Hmm.. ini tidak benar. Tidak adil namanya. Manggil nyonya rumah ini dengan sebutan 'mamah', kok papah dipanggil om ?? ".
Protes pak Husni.
" Papah !? ".
" Pah... ".
" Hufft, papah.. kirain ada apa. Bikin kaget aja ".
Rayhan dan yang lain menghela nafas lega. Mereka sempat berfikir kalau papah nya tidak menyukai Raya.
Bahkan mamah Mia mencubit pinggang sang suami, karena berhasil dibuat kesal olehnya.
" Panggil 'papah' juga ya ! ", pinta pak Husni, seraya melepaskan jabat tangannya dan tersenyum hangat kepada Raya.
" I.. iya.. pah ". Jawab Raya dengan terbata-bata.
Debaran jantung yang sejak tadi dibuat tegang, serta rasa canggung karena harus memanggil tuan rumah dengan sebutan 'papah'. Campur aduk yang tengah Raya rasakan saat ini.
Kini mereka pun mengobrol, bercanda, tertawa layaknya sebuah keluarga. Tidak ada batas antara Raya dan keluarga Rayhan. Raya diterima sangat baik di sana.
Sementara itu...
Ada seorang pria yang diam-diam ikut menikmati hangatnya obrolan sebuah keluarga.
Terdengar menyenangkan. Bahagia, itu yang ada dalam bayangannya.
Sempat senyuman hadir menghiasi wajah tampannya. Namun, sedetik kemudian senyum itu hilang. Berganti dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.
Orang itu adalah Bima.
Dia berada di balik dinding yang memisahkan antara ruang keluarga dan ruang makan.
Saat itu ia ingin mengambil minum. Ia mendengar obrolan dari ruang sebelah.
Andai saja ia bisa bergabung bersama, duduk diantara mereka. Menikmati canda tawa yang terdengar membahagiakan.
__ADS_1
Itu kiranya yang ada di pikiran Bima. Ia hanya bisa tersenyum getir membayangkan semua itu.
"Bang.. ".
Suara seseorang memanggil, dan itu mengejutkan Bima tentunya. Ia yang saat itu duduk di kursi meja makan, sambil menundukkan kepalanya dengan tangan yang menggenggam erat gelas yang telah kosong.
Orang tersebut menepuk pelan bahu Bima.
" Hmmm... ", Bima menengadahkan kepalanya. Menengok sebentar ke arah orang yang menyapanya.
" Lagi banyak pikiran ya bang ? ". Tanya sang adik.
" Iya ". Jawab Bima singkat, kemudian beranjak dan meninggalkan Raka seorang diri.
Raka, ia sedang mengambil camilan untuk dibawa ke ruang keluarga. Melihat abangnya yang tengah duduk sendiri, ia mencoba bertanya. Penasaran karena abangnya tidak ikut bergabung dengan yang lain. Tapi justru berdiam diri di sana, yang terlihat sangat menyedihkan.
" Abang duluan ya ". Ucap Bima. Tanpa melihat ke arah Raka.
Ia sengaja pergi, menghindari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin saja akan menyerbunya.
Raka hanya mengangguk dan melambaikan tangannya. Setelah itu ia pun kembali berkumpul dengan yang lain.
Bima adalah kakak laki-laki Raka, yang berarti dia juga kakak dari Rayhan dan juga Syasya.
Ya.. Bima, Rayhan, Raka dan Syasya.
Mereka berempat adalah kakak beradik dari ayah yang berbeda.
Sedikit mengingatkan...
Rayhan dan Raka satu ayah. Papah Husein. Beberapa tahun setelah ayah mereka meninggal, ibu mereka, mamahMia, menikah dengan kakak dr papah Husein, yaitu papah Husni. Dan beliau adalah ayah kandung Bima dan Syasya.
Ibu Bima telah meninggal setelah melahirkan Bima.
Sebenarnya dulu keluarga mereka pernah mengadopsi satu anak perempuan. Namun sekarang sudah kembali berkumpul dengan keluarga kandungnya.
Bima jarang berada di Surabaya. Ia memiliki usaha di luar kota. Dan tak pernah lepas dari pekerjaannya itu.
Tapi.. akhir-akhir ini ia memilih menyerahkan sementara usahanya kepada sahabat sekaligus asistennya. Ia hanya akan memantau dari jauh.
Alasannya.. sudah pasti karena ia sudah kepincut dengan seorang perawat yang cantik. Yang tidak disadari, entah sejak kapan sudah menempati ruang hatinya.
Namun sayang, perawat tersebut memilih menyerahkan hatinya kepada pria lain.
Dan sayang nya lagi, yang membuat hati miris karena pria lain itu adalah Rayhan, adik laki-laki nya sendiri.
Meskipun Bima dan Rayhan beda ayah, tapi mereka sangat dekat. Keusilan keduanya sering membuat pusing orang tua mereka. Ditambah lagi Raka yang tidak mau kalah dari kakak-kakanya.
Kedekatan mereka didasari karena mereka bersaudara. Dari 2 ayah yg berbeda.
Kekompakan ketiga anak laki-laki itu tidak diragukan lagi, hingga mereka dewasa seperti sekarang ini. Terutama Bima dan Rayhan. Mungkin karena jarak usia yang tidak terlalu jauh. Mereka sering meluangkan waktu libur bersama.
Hanya saja sekarang jarak dan kesibukan membuat mereka harus terpisah dan berjauhan.
Dan.. siapa sangka kekompakan itu juga berada pada hati mereka. Sama-sama menyukai dan mencintai satu gadis, Raya. Perawat cantik yang berhasil mengalihkan dunia keduanya.
Bima, seorang yang bisa berkorban apapun demi sang adik. Walaupun mereka bukan saudara kandung, tetapi memiliki ikatan darah yang sama.
Tapi kali ini apa ia akan rela, berkorban melepaskan pujaan hati. Seseorang yang telah berhasil membalikkan keadaan hati Bima.
__ADS_1
Dulu, Bima yang masa bodoh dengan namanya cinta. Dan sekarang Bima yang begitu memuja cinta.
Namun sayang, cinta yang ia puja tidak bisa ia dapatkan. Walau namanya sudah bertahta dalam jiwa.
"Aaarrgh ". Setelah di dalam kamar, Bima meluapkan emosinya. Berteriak tak karuan, marah-marah nggak jelas. Untung saja kamar itu kedap suara. Kalau tidak, bisa heboh satu rumah mendengar teriakannya.
" Ya Allah, tolong.. aku harus gimana menghadapi ini semua. Kenapa harus Rayhan laki-laki yang menjadi pilihan Raya. Kenapa bukan yang lain. Apa aku kuat melihat kebersaman mereka setiap saat di rumah ini. Astaghfirulloh.. ".
Bima menangis, bersimpuh di samping ranjang. Meratapi nasib cintanya.
Benar-benar bukan Bima yang biasanya.
Di sisi lain..
Setelah kepulangan Raya.
Rayhan dan Raka saat ini berada di kafe milik Rayhan, tepatnya di ruang kerjanya.
" Bang, ada masalah ya.. dari tadi kok resah dan gelisah gitu. Macem bang Ebid aja ".
Goda Raka pada abangnya, yang sejak tadi diam saja.
" Apaan sih ".
Rayhan mengusap wajahnya, dan membenarkan duduknya.
" Kamu rasa ada yang aneh gak sama bang Bim ? ".
" Aneh gimana.. kenapa emangnya ?".
Orang yang ditanya santai, asik sambil ngemil kacang kulit. Padahal yang nanya sudah pasang ekspresi serius, tegang dan cemas.
Sebenarnya Rayhan masih ragu untuk menceritakan.
"Kalo ada masalah tu cerita di awal, jangan pas udah mendesak baru ngomong. Bingung tar yang cari solusi ".
" Mmm.. tadi di di rumah sakit aku liat bang Bim bersama seorang perempuan, dan sepertinya ada pembicaraan yang serius diantara mereka ".
Rayhan diam sejenak.
"Sepertinya mereka sangat dekat "
"Siapa ? ".
" Dia.....
Tok.. tok.. tok..
Sstt....
Dah dulu ya.. Lanjut nanti lagi..
πππππ
makasih buat smuaπππ
maaf teramat sangat lambat up nya
maaf jg masih banyak typo..
__ADS_1
jangan lupa like vote gift, dan koment nya untuk semangat yang nulisπππ
salam hangat Qidi π