
Assalamu'alaikum
selamat membaca 📖📚
🍁🍁🍁🍁🍁
Raya keluar dari ruang kerja Rayhan, setelah mereka selesai makan.
Di luar ia bertemu Raka yang duduk sendiri. Melamun sambil melihat ke arah luar melalui jendela kaca.
"Mas, eh Ra.. Ka.. Ditunggu mas Ray itu ",
Ucap Raya terbata, karena canggung harus memanggil dengan nama saja.
" Hmm, iya bentar ",
Senyum terbentuk dibibir Raka. Menahan untuk tidak tertawa dengan tingkah kakak iparnya.
Ia menyeruput minuman nya. Kemudian pergi meninggalkan Raya di sana.
°°°°°
Beberapa menit sebelumnya.
" Aku keluar bentar ya ",
Pamit Raya.
" Cepet balik yaa ! ",
Pinta Rayhan. Tapi ditolak Raya dengan gelengan kepala.
Rayhan mengerutkan dahinya.
" Sepertinya ada yang ingin dibicarakan Raka sama mas. Aku keluar dulu, biar lebih leluasa ngobrolnya. Yaa ? ".
Penjelasan Raya dengan hati-hati. Nggak mau suaminya salah mengerti.
" Ohh. Tapi jangan keluar kafe ! ",
Perintah Ray pada istrinya.
Dijawab dengan anggukan kepala.
°°°°°
Tok tok ..
" Bang.. ",
Raka mengetuk pintu sebentar, kemudian langsung masuk tanpa menunggu perintah dari dalam.
Disana Rayhan masih duduk di sofa yang sama, saat masih ada Raya.
Ia menyandarkan kepalanya disandaran sofa.
" Udah lebih baik ? ", tanya Raka yang kini duduk dihadapannya.
" Mendingan, dari pada tadi ",
Ray menjawab dengan lesu.
" Syukurlah kalo bisa meredamnya. Aku takut abang kalut seper.. ti.. du.. lu.. "
Raka menjeda kata-kata nya.
Sebenarnya ia ragu untuk mengatakannya. Tapi mulut seakan bergerak tanpa persetujuan akalnya. Sehingga ia hanya bisa sedikit menahannya.
" Sama ",
Rayhan menghela nafas berat. Ia mengusap wajahnya beberapa kali.
Nampak sekali, sesuatu yang berat yang tengah berada dipikirannya.
" Aku juga takut tidak bisa mengontrolnya ",
Lanjut Rayhan.
__ADS_1
" Trus, besuk gimana ? ",
Tanya Raka.
" Sesuai rencana. Kosongkan Kafe. aku akan menemuinya setelah dia datang ",
" Apa nggak pa pa, menutup kafe hanya untuk dia ? ",
Tanya Raka lagi.
" Sebenarnya sedikit berlebihan sih. Tapi dari pada jadi tontonan nantinya. Aku juga nggak mau dia malu. Kita nggak tau apa pikiran orang yang melihat ato pun mendengar percakapan kami ",
Penjelasan Ray.
Ia menyalakan sebatang rokok. Sempat menghisapnya sekali. Lalu saat menghembuskan asapnya, rokok itu diambil alih oleh Raka. Dihisap sekali lalu dimatikannya.
Tak ada protes dari Rayhan. Ia paham apa yang dilakukan adiknya.
Raka tidak mau kalau kakak iparnya semakin khawatir dengan keadaan Rayhan. Apabila ketahuan abangnya merokok.
" Bang Bim sudah buat janji ? ",
Pertanyaan kembali diucapkan Raka.
" Sudah ",
Jawab singkat Ray.
Keesokan harinya..
Kafe tutup.
Seperti perintah Rayhan. Karyawan dialih tugaskan mengerjakan pesanan untuk dibagikan ke sebuah panti asuhan.
Tentu saja itu hanya sebagai pengalihan, agar tidak ada banyak tanya diantara mereka.
Hanya ada beberapa orang karyawan kepercayaan Rayhan yang ada disana.
Rayhan memantau di tempat lain. Ia akan datang ke kafe beberapa menit setelah orang yang ditunggu datang. Alma.
Tak butuh waktu lama sejak Rayhan melihat layar laptopnya. Layar yang menampilkan beberapa gambar ruangan kafe, dan halaman depan kafe miliknya.
" Kak Bima ",
Sapa Alma yang menghampiri Bima.
" Eh, sudah datang. Duduk Al ",
Bima yang pura-pura tidak melihat kedatangan Alma, mempersilahkan nya untuk duduk.
" Kok sepi kak ? ",
Tanya Alma heran, karena tidak ada pengunjung lain di kafe itu. Ia merasa canggung jika harus berdua saja dengan kakaknya Rayhan.
" Biasa lah, pesanan lagi banyak. Sekalian mo audit ",
Penjelasan Bima.
Nggak bohong kan.
" Wah, ada audit segala ",
Alma mencoba menghilangkan kecanggungan.
" Mo minum apa Al ? ",
Tanya Bima sambil berdiri.
" Apa aja lah kak ",
" Ok. Bentar ya ", Bima meninggalkan Alma seorang diri.
Beberapa menit kemudian. Rayhan datang bersama dengan Bima yang membawa segelas jus melon. Katanya itu minuman kesukaan Alma.
" Silahkan dinikmati jus nya ",
Bima meletakkan minuman itu dan pamit meninggalkan Alma dan Rayhan.
__ADS_1
" Aku tinggal ya ",
Rayhan yang sedari tadi berdiri dibelakang Bima, kini berjalan dan menyapa Alma . Ia kemudian duduk didepan Alma.
" Ray.. Han.. ",
Alma terkejut, karena Rayhan juga ada disana.
Ya iyalah, secara inikan kafe dia.
" Kok kamu disini juga ? ",
Basa-basi untuk mengendalikan kegugupan.
" Diminum ",
Tidak menjawab pertanyaan Alma. Dengan gerakan tangan Rayhan mempersilahkan tamu nya untuk minum.
" Maaf mengganggu waktu kamu ",
Ucap Ray setelah melihat Alma meletakkan kembali gelas jus nya.
" Eh, tidak kok ",
Jawab Alma sambil menggeleng dan melambaikan tangannya.
Rayhan mengangguk pelan. Setelahnya dia diam. Sengaja, bukan karena tidak tahu mau ngomong apa.
Hening beberapa saat.
" Kak Bima nya kemana ? ",
Tanya Alma yang mulai tidak nyaman berada di dekat Rayhan.
Padahal biasanya dia akan betah, walau hanya diam dalam waktu yang lama, asal didekat Rayhan.
" Di dalam ",
Jawaban singkat Rayhan.
" Ada apa Ray ?, kak Bima mengajak aku ketemu, tapi kenapa sekarang pergi ",
Belum apa-apa sudah muncul tanda-tanda kegugupan Alma.
" Bang Bima ada urusan. Aku yang menggantikan dia bertemu kamu. Apa kamu keberatan kalo aku yang duduk disini ? ",
Tidak seperti biasanya.
Kalimat panjang yang diucapkan Rayhan, membuat Alma semakin gugup.
" Nggak kok ",
Alma sedikit bergerak, mengubah posisi duduknya. Menyamankan dirinya.
Rayhan dapat membaca reaksi tubuh Alma.
Atmosfer ruangan yang berubah dirasakan oleh Alma.
Belum juga ke inti pertemuan itu. Belum pada pokok pembicaraan, tapi Alma sudah salah tingkah. Beberapa kali menyeruput minuman di depannya. Mengganti kaki untuk saling menyilang.
Hingga mengalihkan pandangan saat tak sengaja bertemu pandang dengan Rayhan.
Yaa, mungkin seperti itu lah orang yang merasa bahwa dirinya salah. Belum apa-apa sudah merasa ketahuan.
Rayhan kembali diam. Ia yang teringat kembali kejadian di masa lalu, juga merasakan suasana hati yang mulai meningkat emosinya. Dengan diam-diam ia menghela nafas panjang, dan menghembuskan nya seraya beristighfar dalam hati.
Ia ingat ucapan istrinya tadi pagi, saat mengantar Raya kerja. Sesaat sebelum Raya keluar dari mobil, ia sempat berucap *kalo mas lagi banyak pikiran, banyak-banyakin juga istighfar*, setelah itu mencium tangan Rayhan dan pamit untuk kerja.
Rayhan sedikit merasa aneh, istrinya berkata demikian tanpa ada obrolan sebelumnya.
Entah Raya tahu atau tidak apa yang sedang terjadi. Tapi mungkin itu perasaan hati seorang istri.
🍁🍁🍁🍁🍁
Maaf lama banget ditinggal sibuk
trimakasih masih mo mampir
__ADS_1
Salam hangat Qidi 😍