Denia Aku Sangat Mencintaimu

Denia Aku Sangat Mencintaimu
Epiaode 8 - Cafe


__ADS_3

***


Di SMA x terlihat banyak siswa masih berada diluar sekolah karena bel masuk belum berbunyi. Delia dan tiga sahabatnya Jimy, Elis dan Beni masih nongkrong dikantin. Mereka berempat terkenal arogan disekolah mereka, tidak ada yang berani melawan mereka. Seperti biasa mereka dikantin selalu membuat rusuh. Mengganggu salah satu siswa yang terkesan pendiam, agar mentraktir mereka berempat untuk makan. Namanya Seto. Tanpa permintaan dua kali, Seto langsung menuruti perintah mereka. Semua mata yang betada dikantin melihat kearah mereka.


"Nanti kita ke mana habis pulang sekolah?" tanya jimy.


"Aku ke mana aja setuju"jawab Delia sambil meminum juz milik Seto yang masih diminum satu sedotan.


"jorok ih kamu Del, itu kan bekas sicupu itu" kata Elis sambil menyerngitkan mulutnya merasa ngilu melihat Delia meminum juz milik Seto.


"Saya haus, nunggu sicupu itu bawa pesanan kita kelamaan" kata Delia.


"Jadi ke mana kita nanti?"tanya Beni.


"Gimana kalau kita kebar kemarin?" tanya Elis


"Wah ide bagus tuh" kata Delia.


"Bukannya kamu dimarahi kakak kamu ya kalau ke Bar?" tanya Jimmy pada Delia.


"Nanti aku buat alasan, biar kakakku gak marah"kata Delia dengan wajah bete.


"Kakak kamu sepertinya kurang gaul banget ya"kata Jimmy dan ditertawakan yang lainnya sehingga membuat Delia merasa malu. Seto pun tiba membawa pesanan mereka dan membuat mereka berhenti bicara.


"Wah pesanan kita sudah datang" kata Elis.


Setelah Seto selesai memberikan makanan dan minuman sesuai pesanan mereka, Seto hendak kembali duduk dibangkunya dan ingin melanjutkan makannya. namun dihentikan oleh Jimmy dan menyuruh Seto pindah bangku.


****


Denia pulang dari tempat kerjanya menuju halte bus dekat dari Hotel Sentosa. Wajahnya tampak lelah, dia mengecek ponselnya ingin mengecheck apakaah ada pesan atau panggilan masuk.


Ting...


Ada pesan masuk ke hp Denia. dia segera membukanya.


"Nia, maaf ya, hari ini saya tidak bisa ke cafe. Mama saya masuk rumah sakit lagi"


Nindi memberikan pesan singkat pada Denia, untuk memberi tahu kalau dirinya tidak bisa kerja malam ini, dan itu artinya Denia akan sendiri dicafe.

__ADS_1


"dia, semoga mama lekas sembuh ya" balas Denia


bus tujuan tempat tinggal Denia datang. dia pun segera menaikinya, setelah 25 menit Denia pun tiba dihalte dekat tempat tinggalnya. dia turun dari bus dan berjalan menuju rumahnya. Saat dia dipersimpangan rumahnya. Denia melihat Delia bersama ketiga sahabatnya sedang dimobil hendak berangkat.


"Delia mau ke mana kamu?" tanya Denia setelah mendekati mereka


kdtiga sahabat Delia tampak panik dan diam.


"mau belajar kelompok" kata Delia.


Denia melihat penampilan keempat anak SMA tersebut. dia merasa penampilan mereka tidak cocok sebagai anak sekolahan. Ditambah Jimmy dan Bram merokok.


"mana ada belajar kelompok dandanan seperti ini" kata Denia.


"Ada koq"kata Delia.


"Delia kamu itu masih anak-anak. tetapi lihat penampilan kamu sekarang, kamu seperti sudah wanita dewasa.


"Saya itu sudah besar, jadi kakak tidak usah mencampuri hidupku lagi" bentak Delia sambil mendorong Denia, sehingga Denia pun terjatuh ketanah. "Ayo kita pergi"kata Delia tanpa menghiraukan kakaknya yang kesakitan dan memanggil namanya.


Karena Delia dan sahabatnya sudah menjauh dari Denia, dia berhenti memanggil Delia. dia menangis karena menahan rasa sakit. Steven yang kebetulan lewat dari depan Denia langsung menghentikan sepeda motornya. Steven berencana ingin cari udara, bosan dikontrakannya terus.


"Aku tidak apa-apa, hanya terjatuh, karena tidak lihat jalan"kata Delia menyembunyikan kebenaran.


"Kamu sudah tua tetapi masih bisa terjatuh"kata Bram meledek.


"Emang kalau tua tidak bisa jatuh?" kata Denia kesal, dia melepaskan pegangan tangan Steven dan melangkah pergi. Steven merasa kebingungan dengan candaannya barusan yang membuat Denia marah.


"mengapa dia gampang sekali marah?" gumam Steven pelan. Steven pun menawarkan untuk memberikan Denia tumpangan, namun Denia menolak dan tetap berjalan dengan terjungkit-jungkit karena menahan rasa sakit dikakinya. Steven tidak punya pilihan , dia pun menaiki motornya dan melajukannya. Saat Steven mengendarai motornya, Ponselnya berdering. Steven mendengar dering diponselnya namun mengabaikannya, karena dia tahu kalau telepon itu dari mamanya. Ibu Sofia merasa kesal namun juga khawatir, karena lagi lagi Bram tidak mengangkat ponselnya.


****


Denia dicafe sendiri karena Nindi tidak bisa masuk. Denia merasa kerepotan melayani pembeli. dia mencatat pesanan dan memberikan pesanan kepada pembeli. Setelah pembeli mulai sepi, dia merasa kelelahan dan berkeringat. Denia mengelap keringatnya dengan sapu tangan yang selalu dibawanya. Sapu tangan tersebut memiliki arti tersendiri bagi Denia karena pemberian dari mendiang ayahnya.


"Selamat da..." kata Denia. dia menghentikan perkataannya karena sudah mengetahui siapa yang datang.


"Hai" kata Steven. Denia tidak merespon sapaan Bram.


"

__ADS_1


"Aku sedang sibuk, jangan bercanda" kata Denia


"Aku kesini ingin pesan minuman, kabarnya minuman di sini enak" kata Steven sambil meletakkan kedua tangannya disakunya.


Denia hanya diam mendengar perkataan Bram, dia merasa kalau Steven hanya bercanda kepadanya.


"Apa kamu sendirian aja?" tanya Steven sambil melihat sekeliling cafe. "Wah kebetulan, saya lagi nganggur, apa ada lowongan kerja di sini?" tanya Steven bercanda.


"Tidak ada lowongan"kata Denia dengan nada ketus.


Bram merasa kalau Denia sedang serius, dia pun merasa ketakutan dengan reaksi Denia.


"Bagaimana dengan kakimu?"tanya Steven.


"Apa kamu kesini ingin menanyakan itu?" tanya Denia.


"Ah, tidak, tadi kan sudah saya bilang kalau saya ingin pesan minuman" kata Steven mengalihkan pembicaraan.


"kamu mau pesan apa?, biar aku yang traktir, anggap aja ganti rugi kemarin waktu kamu menyelamatkan nyawaku" kata Denia. Steven menolak permintaan Denia tersebut karena baginya tidak adil mengganti nyawa dengan mentraktir minuman.


"Baiklah, kamu pesan apa?"tanya Denia.


"Ice Americano dan Capuchino"kata Steven.


Denia segera mencatat pesanan Steven di komputer dan segera membuatnya. Tak lama pesanan Steven pun selesai dibuat.


"Ini pesanan kamu, sudah saya bayar diluan"kata Denia sambil memberi pesanan Steven. Steven menolak kalau Denia yang membayar pesanannya tersebut. Steven pun mengeluarkan kartu Debit dari dompetnya, namun kartu tersebut sudah tidak bisa digunakan, karena mamanya telah memblokirnya. Steven pun memeriksa dompetnya, ternyata uang yang dibawanya tadi sudah habis digunakannya untuk beli makanan. Steven merasa kebingungan harus bayar pakai apa. Denia mengetahui kalau Steven bukan orang kaya, dia melihat tingkah Steven tersebut merasa kalau dirinya sedang dicandai oleh Steven.


"Sudah saya bilang, pesanan kamu gratis" kata Denia.


Tiba-tiba datang beberapa pembeli, pembicaraan mereka pun terhenti. Denia melayani pembeli dengan menahan sakit dikakinya. Steven yang melihat Denia melayani pembeli sendirian berinisiatif untuk membantu Denia. Denia merasa beban pekerjaannya berkurang karena dibantu oleh Steven. Jam sudah pukul 00.00 wib. sudah Waktunya untuk pulang. Denia pun bersiap-siap menutup cafe dibantu oleh Steven. Setelah memastikan semuanya dicafe terkunci, mereka pun pulang bersama. Denia mengucapkan terima kasih kepada Steven karena sudah membantunya melayani pembeli.


"Terima kasih ya sudah membantuku tadi"kata Denia


"Anggap saja itu mengganti minuman tadi"kata Steven. dia pun langsung mengeluarkan Minuman yang dipesannya tadi dan memberikan pada Denia. Es nya sudah mencair namun mereka tetap meminumnya sambil tertawa.


****


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2