Denia Aku Sangat Mencintaimu

Denia Aku Sangat Mencintaimu
Episode 23 - Perasaan Aneh


__ADS_3

Sembari mengendarai sepeda motornya, Steven melihat ke bagian perutnya. Pelukan Denia di lingkaran pinggangnya masih terasa hangat membuat Steven merasa bergetar. Tangannya menyentuh lingkar pinggang hingga perutnya seolah merasakan lengan Denia di sana.


"Ini sangat aneh"kata Steven sambil tersenyum tipis. Ya begitulah yang di rasakan Steven, meski banyak wanita yang dikencaninya sebeljmnya, namun hanya Denia lah yang dirasanya berbeda dan dapat membuatnya merasa hangat.


****


Denia berjalan di sekitar gedung Hotel Sentosa, dia hendak menuju ruangan Cleaning servis. Dalam perjalanannya, Britsh melihat Denia dari kejauhan. Ada perasaan berbeda yang di rasakannya setelah Denia ke ruang kerjanya saat itu. Perkataan Denia kembali terngiang-ngiang di telinganya.


"Meski bapak sangat mencintainya, namun bapak tidak bisa terus-terusan hidup dengan mencintai mereka yang sudah meninggal, karena dia juga tidak ingin kalau bapak terlarut dalam kesedihan terus-menerus. Aku juga kehilangan kedua orang tua, namun aku harus tetap mempertahankan hidupku, tidak terus larut dalam kesedihan. Mereka juga akan merasa sedih ketika melihat kita bersedih"kata Denia dalam ingatannya.


Denia memberikan salam sambil membungkukkan kepalanya pada Britsh ketika mereka berpapasan. Britsh membalas salam Denia tersebut dengan senyuman kecil sambil menganggukkan kepalanya.


"Dia benar, aku juga harus terus hidup agar dia juga tidak bersedih di sana"kata Britsh dalam hati setelah langkahnya mendekati Denia.


Langkahnya yang cepat karena kaki panjangnya membuatnya cepat menghilang dari pandangan Denia. Denia membalikkan kembali badannya, ingin melihat Britsh, namun tidak menemukannya. dia pun melanjutkan langkahnya menuju ruang ganti.


*****


Hari ini, para pegawai kebersihan tampak sedang sibuk mengerjakan tugas mereka masing-masing. Ada yang mengepel, ada yang menyapu, mengelap kotoran debu.Mulai dari kamar hotel sampai ke bagian luar gedung hotel.


Denia membawa alat kebersihannya setelah kembali dari kamar hotel yang telah dibersihkannya. Wajahnya terlihat lelah dan berkeringat. Kali ini dia tak bersama Jenita, karena Jenita sedang membersihkan ruangan lain di perintahkan ibu Selia.


****


Steven duduk di teras rumahnya, wajahnya terlihat bingung memikirkan bagaimana caranya dia akan mendapatkan uang, karena jujur saja dia belum pernah kekurangan uang atau tidak memegang uang selama hidupnya."Apa aku terima saja tawaran mama?"gumamnya berkompromi dengan hatinya sendiri. dia beranjak lagi dari tempat duduknya dan menggigit pelan jari telunjuknya dengan giginya. Matanya tiba-tiba tertuju pasa sepeda motornya.


Ada rencana dalam fikirannya untuk menjual sepeda motor tersebut, namun dia membatalkan niatnya tersebut. Karena sepeda motor tersebut merupakan satu-satunya kendaraan yang dapat dia gunakan selama kabur dari rumahnya. Fikirannya sangat frustrasi sampai Denia pulang dari kerjanya. Steven melihat Denia dan langsung menghampirinya dengan sedikit gugup.

__ADS_1


"Kamu sudah pulang?"kata Steven memulai percakapan.


"Iya"kata Denia datar namun terdengar lembut.


"Ada yang ingin aku katakan"kata Steven dengan wajah sedikit serius. Denia diam sejenak melihat ekspresi di wajah Steven yang serius. dia merasa kalau Steven ingin membicarakan hal penting dengannya.


"Baiklah, katakan sekarang. Sepertinya sejak pagi tadi kamu mengatakan ada hal yang ingin kamu bicarakan denganku"kata Denia memberikan kesempatan pada Steven.


"Sepertinya aku membutuhkan pekerjaan"kata Steven. dia sangat malu mengatakan hal tersebut sampai wajahnya memerah. Karena selama dia hidup selama 31 tahun baru kali ini dirinya membutuhkan uang dan pekerjaan. Untungnya Denia tak memperhatikan ekspresi wajah Steven.


"Benar juga, sejak dia datang kemari, dia sama sekali belum bekerja"gumam Denia dalam hatinya. Tak pernah difikirkan Denia asal keluarga Steven. dia hanya tahu kalau Steven merantau untuk mencari kerja.


"Baiklah, aku akan coba bicara pada manajer cafe, siapa tahu membutuhkan karyawan lagi"kata Denia.


"Bilang pada manajer kamu agar memberiku gaji yang tinggi, karena wajahku tampan"kata Steven bercanda. Denia melirik ke arah Steven dengan ekspresi kesal, hampir membuatnya muntah.


*****


Malam hari, Denia dan Steven tiba di cafe. Nindy yang saat ini sudah tiba di cafe terlebih dahulu karena ada keperluan mendadak sebelum berangkat ke cafe, sehingga tidak bisa berangkat bersama Denia.


"mengapa dia ikut kesini?"bisik Nindy sambil memberikan kode pada Denia.


"Dia ingin gabung di sini" bisik Denia kembali pada Nindy. Denia mengajak Steven ke ruang manajer, untuk mengenalkannya pada manajer cafe. manajer cafe setuju menerima Steven sebagai karyawannya dan mulai bekerja saat ini juga. Steven kembali ke cafe dengan memakai pakaian karyawan.


Steven menatap dirinya sendiri di depan kaca dengan pakaian barunya. Seumur hidupnya dia belum pernah bekerja untuk mendapatkan uang. Kalau dia butuh uang dia tinggal minta dari ibunya.


tetapi bagaimanapun aku harus bsrusaha semaksimal mungkin, begitulah batin Steven. dia tidak ingin kembali ke rumah dan bergabung dengan grup Sentosa. Awalnya dia hanya ingin bersenang-senang, namun tidak mengetahui akan berakhir dengan pemblokiran kartu kredit oleh ibunya.

__ADS_1


"Dia mengapa?"tanya Nindy pada Denia karena melihat Steven di depan cermin sudah 15 menit. Untungnya tidak ada pembeli yang datang.


"Mungkin dia memiliki penyakit yang di sebut narsis" kata Denia meledek Steven. "Dia kesini mau bekerja atau becermin?" gumam Denia dengan nada pelan, Nindy melihat ke arah Denia karena mendengar Denia berbicara namun samar-samar di telinganya sehingga dia tak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Denia.


****


Denia, Nindy dan Steven berjalan pulang. Steven berjalan di depan Nindy dan Denia. dia memukul bahu kanannya dengan tangan kirinya. Denia yang melihat tingkah Steven merasa kesal, seolah-olah Steven bekerja sangat keras. dia tidak mengetahui kalau ini pertama kalinya Steven bekerja untuk orang.


"Apa dia pikir hanya dia yang capai?"tanya Denia pada dirinya sendiri.


"Nindy melirik ke arah Denia setelah melihat Steven memukul pundaknya. Denia hanya menaikkan kedua bahunya menandakan kalau dia tidak tahu.


Nindy pun berpamitan pada Denia dan Steven setelah tiba di gang rumahnya.


"Aku diluan ya"kata Nindy melambaikan tangannya sembari melangkah.


Denia melambaikan tangannya, sementara Steven hanya melihat dengan kedua lengannya di Kantongnya. Sekarang tinggallah mereka berdua yang berjalan. Steven kembali memukul pundaknya dan menggoyangkan kepalanya untuk merealexkan lehernya yang tegang.


"Kamu bertingkah, seperti kamu melakukan pekerjaan berat saja"kata Denia mengomentari Steven. Langkah kaki Steven berhenti setelah mendengar perkataannya Denia kemudian berjalan mendekati Denia."Mau apa kamu?"tanya Denia ketakutan. Steven hanya diam menatap Denia kemudian melangkah pergi tanpa mengatakan apapun sehingga membuat Denia merasa kikuk.


"mengapa dengannya?" tanya Denia dengan kesal.


"Cepatlah, aku lelah"kata Steven sembari melangkah di depan Denia.


******


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2