Cinta Untuk Perawat Cantik

Cinta Untuk Perawat Cantik
Dicariin


__ADS_3

Selamat membaca 📖 😍😍


Hari ini Bima nampak celingak celinguk mencari seseorang. Yaa... siapa lagi kalo bukan Raya. Perawat yang sudah mengambil hati nya. Itu lah menurut Bima.


ia menghampiri meja yang diduduki seseorang yang amat sangat ia kenal.


"Sendiri aja ?". Sapa Bima, sambil menarik kursi untuk dia duduk.


"Gak usah basa-basi. Nyari sapa kamu ?". Tembak dr. Sinta langsung.


Bima hanya terkekeh, mendengar keterus-terangan sahabatnya itu.


"He he he, biasa.. perawat kamu yang cantik ".


"Raya ?". Bima mengangguk.


"Dia lagi istirahat di ruangan ". Lanjut dr. Sinta.


"Raya sakit ?", tanya Bima dengan wajah khawatir.


"Gak ". Jawab dr. Sinta singkat. Ia sengaja tidak menjelaskan dan membiarkan Bima dengan rasa penasarannya.


Ia ingin tau seberapa seriusnya Bima pada asistennya. Awas saja kalo macam-macam sama adek perempuannya itu.


(Beberapa part sebelumnya, dr.Sinta sudah menganggap Raya sebagai adek sendiri ).


"Tumben gak bareng sama kamu. Biasanya kan slalu bersama, dah kayak anak kembar 3 ".


"3 ? yang satu sapa ?".


"Tuh, perawat yang satu lagi. Sapa nama nya ?".


"Oo.. Dita?". Bima mengangguk.


"Beneran gak sakit kan ?".


"Gak "


"Gak ada apa-apa kan ?". Tanya Bima beruntun.


"Gak, dia gak ada apa-apa Bim ".


"...." sebelum Bima sempat berucap lagi, dr. Sinta melanjutkan kata-kata nya.


"Tadi udah aku ajak, tapi dia menolak. Soalnya dia la.._".


"Kenapa ??". Bima memotong ucapan dr. Sinta karena tidak sabar.


"Ck, jangan suka motong omongan orang ".


"Habisnya kamu lama ". Keluh Bima yang sedari tadi sudah tidak nyaman duduk.


"Kamu nya yang gak sabaran !". Kesal dr. Sinta.


"Udaahh.. iya, lanjutkan !!".


"Dia lagi PUASA ". dr. Sinta melanjutkan omongannya dengan menekankan kata terakhir nya.


Bima menghela nafas pelan. Dia lega tapi sekaligus jengkel dengan teman yang merangkap sahabatnya itu.


"Kenapa ? helaan nafas mu gitu amat ". Tanya dr. Sinta dengan santainya.


"Kenapa gak bilang dari tadi coba, gak usah mbulet-mbulet. Gak usah bikin orang emosi dan khawatir ".


"Perhatian banget kayaknya ",

__ADS_1


"Ada apa ?". Pertanyaan yang penuh selidik.


"Gak pa-pa. Sementara masih rahasia ".


"Huh.. serah kamu Bim ". Kesal karena tidak mendapat jawaban yang memuaskan.


Dengan berlagak cuek, dr. Sinta beranjak meninggalkan Bima seorang diri.


"Heh, Sin !!",


"Eh, aku malah ditinggal. Seenaknya aja anak ni ". Gumam Bima.


Dr. Sinta kembali ke ruangannya. Waktu istirahatnya hampir habis. Ia ingin mengistirahatkan perutnya sebentar setelah diisi, sebelum kembali dengan aktivitasnya.


Jika langsung beraktivitas kita tidak akan memiliki kekuatan yang cukup, karena sebagian energi tubuh kita sedang digunakan untuk menghancurkan makanan.


Istirahat setelah makan juga membantu fungsi pencernaan bekerja dengan tepat. Istirahat 15-20 menit juga dapat menghindari timbunan lemak.


Kalau habis makan langsung beraktivitas, itu bisa membuat kita tidak nyaman. Apalagi aktivitas yang berat, bisa menyebabkan kram perut juga.


*Untuk jelasnya bisa tanyakan pada yang lebih ahli yaa. Author juga cari-cari info nii, maaf kalo kurang pas. 😉*


Di ruangan dr. Sinta...


Raya yang sedang santai di sofa, sambil memejamkan mata tapi tidak tidur, terbangun dengan kedatangan dr. Sinta.


"Ray, dicariin Bima ". Ucap dr. Sinta setelah menutup pintu ruangannya. Hal itu berhasil membuat Raya kaget dengan sangat. Sontak Raya menegakkan tubuhnya.


"Ha !! ada mas Bima dok ??".


Dia sudah kebingungan. Bingung gimana harus menghadapi Bima.


Sebenarnya Raya memilih istirahat di ruangan dr. Sinta, selain karna puasa ia juga sedang berusaha untuk menghindar dari Bima.


"Gak ada. Tadi itu ketemu di kantin, dia nyariin kamu ". Raya ber-o dengan perasaan lega.


Jam pulang pun tiba.


"Ray, kamu mau langsung pulang ?. Raya menggeleng. Ia tengah merapikan meja kerja dan alat-alat medis lainnya.


"Mau gak ngobrol-ngobrol dulu ?".


Raya senyum nampak antusias, "Ngobrol apa dok ?".


Memang sudah lama ia dan dr. Sinta tidak saling cerita-cerita. Biasanya kalau ada waktu luang atau setelah jam kerja seperti ini, mereka sempatkan untuk sekedar bercerita di luar konteks kerjaan.


"Ray, boleh gak nanya ? agak pribadi sih ".


"Iya dok, boleh. Tanya apa dok ?".


Raya sedikit bingung juga takut, gak biasanya dr. Sinta minta ijin untuk bertanya. Apa dia ada salah ??.....


"Apa kamu ada hubungan serius dengan Bima ".


"Gak ada dok ".


Raya mulai tidak nyaman. Pikirannya semakin jauh, kalau dia berbuat salah karena dekat dengan Bima.


Sinta menyadari ketidak nyamanan Raya dengan pertanyaannya.


"Maaf ya, tapi sepertinya Bima ada sesuatu gitu sama kamu. Mm.. pahamkan maksudku ?".


"Saya gak tau dok. Kalo mo dibilang gak peka, saya malah takut di bilang GR dok ". Raya menjawab apa adanya.


"Kamu... mm.. udah punya pacar ato calon mungkin ?". dr. Sinta bertanya dengan ragu-ragu.

__ADS_1


"Gak ada dok ". dr. Sinta menatap Raya.


Raya yang paham akan tatapan itu.. "Saya gak pacaran dok ", melanjutkan dengan tersenyum.


"Kamu belum menikah kan ?". Raya menggeleng.


Dengan wajah penasarannya ia bertanya lagi dan lagi. "Bener ??".


*Wah... maido ki *.


"Bener dok, saya belom menikah. Kalo sudah, masa iya saya tiap hari kerja gak ada cuti-cutinya. Gak kangen apa sama suami ? lagian saya kan tinggal di asrama bareng Dita dok ".


"Oia ya... ", dr. Sinta pun mengangguk-anggukkan kepalanya, seperti orang paham. Padahal masih banyak tanya di benaknya.


"Maaf, memangnya ada apa ya dok ?". Sekarang Raya yang diserang rasa penasaran, dengan pertanyaan-pertanyaan dokter Sinta.


"Apa mas Bima sudah punya pasangan ya dok ?". Tanya Raya lagi.


"Gak da apa-apa, cuma tanya aja. Kalo pun kamu ada hubungan juga gak pa-pa Ray, santai aja. Lagian Bima belom nikah kok, belom punya pasangan juga ".


"Dokter sudah lama kenal sama mas Bima ?".


"Udah, lamaaaaa banget. Dia temen sekolah dari SMP ".


"Kenapa Ray... tertarik ?", goda dr. Sinta.


"Cuma tanya aja dok ".


"Ck, itu kan kata-kata ku tadi Ray ".


Mereka tertawa sama-sama. Suasana mulai rileks, gak seformal tadi. Raya juga lebih santai bercerita.


"Memang kenapa gak pacaran ?".


"Udah bukan waktunya cari pacar dok ".


"Dah pengen nikah kayaknya ", dr. Sinta tersenyum sambil menaik-turunkan alisnya. Raya pun ikut tersenyum tp senyumnya berbeda, entah...


"Ada sesuatu ?", dr. Sinta menangkap maksud senyum itu. "Mau crita ?".


"Hmm, kalo ada yang serius ya langsung aja dok, gak usah pacaran ".


Hening...


Raya sedikit ragu untuk melanjutkan. Sebenarnya ia ingin bercerita tentang masa lalunya kepada seseorang. Sampai detik ini tak ada yang tau cerita itu, bahkan Dita sekalipun. Dia belum bisa berbagi kisahnya dengan orang lain.


"Maaf, kalo kamu gak pengen crita gak pa-pa. Ok ?!", dr. Sinta mengusap pundak Raya.


"Apa dokter mau mendengar crita ku ?". Lirih Raya.


"Kalo kamu mau crita.. crita aja, aku siap dengerin. Mungkin bisa buat kamu lega juga".


Akhirnya Raya pun memulai cerita masa lalu nya.


^^^^


dah yaa, segitu dulu..


maaf kalo banyak typo bertebaran, maklum ngetiknya di hp...


semoga suka dengan critanya...


makasih yang udah like dan koment...


makasih buat readers smua yang udah setia nunggu tulisan ku..

__ADS_1


maaf kalo ada salah kata..


salam hangat Qidi 😍😍


__ADS_2