Dari Kekasih Palsu Menjadi Paksu

Dari Kekasih Palsu Menjadi Paksu
Bab 21


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


Langit berjalan perlahan menghampiri ranjang di mana Bintang tergeletak.


Di dudukkan bobot tubuhnya pada kursi yang tersedia di samping ranjang.


Di raihnya tangan Bintang yang terbebas dari selang infus untuk di genggamnya.


''Kenapa seperti ini, hem.'' gumam Langit dengan dada yang terasa penuh dan sesak.


''Bukannya selalu aku bilang untuk berhati-hati, jangan ngebut-ngebut...kenapa kamu bandel sekali.'' gumam Langit lagi dan tak terasa saat ini air matanya yang sangat jarang sekali keluar malah menetes begitu saja.


Tes


Tak terasa tetasan itu mengenai punggung tangan Bintang yang di genggamnya.


''Aww...ish...'' desis Bintang yang terbangun dari pingsannya.


Tak mau membuang waktu, Langit langsung berlari keluar dan meminta Aris untuk memanggilkan dokter maupun perawat, setahun itu dirinya kembali lagi masuk kedalam ruangan.


''Mana yang sakit?'' tanya Langit dengan rasa khawatirnya.


''Kepalaku...'' desis Bintang. ''Akh...'' keluh Bintang saat berusaha untuk duduk.


''Kamu jangan duduk dulu, paling tidak sampai dokter kembali memeriksa kondisimu saat ini.'' kata Langit.


Cklek


''Apa yang anda rasakan saat ini nona?'' tanya sang dokter yang memeriksa Bintang.


''Kepalaku sakit...pusing, badanku juga sakit.'' jawab Bintang.


''Itu hal yang wajar karena anda mengalami benturan.'' kata sang dokter. ''Beruntung saat terjadi kecelakaan anda mengenakan helm sebagai pelindung.'' sambungnya lagi. ''Untuk lebih memastikan keadaan nona, sekarang kita kaan melakukan CT scan terlebih dahulu.'' imbuh sang dokter.


Bed Bintang di dorong oleh perawat untuk di bawa keruangan ct scan, yang tentu saja di dampingi oleh Langit disana.


''Sementara menunggu hasilnya keluar, nona akan kami pindahkan ke ruang perawatan.'' kata dokter. ''Dan untuk anda, silahkan urus segala keperluan di bagian administrasi.'' kata dokter lagi.


Langit tak beranjak sama sekali, dirinya hanya menghubungi Aris untuk ke bagian administrasi, mengurus segalanya untuk perawatan Bintang.


Dan tak lupa pula dirinya memberi tahu untuk memilih kamar VVIP agar Bintang merasa lebih nyaman.


💕

__ADS_1


''Ris, kamu bisa kembali ke perusahaan.'' kata Langit saat Bintang sudah berada di ruang perawatan. ''Tolong handle selama aku gak ada.'' sambungnya lagi.


''Iya, aku balik dulu kalau gitu.'' kata Aris.


''Terimakasih.'' ucap Langit.


''It's oke, itu memang gunanya sahabat sekaligus asisten.'' sahut Aris.


Setelah Aris pergi, Langit kembali masuk dan menghampiri Bintang.


''Kenapa bisa begini, hem?'' tanya Langit. ''Bukannya aku selalu berpesan untuk hati-hati...jangan ngebut-ngebut.'' sambungnya lagi.


''Aku tadi kehilangan keseimbangan.'' jawab Bintang, karena hanya sampai pada itulah yang dia ingat.


''Ini terakhir kali kamu menggunakan motor, tak ada lain kali lagi.'' kata Langit. ''Aku akan bicarakan hal ini pada om.'' sambungnya lagi.


''Tapi...'' kata Bintang.


''Apa? mau bantah.'' potong Langit. ''Apa perlu aku minta pada om buat jual motor kamu itu.'' ancamnya yang membuat Bintang kesal sehingga mengerucutkan bibirnya.


Cklek


''Bi...'' panggil ibu yang datang tergopoh-gopoh bersama dengan ayah Boby. ''Ya ampun Bi, kamu bikin ibu sama ayah hampir jantungan begitu mendengar kabar ini.'' kata ibu Nanda lagi.


''Sudah...sudah yang penting kita sudah tau keadaan Bintang kan.'' kata ayah Boby. ''Kata dokter bagaimana nak Langit?'' tanya ayah Boby.


''Untuk lebih pastinya masih menunggu hasil CT scan keluar om.'' jawab Langit. ''Sebab Bintang mengalami benturan di kepalanya, jadinya takutnya nanti ada apa-apa.'' sambungnya lagi mengatakan apa yang dokter katakan padanya.


''Bagaimana kejadiannya Bi?'' tanya ibu Nanda.


Langit mengambil alih untuk menjelaskan bagaimana kronologi kejadian hingga menyebabkan Bintang sampai di rawat.


''Begitu kejadiannya tante, dan saya tau ini dari saksi matanya langsung...orang yang menghubungi saya dan membawa Bintang ke sini.'' kata Langit di akhir ceritanya.


''Ayah sama ibu tau dari mana kalau aku di sini?'' tanya Bintang, karena seingatnya dia tak meminta Langit untuk menghubungi kedua orangtuanya.


''Dari maminya Langit.'' jawab ibu Nanda. ''Dia tau dari asistennya Langit.'' sambungnya lagi. ''Katanya dia bingung mau hubungan kami gimana, soalnya gak punya nomor ponsel kami...jadi dia hubungi maminya Langit, lagian katanya Langit juga masih sibuk urusin kamu yang baru siuman.'' ceritanya.


Cklek


''Kak.'' panggil mami Selin yang baru saja datang bersama papi Lazuardi.


''Mam...pap...'' sapa Langit.

__ADS_1


''Gimana keadaan kamu sayang?'' tanya mami Selin.


''Kepalanya pusing mam...soalnya terbentur, sama badannya mulai sakit, habis di adu sama aspal.'' kata Langit yang menjawab pertanyaan dari sang mami.


''Tapi gak ada yang seriuskan?'' tanya mami Selin lagi.


''Masih belum tau...nunggu hasil CT scan.'' jawab Langit lagi.


''Sayang, lain kali hati-hati ya kalau naik motor.'' kata mami Selin sambil mengelus punggung tangan Bintang yang ada di dekatnya.


''Apa mam? gak ada lain kali ya...gak boleh naik motor.'' kata Langit.


''Ayah setuju.'' sahut ayah Boby.


''Ibu juga setuju.'' timpal ibu Nanda.


''Ayah akan jual itu motor.'' kata ayah Boby.


''Di jual? jangan dong yah...itukan motor kesayangan Bintang.'' rengek Bintang.


''Kalau gak di jual pasti kamu bakal diem-diem naik motor lagi walupun tanpa seijin kami.'' kata ayah Boby yang sudah tau betul bagaimana tabiat putrinya.


''Terus Bintang berangkat ngampusnya gimana kalau motornya di jual?'' tanya Bintang yang sebenarnya masih ingin bernegosiasi dengan sang ayah.


''Bareng sama ayah, kalau gak tu pakek mobil ibu juga nganggur di rumah.'' jawab sang ayah.


''Kalau gak biar aku yang antar.'' tawar Langit.


''Enggak...enak aja, gak mau...gak mau.'' tolak Bintang.


''Loh memangnya kenapa? bukannya harusnya seneng ya di antar sama calon suami sendiri, apalagi kalian juga satu kampus.'' kata ibu yang bingung dengan sikap Bintang yang menolak tawaran dari Langit secara mentah-mentah.


''Ibu gak tau aja fans fanatik dia itu banyak bangat tau di kampus...mulai dari mahasiswa sampai staf kampus dan sesama dosen.'' jawab Bintang.


''Lah bukannya bagus...kamu malah bisa tunjukin tuh ke mereka kalau Langit itu sudah ada yang punya, yaitu kamu.'' kata ibu Nanda lagi.


''Gak deh bu', terimakasih.'' ucap Bintang. ''Aku belum siap buat jadi bulan-bulanan mereka, mereka bisa ngelakuin apa aja...dan aku gak mau itu.'' sambungannya lagi.


''Sudah gak usah mikirin gimana nanti berangkat ngampusnya, sekarang lebih baik kamu makan terus minum obatnya.'' kata Langit karena jatah makan siang untuk pasien telah di antar.


''Ibu suapi ya...'' kata ibu Nanda.


''Gak usah bu', aku masih bisa makan sendiri kok.'' tolak Bintang.

__ADS_1


''Sudah gak apa-apa...biar ibu suapi.'' kekeh ibu yang mau tak mau Bintang hanya bisa menurut dan pasrah.


__ADS_2