Dari Kekasih Palsu Menjadi Paksu

Dari Kekasih Palsu Menjadi Paksu
Bab 43


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


Kini telah tiba saatnya di mana suara ijab Qabul itu akan di suarakan.


Dengan sangat mantap dan lantang Langit menyahut ucapan dari pria yang sebentar lagi akan menjadi ayah mertuanya itu hingga terdengar kata ''Sah'' dari seluruh tamu yang hadir di sana.


Mas kawin yang di sebutkan oleh Langit membuat yang ada di sana geleng-geleng kepala.


Karena pasalnya Langit memberikan mas kawin yang sangat fantastis untuk sang pujaan hati.


''Ayo sayang, sudah saatnya kita keluar.'' kata ibu yang menjemput sang putri di dalam kamar.

__ADS_1


''Ya ampun menantu mami cantik sekali.'' puji mami Selin yang datang bersama besannya.


Pujian tersebut langsung membuat Bintang tersipu malu, terbukti dengan pipinya yang sudah merona merah saat ini.


Bintang berjalan keluar dengan di gandeng oleh ibu dan maminya serta di belakangnya ada Heni dan Resa yang berjalan mengikuti bak seorang dayang.


Mendengar suara riuh para tamu yang memuji kecantikan sang mempelai perempuan, memuat Langit langsung menolehkan kepalanya...dirinya sampai diam tak bergeming melihat wanita yang kini sudah resmi berstatus sebagai istrinya itu.


Bintang dan Langit kemudian menandatangani dokumen-dokumen yang dibutuhkan dari pihak KUA, baru setalah itulah mereka saling memasangkan cincin pernikahan di jari manis pasangannya.


''Kamu sangat cantik sayang.'' bisik Langit yang membuat pipi Bintang lagi-lagi bersemu.

__ADS_1


💕


''Menantuku, pada hari ini aku telah menikahkan dirimu dengan putri tercintaku, maka tanggung jawab untuk menafkahi melindungi dan membelanya ada pada dirimu sekarang. Engkau harus tahu bahwa aku selalu mencintai dan menyayanginya seumur hidupku, kendati ia telah menjadi istrimu, selamanya ia tetap perempuan tercintaku. Maka pada hari ini aku ingin menyampaikan beberapa pesan kepadamu termasuk pesan dari ibu putriku.'' kata ayah Boby yang duduk berdampingan bersama sang istri.


''Kami telah menerima dirimu sebagai menantu kami, sebagai belahan jiwa dan kekasih hati putri kami, sebagai anggota dari keluarga besar kami. Ketahuilah, selama putriku hidup bersama kami, bahkan sejak masih dalam kandungan, kami telah mencintainya, kami telah menjaga, melindungi dan menghargainya, setelah ia lahir hingga dewasa kami selalu mendampinginya, mendidiknya, menjaganya dan menyayanginya dengan sepenuh jiwa. Seumur hidup, kami tidak pernah menyakitinya, melukainya, menyusahkannya, terlebih menelantarkannya. Karena kami asuh ia dengan segenap jiwa raga, kami rawat dengan sepenuh tanggung jawab dan doa, kami lindungi dari berbagai hal yang bisa mendatangkan mudarat baginya, kami jaga dirinya dengan sepenuh cinta, maka kami tidak rela siapapun menyakitinya, melukainya, dan membuatnya sengsara...termasuk kamu menantuku.'' kata ayah Boby berhenti sejenak untuk menghirup napas guna menetralkan dadanya yang sudah terasa sesak. ''Kami tidak rela jika kamu menyia-nyiakannya, membuatnya menderita atau membuatnya berduka. Jangan pernah sekali-kali berlaku keras dan kasar kepadanya, karena kami tak pernah melakukannya. Jangan pernah membentak dan bertindak galak kepadanya, karena kami tak pernah mencontohkannya. Jangan pernah bertindak zalim kepadanya, karena kami pun tak pernah menzaliminya. Kami mengerti putri kami memiliki kekurangan dan kelemahan sebagaimana dirimu pun pasti memilikinya, maka tutupilah kekurangan dan kelemahannya jangan pernah engkau menyebarkannya, didik dan nasehati dengan kelembutan, ajaklah menggapai ridho Allah, bimbing tangannya menggapai surga bersama, hiasi hidup kalian dengan taqwa, raihlah keberkahan bukan kemegahan dan kemewahan dunia semata.'' kata ayah Boby lagi dengan suara yang sudah bergetar saat ini, bagaimanapun ini adalah kali pertama juga terakhir kalinya dia melepas sang putri untuk menikah dan merajut rumah tangga.


Ibu Nanda yang mengerti dengan perasan ayah Boby pun menggenggam dengan erat tangan suaminya itu dengan maksud untuk memberikan kekuatan.


''Hufh...Jika suatu hari nanti engkau tak lagi mencintainya, jangan katakan padanya, karena itu akan sangat menyakiti dan melukai hatinya, katakan saja pada kami dan kami akan datang menjemputnya sebagaimana hari ini kami melepasnya untuk hidup bersamamu, maka apabila suatu hari nanti kamu tidak lagi bisa merawat dan menghargai dirinya kami yang akan mengambil kembali dia darimu. Engkau harus tahu kami selalu menyediakan cinta untuknya, seumur hidup kami, sepanjang usia kami, selalu ada cinta untuk putri kami, selalu ada doa untuk putri kami.'' lanjut ayah yang sudah meneteskan air matanya.


Jangan di tanya bagaimana Bintang saat ini, dirinya pun sudah berlinangan air mata dari tadi.

__ADS_1


''Saya tidak bisa berjanji ayah, ibu...namun saya akan berusaha sebisa mungkin untuk terus melindungi serta menyayangi Bintang sepenuh hati saya selamanya dan saya akan membuktikan hal itu.'' jawab Langit dengan mantap. ''Jika di kemudian hari ada segala tindak tanduk saya yang tak berkenan sebagai seorang suami dari putri ayah dan ibu, maka saya sangat berharap...ayah dan ibu dapat memberi tahu serta menegur menantumu ini.'' sambungannya lagi.


Setelah itu acara sungkeman pun di mulai dan di lanjutkan dengan ucapan selamat dari para tamu undangan yang hadir pada pagi hari ini.


__ADS_2