
Assalamu'alaikum
selamat membaca 📖📚
🍁🍁🍁🍁🍁
Raya yang duduk dengan ditemani mereka bertiga, merasa sedikit tenang. Tapi ia tahu, mereka pasti penasaran tentang apa yang terjadi. Tapi masih enggan untuk bertanya.
Raya juga melihat ada ketakutan di wajah suaminya. Bukan sekedar rasa khawatir.
Raya pun mencoba bercerita.
Sekali lagi ia mengambil nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan.
" Tadi.. ada pasien yang akan pulang, aku mengantarnya sampai ke depan. Nggak lama kemudian ada kecelakaan. Korbannya dua orang. Yang satu nggak sadar, dan langsung dibawa ke sini ",
Raya mulai bercerita.
Ia menunjuk ruang UGD di akhir kalimatnya.
" Yang satu lagi.. anak-anak. Nggak ada yang berani nolong. Hiks.. ",
Berhenti sejenak. Menundukkan kepalanya, hanya untuk mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca.
" Ada ibu-ibu narik paksa aku.. minta aku nolong anak itu. Aku nggak berani angkat sendiri, karena posisi nya setengah tengkurap, takut salah malah jadi fatal. Tapi ibu itu marah-marah. Akhirnya aku balikkan tubuh anak itu ",
Raya menjeda ceritanya lagi. Ia mengatur nafasnya.
" Wajah dan tubuhnya penuh darah ",
" Aku gendong masuk UGD. Sekarang keadaannya masih kritis ",
" Aku nggak tega.. Hiks.. ".
Raya bercerita dengan diselingi isakan kecil.
Beberapa kali matanya mengerjap berusaha menahan agar air matanya tidak lagi terjatuh, tapi gagal.
Rayhan mendengarkan sambil menundukkan kepalanya. Meletakkannya di atas pangkuan Raya.
Raya mengusap rambut Rayhan, tatkala merasakan pangkuannya basah.
__ADS_1
Rayhan menangis di sana.
Bukan, Rayhan menangis bukan karena cerita Raya.
Kalo boleh jujur, Rayhan di sana tidak fokus pada cerita Raya. Melainkan dia menangis karena rasa syukur. Sedih tapi juga bersyukur karena sang istri dalam keadaan baik-baik saja.
Dr. Sinta mengusap punggung Raya. Mencoba memberi ketenangan pada istri sahabatnya. Raya sudah menjadi adik bagi dr. Sinta.
( Sebenarnya tidak boleh sembarangan menolong korban kecelakaan. Jika salah, malah akan membuat kondisi semakin parah atau bahkan fatal ).
Mereka kini berada di ruang rawat Adinda.
Di sana dirasa lebih nyaman dibandingkan jika harus menggunakan ruang kerja dr. Sinta.
Raya mengganti pakaiannya dengan yang bersih. Kakak dokternya yang meminjamkannya.
Sebelumnya Bagas sudah membelikan beberapa minuman hangat untuk pasangan Ray.
Bagas paham apa yang menjadi ketakutan Rayhan. Jangan sampai sahabatnya itu mengalami hal serupa yang disebabkan oleh satu orang yang sama. Alma.
Yaa, Alma. Lagi-lagi nama itu muncul dalam pikiran Bagas.
Ia tidak mau berurusan dengan hukum lagi, terlebih berhubungan dengan Alma.
Dan bagaimana akhirnya, itu membuat Bagas penasaran dan khawatir.
" Ray, ini ",
Bagas menyodorkan 2 cup minuman hangat.
Diterima Rayhan, dan diberikannya pada Raya.
Di ruangan tersebut hanya ada empat orang. Bagas, Adinda, Rayhan dan juga Raya.
Sedangkan dr. Sinta kembali melanjutkan aktifitas nya.
Suasana di sana sunyi. Semua diam, larut dalam pikiran masing-masing.
Bagas mendekati istrinya. Ia memandang wajah Adinda. Diraih dan digenggam tangan Adinda.
Sejenak mereka saling pandang dan tersenyum.
__ADS_1
Rayhan dan Raya duduk di sofa. Kembali ia peluk tubuh istrinya.
Seakan hanya ada mereka berdua. Tidak peduli jika Bagas dan Adinda yang tengah melihatnya.
Rayhan kecup beberapa kali pucuk kepala Raya.
Ia melepas pelukannya. Ia usap sebelah pipi Raya tanpa berucap sepatah kata pun. Dipandangnya dengan penuh sayang, wajah wanita yang sudah sah menjadi miliknya.
Kembali ia kecup kening Raya. Bahkan wajah Raya tak luput dari aksi kecup-kecup Rayhan.
Raya hanya diam menerima perlakuan manis dari suaminya.
Ia tanpa ragu kembali menyandarkan kepalanya di dada Rayhan.
Rayhan pun kembali memeluk sang istri. Dan sekarang lebih erat. Seakan takut kalau istrinya akan pergi, walau hanya sebentar.
"Dek.. ",
Panggil Rayhan di sela-sela pelukannya.
" Hemm.. ",
Raya menjawab dan mengangkat pandangannya, agar bisa melihat wajah Rayhan.
Tanpa berkata apapun, Rayhan hanya tersenyum manis ke arah istrinya.
Mata Rayhan mulai berkaca-kaca, namun dengan keras ia berusaha menahan bulir bening air matanya agar tidak menerobos keluar.
Sekali lagi ia bersyukur, sangat-sangat bersyukur karena Raya baik-baik saja.
🍁🍁🍁🍁🍁
Sedikit dulu yaa, maaf luamaaaaa banget gak up
maaf juga kalo banyak typo, dan ceritanya datar-datar aja
tetep semangatin aku ya, beri vote gift like dan koment juga saran dan kritik nya
makasih buat smuanya, dah mau mampir
makasih juga buat dukungannya
__ADS_1
salam hangat Qidi 😍