Cinta Untuk Perawat Cantik

Cinta Untuk Perawat Cantik
Trauma Ambulans


__ADS_3

Assalamu'alaikum


selamat membaca πŸ“–πŸ“š


🍁🍁🍁🍁🍁


Hari ini Raya sudah mulai masuk kerja.


Mulai kembali rutinitas di rumah sakit.


Rasanya sudah lama sekali tidak bertemu dengan rekan sesama perawat. Juga dengan dokter dan para pasien di sana.


"Selamat datang kembali bu Raya ",


Goda Dita, saat melihat Raya memasuki ruang istirahat perawat.


" Apaan sih Dit ",


" Oia.. Kamu berhutang penjelasan dan cerita pada ku ya. Awas kamu ",


Raya ingat sesuatu tentang Dita. Ia sangat kesal sekaligus gemas, sehingga hampir mencubit kedua pipi Dita.


" Kepo ", itu jawab Dita, menghindari tangan Raya yang mendekati pipinya. Ia berlalu pergi, sedikit berlari dengan tawa yang tertahan.


Dita selesai jam tugasnya. Ia beberapa hari kebagian jaga malam. Sedangkan Raya, ini hari pertamanya kerja setelah cuti beberapa hari dan mendapat shift pagi.


Setelah absen, Raya segera menuju ruangan dokter Sinta.


Tok tok tok..


" Masuk ", terdengar suara dari dalam.


Ceklek..


Pintu pun terbuka.


" Assalamu'alaikum, selamat pagi dok ",


Sapa Raya saat masuk.


" Wa'alaikumussalam, mas_ "


Kalimat dokter Sinta terhenti. Ia terkejut melihat siapa yang datang ke ruangannya.


"Hey Ray !!, Wah..nyonya Rayhan datang berkunjung ", Dokter Sinta tersenyum.


Nggak Dita nggak juga Sinta.


Menggoda Raya karena status barunya.


Tak lupa mereka cipika-cipiki, karena sudah lama tidak berjumpa.


" Hmm, kayaknya janjian nich sama Dita ",


Keluh Raya.


" Kenapa tuh muka, neng? ",


" Tadi manggil nyonya sekarang neng ",


Kata Raya manyun.

__ADS_1


" Oia lupa, kamu kan nggak bisa dipanggil 'neng' ",


Dokter Sinta berkata seraya mengajak Raya duduk.


" Emang knapa 'dok ? ", tanya Raya bingung.


" Iya, 'neng'itu kan panggilan untuk gadis. Nah situ kan udah nggak gadis lagi. Betul nggak ?!",


main mata, si dokter mengedip-ngedipkan matanya.


" Aachh.. Dokter... ", ngambek deh Raya. Malu dia.


" Tadi Dita, sekarang dokter. Apa sebaiknya aku resign aja deh kalo gini ",


Kesal Raya.


" Mentang-mentang jadi istri bos, main resign aja ".


Dokter Sinta mencolek pipi Raya.


" Udah.. Udah.. Ayo kerja. Buang jauh-jauh tuh muka jelek. Kasian pasien ku yang liat ",


Ajak dokter pada Raya.


" Kok serasa aku yang salah ya. Padahal kan aku korban buly nya ",


Monolog Raya.


Orang di sebelahnya hanya mengulum senyum. Pura-pura tidak mendengar gerutuan Raya.


Sepanjang perjalanan di koridor rumah sakit. Setiap bertemu dengan dokter atau sesama perawat, selalu saling menyapa, kenal atau pun tidak. Walau hanya sekedar menyapa, karena pekerjaan mereka yang bisa dibilang tidak santai.


Ada kalanya mereka berbincang sebentar saat bertemu. Tapi ada pula, saat menyapa pun hanya bisa dilakukan sambil lalu.


Karena sudah luang, dokter Sinta pun menyapa dan sedikit berbincang.


Raya hanya menyimak, karena memang tidak diajak untuk ngobrol bareng.


Saat selesai mengobrol, dokter yang satu berpamitan pula dengan Raya. Tapi yang satu bersikap seolah Raya tidak ada di sana. Melihat pun tidak.


Ya sudah lah. Whatever lah..


" Baru juga kerja bentar, udah disusulin aja ",


Gumaman si dokter, yang membuat Raya melongo.


" Gimana dok ? ", Raya bertanya, meyakinkan diri takut salah dengar.


" Tuh ", tunjuk dokter dengan dagunya.


Raya pun mengikuti arah yang ditunjuk dokter Sinta.


Nah, kan.. itu suami siapa yang datang.


Raya berhenti saat Rayhan sampai di depan mereka. Tidak sendiri, melainkan ada Raka dan Doni juga.


" Mas.. ",


Ucap lirih Raya.


" Mo ketemu Andi. Sama jenguk Adinda. Jangan cemburu ",

__ADS_1


Sebelum Raya ngambek, Rayhan lebih dulu mengantisipasi.


Ia mengusap kepala Raya.


" Nggak usap pamer kemesraan. Sana jauh-jauh, lagi kerja ini ",


Dokter Sinta menghalau Rayhan dan mengibaskan tangannya. Kode agar Rayhan menjauh.


" Ishhh.. Kayak kamu nggak pernah aja ", Rayhan dan kawan-kawan pun berlalu.


Setelah melakukan kunjungan pasien. Berkeliling dari satu ruang ke ruang rawat yang lain, kini Raya dan dokter Sinta kembali ke ruang kerja sang dokter.


Memilah dan memilih. Mencatat kemudian menyimpan dengan rapi berkas-berkas pasien.


Tak terasa tibalah waktu istirahat. Mereka berdua kini duduk di kantin rumah sakit. Kantin khusus dokter dan karyawan.


" Gimana keadaan Adinda dok? ",


Raya membuka obrolan di sela waktu menunggu makanan mereka datang.


" Alhamdulillah sudah membaik ",


Sinta menjeda ucapannya.


" Sebenarnya ada semacam trauma psikis yang dialami Adinda. Dia tidak kuat berada di dekat ambulans. Apalagi di dalamnya ",


Kali ini kalimatnya terhenti, karena makanan pesanan mereka sudah tiba.


" Dulu saat ayahnya sakit. Beliau dibawa menggunakan ambulans. Adinda ikut di dalamnya. Dan saat masih diperjalanan, ayahnya meninggal. Dia menyaksikan sendiri bagaimana ayahnya menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya ",


Dokter Sinta menghela nafas panjang. Ia menyeruput jus alpukat yang dipesannya tadi.


Menghentikan sejenak ceritanya.


" Ia menangis histeris. Setelahnya ia sangat-sangat menghindari mobil itu. Sebenarnya semakin kesini sudah lebih bisa mengendalikan traumanya. Tapi untuk kejadian kemarin, mungkin karna dia lah yang mengalami kecelakaan. Makanya dia yang saat itu masih sadar, malah pingsan saat harus dibawa menggunakan ambulans ",


Lanjut cerita dokter Sinta.


°°°°°


Trauma psikis adalah suatu keadaan trauma psikologis yang menimpa seseorang dan mengganggu. Trauma ini bisa membuat pengidapnya mengingat kembali kejadian buruk yang pernah dialami. Pengidapnya mungkin akan mengalami kesulitan tidur hingga mengganggu aktivitasnya sehari-hari. Jika tidak segera ditangani, trauma ini dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan mental seseorang.


Trauma psikis biasanya dialami oleh seseorang yang memiliki riwayat peristiwa traumatis seperti pelecehan, kecelakaan, atau perundungan. Setelah kejadian traumatis, seseorang mungkin mengalami syok, ketakutan, keputusasaan, dan kecemasan yang berkepanjangan


Respons setiap orang terhadap peristiwa trauma yang dialami akan berbeda-beda. Ada beberapa orang yang dapat mengatasiΒ trauma yang pernah dialami, tapi ada pula yang malah berujung pada gangguan psikologis hingga fisik.


Terkadang, trauma dapat hilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Lama atau tidak seseorang pulih dari trauma psikis pun berbeda-beda. Hal ini kembali kepada reaksi individu masing-masing. Meskipun reaksi setiap orang dalam menghadapi trauma berbeda-beda, tetapi tetap saja dibutuhkan penanganan untuk pemulihan trauma tersebut.


(Informasi dari beberapa sumber melalui internet yaa..)


🍁🍁🍁🍁🍁


Sedikit dulu yaa


maaf kalo banyak typo


maaf juga ceritanya datar-datar aja


tetep semangatin aku ya, beri vote gift like dan koment juga saran dan kritik nya


makasih buat smuanya, dah mau mampir

__ADS_1


makasih juga buat dukungannya


salam hangat Qidi 😍


__ADS_2