
❤️ Happy Reading ❤️
Setelah berbincang sebentar dengan kedua calon mertuanya, Langit milih untuk berpamitan pulang karena hari sudah semakin petang.
''Ayah, ibu...Langit pamit pulang.'' pamit Langit.
''Loh kok pulang? gak ikut makan malam dulu di sini?'' tanya ibu Nanda.
''Lain kali bu', terimakasih.'' kata Langit.
''Ya sudah kalau mau pulang, kamu hati-hati...gak usah ngebut-ngebut.'' pesan ayah Boby.
''Iya yah.'' jawab Langit.
''Bi, antar calon suamimu.'' perintah ayah pada anak perempuannya.
Bintang pun hanya bisa menurut dan langsung berjalan mengekor di belakang Langit.
''Aku pulang dulu ya...'' kata Langit saat mereka berdua sudah di luar rumah.
''Hem hati-hati.'' kata Bintang.
''He'em.'' sahut Langit. ''Jangan nonton drakor sampai larut malam.'' peringatnya.
''Iya, kamu juga jangan gila kerja sampai gak ingat waktu.'' kata Bintang.
__ADS_1
''Iya sayang.'' jawab Langit sambil mengusap pipi Bintang menggunakan tangan kanannya. ''Dah ah...aku pulang, semakin lama di sini semakin aku gak mau jauh dari kamu.'' katanya lagi
''Ish gombal.'' sahut Bintang.
💕
Keesokan harinya Langit kembali menjemput Bintang. Hari ini mereka sudah ada janji untuk melakukan photo prewed.
Lelah...benar-benar hari yang sangat melelahkan hari ini...karena selain photo di studio, mereka juga kan mengadakan photo di sebuah taman dan berakhir di pantai.
Kenapa di pantai? ya karena Bintang sangat menyukai pantai apalagi saat sunrise ataupun sunset.
Semuanya berjalan dengan sangat lancar tanpa kendala.
''Huh...'' Bintang menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Saat ini mereka berdua sedang di perjalanan kembali ke rumah, karena tak mau kalau sampai kemalaman di jalan...jadi begitu sesi photo selesai...mereka semua langsung pulang.
''Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan.'' keluh Bintang. ''Tapi setelah melihat hasil setiap jepretan...rasanya puas banget.'' sambungnya lagi dan hal itu di setujui oleh Langit.
''Em yank, kitakan sebentar lagi di pingit nih gak boleh ketemu.'' kata Langit. ''Gimana kalau besok kita ketemuan?'' tanyanya. ''Aku pengen seharian ngabisin waktu sama kamu sebelum kita sama sekali tak boleh berkomunikasi apalagi bertemu.'' sambungnya.
''Boleh.'' jawab Bintang.
''Yes...makasih sayang.'' ucap Langit.
__ADS_1
''Kembali kasih.'' sahut Bintang.
''O iya Bima gimana? mau kuliah di mana dia?'' tanya Langit yang teringat dengan calon adik iparnya.
''Mau kuliah di kampus yang sama dengan aku kayaknya.'' jawab Bintang.
''Yank, motor kamu itu dari pada gak kepakek mendingan kasih Bima deh.'' usul Langit. ''Lagian kamu juga sudah gak di ijinin buat pakek motor lagi.'' sambungnya.
''Tapi itukan motor kesayangan aku mas.'' sahut Bintang.
''Aku tau, tapi sayangkan kalau gak di pakek...nanti malah rusak loh.'' kata Langit.
''Makanya ijinin aku buat pakek motor itu biar gak cuma jadi pajangan doang.'' kata Bintang.
''No...no...no...jangan harap.'' tolak Langit dengan tegas. ''Sekali aja kamu ketahuan sampai berani mengendari motor itu sendiri...aku pastikan akan jadi abu itu motor.'' kata Langit lagi dengan penuh ancaman di dalamnya.
Perkataan Langit itu langsung membuat Bintang mengerucutkan bibirnya.
''Kenapa bibirnya kayak gitu? minta di cium...iya...'' goda Langit yang memang sengaja karena tau calon istrinya itu dalam mode merajuk.
''Tapo masa motor itu buat Bima.'' kata Bintang.
''Ya ampun yank...sama adik sendiri kok pelit gitu.'' kata Langit. ''Kamu kasih motornya ke Bima, nanti setelah kita nikah...aku bakal langsung beliin kamu mobil untuk transportasi kamu jika mau kemana-mana.'' imbuhnya.
''Beneran ya? janji...awas kalau bohong.'' kata Bintang.
__ADS_1
''Sayang...sayang...kapan aku pernah bohong sama kamu.'' kata Langit ambil mengacak-acak rambut Bintang dengan sebelah tangannya.