
Ada rasa cemburu di hati Jenita, ketika ia melihat tawa dari Britsh dan Denia. Dalam hati kecilnya, dia juga ingin mendapatkan kesempatan seperti yang di terima Denia saat ini. Jenita melangkah kembali ke tempat awal, yaitu ruangan Cleaning servis.
Langkah kaki Jenita terasa berat, kedua tangannya di kepal kuat, dan pandangannya kosong. Meski dia sendiri tidak mengetahui apa arti dari tawa Britsh dan Denia tadi. Yang dilihatnya hanya kebahagiaan di wajah keduanya.
Jenita semakin mempercepat langkahnya karena merasa marah.
****
Denia menyadari kalau Britsh sedang memperhatikannya tertawa. dia pun menoleh ke arah Britsh dengan canggung. Britsh mengalihkan pandangannya ke arah lain, agar Denia tidak merasa canggung padanya.
"Baiklah sudah waktunya kamu untuk pulang"kata Britsh sembari melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 4 sore.
"Hah?"tanya Denia tidak percaya. Jam kerjanya lebih cepat daripada saat dia bekerja di bagian cleaning servis.
"Iya, kamu sudah boleh pulang. Anggap saja saya berbaik hati karena ini hari pertama kamu sebagai asisten pribadi saya" kata Britsh sembari tersenyum.
Lagi lagi Britsh tersenyum dengan manisnya, membuat para kaum hawa terpesona jika melihatnya. Tidak heran semua karyawati di Perusahaan sangat mengaguminya. Meski sedikit galak pada kawryawannya, Britsh memiliki wajah yang tampan.
Denia dengan perasaan ragu-ragu menyetujui permintaan Britsh, dia takut kalau Britsh hanya akan mengerjainya lagi. Tetapi ternyata kali ini tidak, karena Britsh serius dengan ucapannya, dan kembali lagi menyuruh Denia untuk pulang.
"Atau kamu mau ku antar?"tanya Britsh bercanda. Sehingga membuat Denia benar-benar pergi meninggalkan ruang kerja Britsh. dia sendiri juga tidak ingin kalau sampai Britsh mengantarnya pulang. Denia membungkukkan badannya memberi hormat pad Britsh dengan tergesa-gesa kemudian berbalik. Britsh hanya tersenyum.
*****
Malam hari di cafe X.
Denia menceritakan mengenai perubahan jabatannya di Perusahaan Sentosa grup kepada Nindy. Steven juga berada di cafe tersebut, namun dia hanya sebagai pendengar di antara cerita Denia dan Nindy.
"Kamu di pindahkan menjadi asisten khusus?"tanya Nindy dengan ekspresi tidak percaya. dia belum pernah mendengar jabatan seperti itu di perusahaan mana pun.
"Hmmm"kata Denia mengangguk.
__ADS_1
"Sudah ku bilang, dia ada maksud lain padamu. Jangan terlalu dekat padanya"kata Steven dengan kesal.
"Issshhhh. Kamu bisa diam tidak sich?" ucap Nindy.
"Entahlah, aku merasa tidak enak pada karyawan lain. Pasti mereka membicarakanku di belakang ku seharian ini. Betapa beruntungnya gadis itu. Atau malah mengutukku dengan sumpah serapah mereka" kata Denia dengan nada parau.
"Jangan berfikiran negatif, anggap saja dewi fortuner sedang berpihak padamu saat ini" kata Nindy memberikan dukungan penuh pada Denia. Berbeda dengan Steven, ekspresinya sudah semakin kesal. dia menjulurkan lidahnya untuk menirukan ucapan Denia.
"Jangan terlalu percaya padanya. Tidak ada di dunia ini yang serba mudah"kata Steven memberi peringatan, yang membuat Denia berpikir kalau omongan Steven ada benarnya juga.
"Jangan terlalu ditanggapi ucapannya"kata Nindy memberi saran pada Denia.
Denia hanya tersenyum pada Nindy dan masih memikirkan ucapan Steven padanya. Ia juga tidak mengerti mengapa sepertinya Steven tidak suka jika dirinya dekat dengan Britsh.
*****
Di dalam rumah Delia tampak gelisah dengan kejadian tadi malam. dia baru pulang ke rumahnya malam ini dan duduk di kursi ruang tamu. Kejadian tadi malam memang cukup membuat dia gelisah dan menjadi fikirannya, itulah sebabnya dia tidak masuk sekolah hari ini. Dirinya takut kalau sampai hamil. Dia tidak ingin punya anak di usianya yang masih terbilang muda.
Denia pun melangkah masuk untuk memeriksa adiknya.
"Kamu mengapa?"tanya Denia dengan panik. Bagaimana dia tidak panik, dia melihat wajah Delia gelisah.
"Tidak usah peduli padaku, urus saja urusanmu"kata Delia sembari melangkah masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu.
Denia mengejar Delia sampai depan pintu kamar.
"Buka Del, jangan kunci pintunya. Ceritakan ada apa?"tanya Denia yang semakin panik.
"Pergi sana, jangan urusi hidupku!"bentak Delia.
Denia pun menuruti keinginan adiknya tersebut, meski dalam hatinya sangat mengkhawatirkan adiknya. Langkahnya kembali ke kursi ruang tamu untuk mengambil sling bag nya, kemudian menuju kamar.
__ADS_1
Seperti biasa, sebelum tidur Denia ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menyikat gigi. Setrlah dia selesai cuci muka dan menyikat giginya, Denia menggangi piyama tidur. Fikirannya masih pada adiknya, sebelum dia tidur, Grace lebih memilih untuk duduk di pinggiran kasurnya sembari bersandar ke tembok.
Sampai akhirnya Denia tidak bisa mengalahkan rasa kantuknya dan memilih untuk tidur. Lampu kamar pun dimatikan.
Keesokan harinya Denia bangun pukul 6 pagi, dan bersiap-siap untuk masak. Meski dia memiliki posisi baru dalam kerjanya, dia juga harus tetap menghemat dengan membawa bekal makanan dari rumah. Kali ini Denia membuat chicken katsu yang sudah di pelajarinya beberapa hari lalu dari buku resep.
Untuk masakan luar negeri, Denia memang suka membeli buku resep. Karena sesekali dia memasak masakan luar agar tidak bosan dengan menu yang itu-itu saja.
Setelah selesai masak Denia menyusun masakannya di meja makan sembari memeriksa jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi, namun Delia masih belum bangun juga.
"Delia bangun, sudah jam 7 lho, kamu harus sekolah"kata Denia dari depan pintu kamar Delia.
Delia membuka matanya sejenak, sebelum dia kembali memperbaiki tidurnya dengan menutup wajahnya dengan selimut. Delia merasa tidak ingin ke sekolah, di karenakan malu melihat Bram. sejak kemari Delia tidak ke sekolah juga karena tidak ingin melihat Bram.
"Dasar berengsek"kata Delia kesal memaki Bram.
Karena tidak asa balasan dari dalam, Denia membiarkan adiknya untuk tidur lagi.Kali ini Denia membiarkan Delia tidak masuk sekolah, karena ekspresi wajah Delia yang tak biasa tadi malam.
Denia memilih kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap berangkat kerja.
Setelah Denia telah bersiap-siap untuk kerja. Denia kembalj lagi ke kamar Delia.
"Delia bangun dek, apa kamu tidak sekolah?. Ya sudahlah kamu tidur saja, kakak berangkat kerja ya"kata Denia sembari melihat jam tangannya. dia tidak punya waktu lagi untuk membujuk adiknya itu.
Denia pagi ini memakai pakaian yang tidak biasa, mungkin karena dia pindah jabatan sebagai asisten pribadi Britsh, sehingga dia menyesuaikannya. Denia memakai stelan blezer, rok berwarna hitam, serta kemeja berwarna putih di dalam. Rambutnya di ikat satu ke atas, sehingga rambutnya bergerak kesana kemari ketika dia berjalan.
*****
**Bersambung...
Jangan lupa like dan commentnya ya readers 🥰**
__ADS_1