
❤️ Happy Reading ❤️
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, hingga kini Bintang yang notabene seorang mahasiswa sedang duduk di hadapan dosen pembimbingnya untuk ini skripsi.
Meskipun yang menguji salah satunya adalah suaminya, tetap saja Bintang merasa gugup serta takut kalau dirinya tak lulus sehingga tak bisa mengikuti wisuda angkatan ini.
"Khem...istri sendiri nih." goda Marsel yang berbicara pelan di dekat Langit. "Ingat jangan sampai pilih kasih." sambungnya lagi menggoda sang sahabat.
"CK, berisik." kata Langit.
Padahal dari semalam...istrinya itu sudah mewanti-wanti untuk tak memberinya pertanyaan yang begitu sulit, untuk ia jawab, kalau tidak pasti hukuman pemotongan jatah di ranjang akan di lakukannya.
Sementara kedua dosen yang saling bersahabat itu berbincang dengan lirih, keringat dingin justru sudah mulai keluar di kening Bintang.
Dia begitu gugup dan tegang bahkan rasanya seperti sedang berada di antara hidup dan mati saja.
"Santai Bi, santai...tenang...tenang..." gumam Bintang dalam hati sambil mengatur nafasnya.
Satu persatu pertanyaan pun mulai di layangkan dan Bintang pun dengan begitu lancar menjawabnya sehingga dia pun di nyatakan lulus.
Cklek
__ADS_1
"Bagaimana Bi?" berondong Resa dan Heni begitu melihat Bintang keluar dari ruang sidang.
"Huh..."
"Gak apa-apa Bi, yang penting kamu sudah berusaha dengan baik...kalau hasilnya tak sesuai ekspektasi, kan masih bisa ikut lagi angkatan depan." kata Resa sambil mengusap bahu Bintang.
"Gak mau." sahut Bintang dengan wajah yang sudah cemberut. "Karena aku lulus...yeach..." seru Bintang dengan wajah cerianya.
"Sialan...aku kita kamu gak lulus, habis keluar dengan muka kusut gitu." kata Resa.
"Ya gak mungkin dong gak lulus, orang pengujinya suami sendiri." kata Heni. "Tapi ngomong-ngomong aku penasaran, kenapa tadi muka kamu murung gitu?" tanya Heni.
"Sesibuk apapun nanti kita usahain untuk saling menyempatkan waktu ya...walau hanya sekedar makan ataupun hangout bareng." kata Resa.
"Iya dong itu sudah pasti karena kita..." kata Heni.
"Sahabat selamanya." seru mereka bertiga bersamaan.
"Aku nantinya pasti bakal kangen banget sama kalian.'' kata Bintang dengan memeluk kedua sahabatnya.
''Kami pun sama Bi." sahut Heni.
__ADS_1
"Tapi kayaknya kita tetap akan sering ketemu deh, mengingat para pria kita itu sahabatan." kata Resa.
''Bener banget." sahut Bintang.
Aryo yang mulanya hanya kenal antar sesama pengusaha dengan Langit dan yang lainnya, namun dengan seiring bersamanya waktu...sering berjumpa, jalan bareng membuat Aryo dan Langit serta Dio,Marsel juga Aris menjadi bersahabat saat ini sama seperti para wanita mereka.
"Makan yuk...laper ni." ajak Bintang. "Aku yang teraktir." sambungannya lagi.
"Cuslah...yuk." sahut Resa. "Eh tapi sebelumnya...ini untuk zayeng..." kata Resa menyerahkan satu buket bunga yang ada replika uangnya pada bintang.
"Terimakasih zayeng." ucap Bintang.
"Ini dari aku bestie." kata Heni dengan menyerahkan barang yang hampir serupa hanya beda warna saja.
"Terimakasih bestie." ucap Bintang. "Harusnya kalian gak perlu repot-repot kayak gini, dengan adanya kalian disini...ngasih support sama aku itu aja sudah lebih dari cukup." kata Bintang.
"Repot apanya, tak ada istilah repot kalau untuk sesama sahabat." sahut Resa.
"Kalian memang sahabat terbaik." puji Bintang.
"Kamu juga." kata Resa dan Heni berbarengan.
__ADS_1