
****
Denia dan Steven berjalan menuju rumah mereka sambil memakan es yang dibeli Steven dari cafe tempat Denia bekerja.
"Anggap saja es ini pengganti tenaga ku tadi" kata Steven dengan bercanda.
Denia hanya tersenyum sambil mengangguk mendengar perkataan Steven tersebut. dia setuju dengan ide Steven. Perjalanan kerumah mereka menjadi tak terasa karena bercerita hingga akhirnya mereka tiba di rumah mereka yang letaknya sangat berdekatan.
Steven menyuruh Denia untuk masuk terlebih dahulu kedalam rumahnya. Denia tak bisa menolak perintah Steven tersebut dan langsung melangkahkan kakinya kerumahnya tanpa mengucapkan salam perpisahan pada Steven.
"Sampai jumpa besok ya" kata Steven mengucapkan salam. Denia membalikkan badan melihat Steven sambil tersenyum kemudian masuk kerumahnya setelah dia membuka pintunya karena pintunya memang dikunci Denia sebelum berangkat kerja tadi. Selain itu adiknya juga belum pulang. Steven juga langsung masuk kedalam rumahnya setelah memastikan Denia masuk. Didalam rumah, Denia duduk dikursi tamu menunggu kedatangan adik semata wayangnya. dia merasa panik dan khawatir karena sudah pukul 00.30 wib, namun adiknya belum pulang juga. Denia merasa sudah mengantuk namun tidak bisa tidur karena harus menunggu adiknya pulang. dia pun memutuskan untuk mencuci mukanya agar tidak mengantuk. Jam sudah menunjukkan pukul 02.30 wib, namun Delia juga belum pulang. Denia merasa sangat mengantuk dan dia mencoba melawan kantuknya dengan menonton televisi. Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 wib, Denia tidak bisa lagi melawan rasa kantuknya karena besok juga dirinya harus bekerja. Akhirnya dia pun tertidur dikursi. Jam menunjukkan pukul 05.00 wib pagi, Delia baru pulang dengan keadaan mabuk diantar sahabat-sahabatnya.
"sampai jumpa" kata Delia sambil melambaikan tangannya kepada sahabatnya, pandangannya pun sudah mulai berkunang-kunang. Matanya sudah terasa berat, badannya sudah tak seimbang dan hampir terjatuh. Ternyata Steven mendengar suara Delia dan sahabatnya yang berisik tersebut. Steven mengintip dari kaca jendelanya, untuk memastikan apa yang terjadi diluar rumahnya. Steven yang melihat Delia hanya bisa memandang saja, tak berani mencampuri urusan keluarga orang lain, meskipun sebenarnya dia juga tidak tega melihat Denia sedih karena perbuatan adik semata wayangnya itu. Delia berjalan kerumah dengan sempoyongan. dia mengetuk pintu rumahnya, Denia tak mendengar suara ketukan pintu karena sudah tertidur pulas. Delia semakin marah meskipun dia sedang dalam keadaan mabuk. dia semakin keras mengetuk pintu. Steven yang mendengar kejadian tersebut langsung keluar dari rumahnya. Delia melihat kearah Steven dengan samar-samar.
"Oh, kamu tetangga baru, hai"kata Delia dengan setengah sadar.
Steven hanya diam melihat tingkah Delia tersebut, dia menahan kedua lengan Delia yang hampir terjatuh
"kamu tampan juga, apa kamu pacar kakakku?" kata Delia dengan setengah sadar. Aroma alkohol dari mulutnya sangat terasa, sehingga Steven memalingkan wajahnya dari Delia.
"Sadarkan dirimu"kata Steven
Delia tertawa mendengar perkataan Steven tersebut. dia mengatakan kalau kakaknya saja tidak bisa menghentikannya apalagi Steven yang bukan siapa-siapa. Delia akhirnya terjatuh dipelukan Steven karena sudah mabuk berat dan tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Ah, menyusahkan saja"kata Steven.
Steven mencoba mengetuk pintu rumah Denia namun tak ada respons dari dalam. Akhirnya Steven membawa Delia kedalam rumahnya karena menganggap kalau Denia sudah tidur, dia merasa tak tega membangunkan Denia. Pukul 06.30 wib, Denia tersadar dari tidurnya dan langsung memeriksa keberadaan adiknya sudah pulang kerumah atau belum. dia sangat panik karena tak melihat adiknya didalam rumah. dia membuka pintu rumahnya mencari adiknya dan menduga-duga kalau adiknya mabuk lagi dan tidur diluar. Namun dia tak menemukannya. dia pun merasa panik karena tak menemukan Delia dan langsung mengambil ponselnya untuk menelpon adiknya. Steven melihat ponsel Delia berdering yang kebetulan diletakkan dimeja oleh Steven karena Delia tadi memegangnya dalam keadaan mabuk. Steven melihat panggilan masuk dari Denia. dia langsung melangkah keluar dari rumahnya tanpa mengangkat panghilan masuk, agar tak mengganggu Delia yang masih tertidur disofa rumahnya. Steven melangkah masuk kedalam rumah Denia. Denia tak menyadari akan kedatangan Steven karena dia sangat panik memikirkan adiknya ditambah ponsel adiknya juga tak diangkat. Steven menepuk pundak Denia dan membuat Denia histeris karena terkejut.
"Hi" kata Steven tanpa bersalah karena membuat Denia terkejut.
"Kamu?, mengapa kamu kesini?" kata Denia setelah melihat orang didepannya adalah Steven.
"Aku kesini karena kamu menelpon" kata Steven
"Aku?, menelpon kamu?" tanya Denia terheran-heran karena dia merasa kalau dirinya tidak menelpon steven bahkan dia tak punya nomor Steven.
"Hmmm"kata Steven sambil mengangguk.
"Apa itu artinya kamu mau nomorku?" kata Steven bercanda. Denia semakin terheran-heran dengan perkataan Steven. dia tak mengerti mengapa Steven tiba-tiba muncul dirumahnya dan mengatakan hal yang tak masuk akal padanya.
"Hei, mengapa kamu begitu serius?" gurau Steven setelah melihat reaksi Denia yang seperti dikejar penjahat.
"Sebenarnya mengapa kamu kesini?, aku lagi tidak punya waktu untuk meladeni candaan kamu" kata Denia sambil mencoba kembali menghubungi Delia.
"Halo" kata Steven mengangkat ponsel milik Delia.
Denia merasa terkejut melihat ponsel adiknya ada pada Steven.
__ADS_1
"Bagaimana ponsel adikku bisa ada padamu?"tanya Denia dengan heran.
"Mungkin berjalan" kata Steven dengan bercanda.
"Jangan bercanda, katakan dengan benar" kata Denia yang mulai merasa panik dengan kondisi adiknya.
"Baiklah, aku akan mengatakan sebenarnya. Adik kamu ada dirumahku"kata Steven. Denia yang mendengar perkataan Steven tersebut sangat terkejut, pikirannya ke mana-mana. dia langsung memukuli Steven karena takut kalau Steven akan berbuat jahat pada Delia.
"Tenangkan diri kamu, dia baik-baik saja" kata Steven. dia pun menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Kalau dirinya sudah mengetuk pintu berulang-ulang tetapi Denia tak membukanya sehingga dia memutuskan untuk membawa Delia kerumahnya. Denia yang mendengar perkataan Denia merasa lega sekaligus malu akan perbuatannya barusan pada Steven.
"Terima kasih dan saya minta maaf karena sudah salah paham" kata Denia.
"Emosi kamu selalu meledak-ledak padaku"kata Steven bercanda.
Denia dan Steven mendatangi kerumah Steven untuk melihat Delia. Mereka mendapatkan Delia masih tertidur pulas disofa. Denia mencoba membangunkan adiknya tersebut karena Delia harus sekolah. Delia tak mau saat dibangunkan oleh kakaknya. dia masih melanjutkan tidurnya. Denia mencoba membangunkan Delia lagi. Namun Delia tak mau juga. Delia pun marah pada kakaknya tersebut karena seenaknya membangunkan dirinya, dia mendorong Denia sampai terjatuh dilantai.
Steven yang melihat kejadian tersebut langsung membangunkan Delia dengan paksa dan mengatakan kalau Delia sedang tidur dirumahnya. Delia sangat terkejut dengan perkataan Steven tersebut.
dia masih mengantuk namun dia langsung melotot karena tak menyadari apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa dia bisa sampai tidur dirumah orang bukan dirumahnya sendiri. Delia langsung bangkit dari tidurnya dan melihat seluruh tubuhnya apakah ada terjadi sesuatu atau tidak pada dirinya.
****
Bersambung...
__ADS_1