Cinta Untuk Perawat Cantik

Cinta Untuk Perawat Cantik
Mikir Macam-Macam


__ADS_3

assalamu'alaikum


selamat membaca 📖📚


🍁🍁🍁🍁🍁


Perjalanan yang jauh, kurang lebih 4 jam cukup membuat badan kaku.


"Dek, bangun. Udah mo sampai",


Rayhan menepuk pelan pipi istrinya.


Wanita yang sudah halal baginya itu tidur bersandar di bahunya. Itu pun karena Rayhan yang menarik kepalanya.


Raya perlahan membuka matanya. Mengerjap, menguap, dan saat akan meregangkan ototnya dia urungkan. Malu dengan laki-laki yang sudah menjadi suaminya.


Rombongan Raya bersiap-siap.


Pemberhentian selanjutnya mereka akan turun.


°°°°°


"Jemput abang mu jam berapa Ka ?", tanya mamah Mia.


"Jam 1'an mah ", jawab Raka.


Ia sedang merapikan pakaiannya. Bersiap untuk pergi.


"Trus itu mo kemana ?",


tanya mamah lagi.


"Pergi dulu mah, bentar ".


"Tumben, rapi banget ?",


lagi-lagi pertanyaan mamah pada Raka.


"Ihh, mamah.. ", manjanya mulai keluar.


Mamah Mia hanya terkekeh melihat anaknya yang tengah merengek.


"Ternyata anak-anak mamah yang cowok nggak kalah manjanya sama Caca, hmm ".


Gumam mamah, mengacak-acak rambut Raka.


"Mamah.. ", jadi merajuk tu anak.


"Wkwkwk... ",


Ehh.. mamah malah tertawa renyah. Berlalu tanpa rasa bersalah, telah membuat berantakan tatanan rambut seorang pria tampan.


Raka menghela nafas sambil kembali merapikan rambutnya.


"Bang, Caca ikut jemput mbak Raya ya ?", permintaan adik perempuan Raka.


"Nggak !".


"Ishh, ketus banget. Pantes nggak ada cewek yang deket ", cibir Caca.


"Eh sembarangan ya kalo ngomong ",


Raka nggak trima dikatain seperti itu. Ia sudah bersiap melempar sisir ke arah Caca, kalau saja tidak ada Bima di sana.


"Hush, Caca.. ", seru Bima.


Caca hanya menoleh ke arah sumber suara.


"Kalo ngomong itu lho, kok suka bener ",


"What !!", Raka terperangah, setelah mendengar kalimat Bima, yang terakhir.


"Wkwkwk.. "

__ADS_1


Caca yang tadi diem, karena mengira akan dimarahi Bima, sekarang tertawa lebar.


Mereka berdua tos, tepat di depan Raka.


Raka yang mengira ia akan dibela abangnya. Ternyata si abang tidak berbeda dengan adek kecilnya.


Merasa jadi bahan buly, Raka pun segera berlalu dari hadapan kedua saudaranya.


Sebelumnya ia menyambar kunci yang berada di atas meja.


°°°°°


"Sembarangan banget kalo pada ngomong ".


Gerutu Raka di dalam mobilnya. Sendirian.


"Akan aku buktikan. Akan aku bawa calon istriku ke hadapan mereka ".


Lagi-lagi ngomong sendiri dengan kesal.


Raka menghentikan mobilnya di depan sebuah kafe kecil. Ia berencana bertemu dengan seseorang. Seorang perempuan yang bagi Raka, menyenangkan.


Cantik itu relatif. Perempuan kalau dimodalin bakal jadi cantik. Tapi yang menyenangkan susah dicari. Apalagi yang klik di hati.


Itu menurut pemikiran Raka.


"Maaf ", ucap Raka saat duduk di depan seorang gadis muda. Mereka hanya berbatas meja.


Ia menarik kursi dan duduk dengan sedikit kasar.


"Maaf, sudah membuat kamu menunggu ", lanjut Raka.


"Kenapa.. ", ucap gadis itu.


Raka mengangkat tangannya. Menghadapkan telapak tangannya ke arah orang yang ada di depannya. Tanda agar gadis itu diam sebentar, sebelum meneruskan ucapannya.


Raka menarik nafas panjang, dengan mata tertutup dan sedikit menundukkan kepalanya, lalu ia menghembuskan perlahan.


"Kamu sudah menunggu lama ?, tanya Raka.


"Maaf ya, sedikit terlambat ",


Lagi-lagi Raka meminta maaf.


Hening..


"Maaf, aku lagi kesel. Di rumah diledekin abang sama adekku ".


Ucap Raka saat melihat ekspresi orang di hadapannya penuh tanya.


"Kenapa minta maaf terus ?"


"Aku baru saja sampai. Dan kamu tidak terlambat. Ok !?", lanjutnya.


"Iya. Aku hanya nggak enak, pertama kali kencan dah bikin kamu nunggu ". Raka.


"Kencan ??", tanya gadis itu sambil menatap Raka dengan serius .


"Eh, bukan. Emm.. anu, kita kan janjian ketemu, jadi yaa.. itu, kan kayak semacam kencan gitu. Sama aja kan ?".


Bela Raka, dengan gelagapan. Kata-kata yang diucapkannya nggak jelas.


Ia mengusap wajahnya. Menunduk malu, senyum-senyum sendiri pula.


"Kamu rapi banget ".


Pengalihan topik pembicaraan.


Gadis itu sebenarnya malu dengan apa yang dikatakan Raka. Jadi ia berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Ini.. demi untuk ketemu kamu ", kali ini Raka bicara dengan wajah menghadap lawan bicaranya.


"Apa ?",

__ADS_1


"Aku hari ini mau melamar seorang gadis. Jadi pengennya dengan pakaian yang rapi. Kan enak diliatnya ".


Bukan menjawab, tapi mengungkapkan niat dan tujuannya hari ini.


"Owh, nglamar siapa ?",


"Semoga diterima ya ".


Entah kenapa, ia sedikit kecewa. Karena laki-laki yang ia temui justru akan melamar gadis lain. Ia kira, ini beneran kencan seperti kata Raka tadi. Ternyata..


*Apa aku akan jadi bahan percobaan. Tempat latihan dia agar tidak grogi pas nanti nglamar beneran gadisnya..*.


Suara hati seorang gadis, yang merasa dirinya hanya sebagai tempat latihan.


"Aku mo nglamar kamu.. ", ucap Raka lirih.


"Hah ??",


*Apa ??, salah dengarkah aku.. itu.. untuk ku atau.. *, batin nya lagi-lagi bergejolak.


"Maksudnya ?", tanya gadis itu dengan setenang mungkin. Ia mencoba menenangkan hatinya. Berusaha keras menyembunyikan perasaan yang sedang tak karuan. Entah ekspresi wajahnya saat ini seperti apa.


"Aku ??", gadis itu menunjuk dirinya sendiri.


Bertanya nya sekali lagi, karena Raka tidak juga menjawab pertanyaannya, hanya tersenyum.


°°°°°


Jam sudah menunjukkan pukul 12.55 WIB.


Raka sudah berada di stasiun. Ia sudah duduk manis di peron menanti kedatangan pengantin baru beserta rombongan.


Tidak lama. Kurang lebih 15 menit ia berada di sana, yang ditunggu tiba juga.


"Selamat datang kembali di Surabaya ",


Ucap Raka saat bertemu abang dan kakak iparnya.


Ia menyalami kedua orang tua Raya, dan mencium tangan keduanya.


Juga membantu membawa barang-barang mereka.


Rayhan membisikkan sesuatu pada adiknya. Dan dibalas dengan anggukan kepala.


Hal itu tanpa sepengetahuan Raya dan keluarga.


Mobil berjalan perlahan meninggalkan stasiun, menuju kediaman keluarga Husni.


Sepanjang perjalanan, hanya ayah Raya dan Raka yang berbincang. Rayhan hanya sesekali ikut menimpali obrolan mereka.


Ayu dan ibu, kembali terlelap. Mungkin masih lelah, karena tidak terbiasa perjalanan jauh.


Sedangkan Raya sendiri hanya diam saja. Entah malas bergabung atau sedang menikmati pemandangan, karena pandangannya dari tadi ke arah luar jendela.


Atau.. ia teringat dengan chat yang masuk di ponsel Rayhan. Karena sewaktu di kereta, ponsel Rayhan kembali berbunyi, beberapa kali. Menandakan notif pesan. Dan lagi-lagi suaminya hanya melihat tanpa membalas. Benda itu langsung disimpan kembali ke dalam saku jaketnya.


Jujur Raya menjadi semakin penasaran.


Ingin hati tidak berfikir yang neko-neko. Tapi apa daya, sinkronisasi hati dan pikiran tidak berjalan baik.


Jadi lah Raya mikir macam-macam. Penuh tanya. *Pesan dari siapa sih.. ??*.


🍁🍁🍁🍁🍁


sedikit dulu yaa


maaf kalo banyak typo


maaf juga ceritanya datar-datar aja


tetep semangatin aku ya, beri vote gift like dan koment nya


makasih buat smuanya, dah mau mampir

__ADS_1


makasih juga buat dukungannya


salam hangat Qidi 😍


__ADS_2