
❤️ Happy Reading ❤️
Setelah drama nasi goreng buatan papi Ardi yang menurut Bintang enak banget padahal mah biasa aja, Bintang sudah tak pernah ngidam yang aneh-aneh lagi...ya walaupun sikap manjanya pada sang suami masih sama seperti kemarin-kemarin tapi Langit sangat suka, dari pada istrinya itu bersikap cuek ya lebih baik bersikap manja dong ya...jatah malamnya bahkan lancar jaya karena sang istri kadang ingin selalu di sentuh bahkan tak jarang Bintang yang memulai duluan, maklumlah...pengaruh hormon ibu hamil yang tinggi.
"Mas, mau di elus...pinggangku rasanya sakit dan panas." kata Bintang yang memang kini usia kehamilannya sudah menginjak usia sembilan bulan, bahkan jika mengingat perkataan sang dokter hari perkiraan lahir anak mereka tinggal menunggu tak lebih dari satu minggu, bahkan Langit juga sudah mulai bekerja dari rumah.
Dengan setia Langit selalu mengelus punggung hingga pinggang Bintang sampai wanita itu terlelap.
Meskipun lelah karena dirinya harus masih bekerja, namun baginya rasa lelah itu tak sebanding dengan apa yang istrinya rasakan saat ini.
"Akh akhirnya tidur juga." gumam Langit saat mendengar deru nafas Bintang sudah teratur.
"Jangan nakal-nakal ya sayang...kasihan mommy kamu...emuach." Langit berbicara pada sang anak yang ada di dalam kandungan Bintang, tak lupa dirinya mencium perut buncit itu... aktivitas rutin yang selalu Langit lakukan sebelum tidur yaitu mengajak sang jabang bayi berkomunikasi dan juga meninggalkan jejak ciuman tanda sayang.
Setelah itu Langit pun ikut merebahkan tubuhnya dan mengusul sang istri ke alam mimpi.
__ADS_1
❤️
"Yah..." kata Bintang yang kini sudah duduk dari tidurnya.
Merasa ada pergerakan dan sedikit mendengar suara sang istri membuat Langit langsung terbangun dari tidurnya.
Selama Bintang mengandung, Langit menjadi semakin lebih peka dan mudah sekali terbangun di malam hari...dengan sedikit gerakan yang di timbulkan oleh Bintang sudah bagaikan alarm untuknya.
"Ada apa sayang? Ini masih malam, kenapa sudah bangun, hem?" tanya Langit dengan suara serak khas bangun tidur.
"Oh, tak apa...ayo ganti dulu pakaian kamu, nanti kita pindah kamar aja...biar besok aku bersihkan." ajak Langit yang kini sudah turun dari ranjang.
Langit menuntun Bintang untuk pergi ke ruang ganti, namun baru berjalan beberapa langkah...Bintang sudah meringis karena merasakan sakit di perutnya dan juga merasakan panas di pinggangnya.
"Akh..." kata Bintang sambil memegang perutnya dan juga menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Ada apa sayang?" tanya Langit yang masih berusaha tenang.
"Perut aku...perut aku sakit mas." keluh Bintang.
"Kamu duduk sini dulu, biar aku carikan pakaian ganti." kata Langit menuntun Bintang untuk duduk.
Tak membutuhkan waktu lama, Langit pun sudah kembali dengan membawa pakaian untuk Bintang dan dirinya juga sudah berganti pakaian.
Dengan telaten Langit membantu Bintang mengganti pakaiannya, setelah itu dirinya menuju ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka dan juga membawa handuk kecil basah untuk mengelap wajah Bintang.
"Ayo sekarang kita keluar." ajak Langit sambil menempelkan ponsel di telinganya.
"Mam, Bintang mau lahiran kayaknya." kata Langit saat panggilan terhubung dan langsung juga mematikannya begitu selesai bicara.
Mami Selin yang mendapat telpon dari sang putra pun segera membangunkan sang suami.
__ADS_1
Mereka memang satu rumah, tapi kamar mereka beda lantai. Mami Selin dan papi Ardi berada di lantai bawah sedangkan Langit dan Lintang ada di lantai dua.