Denia Aku Sangat Mencintaimu

Denia Aku Sangat Mencintaimu
Episode 21-Beasiswa


__ADS_3

Setibanya di cafe, Denia masih memikirkan tentang sekolah adiknya. Hal tersebut disadari oleh Nindy yang melihat ekspresi Denia.


"Kamu mengapa lagi sich?" tanya Nindy sembari menekan mesin tik di kasir untuk mentotalkan jumlah harga yang harus di bayar oleh pembeli.


"terima kasih" kata Nindy setelah menerima pembayaran dari pembeli.


" Delia berulah lagi" kata Denia dengan wajah memelasnya karena sedih.


"Kenapa lagi tuh orang?"tanya Nindy yang semakin khawatir pada sahabatnya ini. Nindy sangat mengenal kepribadian Delia yang selalu semena-mena pada kakaknya.


"Dia di skors dari sekolah" kata Denia sambil meneteskan air matanya. Dia tak kuasa menahan kesedihannya, dan yang mengerti keadaan Denia hanya Nindy.


"Bagaimana bisa dia di skors?, bukannya kamu uda bayar setengah uang tunggakan skolahnya dan setengah lagi menunggu gajian?" tanya Nindy


"Uangnya sudah dihabiskan Delia untuk poyah-poyah kata Denia. Denia tak kuasa menahan kesedihannya, sehingga dia pun menangis sambil menceritakan kronologi pembayaran uang SPP Delia.


Nindy mengerti kondisi sahabatnya itu. dia ingin sekali membantunya namun dia sendiri tak punya uang sebanyak itu.


Nindy pun memeluk Denia dan menyeka air matanya.


"Kamu yang sabar ya, Nia" kata Nindy menghibur sahabatnya itu


****


Denia berjalan menuju ke rumahnya dengan langkah yang lemas, fikirannya tampak kosong. Steven memperhatikan tingkah Denia tersebut dari teras rumahnya, dia penasaran mengapa wajah Denia sembab dan langkahnya begitu lemah, Denia bahkan tak memperhatikan kalau Steven berdiri di teras rumahnya.


Keesokan harinya Steven kembali melihat Denia yang tak berdaya ketika dia berjalan keluar dari rumahnya. dia penasaran ke mana Denia pagi-pagi sekali sudah berangkat dari rumahnya. Steven pun mengikuti Denia karena penasaran. Dia tak pernah melihat Denia keluar dari rumah sepagi ini selama dia mengontrak di depan rumah Denia.


Denia tak menyadari kalau Steven mengikutinya dari belakang, karena memang Denia jalan tidak fokus karena fikirannya terasa kosong.


Denia pun menaiki bus, yang menuju berlawanan dengan arah tempat kerjanya, sehingga Steven pun mengikuti Denia menaiki bus yang sama dengan Denia, namun Denia masih tidak menyadarinya. Tak beberapa lama Denia pun menghentikan bisnya karena sudah sampai di tempat tujuannya. Steven mengikuti Denia turun. Denia kembali berjalan setelah turun dari bus.

__ADS_1


"Sebenarnya dia mau ke mana?"tanya steven dalam hatinya. Steven semakin penasaran ke mana sebenarnya tujuan Denia dengan wajah sedih dan pandangan kosong begitu. dia pun sangat terkejut melihat pemakaman di sekelilingnya karena telah mengikuti Denia.


"mengapa dia kemari?" Steven semakin penasaran dan dia melihat Denia berhenti di salah satu pemakaman. Ternyata Denia mengunjungi makam kedua orang tuanya.


"Ma, pa aku datang"kata Denia


"Jadi dia mengunjungi makam orang tuanya?"kata Steven, dia kembali mendengarkan keluh kesah Denia pada mendiang orang tuanya dari balik pohon, karena dia tak ingin kalau Denia sampai tahu kalau dia mengikutinya kesana.


"Maafkan aku pa,ma tidak bisa menjadi kakak yang baik bagi Delia.Aku sudah gagal membuat papa dan mama bangga. Aku tidak bisa menyekolahkan Delia sampai ke perguruan tinggi karena kemarin dia di skors dari sekolahnya" Denia menangis sejadi-jadinya di pemakaman kedua orang tuanya yang membuatnya sampai terisak-isak.


Steven merasa ikut sedih mendengar perkataan Denia tersebut. dia tak menyangka kalau Delia sampai di skors dari sekolah karena menghabiskan uang SPP yang telah diberikan oleh Delia kepadanya.


Denia bangkit berdiri setelah mengatakan semua keluh kesahnya pada kedua orang tuanya, dia pun berpamitan pulang pada kedua orang tuanya karena harus berangkat kerja.


Steven melihat langkah Denia dari kejauhan karena dia sudah tak lagi penasaran ke mana Denia akan pergi.


****


Denia melangkah dengan lemah setelah sampai di Hotel Sentosa. dia merasa tak bersemangat untuk bekerja hari ini, karena dia merasa semuanya sudah sia-sia. Perjuangannya selama ini untuk bekerja adalah untuk pendidikan adiknya, yang sekarang sudah diskors dari sekolahnya.


"Tidak apa-apa"kata Denia.


Tiba-tiba Denia mendapat telepon. dia melihat nama dikontaknya ternyata dari Sekolah Delia. dia mengangkatnya dengan sangat hati-hati karena tak tahu harus berkata apa pada mereka.


Namun ekspresi nya berubah menjadi senang karena adiknya tidak jadi di skors dan besok sudah bisa kembali ke sekolah karena semua uang sekolahnya sudah dibayar karena Delia mendapatkan bea siswa.


"Terima kasih pak, terima kasih pak" kata Denia melalui telponnya. Jenita menjadi bingung dengan tingkah Denia yang tiba-tiba senang padahal baru saja seperti zombie berjalan. dia pun pergi meninggalkan Denia yang masih menerima telepon.


Setelah selesai berbicara dengan pihak sekolah dari telepon, Denia merasa bingung karena adiknya tiba-tiba mendapatkan beasiswa selama sekolah. dia merasa curiga kalau seseorang telah membayar uang sekolah adiknya. "tetapi Siapa?" tanya nya dalam hati. dia menebak-nebak siapa kira-kira yang telah membayar uang sekolah adiknya.


****

__ADS_1


Steven berjalan dengan memegang sebuah kuitansi. dia meletakkan kuitansi tersebut di dalam dompetnya. Tiba-tiba dia mendapat panggilan telepon dari mamanya.


" Pasti mau menyuruhku gabung di perusahaan"kata Steven.


"Aku masih ingin bersenang-senang dahulu ma"kata Steven.


dia memilih berbicara pada ponselnya tanpa mengangkat panggilan ibunya.


"Dasar anak satu ini, berani sekali dia tak mengangkat telepon dari mamanya" kata Ibu Sofia.


Lihat saja mama akan blockir semua Card Credit kamu. Kamu hanya menghabiskan uang saja di luar sana "kata Ibu Sofia.


Steven singgah ke sebuah Supermarket untuk membeli beberapa makanan dan minuman. Saat dia mencoba membayar dengan kartu kreditnya pihak kasir mengatakan kalau kartu kredit tersebut sudah tidak bisa digunakan dan menyarankannya untuk menggunakan kartu kredit lain atau membayar dengan uang cash.


Steven memberi beberapa Credit Cardnya namun tak ada satupun yang dapat digunakan. dia pun akhirnya membayar dengan uang Cash.


****


Steven menelpon mamanya karena dia merasa kalau Credit Cardnya sudah di blockir oleh mamanya.


"Akhirnya kamu menelpon mamamu juga"kata Ibu Sofia menyindir Steven.


"mengapa mama memblockir semua Credit Card ku?"tanya Steven.


"Kamu menelpon mama, hanya ingin menanyakan soal Credit Card kamu?. mama akan mengaktifkan Credit Card kamu kalau kamu mau bergabung di Perusahaan" kata Ibu Sofia.


"Steven tidak mau ma, Steven masih ingin bersenang-senang dahulu"kata Steven.


"Dasar kamu ini, mau sampai kapan kamu bersenang-senang?, Barusan kamu mengambil uang dari tagihan Credit Card kamu dengan jumlah yang sangat besar, ke mana uang itu kamu buat?"tanya Ibu Sofia.


"Ada keperluan mendadak ma"kata Steven berbohong.

__ADS_1


*****


Bersambung ....


__ADS_2