Denia Aku Sangat Mencintaimu

Denia Aku Sangat Mencintaimu
Episode 49 - Kabur dari rumah


__ADS_3

"Kau... Mengapa kau yang menjemputku?"


"Aku diperintah oleh tuan Davidson untuk menjemput nona".


"Kenapa harus kamu yang disuruh papa untuk menjemputku?"


"Saya kurang tahu, nona. Nona bisa menelpon tuan Davidson untuk menanyakannya".


Kayla hanya diam dan kesal, karena yang menjemputnya adalah Smith, pengawal pribadi kesayangan papanya. Dalam hatinya beranggapan jika percuma saja menanyakan pada papanya, hal tersebut tidak akan mengubah fikiran papanya.


"Ya sudah, jalan saja" jawab Kayla jutek.


Wajahnya tampak cemberut di dalam mobil, ia hanya melihat jalan raya dan bangunan yang ada di samping kaca mobilnya.


Smith sesekali memperhatikan Kayla yang di belakang melalui kaca mobil depan.


"Kenapa nona ke sana sendiri?"


Kayla menatap Smith yang memandangnya dari kaca dengan pandangan yang jutet.


"Bukan urusan kamu, jalankan saja mobilnya. Jangan lihat kebelakang".


Smith pun kembali fokus menyetir, tanpa bertanya lagi pada Kayla. Karena percuma saja jika bertanya, Kayla tidak akan menjawabnya.


***


Dua bulan berlalu, sejak kejadian saat itu. Delia tampak kebingungan di dalam rumahnya. Ia mencoba menghubungi seseorang, namun tidak ada jawaban. Delia kembali menghubungi, namjn tidak ada jawaban juga. Akhirnya Delia merasa sangat kesal sampai membanting ponselnya ke lantai. Denia merasa terkejut dengan sikap adiknya tersebut.


Hari ini, Denia tidak masuk kerja karena libur. Ia memilih untuk memasak di dapur. Setelah mendengar suara dari ruang tamu, Denia menghentikan aktivitasnya untuk memeriksa apa yang terjadi.


"Ada apa Delia"tanya Denia.


"Bukan urusan kakak"jawab Delia datar dan mencoba mendorong kakaknya, agar kembali memasak.


Denia melihat ponsel Delia sudah hancur berserakan di lantai, membuatnya menjadi tidak tenang, apalagi Delia mendadak izin tidak masuk sekolah hari ini.


"Ada apa sebenarnya Delia?"


"Sudah ku bilang, bukan urusan kakak, mendingan kakak kembali ke dapur"kata Delia sembari mendorong kakaknya kembali.


"Tidak, jawab kakak Delia. Ada apa sebenarnya?"kata Denia sembari memegang kedua tangan adiknya.


Delia hanya diam saja dengan emosi masih tampak di raut wajahnya. Ternyata Delia baru saja mencoba menghubungi Roy. Sahabatnya yang sudah menghamilinya, namun Roy tidak mengangkatnya. Sejak kehamilan Delia, ia tak pernah memberitahu kakaknya.


"Sudah ku bilang, bukan urusan kakak"

__ADS_1


"Bagaimana ini bukan urusan kakak?, kamu membantingkan ponselmu. Jawab kakak Delia, ada apa sebenarnya?". Denia terus mendesak Delia agar memberitahukan permasalahan yang dihadapinya.


Delia tetap tak ingin membeeitahukan permasalahannya, Delia melepas tangan Denia dan berlari keluar rumah.


Denia berusaha mengejar Delia, namun usahanya sia-sia. Meski Delia sedang hamil, namun ia lebih kencang untuk berlari dibandingkan dengan Denia.


Dalam perjalanannya, Delia berpapasan dengan Steven. Hanya saja Steven terlalu fokus pada perjalanannya, sehingga tak menyadari Delia melewatinya.


Setelah Steven tiba di rumahnya, ia melihat Denia sedang menangis di depan terasnya. Steven langsung menghampiri Denia dan mengajaknya untuk masuk.


Steven memngambil segelas air putih untuk Denia. Ia melihat ponsel berserakan di lantai rumah Denia. Setelah memberi segelas air minum pada Denia, barulah Denia sedikit tenang.


"Ada apa?, kenapa kamu menangis di depan tadi?, dan kenapa ponsel berserakan di sana?" ucap Stevwn sembari menunjuk jarinya ke arah ponsel yang masih berserakan.


"Delia pergi lagi, setelah membantingkan ponselnya"kata Denia.


"Apa?"


Barulah Steven menyadari jika orang yang berpapasan dengannya tadi adalah Delia. Ia tak menyangka jika itu asalah Delia, karena ini masih pagi, dan ia beranggapan jika Delia ke sekolah. Ada sedikit penyesalan di hati Steven, karena tak menyadari kalau Delia melewatinya tadi.


"Ada apa lagi?, bukannya seharusnya dia ke sekolah hari ini?"


"Dia tadi izin untuk tidak maauk, katanya lagi tidak enak badan. Memang pagi ini dia muntah".


Steven hanya diam saja, mendengarkan cerita Denia.


Delia merasa putus asa, dan merasa sudah kelelahan, ia pun memutuskan untuk menyewa kamar kecil untuk ditinggalinya. Ia tak ingin kakaknya mengetahui kehamilannya. Delia akhirnya mendapatkan sewa kamar yang murah. Dengan harga lima ratus ribu saja per bulan. Kebetulan ia memang memegang uang.


Delia masih dalam kebingungannya, karena ponselnya sudah rusak, ia tidak bisa menghubungi Roy.


"Kemana kamu, Roy" ucap Delia.


Delia kembali melihat perutnya yang mulai tampak membuncit, ia semakin khawatir. Ketakutannya semakin bertambah, karena ia takut anaknya lahir tanpa sosok seorang ayah.


****


Ponsel Denia berdering. Terlihat nama di layar ponselnya "Pak Britsh", Denia segera mengangkatnya.


"Halo, pak"


"Nia, apa kamu sedang sibuk?"


Denia hanya diam saja, tak menjawab pertanyaan dari Britsh sehingga membuat Britsh harus berulang kali memanggil namanya.


"Ada apa pak?"tanya Denia setelah sadar dengan panggilang Britsh.

__ADS_1


"Saya ingin bertemu kamu hari ini, apa kamu tidak sibuk?"


"Maaf, pak. Hari ini ada masalah pribadi, jadi saya tidak bisa menemui, Bapak"


"Apa aku bisa tahu masalah kamu?"


"Maaf, pak. Untuk saat ini saya belum bisa cerita ke bapak. Sekali lagi saya minta maaf ya pak"


"Tidak apa-apa. Apakah saya boleh ke rumah kamu?, siapa tahu kamu butuh teman"


"Tidak usah, pak. Saya tidak apa-apa".


"Baiklah, kalau ada perlu sesuatu, kabari ya"


"Baik, pak".


Britsh pun mengakhiri panggilannya, namun ia sedikit merasa bingung. Britsh merapatkan mulutnya dan menaikkan bahunya seolah merasa aneh dengan sikap Denia hari ini.


***


Malam harinya, Denia masuk kerja ke cafe. Hal tersebut tentu membuat Steven terkejut, namun tidak dengan Nindy. Nindy masih belum mengetahui kejadian hari ini.


"Kenapa kamu sudah masuk?"


Nindy merasa aneh dengan pertanyaan dari Steven.


"Memangnya kenapa?. Nia apa terjadi sesuatu?"tanya Nindy pada kedua rekan kerjanya tersebut.


"Apa Delia sudah kembali?"tanya Steven.


Lagi-lagi Nindy dibuat heran, dan menatap Steven.


"Ada apa lagi sih?"


"Delia pergi lagi dari rumah"jawab Denia.


"Hah?"tanya Nindy tak percaya.


"Kalau begitu kenapa kamu masuk kerja?, padahal tadi sudah ku bilang jangan masuk"ucap Steven.


"Aku tidak ingin bekerja, karena jika aku tidak bekerja, aku akan semakin kefikiran Delia"


Bukan karena Denia tak oerhatian pada Delia, hanya saja, jika ia terus kefikiran Delia, ia sendiri akan sakit. Dan, jika ia sakit tidak ada yang bisa mencari uang untuk kebutuhan mereka. Denia juga bukan tipe orang yang selalu meminta pada orang lain.


"Ya sudah, kamu ganti pakaian kamu dulu"kata Nindy. Kemana sebenarnya pergi anak itu" tambah Nindy dengan pelan.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2