Cinta Untuk Perawat Cantik

Cinta Untuk Perawat Cantik
Dia Lagi...


__ADS_3

Selamat membaca 😍


Setelah memasuki taksi online. Raya menyandarkan kepalanya di dekat jendela mobil. Pandangannya lurus keluar, entah apa yang ia lihat.


Selama perjalanan pulang ia terus melamun. Pikirannya tak lepas dari satu nama. Rayhan, sapa lagi.....


*Semoga mas Ray baik-baik aja. Kok bisa gitu lho sampai kambuh, apa yang dia makan. Kenapa sih masih gak peduli sama kesehatan sendiri.


Diri sendiri aja gak diperhatikan, gak disayang.. gimana mo perhatian dan sayang sama orang lain....*. Kalimat itu yang saat ini ada dalam pikiran Raya.


"Hufft... kenapa juga aku mikirin dia ", gumam Raya pelan, sangaaatttt pelan.


Raya menghela nafas berat. Ia memejamkan matanya. Hingga panggilan sopir taksi menghentikan lamunannya.


"Mbak !!". Suara sopir taksi agak tinggi. Karena ia sudah manggil Raya tiga kali, tapi tak ada respon.


"Eh.. i iya pak, ada apa pak ?"


"Sudah sampai alamat mbak ".


"Iya pak. Berapa pak ?".


"Maaf mbak, sesuai aplikasi ".


"Oh iya. Maaf pak, lagi fak fokus ". Raya nyengir, "Trimakasih pak ".


"Sama-sama mbak.


Hati-hati ya mb, fokus turunnya ". Raya nyengir lagi. Lagi-lagi nyengir.


Tiba di asrama, ia dikejutkan dengan panggilan seseorang. Belum juga kakinya melangkah masuk gerbang.


"Suster !".


Suara itu terdengar tidak asing di telinganya, tapi ia lupa siapa pemilik suara itu.


"Suster Raya ". Panggil orang itu lagi.


Saat Raya menengok ke arah sumber suara...


*Eh.. mas Bima. Ya Allah.. aku harus gimama ngindari dia *. Batin Raya.


"Eh.. mas Bima ". Sapa Raya dengan senyum yang dipaksakan.


"Ada apa mas ?". Tanya Raya.


"Gak ada apa-apa, kebetulan lewat dan liat kamu turun dari mobil tadi.


Raya hanya ber-o dan mengangguk pelan.


"Emm.. maaf mas, kalo gitu aku permisi ya ?!".


"Eh.. tunggu suster ", cegah Bima.


"Mas, kalo di luar rumah sakit panggilnya nama aja ya !". Raya sedikit kesal. Ia memang tidak suka dipanggil 'suster' kalau di luar lingkungan kerjanya. Walau ia tidak bisa memaksakan kepada semua orang sih.


"Iya, maaf. Bisa gak kita ngobrol dulu ?", pinta Bima.


"Maaf mas, tapi aku baru balek ". Mencoba menolak tanpa menyinggung Bima.


"Sebentar aja.... ato nanti malam, kalo sekarang kamu capek ".


"Memangnya mau ngobrol apa ?".


*D**ari pada nanti malam, bisa lama ngobrolnya. Ya udah, gak pa-pa lah. Semoga gak lama *. Batin Raya.


"Kita ke sana ya, ngobrolnya biar enak ". Bia menunjuk ke sebuah warung tenda.


"Tapi aku masuk bentar ya ?".


Raya mengangkat barang bawaannya. Dia menyimpan belanjaannya dulu.

__ADS_1


Bima tersenyum dan nengangkat jempol kanannya.


Beberapa menit kemudian.


"Mau ngobrol apa mas ?".


Mereka baru saja tiba dan duduk di deretan bangku yang disediakan penjual.


"Pak, cendolnya dua ya ".


Bima memesan minuman, ia tidak menjawab pertanyaan Raya.


Raya menghela nafasnya. *Kayaknya cuma alasan mas Bima aja dech *.


"Mas .._", belum selesai ngomong dah dipotong aja sama Bima.


"Maaf ya, sebenernya gak ada obrolam khusus sih. Cuma pengen ketemu kamu aja. Ngobrol-ngobrol biasa ". Raya cuma diam.


"Gak pa-pa kan ??. Raya pun mengangguk dengan senyum terpaksanya.


*Kan.. bener kan, cuma a la san *, cuma bisa dikatakan dalam hati.


"Kenapa Ray, aku jujur lho ".


"He he, gak pa-pa kok mas ".


"Kamu tadi dari mana ?".


Mereka mulai menikmati cendol dingin yang baru saja diantar penjualnya.


"Dari acara nikahan temen ".


"Sendiri aja, g bawa gandengan gitu ?".


"Gak ". Singkat sekali jawabannya.


"Kenapa ? kamu gak punya pacar ?".


"Gak ", jawabnya sambil nyruput cendol.


"Kenapa gak ngajak aku ".


"Uhuk... uhuk...", tersedak deh Raya nya.


"Eh... hati-hati Ray. Gara-gara ucapanku ya ??". Bima bertanya dengan kepedean tingkat tinggi.


"Maaf ya ?" ucapnya lagi.


*Tuuuhhh... benerkan, kabul ucapanku *. Bima.


Sejenak hening.


Raya buru-buru menghabiskan minumannya. Dan....


"Maaf mas, kalo udah aku pamit yaa ? udah kluar dari pagi ".


"Iya gak pa-pa. Tapi laen kali ngobrol-ngobrol lagi yaa ?!".


"Maaf kalo dah ganggu kamu ". Sambung Bima.


"Iya, insyaAllah mas. Duluan ya mas ". Bima mengangguk.


Raya pun kembali ke asramanya dengan selamat.


°°°°


Keesokan hari, di kantin rumah sakit.


Raya bersama Dita sedang menikmati waktu istirahatnya. Mereka ingin makan yang gak berat tapi juga gak ringan. Pilihan mereka.. gado-gado.


"Aku aja yang pesen, kamu tunggu sana Ray ", ucap Dita sambil menunjuk ke meja kosong yang ada di dekat jendela ".

__ADS_1


"Nggih buk ", jawab Raya dengan candanya.


baru saja duduk...


"Suster Raya ".


Tiba-tiba ada yang menyapanya.


"Boleh gabung ?".


"Eh.. dokter Sinta, boleh doong. Silahkan dok !".


"Iya, makasih. Tapi aku pesen makanan dulu ya ". Raya mengangguk dengan senyum menghiasi bibirnya.


"Ehemm ".


Raya memutar kepalanya ke samping, melihat ke sumber suara.


*Aduuuuhh... dia lagi *. Batin Raya dibalik senyum nya, yang terpaksa.


"Boleh ikut duduk di sini ?".


Belum sempat ada kata yang keluar dari mulutnya...


"Boleh kok pak. Mari, silahkan !".


Dita yang menjawab pertanyaan Bima.


Tak lama kemudian dr. Sinta pun datang dengan semangkuk soto ayam nya.


"Hei Bim, tumben makan di sini ?".


"Ck, kamu sin. Bukan tumben, tapi kamu yang gak pernah liat aku si sini ".


"Oh ya ?". Ucap dr. Sinta santai sambil menikmati soto nya yang masih agak-agak panas.


"Hmm ". Jawab Bima singkat.


*Aku pikir bisa makan berdua bareng Raya. Ee.... ada pengawalnya. Sabar Bim sabaaarrr, laen kali pasti bisa *. Bima menyemangati diri dalam hati.


Makanan Bima sudah datang. Dia makan dengan terus memandangi orang yang ada di hadapannya. Ia Raya.


Raya yang dipandangi sejak tadi mulai risih. Selera makannya pun hilang. Tapi ia harus tetap makan, mengisi tenaganya. Karena nanti ada jadwal membantu operasi.


°°°°


Hari-hari berlalu. Sudah lewat beberapa minggu.


Hampir setiap hari di waktu istirahat. Bima selalu menemani Raya. Baik makan atau hanya sekedar menikmati minuman hangat saat jam kerja malam. Jam kerja Raya kan berganti-ganti. Ralat... bukan menemani, tapi lebih tepatnya mengganggu.


Yaa... bagi Raya itu mengganggu. Karena ia tak nyaman jika harus berhadap-hadapan dengan laki-laki, selain ayahnya. Apalagi yang tidak ada hubungan apa-apa dengannya.


Berbeda dengan Bima. Ia menganggap itu sebagai mood booster bagi nya, dan menambah selera makan. Ingat, Bima kan tidak hanya duduk dan makan saja di hadapan Raya, tapi ia juga memandangi Raya.


Hari ini Bima nampak celingak celinguk mencari seseorang. Yaa... siapa lagi kalau bukan Raya.


Ia akhirnya mendekati meja yang diduduki seseorang yang amat sangat ia kenal.


"Sendiri aja ?". Sapa bima.


^^^^


Siapa yang disapa mas Bima......


tunggu di cerita selanjutnya ya...


kalo kalian suka kasih like dan vote juga...


koment semangati author yaa...


kalo g suka ya dah gak pa pa, gak maksa kok, tapi jangan koment yang gak enak ya pliisss.

__ADS_1


makasih ya readers semuaaaa


salam hangat Qidi 😍😍


__ADS_2