
❤️ Happy Reading ❤️
Tiga hari waktu yang butuhkan Bintang untuk menginap di rumah sakit.
Baginya waktu segitu sudah serasa lama sekali, meskipun kamar yang iya tempati kamar VVIP yang bak hotel...namun nyatanya membuatnya sama sekali tak betah dan hampir setiap hari uring-uringan minta pulang.
''Yeah akhirnya bila pulang juga.'' kata Bintang saat ibu serta maminya membereskan barang-barang miliknya.
Sedangkan Langit saat ini sebagai mengurus administrasi rawat inap Bintang.
Pemuda itu sengaja tak masuk bekerja hanya untuk mengantarkan sang kekasih pulang kerumahnya.
Cklek
''Sudah beres, jadi tinggal nunggu suster melepas infus di tangan Bintang saja.'' kata Langit.
''Jadi semuanya berapa Lang?'' tanya ibu. ''Nanti biar ibu transfer.'' sambungannya lagi.
''Kamu ini apa-apaan sih Nan, Bintang itu kekasih Langit terlebih dia itu calon istri Langit, jadi sudah sewajarnya kalau semua kebutuhan yang berhubungan dengan Bintang jadi tanggungan Langit.'' sahut mami Selin.
''Tapi aku gak enak Sel, hubungan merekakan belum...'' kata ibu.
__ADS_1
''Kalau gak enak tinggal kasih kucing.'' potong mami Selin sekenanya. ''Kalau kamu ngeyel mau ganti...ganti sepuluh kali lipat.'' canda mami Selin.
''Kamu minta ganti apa mau ngerampok.'' sahut ibu. ''Apa harta keluarga Cakrabuana masih kurang banyak, hah?'' kata ibu.
''Makanya sudah biarin aja...gak usah pakek acara mau ganti-ganti segala.'' kata mami.
Cklek
''Permisi...saya melepas selang infus pasien.'' kata seorang perawat wanita yang baru saja masuk.
''Oh silahkan sus.'' kata ibu mempersilahkan.
Melihat sang perawat yang curi-curi pandang pada Langit membuat Bintang kesal di buatnya.
''Iya sebentar nona.'' jawab sang suster dengan mata yang masih melirik ke arah Langit meskipun yang di liriknya cuek-cuek aja bahkan terkesan tak perduli.
''Akh...'' keluh Bintang saat jarum infus di lepas.
''Sudah selesai nona, saya permisi.'' kat sang perawat.
''Orang kerja kok matanya jelalatan kemana-mana.'' kesal bintang begitu sang perawat telah keluar.
__ADS_1
''Sudah sih sayang jangan marah-marah.'' kata Langit.
''Apa? seneng gitu kamu di lirik-lirik sama perempuan lain...iya.'' ketus Bintang.
''Apa sih Bi, orang Langitnya juga gak perduli kok kamu jadi marah-marah ke dia.'' kata ibu menegur sang putri. ''Hak perawat tadi mau lirik bahkan lihat Langit, Langit tak bisa memecah atau melarangnya.'' sambungnya lagi yang membuat Bintang terdiam.
''Ayo, aku bantu naik ke kursi roda.''kata Langit mengulurkan tangannya.
''Aku mau jalan.'' bantah Bintang.
''Huft...mau naik kursi roda atau aku gendong sampai depan.'' ancam Langit.
''Iya...iya aku naik kursi roda.'' sahut Bintang dengan sewot.
''Hem padahal aku pilih gendong kamu loh sayang dari pada dorong kamu yang duduk di kursi roda.'' goda Langit yang langsung mendapat tatapan tajam dari Bintang.
''Bi, sudah gede...sudah mau tunangan juga...kurang-kurangin tuh ambekannya.'' kata ibu yang jadi tak enek sendiri dengan kelakuan putrinya.
Mereka berempat kemudian berjalan keluar dimana sudah ada dua mobil yang menunggu, yaitu mobil Langit dan mobil mami Selin dengan supir mereka masing-masing.
''Bintang naik mobil kamu aja kak, biar ibu Nanda ikut di mobil mami.'' kata mami begitu mereka sampai di lobi.
__ADS_1
''Iya mam.'' sahut Langit dengan senang hati tentunya.