
Nindi menepuk bahu Denia lembut, mencoba untuk menenangkan hati sahabatnya tersebut, meminta Denia untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Bagian SPP sekolah Delia menelpon dan mengatakan kalau Delia belum membayar uang SPP selama 6 bulan, dan kalau tidak di bayar dalam waktu 1 bulan, Delia tidak bisa ikut ujian bulan depan dan akan dikeluarkan dari sekolah" kata Denia sambil menangis.
Isak tangis Denia pun memenuhi isi ruangan rumahnya. Denia merasa sudah memberikan uang SPP tersebut pada Delia sampai bulan ini. Nindi merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Denia, namun dirinya juga tidak bisa membantu, karena gajinya juga untuk biaya pemgobatan ibunya yang sedang sakit. Ibu Indri, sudah lama mengidap penyakit ginjal, dan harus rutin kontrol ke dokter sekali sebulan.
******
"Dari mana aja kamu, jam segini baru pulang?"tanya Denia.
Denia menghadang Delia didepan pintu karena memang sudah menunggunya sejak tadi. Kedua tangannya di letakkannya menyilang di dadanya. Delia tak mengubris ucapan kakaknya tersebut dan berjalan masuk kerumah tanpa bersalah. Delia mencampakkan tasnya di kursi dan melangkah menuju ke dapur untuk mengambil minum.
"Kemana uang SPP yang sudah kakak berikan pada kamu?"
Wajah Delia berubah panik setelah pertanyaan kakaknya tersebut. Uang tersebut sudah dihabiskannya untuk bersenang-senang bersama temannya. Namun, Delia berbohong dan mengatakan kalau dirinya sudah membayarkannya ke sekolah, tanpa mengetahui apa yang terjadi hari ini.
" Tadi, bagian SPP kamu di sekolah menelpon kakak dan mengatakan kalau kamu belum membayar uang sekolah selama 6 bulan". Denia mendesak adiknya untuk menjawab ke mana uang itu dibuatnya. Mata Delia melotot karena tidak menyangka kalau bagian SPP akan menelpon kakaknya.
"Sudah kuhabiskan" jawab Delia dengan santainya. Delia melangkah menuju kamarnya, karena tidak ingin bicara lagi dengan Denia.
Denia mengikuti Delia sampai kekamarnya dan meminta penjelasan adiknya kembali ke mana uang tersebut digunakannya, karena Denia sudah tidak punya uang lagi untuk membayarnya.
Delia mengganti pakaiannya tanpa menghiraukan Denia yang sangat stres memikirkan persoalan itu.
"Kakak bayar aja pakai uang hasil penjualan rumah kita." kata Delia dengan santainya.
Denia menjelaskan kalau uang tersebut sudah tidak cukup untuk membayar uang SPP Delia selama 6 bulan. Delia pun mengatakan, kalau hal tersebut adalah alasan yang tepat buatnya untuk berhenti sekolah. Delia memang sudah lama berencana untuk tidak sekolah lagi, karena menurutnya sekolah itu hanya membuang waktu, uang, dan tenaga.
"Kakak juga kan dahulu berhenti kuliah, bedanya aku lebih cepat berhentinya" kata Delia
Denia tidak habis pikir dengan perkataan adik semata wayangnya tersebut. dia sudah mati-matian memperjuangkan adiknya agar bisa sekolah, dan tidak berakhir seperti dirinya.
Delia menarik tangan Denia, dan menarik Denia agar keluar dari kamarnya, kemudian mengunci pintunya.
*****
__ADS_1
Denia memeriksa buku tabungannya, untuk mengecek jumlah sisa tabungannya.
"Ini tidak cukup buat bayar SPP Delia". Denia kembali melihat buku tabungananya, untuk memastikan kembali nilai nominal yang tertera di dalamnya, berharap penulisan angka di buku rekeningnya salah. Namun, berapa kali pun Denia memeriksa buku rekeningmya, jumlahnya tidak berubah.
Huh.....
Denia menarik nafasnya panjang, otaknya berpikir bagaimana cara untuk mendapatkan sisa uang untuk melunasi SPP tersebut. Meskipun Denia kesal dengan perbuatan adiknya tersebut, namun dia tidak ingin adiknya sampai harus berhenti sekolah. Karena itu adalah janjinya kepada kedua orang tuanya.
Dalam perjalanannya menuju tempat kerjanya, Denia masih memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang tambahan. Matahari yang terik tidak terasa ditubuhnya, pandangannya juga tidak fokus. Sesekali kendaraan yang lewat hampir menabrak dan membentaknya dengan keras, karena hampir menyebabkan mereka kecelakaan.
Denia sampai disebuah perusahaaan tempatnya bekerja sebagai Cleaning servis. Seketika ide muncul dikepalanya untuk meminjam uang kepada bossnya. Namun niatnya terhenti setelah mendapat kabar dari pegawai yang lewat dari hadapannya, kalau perusahaan tersebut sedang mengalami kerugian, dan terpaksa harus mengurangi pegawainya minggu depan. Seorang lainnya berjalan dari hadapannya dan mengatakan pada dirinya sendiri agar dirinya tidak menjadi salah satu pegawai yang diPHK minggu depan.
Langkah Denia terasa berat dan lemas mengetahui kabar tersebut. Bukannya untuk meminjam uang, seharusnya Denia juga berdoa agar tidak termasuk menjadi salah satu pegawai yang di PHK.
Meski masih belum tahu siapa saja yang akan diPHK, Denia tetap melakukan tugasnya seperti biasanya. Denia meletakkan tas nya ke loker karyawan, dan mengambil peralatan bersih-bersihnya.
****
Saat jam istirahat kerja, Denia lebih memilih untuk melihat-lihat info tentang lowongan kerja dari ponselnya
Setelah selesai pekerjaanya dari cleaning servis, Denia melanjutkan perkerjaannya sebagai Part Time yaitu sebagai pegawai bayaran harian di sebuah cafe.
Denia berjalan menunduk tanpa memperhatikan langkahnya. Sebuah mobil yang melaju dengan kencang yang datang dari arah melaju kearah Denia tak bisa mengendalikan setir mobilnya, Tiba-tiba seseorang datang menarik tangan Denia tanpa disadari Denia apa yang sedang terjadi.
Denia merasa terkejut dengan perbuatan pria tersebut kepada dirinya.
"Siapa kamu?"tanya Denia dengan wajah ketakutan.
Bukan ketakutan karena mobil yang hampir menabraknya, namun ketakutan karena ada pria asing ada di hadapannya.
"Aku?, Aku Steven, orang yang baru saja menyelamatkan kamu dari maut". kata Steven
Denia tersadar kalau dirinya sudah berada ditengah jalan setelah melihat posisi mereka sekarang.
" Apa yang kamu fikirkan sampai tidak melihat jalan?" tanya Steven setelah melihat wajah Denia kebingungan
__ADS_1
"Saya meminta maaf akan kejadian hari ini, saya akan membayar kebaikan kamu nanti".
"Apa kamu pikir kita akan bertemu lagi?" canda Steven.
"Hah?" tanya Denia bingung.
Denia tersadar kalau dia hampir telat ke tempat kerjanya. Denia pun segera pamit dan mengatakan terima kasih telah menolongnya hari ini, kemudian berlari menuju tempat kerjanya.
"Sepertinya dia punya banyak masalah" kata Steven menyimpulkan sendiri, saat melihat raut wajah Denia tadi. Steven melangkah ke sepeda motor besarnya, yang diparkirnya dipinggir jalan. Kemudian mengendarainya dengan kecepatan tinggi, tidak lupa memakai helm dan sarung tangan.
****
Denia sudah mengganti pakaiannya dengan seragam karyawan, dan mulai melayani pelanggan yang datang untuk membeli. Nindi sudah lebih dahulu tiba dicafe melayani pelanggan. Nindi dan Denia bekerja bersama karena Nindi lah orang yang menyarankan kerja di sana saat Denia mencari kerja Part Time 4 bulan yang lalu.
"Apa kau sudah mendapat pekerjaan tambahan?" tanya Nindi yang mengetahui sahabatnya sedang membutuhkan pekerjaan sampingan.
"Belum". Wajah Denia tampak berubah murung meski tetap melayani pembeli yang datang padanya.
"Saya pesan Coffee Latte bukan Capucino" Bentak seorang pria yang sedang menunggu pesanannya. Denia segera meminta maaf kepada pembeli tersebut. Nindi yang melihat kejadian tersebut, langsung menggantikan Denia untuk mengganti pesanan pembeli tersebut.
Setelah Nindi memberi pesanan pembeli tersebut sesuai pesanannya, Nindi menanyakan pada Denia apa yang sebenarnya terjadi padanya.
"Apa terjadi sesuatu?, wajahmu kelihatan tidak baik" tanya Nindi
"Aku sedang memikirkan bagaimana cara mendapat pekerjaan baru untuk membayar SPP Delia"
Nindi mengerti, pasti berat bagi Denia untuk mencari pekerjaan baru di zaman sekarang ini yang serba sulit untuk mencari pekerjaan.
"Aku sekarang juga sedang ketakutan, kalau nama ku menjadi salah satu karyawan yang diPHK dari perusahaan tempatku bekerja" kata Denia.
Nindi terkejut mendengar perkataan sahabatnya dan memeluk Denia, untuk menenangkannya. Berharap bukan Denia yang menjadi salah satu karyawan, yang di PHK dari perusahaan tersebut.
*********
Bersambung...
__ADS_1