Denia Aku Sangat Mencintaimu

Denia Aku Sangat Mencintaimu
Episode 53 - Aku Baik-Baik Saja


__ADS_3

"Apa yang sedang kau lakukan?"tanya Denia.


Steven tersenyum tipis sembari menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.


"Aku hanya ingin melihat kamu, memastikan kamu dalam keadaan baik-baik saja".


"Aku baik-baik saja.


Steven menatap penampilan Denia yang sepertinya akan pergi ke suatu tempat, ia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan jam 9 pagi, itu tidak mungkin tujuan Denia ke kantor.


"Kamu mau kemana?"


"Aku mau ke makan Delia"


"Makam Delia?. Bukankah ini baru 2 hari sejak kematiannya?".


"Iya. Tapi aku sangat merindukannya, dan ada yang ingin aku sampaikan".


"Aku antar, ya".


Denia hanya diam, seolah menyetujui penawaran Steven. Dalam hitungan menit, Steven sudah menghampiri Denia yang berdiri di halaman rumahnya.


***


Steven dan Denia tiba di TPU. Mereka berjalan menuju tempat pemakaman Delia, dimana kedua orang tua mereka juga dimakamkan.


Denia tak kuasa menahan tangisnya. Ia memegang batu nisan yang bertuliskan nama adiknya itu.


"Sekarang tinggal kakak yang ada di dunia ini. Kakak kira kita bisa bersama-sama mencari pembunuh kedua orang tua kita".


Steven terbelalak, ia tak menyangka dengan apa yang baru saja di dengarnya. Ia baru tahu kalau kedua orang tua mereka telah dibunuh.


"Ternyata kedua orang tuanya dibunuh. Lalu siapa yang telah membunuh mereka?. Kasihan Denia, ia harus menanggung semuanya. Bahkan ia juga kehilangan adiknya sekarang"batin Steven.


Steven mencoba menenangkan Denia yang masih menangis di batu nisan adiknya. Steven memegang pundak Denia dan mengelusnya dengan lembut.


***


Setelah merasa lebih tenang, Steven dan Denia meninggalkan daerah TPU, dan singgah di sebuah taman yang lokasinya tak jauh dari pemakaman.


"Maaf aku tadi mendengar kamu bicara. Kamu bilang tadi, kedua orang tua kamu di bunuh?"


Denia menaikkan bahunya. Ia sendiri juga tak yakin dengan apa yang ia bicarakan. Hanya saja ia menduga.


"Aku juga masih bingung. Mereka dibunuh atau tidak. Tapi kecelakaan yang terjadi beberapa tahun lalu sangat janggal".


"Maksudnya?. Apa kamu melihat pembunuhnya di tempat kejadian?".


"Tidak. Hanya saja aku melihat seorang wanita berada disana saat kejadian. Aku juga tidak mengenal wanita itu".


"Wanita?"

__ADS_1


"Iya. Dia mendadak muncul, saat peristiwa itu terjadi".


"Kenapa kamu yakin, wanita itu telah membunuh kedua orang tuamu".


"Entahlah. Aku hanya menerka saja, dan masih mencari kebenarannya. Namun aku melihat rekaman di mobil ayahku hilang, serelah wanita itu muncul".


Steven menduga-duga, jika apa yang dikatakan oleh Denia masuk akal.


Denia memegang amplop di tangannya, sejak dari rumah tadi ia memang membawanya ke makam adiknya, dan Steven baru saja menyadarinya.


"Itu amplop apa?".


"Ini uang yang diminta oleh Delia dariku".


"Maksudnya?".


"Aku mengira jika Delia sangat tidak pengertian. Ia selalu meminta uangku. Ternyata ia menyimpan semua uang yang ia minta di dalam lemarinya".


"Benarkah?".


"Hmmm. Aku bahkan tak menyangka ia memikirkan ku. Aku merasa sangat menyesal. Sebagai kakak aku tidak pernah menemaninya".


"Kamu yang sabar, ya. Kamu kakak yang baik kok. Kamu sudah melakukan hal terbaik untuk Delia".


Denia menggelengkan kepalanya."Aku merasa aku bukan kakak yang baik. Seharusnya aku bisa menemaninya bermain. Tapi aku selalu bekerja, dan aku tidak tahu jika Delia tak menyukainya".


Denia tampak lemah karena sedih, ia sangat menyesal dengan apa yang terjadi sebelum adiknya meninggal. Steven berusaha untuk menghibur Denia.


"Kamu ikhlaskan adik kamu. Ia sudah tenang berada disana, mending kamu banyak berdoa agar ia diterima disisiNya. Sekarang kamu harus berjuang untuk hidup kamu".


***


Keesokan harinya, Denia mulai masuk kerja tanpa sepengetahuan Britsh.


Britsh sedang duduk di kursi Direkturnya. Ia termenung, memikirkan keadaan Denia.


"Apa aku telepon dia aja, ya?. Tapi tidak mungkin, aku sudah memberinya izin sampai batas yang ia inginkan".


Tok...tok...tok...


Pintu ruangan Steven di ketuk dari luar, ia tak tahu siapa yang mengetuk pintunya itu dan menyuruh orang yang di luar untuk masuk.


"Masuk".


"Permisi, pak. Ini laporan yang kemarin belum saya serahkan". Ucap Denia sembari menyerahkan beberapa lembar kertas di meja Britsh. Britsh terkejut, karena ia hapal betul dengan suara yang baru saja ia dengar.


Britsh pun mendongak kepalanya dan melihat orang yang ada di hadapannya. Betapa terkejut dan bahagianya Britsh melihat orang yang ada dihadapannya adalah Denia.


"Denia..."


"Iya, pak".

__ADS_1


"Kamu sudah masuk kerja?"


"Iya, pak. Saya juga tidak ingin terlalu lama libur, karena tugas saya nanti akan semakin menumpuk".


Britsh dan Denia saling melemparkan senyuman.


"Ini, pak laporannya".


"Oh iya". ucap Britsh sembari menerima beberapa lembar kertas dari tangan Denia.


"Kalau begitu saya permisi dulu, pak".


"Hah?".


Britsh tidak tahu kenapa rasanya ia tak ingin membiarkan Denia keluar dari ruangannya. Selama Denia tidak masuk kerja juga Britsh merasa ada yang kurang dan berbeda. Britsh tak tahu apa yang sedang dialaminya saat ini.


"Saya permisi dulu, pak"kata Denia.


Denia perlahan meninggalkan ruang kerja Britsh, dimana Britsh masih dalam keadaan bingung menatap kepergian Denia sampai keluar dari ruangannya.


"Ada apa denganku?"kata Britsh pelan dan menggelengkan kepalanya.


***


Kayla dengan langkah yang bak model berjalan di koridor Sentosa Group. Ia membuka kacamata yang ia kenakan dan memegangnya di tangannya.


Banyak karyawan yang memperhatikannya karena penampilannya sangat mencolok bak artis yang akan melakukan jumpa fans. Tibalah Kayla berada dilantai 6 dimana kantor Sentoa Group berada, termasuk ruang kerja Britsh. Kedatangannya menjadi pusat perhatian karyawan yang berada disana termasuk Denia.


Denia merasa heran dengan wanita yang dilihatnya itu karena belum pernah dilihatnya. Seorang karyawan menghampiri Kayla dan memberi hormat.


"Maaf, nona. Ada yang bisa saya bantu?".


"Saya ingin menemui Britsh. Apa dia ada di dalam?".


Mendengar Kayla mengataka ingin nenemui Britsh, Denia merasa penasaran dan mencoba menenangkan hatinya. Ia juga tidak tahu perasaan apa yang tengah ia rasakan saat ini. Namun mendengar seorang wanita ingin bertemu dengan Britsh, ada yang mengganjal yang dirasakan oleh Denia.


"Pak Britshnya ada, nona".


Denia kembali menghampiri Kayla dan membungkukkan badannya.


"Pak Britsh ada di ruangannya nona. Nona bisa tunggu disini dan saya akan memanggilnya ke dalam".


"Tidak perlu. Saya yang akan masuk ke ruangannya"


Baru selangkah Kayla melangkahkan kakinya, Denia kembali menghentikan Kayla.


"Maaf, nona. Saya harus bertanya terlebih dahulu pada tuan Britsh bisa menemuinya atau tidak".


"Saya pacarnya. Kamu itu siapa?. Berani-beraninya melawan saya"kata Kayla dengan nada kesal.


"Dia asisten khusus pak Britsh, nona" kata seorang karyawan.

__ADS_1


"Asisten khusus?. Apa itu?. Saya belum pernah mendengar jabatan itu sebelumnya di perusahaan manapun".


Denia sedikit merasa sedih mendengar perkataan Kayla, karena mengatakan hal demikian. Ia sendiri juga merasa tak pernah mendengar jabatan itu sebelumnya.


__ADS_2